
...Happy Reading...
Karena sudah kepergok duluan, Arga tidak lagi melanjutkan mencicipi daun muda yang baru saja dia sah kan beberapa jam yang lalu itu.
Fuuh... Nikah sama duda memang greget banget rasanya, merinding gue jadinya!
Melody pun langsung memilih masuk kedalam kamarnya setelah berperang batin dengan dirinya sendiri.
Apalagi dia yang memang sudah lama tidak berpacaran, bayangan bibir itu seolah terngiang-ngiang di pikirannya, dulu dia memilih jomblo karena waktu kesehariannya hanya di isi dengan belajar, kalau pergi ke mana-mana pun dulu selalu memilih dengan Ratu saja.
Bagi mereka berdua, jalan berdua, makan berdua dan menikmati hidup berdua saja sudah cukup, tanpa pacar pun hidup mereka seolah sudah berwarna, jadi memang tidak terpikirķan untuk mempunyai pacar, toh.. mereka masih belajar pikirnya.
Namun nasip orang memang tidak ada yang tahu, hingga akhirnya Ratu juga terpaksa menikah dengan calon kakak iparnya, begitupun dengan dirinya yang harus menikah dengan rekan suami sahabatnya yang sekaligus juga dosen di kampusnya, walau dengan jalan cerita yang berbeda.
" Kamu sudah siap?" Arga membantu membawakan tas ransel milik Melody yang sudah dia kemasi.
" Sudah pak."
Sedangkan Melody membawa laptop miliknya dan beberapa buku pelajaran yang harus dia bawa ke Kampus.
Tidak ada percakapan didalam mobil itu saat mereka pulang ke rumah Arga, mereka masih canggung dan belum terbiasa dalam posisi ini, apalagi Melody yang tiba-tiba menjadi pendiam, karena ingin melihat kedua mata Arga saja, dia sudah malu sekarang.
Sampai akhirnya mobil mereka sampai di kediaman rumah Arga yang sederhana tapi nyaman untuk dihuni.
" Hugo masih di rumah Eyang pak?" Tanya Melody hanya untuk sekedar memecah kesunyian karena tiada obrolan.
" Iya, biarkan saja, mungkin dia sudah tertidur, besok pagi saja kita ambil dia, sekarang kita mandi dulu yuk."
Hah, mandi? Gilak... Apa dia ngajakin aku mandi berdua?
Melody langsung terdiam di tempat, pikirannya entah kenapa melayang kemana-mana.
" Haha... Maksudnya mandi di kamar mandi sendiri-sendiri, walau rumah ini kecil namun ada beberapa kamar mandi didalamnya."
Arga langsung terkekeh saat melihat ekspresi wajah Melody yang terlihat polos sekali.
Aduh... Kenapa pak Arga seolah bisa membaca isi pikiranku? Aku kan malu jadinya, aish...
" Hehe... Maksud aku juga begitu tadi pak, ayoklah... Kamar aku nanti dimana pak?" Melody langsung tertawa garing karenanya dan lebih memilih berjalan mendahului Arga masuk ke dalam rumah, agar rasa malunya tidak terlihat oleh suaminya.
" Emm... kamu mau tidur sama bapak enggak?" Arga pun bingung jadinya, sebenarnya dia ingin Melody tidur dengannya karena walau hanya menikah siri pun mereka halal untu tidur berdua, dia hanya ingin menjaga hati Melody saja, namun dia juga tidak ingin memaksanya, karena ini memang terlalu mendadak keadaannya, jadi dia akan memberikan kebebasan Melody untuk memilihnya.
" Heh? Anu... Emm... Hugo tidurnya dimana pak?"
" Hugo tidurnya di kamar sebelah bapak."
" Kalau begitu saya tidur sama Hugo saja pak."
" Begitu? Tapi kamar Hugo sempit loh?"
" Nggak masalah... Kamar di kontrakan aku juga sempit, kalau nanti Hugo nya merasa kurang nyaman aku bisa tidur dimana saja pak, santai saja, hehe..."
" Hmm.. Baiklah, terserah kamu saja, kalau mau tidur sama bapak kamu tinggal masuk saja, pintunya tidak aku kunci."
Arga hanya ingin membuat Melody nyaman tinggal disana, dia tidak ingin suasana baru dan hubungan baru mereka mengusik kegiatan belajar Melody dan membuat nilainya turun, karena dia adalah mahasiswa unggulan di kampusnya.
__ADS_1
" Kalau begitu saya mau mandi dulu pak!"
" Okey, owh ya... Satu lagi, boleh aku bertanya?"
" Tentu saja pak, silahkan."
" Emm... Apa kamu punya pacar?"
Hah? Kenapa dia jadi nanyain pacar sgala?
Melody langsung mencoba menelisik wajah Suaminya walau hanya berani sekilas.
" Maksud bapak, kita kan menikah dadakan ini, kalau kamu punya pacar bukannya sebaiknya kamu beri tahu dia, agar dia mengerti?"
" Owh... Tenang saja pak, aku jomblo!" Jawab Melody dengan jujur.
" Alhamdulilah... Eh.. Maksud bapak emm... kalau kamu masih canggung dengan bapak, kamu bisa menggangap aku pacar kamu dulu, biar kamu pelan-pelan bisa terbiasa."
" Baiklah... Kalau begitu aku bersih-bersih trus istirahat dulu ya pak."
" Ehh... Kalau orang pacaran sebelum ditinggal tidur ngapain dulu?" Entah kenapa Arga iseng ingin mengerjai istri kecilnya itu.
" Emang ngapain?"
" Jangan pura-pura, kayak bapak nggak tahu aja anak jaman sekarang kalau sebelum tidur di akhir telpon itu sering ngapain dulu, sebelum dimatikan panggilan telponnya?"
" Jadi bapak mau kita telponan dulu gitu?"
" Loh... Kok malah jadi telponan sih Mel?"
" Masak kamu nggak ngerti juga sih, Emm... Itu... Biasanya kalian kiss by dulu kan, trus bilang mimpi indah, hp aja kalian civmin sampe basah!"
" Pffthh... Jadi bapak mau digituin juga?"
" Ya iyalah, bukannya kita sepakat mau pacaran dulu biar saling mengenal lebih dekat lagi?"
" Okey... Kalau begitu aku ambil ponselku dulu."
" Astaga Melody, ngapain ambil ponsel segala?"
" Katanya mau telponan kayak anak jaman sekarang? Gimana sih, jadi enggak?"
" Aduh Gusti, kamu polos beneran atau pura-pura sih?"
" Kenapa lagi, salah lagi aku pak?"
" Bukannya salah, tapi kan kita satu rumah, ngapain pakai telponan dulu, praktekin aja langsung, tapi ya sudahlah kalau kamu nggak ngerti, sana mandi dulu trus istirahat!"
Antara gemes dan juga kesel bercampur aduk menjadi satu, namun justru itu yang membuat Arga seolah tertarik dengan istri kecilnya saat ini.
" Pak?" Panggil Melody kembali.
" Sudahlah, bapak juga mau istirahat!" Arga langsung ingin balik badan, namun Melody langsung menarik lengannya.
Cup
__ADS_1
Melody langsung mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya dan mulai berjinjit untuk mencivm suaminya, karena Arga memang jauh lebih tinggi daripada Melody.
Ya ampun... Aku kok kayak kembali muda saat menikah dengan bocah?
" Cukup atau mau lagi?" Tanya Melody dengan rona wajah yang malu-malu tapi mau.
" Dua kali lagi, katanya yang ganjil-ganjil itu yang baik kan?"
Akhirnya mereka kembali memiringkan wajahnya, dan mengulanginya selama dua kali seperti anak ABG yang baru jatuh cinta.
" Istirahat ya? Kalau ada apa-apa panggil bapak di kamar sebelah, okey!"
Arga mengusap kepala Melody perlahan dan mengumbar senyuman sampai istrinya hilang dibalik pintu kamar Hugo.
Setelahnya dia masuk ke dalam kamar miliknya, perlahan dia duduk di kursi rias almarhum istrinya yang sampai saat ini masih tertata rapi disana.
" Sayang... Maafkan aku, maaf atas semua yang terjadi hari ini, hingga akhirnya aku harus menikah lagi, padahal kamu pergi dari sisi mas belum lama."
Arga menatap foto pernikahan mereka yang masih terpajang diatas meja.
" Maaf karena mas tidak bisa memenuhi janji mas, untuk sehidup semati denganmu, ini bukan kemauan mas, tapi sebuah tanggung jawab yang harus mas ambil atas kelalaian sikap mas."
Tanpa sadar air mata Arga menetes begitu saja, saat melihat senyuman istrinya didalam bingkai foto yang selalu membuat dirinya dulu jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama.
" Kamu jangan marah ya sayang, Melody anak yang baik, dia pun menyayangi Hugo, bahkan Hugo pun menyayanginya."
Arga mengusap foto itu yang sudah basah karena air matanya yang terus menetes disana.
" Sampai kapanpun, kamu adalah cinta sejati mas, yang akan kekal didalam hati mas, rasa sayang dan rasa cinta mas tidak akan hilang begitu saja, semua masih tersimpan didalam hati mas yang paling dalam."
Arga kemudian memeluk foto itu didalam dekapannya dengan erat sekali, seolah istrinya muncul dihadapannya.
" Mas sayang kamu... Mas rindu kamu sayang, hiks.. hiks... Maafkan aku sayang, walaupun raga kita telah terpisahkan oleh kematian, namun cinta sejati tetap akan tersimpan secara abadi di relung hati ini, semoga kamu tenang di alam sana, mas dan Hugo akan selalu mendoakan kamu dari sini, i love you sayang."
Arga mengusap dadanya yang terasa sesak karena menahan tangisan yang sebenarnya ingin pecah, namun takut jika Melody sampai mendengarnya.
Bahkan mungkin ribuan kata maaf yang terucap dari bibiir Arga belum bisa menghilangkan rasa bersalahnya, karena sudah menikah disaat acara doa satu tahun istrinnya saja belum dilaksanakan, namun apalah daya, dia juga hanya seorang manusia biasa, yang tidak luput dari salah dan khilaf.
Arga sesungguhnya sangat merasa bersalah sekali hari ini dengan almarhum istrinya, dia melakukan hal-hal seperti anak ABG dengan Melody tadi, karena dia hanya tidak ingin Melody merasa tertekan atas pernikahan siri mereka malam ini.
Kejadian ini terjadi bukan atas kemauan mereka berdua, walau mungkin tanpa sadar mereka berdua juga melakukan kesalahan, karena sama-sama tidak menyadarinya.
Arga berpikir, yang paling dirugikan disini bukanlah dia, tapi Melody, karena dia masih muda, masih gadis, perjalanan hidupnya masih sangat panjang, mimpi-mimpinya pun masih sangat besar, namun harus terhalangi oleh status barunya menjadi seorang istri.
Jadi agar dia tidak terpuruk dan merasa terbebani, Arga ingin Melody menggangap bahwa semua baik-baik saja, namun saat dia sedang sendiri didalam kamarnya seperti ini, bayangan istrinya seolah masih ada disekelilingnya.
Entah sampai kapan dia pun tak tahu, namun jauh di dasar hatinya, dia pun ingin membahagiakan Melody sebagai rasa tanggung jawabnya sebagai seorang suami, soal cinta dia bisa menumbuhkannya perlahan dan seiring berjalannya waktu, karena kita tidak pernah tahu. Hanya Tuhanlah maha pembolak-balik hati dan perasaan hamba-hambaNya.
" Maafkan aku pak, ini semua salahku, hiks.. hiks.."
Ternyata Melody ada disebalik pintu kamar suaminya, dia yang tadinya ingin bermaksud meminta sabun mandi karena lupa membawanya, malah harus mendengar rintihan hati suaminya terhadap almarhum istrinya dulu.
Di balik ceria ada duka yang bersahaja, ada canda yang tak bisa tertawa, ada tangis tak mengeluarkan air mata, ada cita tanpa pencapaiannya, ada senyum tanpa pesona. Bahkan ada cerita tanpa sepatah kata.
Yang lahir akan mati, tetapi yang tak ada bukan berarti dilupakan.
__ADS_1
Hakekatnya hak Allah untuk mengambil sesuatu dan memberi sesuatu kepada umatnya, segala sesuatu yang ada di sisinya dibatasi oleh ajal. Oleh sebab itu bersabarlah karena kepergiannya, dan carilah ridha Allah yang sebesar-besarnya.