Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
60. Duo Tersakiti


__ADS_3

...Happy Reading...


Balas dendam memiliki cita rasa tersendiri. Terkadang balas dendam terbaik hanyalah sebuah senyuman sederhana, untuk memberi tahu mereka, bahwa kamu baik-baik saja.


Tapi itu tidak berlaku dengan duo sekawan yang sedang tersakiti ini, walau sebenarnya balas dendam hanya seperti menggali dua lubang, yaitu lubang untuk lawanmu dan juga lubang untukmu sendiri.


" Yakin kita akan pergi meninggalkan mereka begitu saja?"


Saat mereka sudah masuk kedalam mobil, Broto kembali mempertanyakan misi yang Ratu rencanakan.


" Kita bukan pergi, tapi hanya sekedar menepi." Jawab Ratu dengan santainya.


" Yaelah... Bahasa loe Cil, kayak yang udah paling bener aja loe!" Broto langsung tersenyum miring mendengarnya, seolah dia kalah saing dengan bocah yang umurnya terpaut lumayan jauh dibawahnya.


" Kita jemput bestie gue dulu!" Ucap Ratu sambil mengotak-atik ponselnya.


" Siapa?" Tanya Broto seketika.


" Melody namanya, nanti gue kenalin, dia orangnya asyik kok!"


" Kenapa harus bawa orang lain dalam masalah kita?" Tanya Broto yang memang belum begitu tahu dalam dunia Ratu.


" Laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom itu tidak boleh pergi berduaan, walaupun itu abang ipar sekalipun, karena orang ketiga diantaranya adalah setan." Ratu kembali berdalil sudah seperti ahlinya saja.


" Jadi teman kamu itu setannya?" Tanya Broto sambil menahan tawa.


" Dari pada setan yang mengerikan kan lebih baik bestie gue bang? Siapa tahu dia bisa jadi kandidat yang cocok buat mempermulus misi kita kan?" Selalu ada cara di otak Ratu yang pas-pasan dalam hal pelajaran itu, tapi Suhu dalam hal kejahilan.


" Ahaha... asyik nih gabung sama temen-temen durjana model beginian, Okeylah kalau begitu!" Broto yang seolah satu server dengan mereka langsung setuju-setuju saja.


" Cuss... Jalan bang!" Ratu langsung mengepalkan satu tangannya ke udara, seolah mengumpulkan semangat dalam diri untuk berperang melawan ketidakadilan.


" Woaah... Kamu nyuruh abang iparmu udah kayak aku ini sopir kamu aja ya!" Broto langsung menyentil kening Ratu dengan gemas, selalu ada saja tingkah Ratu yang selalu membuat dirinya takjub.


" Hehe... Mau misinya sukses nggak?" Ledek Ratu dengan tatapan jahilnya.


" Ya maulah!"


Broto pun tidak keberatan dengan rencana Ratu untuk menghilang dari kehidupan mereka selama beberapa hari, agar mereka tahu artinya sebuah kehilangan tanpa sebuah kepastian.


" Yukk... berangkat!"


Para tamu undangan masih sangat ramai di rumah Broto, jadi kepergian mereka tidak terlalu diketahui, karena mereka pergi dengan menutupi wajah mereka dengan masker.


Saat sampai dirumah Melody pun, dia sudah menunggu didepan rumah, karena Ratu sudah mengirimkannya pesan sedari awal rencananya.


" Apa dia calon selingkuhanku?" Sapa Broto yang membuat Melody langsung membelalakan kedua matanya.


" Hah, apa-apaan ini?" Melody yang tidak tahu apa-apa langsung saja terkejut.


" Kalau dia mau nggak papalah, dia target yang tepat untuk dijadikan tumbal tanpa harus memikirkan perasaan." Ratu bahkan menyetujuinya begitu saja.


" Dasar teman lucknut! Kalian pikir aku ini apa hah!" Melody yang tadi katanya mau diajak camping bersama langsung merasa tertipu karenanya.


" Pura-pura aja dek, bersandiwara aja gitu?" Broto langsung menjalankan kembali mobilnya.


" Ogahlah, aku tidak sudi walau hanya sekedar bersandiwara kalau harus menjadi pelakor." Jawab Melody dengan keyakinan yang tinggi, sebenarnya dari awal dia sudah mencivm hawa-hawa yang tidak mengenakkan bagi dirinya, namun karena rasa solidaritas sebagai teman dia langsung menyetujuinya saja tadi.


" Tawarin aja tas Hermess keluaran terbaru bang?" Ucap Ratu sambil menyandarkan kepalanya yang terasa lelah.


" Okey, misi selesai tas Hermes ditangan!" Tanpa penuh pertimbangan Broto langsung saja menyetujuinya.


" DEAL!"


Begitu juga dengan Melody, tanpa berpikir terlalu panjang pun dia langsung menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Broto seolah memberikan tanda persetujuan.


" Ciiih... Dasar wanita, banyak congek kamu, jangan-jangan kalian berdua memang sekongkol mau memerasku ya?" Ledek Broto yang langsung menaikkan kedua sudut bibiirnya.


" Misi yang berat memang bayarannya harus setimpal dong!" Jawab Melody yang langsung sumringah, karena hanya orang bodo yang menolak tas hermess keluaran terbaru pikirnya.


" Suka hati kalian sajalah, yok... Kita segeda mulai misinya!"


" Kita mampir kerumah gue dulu bang, sebentar aja?" Ratu kembali mengalihkan perhatian mereka.


" Ngapain?" Tanya Broto yang langsung menyeringai.


" Pamit dulu sama Eyang dan yang lainnya." Ucap Ratu yang berhasil membuat Broto terngaga.


" Heh bocil... Kamu ini mau kabur kenapa pake acara pamit segala, niat kabur nggak sih?"


" Gue kabur dengan elegan bang, lagian si Eyang udah Pro sama aku, jadi aman lah pokoknya."


" Luar biasa memang hidupmu!" Broto bahkan mengacungkan jempol kearahnya.


" Mungkin memang dari lahir aku sudah harus selalu menerima ujian yang berat, jadi untuk masalah yang seperti ini saja, tidak akan menggoyahkan diriku kini."


Prok.. Prok!


" MANTAP... Lanjutkan perjuanganmu kawan!" Melody langsung bertepuk tangan untuknya.


" Siap lanjutkan!" Ratu pun menjawab dengan semangat seperti para prajurit.


" Ahahaha!"


Jika sudah ada teman yang bisa diajak saling mengisi, saling berbagi dan kompak dalam segala hal apapun, masalah berat yang menimpa diri pun bisa menjadi lebih ringan.




Sedangkan keadaan di dapur makin runyam, karena ternyata usapan tangan Panji tidak seperti tangan Broto yang langsung bisa membuat kram diperut Gendhis langsung sembuh dengan cepat, tangan Broto seolah begitu ajaib dan bisa menenangkan janin yang ada didalam perutnya itu.



" Mas... Tolong panggil saja Broto kemari, aku sudah tidak tahan lagi, perutku rasanya sakit sekali." Gendhis pun heran, kenapa ini bisa terjadi pikirnya.



" Baiklah, aku cari dia ke depan dulu, bertahan ya?" Panji langsung melepaskan rangkulan tangannya dan segera beranjak pergi.



" Hmm... Tolong cepat ya mas!"



Gendhis bahkan merasakan kesakitan yang teramat sangat, seolah janin didalam perutnya dapat merasakan tangan mana yang halal dan tidak halal untuk menyentuh dirinya.



Namun setelah beberapa saat berlalu, bukan Broto yang datang, tapi malah orang tua Gendhis yang datang kesana bersama Panji.



" Loh... Broto kemana?" Gendhis langsung terlihat kecewa saat Broto tidak ikut bersamanya, biasanya walaupun dengan wajah datar, saat dia merasa kesakitan Broto langsung mendatangi dirinya dan meninggalkan apapun aktifitas yang dia lakukan, kenapa sekarang tidak pikirnya.



" Kita ke rumah sakit sekarang saja!" Ayah Gendhis langsung mengambil inisiatif.

__ADS_1



" Broto kemana yah, buk?" Tanya Gendhis kembali.



" Entahlah, Panji sudah mencarinya, tapi tidak ada!" Ibu Gendhis pun langsung membantu memapah tubuh putrinya.



" Kalian tolong bawa dulu saja Gendhis ke rumah sakit, biar aku yang mencari Broto." Panji kasian juga melihat mantan kekasihnya meringis kesakitan seperti itu.



" Owh iya... Bukannya tadi Ratu juga ikut, sekarang kemana dia?" Tanya ibu Ratu yang memang hanya melihat Ratu saat di awal acara tadi.



" Iya juga ya, kemana lagi dia?" Panji baru tersadar, dia langsung mendail nomor istrinya untuk segera menelponnya.



Hal yang paling membuat kesal didalam hidup seseorang adalah ketika panggilan telpon kita diabaikan walau dia sedang terlihat online dan yang paling parah ketika kita terus menelpon dirinya, tapi panggilan kita langsung dirijeck begitu saja.



Dan itu yang terjadi pada diri Panji saat ini, seolah emosinya langsung terbakar, saat Ratu sengaja seperti mengabaikan dirinya tanpa dia tahu alasannya.



" Ada apa dengan Ratuku ini, emm... Aku akan pergi mencari Ratu dulu buk!"



" Carikan dulu Broto mas, perutku sudah sakit banget, aku sudah tidak tahan lagi rasanya." Gendhis langsung protes saat Panji hanya menyebut nama Ratu saja.



" Iya, baiklah, aku pergi duluan ya?"



Dengan secepat kilat Panji langsung menuju mobilnya untuk mencari keberadaan istrinya,dia hanya mengiyakan saja tadi, tapi prioritas utamanya tetap Ratu kini.



" Kamu kemana sayang? Kenapa nggak pamit sama mas?" Disepanjang perjalanan, Panji ngedumel sendiri.



" Kenapa kamu juga tidak mau menjawab panggilan telponku? Sebenarnya salah aku apa sih, kenapa dia tega mengabaikan aku seperti ini, padahal dia sudah berjanji duluan tadi denganku!" Umpat Panji yang sudah muter-mter di sekeliling tempat yang sering dia kunjungi dengan istrinya, namun hasilnya nihil.



" Apa dia sudah pulang dianter sama Broto ya? Apa mungkin dia sedang tidak enak badan? Tapi kenapa tidak memanggilku saja, aku kan suaminya?"



Panji kembali membelokkan mobilnya menuju ke arah rumah mewah miliknya.



" Eyang... Eyang... Kamu dimana!"



Sesampainya dirumah, Panji langsung berteriak memanggil Eyangnya seperti orang yang lagi kesurupan.




Ternyata sang Eyang sedang menikmati minuman teh hijau dengan ibu Panji didekat kolam renang.



" Ratu mana Eyang?" Tanya Panji dengan tubuh yang ngos-ngosan.



" Manalah aku tahu, kamu kan suaminya?" Jawab Eyang sambil menselonjorkan kakinya yang sudah dipenuhi dengan kerutan.



" Ibuk, apa Ratu belum pulang? Tadi dia sudah nggak ada di acara syukuran rumah ditempat kakaknya, kemana perginya istriku ya buk?" Panji langsung panik sendiri jadinya.



" Makanya, kalau punya istri itu dijagain, jangan ditinggal meleng matanya ke mana-mana, ntar disamber orang lain baru tahu rasa kamu!"



Ibu Panji pun seolah tidak perduli, dia ikut menyeruput secangkir teh buatannya sambil menopangkan satu kakinya dengan santai.



" Eyang... Ibuk, kalian berdua ini kenapa sih, Ratu pergi entah kemana kenapa kalian santai-santai saja?"



" Loh... Dia pergi bukan karena kami, kenapa juga kami harus ketakutan kayak kamu!" Bantah ibu Panji dengan santainya.



" Kamu pasti sudah membuat ulah kan Njul!" Eyang Panji langsung melirik kesal kearahnya.



" Ulah apaan sih Eyang, orang aku nggak ngapa-ngapain kok!"



" Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api!" Ucap Eyang kembali.



" Betul itu." Ibu Panji pun terlihat kompak karenanya.



" Maksudnya gimana, orang aku nggak berantem juga sama dia kok, kami datang kesana baik-baik saja kok tadi, masak tiba-tiba marah!"



" Seorang istri tidak akan marah tanpa sebab, kalau dia memang sengaja pergi meninggalkanmu, berarti kamu sudah membuat kesalahan besar untuknya!" Ucap Ibunya yang langsung ceramah dadakan.



" Kesalahan apa sih!"

__ADS_1



" Coba koreksi diri sendiri terlebih dahulu, sebelum kamu menyalahkan orang lain."



" Kalian ini kenapa? Kok jadi Ratu yang kalian bela, anak ibu itu aku bukan Ratu!"



" Hawa nafsu itu seperti api, berguna dalam seribu cara dan berbahaya hanya dalam satu, yaitu melalui kelebihannya, makanya jaga sikap kamu kepada yang tidak halal untukmu."



Ibu Panji memilih melengos dan segera bangkit meninggalkan Panji yang langsung terbengong sendiri.



" Dan satu lagi Njul, Cinta adalah api. Tetapi, apakah itu akan menghangatkan perapian Anda atau membakar rumah Anda, Anda tidak akan pernah tahu." Ucap Eyang yang semakin membuat Panji mengerutkan kedua alisnya, oleh kata-kata dua wanita hebat yang menemani dirinya tumbuh selama ini.



" Apa mereka berdua melihat aku dengan Gendhis saat di dapur tadi ya? Tapi kan aku bukannya sengaja, mereka pasti salah paham!"



Panji masih terlihat berpikir ditempat, berusaha mencari dimana titik kesalahannya, sehingga membuat dua orang itu marah, padahal kan menurut Panji pribadi, kelakuannya tidak fatal, karena Gendhis sedang membutuhkan pertolongan darinya.



Tidak mungkin dia tega meninggalkan begitu saja, disaat orang sedang ketakutan, apalagi Gendhis sekarang juga menjadi kakak iparnya sendiri pikirnya.



" Dasar Pria nggak peka! Cari istrimu, kejar dia sampai ketemu Panjuuuuul!" Ibu Panji menoleh dari ujung, namun Panji masih terlihat terpaku ditempat.



" Hah?"



" Tunggu apa lagi, bawa pulang kembali istrimu, malah bengong kayak sapi ompong kamu!"



" Tapi kemana aku harus mencari Eyang, aku sudah muter-muter sedari tadi, tapi tidak menemukan mereka juga!"



" Kamu cari lah, usaha jadi pria itu, jangan kebanyakan mengeluh!" Teriak Ibuk Panji sebelum hilang disebalik dinding dapur.



" Aish... Harusnya dia bertanya dulu, jangan langsung mengambil kesimpulan dan kabur begitu saja, pondasi sebuah rumah tangga itu harus saling percaya, gimana mau kokoh kalau belum tahu kebenarannya sudah kabur duluan!" Panji langsung lemas karenanya, ternyata gaa-gara itu pikirnya.



" Ssssssstttt!"



Setelah ibu Panji tidak terlihat lagi, Eyang langsung berbisik memanggil cucu kesayangannya itu.



" Apa lagi Eyang, Panji lagi pusing ini!" Panji bahkan memijit kepalanya yang sudah mulai berdenyut.



" Jalan aja dulu sono, ntar Eyang tanyain dan langsung Eyang kirim lokasinya, okey!" Eyang menunjukkan ponsel yang sebesar telenan yang selalu dia bawa kemana-mana itu.



Sebagai Eyang yang gaul dia juga punya smartphone untuk bersosial media, walau tulisannya harus sebesar jari ayam.



" Hah?" Panji langsung terkejut namun juga senang mendengarnya.



" Tapi jangan bilang sama Ratu kalau Eyang yang bagi tahu kamu ya!"



Eyang lah orang yang paling mendukung hubungan diantara mereka berdua, jadi kalau mereka punya masalah, dia lah orang pertama yang akan membantu mereka untuk rujuk kembali.



Saat Ratu tadi datang dan menjelaskan sedikit duduk permasalahannya, Eyang pura-pura ikut kesal dengan Panji, namun saat Panji terlihat terpuruk begini, dia langsung tidak tega melihat cucu kesayangannya merana.



" Woah... Eyang memang yang terbaik, pantesan Eyang awet muda, ini pasti karena kebaikan Eyang tercinta." Seperti biasa, Panji langsung membawa Eyang terbang ke langit, sebagai balasan karena telah membantu dirinya.



" Siapa dulu, Eyang Romlah! Cepat transfer uang bulanan, Eyang mau pijat spa hari ini!" Ucap Eyang sambil melanjutkan langkahnya kembali.



" Asiap Eyang, aku kasih double hari ini, hehe!"



Panji langsung membuka mobile banking nya dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Eyangnya.



Tanpa membuang waktu lagi dia segera berlari menuju ke mobilnya untuk mencari keberadaan istrinya.



Dia tidak rela jika Ratu pergi dari dirinya, jangan kan pergi sehari, satu malam saja dia tidak mengisi daya, bisa ngeblank otak cerdas Panji itu.



*Utamakan kebahagiaan pasanganmu, baru kamu memikirkan yang lain, jika pasanganmu sendiri belum bahagia, jangan berusaha sok baik dan berusaha membahagiakan orang lain*.



*Ingat*!



*Kebahagiaan pasanganmu dan doa mereka kamu bisa jadi sukses, jika rusak kebahagiaan itu, akan ada sebuah kehancuran yang datang*.


__ADS_1


*Setia itu mahal, makanya dilakukan oleh orang yang berkelas, dan Selingkuh itu murah, karena hanya dilakukan oleh orang yang murahan*.


__ADS_2