Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
12. Salah Menilai


__ADS_3

...Happy Reading...


Dibalik sifat Ratu yang selalu tampil percaya diri dalam segala hal, namun sebenarnya dia adalah seorang gadis yang penakut, apalagi dengan seseorang yang terlihat bertampang killer seperti Panji.


Bahkan Ratu juga sering ketakutan sendiri, saat mendengar bunyi suara petir yang menyambar-nyambar, dia bahkan bisa sampai menangis sesenggukan hanya karena hal itu.


Apalagi dia sering dirumah sendirian, hanya asisten rumah tangganya yang menemani, sedangkan kakak dan kedua orang tuanya seolah menggangap rumah sakit itu adalah rumah utamanya.


Sifatnya yang ceria, jahil dan slengek-an itu semata-mata hanya untuk menutupi dan menghilangkan rasa kesepiannya saja.


" RATU, SINI KAMU!"


Degh!


" I... iya pak."


Mau tidak mau, Ratu menurut saja, pikirannya bahkan sudah melayang entah kemana-mana, dia berfikir gara-gara hubungan dosennya itu dengan kakaknya sedang tidak baik-baik saja, akan berimbas kepada dirinya.


Bugh!


Bukan suara hantaman ataupun suara pukulan, namun Panji meletakkan satu kotak ayam goreng crispy berserta nasi, lengkap beserta dengan minumannya diatas meja dihadapannya.


" A... apa ini pak?"


Kedua mata Ratu langsung terbelalak kaget, ternyata apa yang dia pikirkan jauh berbeda dengan kenyataan.


" Apa perlu bapak belikan kamu kaca mata besar? bukannya itu makanan?" Jawab Panji masih dengan nada killernya.


Glek!


Minuman bersoda yang bercampur es jelas terlihat disana, walau masih berada didalam kantong plastik, apalagi disaat cuaca panas seperti ini, benar-benar menggoda iman sang Ratu, walau hanya sekedar minuman saja.


" Sa.. saya masih kenyang tadi pak." Ucap Ratu sambil menahan keinginannya.


" Cih... bohong! kamu saja sudah tiga kali menelan air liurmu, semenjak makanan itu ada dihadapanmu!"


" Eherm... eherm... itu karena tenggorokanku sedang bermasalah pak." Ratu mencari alibi.


" Cepatlah makan, keburu jam istirahatmu berakhir, kamu masih ada kelas lagi kan?"


Kok tahu? sebenarnya ada angin apa sampai pak Panji memberikan aku makanan dan bukan sebuah hukuman?


" Emm... tapi beneran pak, saya masih kenyang, nggak usah repot-repot begini."


" Makanlah, tadi kan cuma cemilan saja sedangkan itu kan ada nasi dan proteinnya, tubuh itu juga perlu asupan gula, agar tidak lemah antibodynya."


" Tapi pak?"


" Ratu, sebenarnya kakak kamu itu tipe wanita yang seperti apa!" Panji langsung mengutarakan maksud dirinya memanggil Ratu kedalam ruangannya.


Semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan ucapan dari Gendhis yang sudah berhasil menggangu pikirannya.


Owalah... ternyata dia bukannya mau menghukumku, tapi dia mau cari tahu tentang kakakku, hmm... aku kira dia menyerah, ternyata dia mencari strategi lain, hmm... menarik juga, kalau gue kerjain dosa nggak ya?


" Kak Gendhis maksud bapak?" Ratu mencoba memastikan kembali.


" Emang kamu punya kakak berapa?"


" Satu sih pak, cuma kak Gendhis doang."


" Nah itu tahu, kenapa mesti bertanya lagi?"

__ADS_1


Ampun dah juteknya, dia mau minta tolong apa mau malak orang sih ceritanya! dasar dosen killer!


" Emm... kalau setahuku, kak Gendhis itu sifatnya bertolak belakang denganku."


" Emang siapa yang tanya sifatmu! jelas bedalah, kalian itu ibarat kata bagai langit dengan bumi tau nggak!"


Aduh Gusti, belum juga jadi kakak iparku, tapi galaknya bukan main, aku kerjain kamu baru tahu rasa pak!


Ratu langsung mengambil minuman didepannya dan langsung menghabiskannya dalam kurun waktu beberapa detik saja.


" Kamu haus apa doyan! tadi sok jual mahal, tapi sekarang kamu habiskan begitu saja."


" Emm... maaf sebelumnya pak, apa bapak benar-benar tertarik dengan kak Gendhis?" Dia menahan rasa kesalnya, dan mencoba mendinginkan segala emosinya dengan segelas air soda dingin tadi.


" Kamu tidak perlu tahu, cukup kamu jawab saja pertanyaanku!"


" Gimana aku mau jawab pertanyaan bapak, kalau aku tidak tahu maksud dan tujuan bapak? nanti kalau niat bapak jelek, aku juga yang repot, dia kan kakakku."


" Jangan sentuh ayam itu!" Darah Panji seolah memanas saat mendengar praduga dari mahasiswinya itu.


Wing!


Ratu langsung mengibaskan ayam itu kesembarang arah dan ternyata mengenai dadaa Panji dan otomatis kemeja miliknya kotor dengan minyak dan saos.


" RATU!" Panji langsung berkacak pinggang dan menggeratkan barisan gigi putihnya.


" Uhuk.. uhuk... maaf pak, saya tidak sengaja!"


" Aish! kamu ini benar-benar ya, bajuku kan jadi kotor ini!"


" Sini saya bantu bersihin pak!" Ratu sontak mengambil tissu dan mendekat kearah Panji dan bermaksud untuk membantu membersihkan sisa kotoran dibajunya.


Woah... kalau dilihat-lihat, biar killer tapi dia tampan juga ya kan? hmm... wangi parfumnya pun menggoda sekali, astaga.. ingat Ratu, dia musuhmu bukan idolamu!


" Sudah! Jangan menyentuhku, kembali duduk di kursimu!" Teriakan suara Panji membuat Ratu sadar dan kembali ke dunia nyata.


" Maaf pak.. sebagai gantinya, saya kasih bocoran tentang kak Gendhis deh?" Padahal dia sama sekali tidak pernah memperhatikan keseharian kakaknya itu, dia cuma ngarang saja sesuai dengan yang dia inginkan.


" Katakan!" Ucap Panji ditambah dengan lirikannya yang seolah ingin memakan orang disekitarnya secara hidup-hidup.


" Kak Gendhis nggak suka cowok galak dan tampang judes gitu, dia tuh sukanya sama cowok yang lemah lembut."


" Lemah lembut? sebenarnya dia itu suka pria tulen apa setengah pria!"


" Astaga... dengerin dulu pak kelanjutannya, apa saya keluar aja nih!"


" Ehh... jangan! duduk kembali dan habiskan makananmu itu!"


" Tadi nggak boleh dimakan? sekarang suruh habiskan, jadi mana yang bener ini?" Umpat Ratu perlahan.


" Ngomong apa kamu!"


" Enggak kok pak, ayamnya enak, bapak mau?"


" Ogah bapak makan bareng kamu!"


" Eiits... jangan salah, kakak saya itu suka pria yang romantis tau pak, makan sepiring berdua itu salah satu contohnya."


" Kakak kamu suka pria romantis apa pria yang pelit, ngapain juga makan sepiring berdua, apa nggak mampu buat beli makan doang?"


" Ya elah bapak... ini salah satu contohnya, bapak mau dengerin tipe kak Gendhis atau tipe bapak sendiri sebenarnya?"

__ADS_1


" Lanjutkan!"


" Lemah lembut itu bukan berarti bencong pak, tapi punya kepribadian yang lembut dan murah senyum, kayak saya ini contohnya, tapi versi cewek."


" Cih!" Panji langsung berdecih saat mendengarnya.


" Trus makan sepiring berdua itu bukannya pelit, tapi melatih kita jika nanti ada sesuatu masalah itu bisa dibagi berdua, dibicarakan bersama dan itu romantis tau pak, bisa membangun chemistri diantara pasangan, sini deh.. bapak latihan dulu." Ratu langsung menggeser tempat duduknya, untuk memberikan ruang bagi Panji.


" Bohong nggak kamu!" Wajah curiga Panji terlihat disana, antara percaya dan juga tidak.


Bohong dikit nggak papa ya kan? haha..


" Ya ampun, sudah berpuluh-puluh tahun aku hidup satu atap bersama kak Gendhis dan akulah orang yang paling tahu siapa kak Gendhis itu."


" Awas kamu bohongin bapak ya, nggak akan aku kasih ampun lagi kalau lupa membuat tugas!"


Dengan tampang ogah-ogahan dia duduk disebelah Ratu dan mencoba makan satu kotak ayam goreng berdua bersamanya, walau dia merasa sangat tidak nyaman.


" Tangan kamu tadi bersih nggak?"


" Bersih dong pak, pake handsanitizer tadi kok."


" Kalau bapak keracunan ini pasti gara-gara kamu!"


Hahaha... nurut juga dia! kena deh bapak gue kadalin! sekarang aku jadi tahu bagaimana cara menghadapi dosen killer yang satu ini.


" Nggak mungkin dong pak, owh ya... emang bapak suka kak Gendhis dari apanya?"


" Semuanya, yang pasti dia smart, nggak kayak kamu!"


" Ckkk... wong ko ngene kok dibanding-bandingke, saing-saingke, yo mesti kalah!" Ratu bahkan bernyanyi sambil menyantap ayam goreng itu.


" Kalau makan jangan sambil nyanyi, nanti bisa tersedak!"


" Owh ya satu lagi pak... walau kak Gendhis itu baik, lembut, smart dan seorang dokter yang handal, tapi dia punya kekurangan juga tau pak." Si Ratu kembali berulah.


" Apaan?" Tanya Panji yang langsung penasaran.


" Tukang Ngupil, apalagi kalau sudah Kentut, sampai berbunyi Brooooooooooooooottttttt... preet.. pret.. preet gitu."


" Hoerk!"


Panji langsung melempar ayam goreng yang hendak masuk kedalam mulutnya.


" Hehe...bercanda kali pak!"


" Nggak lucu Ratu!"


" Emm... berarti bapak belum siap punya pasangan itu, karena pasangan yang kekal abadi itu jika dia bisa menerima semua kekurangan satu sama lain, kalau kata orang tuh ya pak, don't judge a book by it's cover."


" Dih?" Kedua alis Panji langsung terangkat karenanya.


" Kita kan sering tuh mendengar istilah, jangan menilai sebuah buku hanya dari sampulnya, maknanya jangan menilai orang hanya dari luarnya saja, karena yang terpenting adalah motivasi dan isi hati orang tersebut. Perlakukan orang lain tanpa membedakan status dan penampilan mereka karena mungkin saja orang yang di depan mata kita terlihat biasa, tetapi sesungguhnya adalah orang hebat dan bisa memberikan pengaruh besar dalam hidup kita."


Ternyata gue salah menilai bocah yang satu ini, pantesan Arga selalu kalah telak jika berdebat dengan dia, ehh.. sekarang yang jadi dosen dia atau gue sih?


Panji hanya bisa terdiam, sambil pura-pura membersihkan sisa kotoran dibajunya, walau didalam hati dia sedikit tersindir oleh kata-kata mahasiswanya yang sering sekali menerima hukuman darinya itu.


Memaksa diri agar disukai semua orang itu sangatlah melelahkan.


Maka, jadilah diri sendiri, walaupun banyak yang merendahkan, cukup jauhi orang yang meracuni jiwa dan membuat kita kecewa, pasti akan jauh terasa lebih baik dan sehat untuk hidup kita.

__ADS_1


__ADS_2