
...Happy Reading...
Dengan memakai baju pasien, Gendhis berjalan cepat sambil memegangi perutnya yang sudah mulai membuncit, dia menyusuri lorong rumah sakit yang sudah mulai sepi karena waktu memang sudah tengah malam.
Tanpa disangka, di luar hujan turun dengan lebatnya, angin pun berhembus begitu kencangnya, menyapu permukaan bumi dengan hawa dingin yang menerpa.
" Aduh... Kenapa pakai acara hujan segala, mana ada taksi yang lewat kalau begini?"
Gendhis hanya bisa berdiri sambil memeluk tubuhnya sendiri saat hawa dingin itu seolah menusuk ke dalam tubuhnya.
Duar.. Duar
Bahkan petir pun tiba-tiba menyambar-nyambar, namun ternyata hal itu tidak menggoyahkan keinginan Gendhis untuk tetap mencari keberadaan Broto malam ini.
" Kenapa dia harus pergi, kenapa tidak mau berbicara dulu denganku?"
Dengan keadaan yang seperti ini, tiba-tiba hatinya terasa kelu, dia sangat berharap Broto datang berlari menemui dirinya dan mengkhawatirkan keadaannya seperti biasanya, namun ternyata hanya ada sepucuk surat yang tersisa, bahkan dengan kata-kata yang seolah terasa menyayat hati.
Gendhis masih bingung dengan perasaan yang dia alami saat ini, dia masih mengingat Panji namun dia tidak bisa jika tidak melihat dan merasakan sentuhan dari Broto.
Berulang kali dia meyakinkan diri, tapi belum juga percaya bahwa hatinya sudah terpaut dengan Broto karena setiap hari nya, dia lah pria yang selalu menemaninya walau dengan tampang datarnya.
Namun setelah kata pergi tertulis diatas kertas itu, Gendhis baru sadar, bahwa dia tidak bisa kehilangan Broto begitu saja, sebelum dia terlambat, Gendhis ingin mengejar Broto dan mencegahnya untuk pergi dari sisinya, apalagi harus ada kata pisah diantara mereka.
" Harusnya kalau kamu datang itu membangunkan aku, mengelus perutku, anakmu ini merindukanmu Broto, hiks.. hiks.."
Air mata Gendhis jatuh mengiringi derasnya hujan di luar sana, seolah dunia ikut menangisi keadaan yang menimpanya. Sesungguhnya hatinya yang merasakan kerinduan itu, dia terbiasa dikejar oleh Broto, jadi saat Broto pergi seperti ini Gendhis merasa seolah terabaikan begitu saja.
" Taksi!"
Saat Gendhis melihat ada taksi yang baru saja mengantarkan seseorang ke rumah sakit itu, Gendhis tanpa sadar langsung beranjak berdiri dan lari keluar, tidak memperdulikan derasnya hujan yang masih terus jatuh membasahi bumi.
" Tunggu pak!" Teriak Gendhis.
Gubrak!
Karena Gendhis terlalu terburu-buru, dia tidak memperdulikan pijakan kakinya, padahal lantainya sangat basah, akhirnya dia terpeleset dan jatuh tersungkur.
" Astaga... Gendhis!"
Tak lama setelah Gendhis pergi tadi, ibunya langsung terbangun namun memilih pergi ke kamar mandi terlebih dahulu, dan saat melihat ruangan yang ditempati oleh Gendhis berantakan, ibu Gendhis langsung panik mencari putrinya.
Karena rumah sakit itu luas, dia memilih menuju ruangan cctv, dan menyuruh petugasnya melacak kepergian Gendhis.
" Aw... Aw...!"
Dan ternyata da rah segar mengalir diantara kedua selang kangan Gendhis, dan mulai merembes membasahi pakaian rumah sakit yang dia pakai.
" Ya Tuhan... Pak... Tolong bantu anak saya!"
Ibu Gendhis langsung meneriaki beberapa petugas yang ikut berlari menemani dirinya dari ruangan Cctv tadi.
Gendhis merasakan kesakitan yang teramat sangat di area perutnya, apalagi dengan kondisinya yang memang sedang lemah, akhirnya dia pingsan tidak sadarkan diri saat Gendhis dibawa ke ruang Unit Gawat Darurat.
" Bu... Apa yang terjadi?"
Ayah Gendhis berjalan tergesa-gesa ke arah istrinya yang sedang duduk sendiri, menunggu ruangan dimana Gendhis yang sedang mendapatkan tindakan.
__ADS_1
" Entahlah Yah... Sebaiknya kita ikut masuk ke dalam saja, aku menunggu ayah tadi."
Karena mereka berdua juga seorang dokter, jadi mereka diperbolehkan masuk ke ruang UGD walau sedang ada pemeriksaan. Terlihat disana beberapa dokter dan suster sudah menangani Gendhis dengan intens.
" Bagaimana dokter, apa kandungannya baik-baik saja?" Ayah Gendhis langsung berjalan ke arah Gendhis yang terbaring masih belum sadarkan diri.
" Emm... Maaf dokter, janin dokter Gendhis tidak bisa terselamatkan, mungkin benturan nya terlalu keras, apalagi keadaan dokter Gendhis memang lemah dari kemarin."
" Inalilahiwainailaihi rojiun, astaga Gendhis!"
Ibu Gendhis langsung terduduk lemas diruangan itu, sebenarnya dia sudah menduga sejak awal, walau dia bukan spesialis kandungan namun saat melihat da rah yang mengalir begitu deras seperti itu, sudah dapat dipastikan janin itu tidak akan terselamatkan. Itu kenapa tadi dia memilih menunggu suaminya datang baru dia mau masuk ke dalam ruang tindakan.
" Bagaimana keadaan Gendhis? Apa dia baik-baik saja?" Tanya ayah Gendhis dengan raut wajah yang sudah terlihat khawatir.
" Sepertinya kita akan melakukan tindakan Kuretase untuk dokter Gendhis." Dokter itu langsung mengusulkan tindakan.
" Baik dokter, lakukan yang terbaik, saya dan istri saya akan menunggu di luar saja."
Walau seolah tidak rela, namun hal itu memang harus dilakukan, akhirnya mereka berdua menyerahkan putri kesayangan mereka kepada dokter-dokter spesialis handal di rumah sakit itu.
" Baik dokter."
Mereka segera melakukan tindakan kuret kepada Gendhis, kuret biasa dilakukan pada wanita setelah keguguran untuk membersihkan dinding rahim.
" Kemana perginya Broto?" Ayah Gendhis menyandarkan kepalanya di tembok, mereka berdua memilih duduk menunggu di luar ruang tunggu saja, walaupun dia seorang dokter, tapi dia tidak bisa membantu putrinya, karena memang bukan spesialisnya.
" Entahlah yah, sudah aku hubungi beberapa kali, tapi ponselnya tidak aktif sedari tadi."
Ibu Gendhis hanya bisa menyandarkan kepalanya di bahu suaminya dengan lemas.
" Bagaimana dengan Ratu? Apa Panji sudah menemukannya?" Tanya Ayah Gendhis kembali.
" Buk... Apa kita sudah gagal dalam mendidik mereka, apa yang salah dengan keluarga kita, kenapa ada saja kejadian yang terus menghantam keluarga kita?"
Sebagai seorang pemimpin keluarga, ayah Gendhis ikut terpukul dan mencoba mengevaluasi kejadian demi kejadian yang menimpa keluarganya.
" Entahlah Yah, semua sudah salah sejak awal, ibu pun tak tahu harus bagaimana lagi."
Tanpa terasa air mata seorang ibu mengalir begitu saja, saat mengingat kejadian yang menimpa kedua putrinya.
" Apa yang harus kita lakukan buk, semua terasa rumit, kedua-duanya terhimpit, masalah yang terjadi dengan kedua putri kita saling berhubungan." Ayah Gendhis hanya bisa menghela nafasnya berulang kali.
" Sudahlah yah, kita serahkan saja masalah ini kepada mereka berdua." Ucap Ibu Gendhis yang selalu pusing kepala jika memikirkan tentang mereka.
" Apa Gendhis dan Panji masih saling mencintai?" Tiba-tiba terlintas satu ide dari ayah Gendhis.
" Kalaupun mereka masih saling mencintai, apa ayah berharap putri kedua kita akan menjadi janda di waktu muda?" Tanya ibu Gendhis yang langsung mendongakkan kepalanya ke arah wajah suaminya.
" Iya juga ya buk, tapi kalau Ratu masih belum tersentuh, kenapa tidak buk? Dia bisa tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya, dia bisa bebas kembali dan memilih pasangan yang dia inginkan."
" Emm... Tapi statusnya tetap saja jadi janda yah?" Orang tua mana yang tidak ikut sedih jika kedua putrinya menjadi janda semua.
" Tidak masalah, tidak banyak yang tahu dia sudah menikah apa belum bukan?"
" Lalu bagaimana dengan Broto?"
Ibu Gendhis pun teringat dengan menantu pertamanya, walaupun awalnya dia benci, namun selama ini Broto juga selalu memperlakukan Gendhis dengan baik, walau terkadang sering bertengkar.
__ADS_1
" Dia pasti tidak masalah, buktinya sekarang kemana dia pergi?"
" Tapi kalau Ratu dan Panji sudah melakukan hubungan bagaimana?"
" Ckk... Aku rasa belum buk, Ratu itu masih terlalu bocah untuk memikirkan hal itu, dan Panji bukannya dulu sangat menyayangi Gendhis, bahkan bulan madu mereka saja gagal kan?"
" Tapi akhir-akhir ini ibu lihat, Panji selalu menempel dengan Ratu, dia tidak terlalu memperhatikan Gendhis seperti dulu lagi Yah, aku khawatir jika mereka sudah mulai ada rasa dan kita harus memisahkan mereka demi Gendhis, itu bukan rencana yang baik Yah?"
Sebagai seorang ibu dia sama-sama menyayangi kedua putrinya walau dengan sikap yang berbeda, namun pada intinya seorang ibu tidak ingin pilih kasih dengan mengorbankan salah satu diantaranya.
" Ratu dulu sangat keberatan juga kan Bu, nggak mungkin lah dalam waktu beberapa bulan saja mereka sudah bucin, ibu dulu aku takhlukkan berapa tahun coba?"
Ayah mereka memang tidak terlalu memperhatikan kesehariannya, apalagi Ratu tidak tinggal satu rumah dengannya.
" Itu lain cerita yah, saat itu kan kita belum menikah, kalau Panji dan Ratu sudah menikah, semua halal diantara mereka, jadi walau bukan atas dasar cinta juga mereka sah-sah aja, apalagi seorang pria, kalau lampu sudah gelap dia tidak mementingkan pandangannya, yang penting kan Rasanya." Jawab ibu Gendhis menurut pendapatnya.
" Woah... Ibu benar-benar berpengalaman dengan hal itu!" Suaminya seolah takjub dengan semua perkataannya.
" Ckk... Anak udah brojol dua, berpuluh-puluh tahun hidup berumah tangga, kayak nggak tahu kebiasaan ayah waktu masih muda dulu, gempur sana sini tak kenal waktu dan tempat."
" Orang enak rasanya, apalagi itu ibadah, apa yang salah?" Jawabnya dengan enteng.
" Apalagi Panji, dia juga pria normal, kedua anak kita sama-sama cantik dan mempesona dengan body yang menarik, emang setebal apa iman si Panji sampai dia membiarkan yang halal tidak dia sentuh sama sekali?"
" Trus bagaimana ini buk? Bapak ingin melihat mereka berdua bahagia, tapi tidak tahu caranya?"
" Sudahlah yah, jangan fikirkan itu dulu, yang terpenting sekarang Gendhis membaik dulu."
" Kalau begitu biar ayah yang mencoba menghubungi Panji dulu."
" Iya Yah, suruh mereka cepat pulang kalau sudah bertemu dengan Ratu."
Tanpa pikir panjang Sang ayah lansung mendail nomor kedua mantunya, walau sudah tengah malam.
" Hallo.. A.. Eurm.. ayah mertua? hmpt... Ada apa yah?"
Terdengar suara Panji yang seolah sedang bekerja keras tengah malam, dia seperti orang yang ngos-ngosan dan selain itu terdengar suara krasak- krusuk disana.
" Kamu sedang apa nak?" Tanya sang ayah yang langsung curiga.
" Eurm... Sedang ini... Anu... Eumh... sama Ratu yah!" Jawab Panji dengan suara terpurus-putus.
" Hegh... Cepetin Ay aku udah mau sampai ini!" Suara Ratu pun terdengar walau hanya samar-samar.
" Okey sayang, eurm... bentar ya yah, lima menit lagi Panji telpon balik!"
Tutttt!
Panggilan terputus begitu saja sebelum sang ayah bertanya kembali, bahkan tanpa salam dan tanpa kata akhiran sebagai kata penutup panggilan dari sang ayah mertua.
" Gimana yah? mereka ada dimana? Panji sudah menemukan Ratu kan?" Ibu mereka langsung penasaran saat melihat ekspresi suaminya.
" Sepertinya situasi semakin rumit istriku!"
Sang ayah langsung melemas saat sang istri langsung membombardir pertanyaan ketika dia terpaku ditempat, raganya ada disana, namun seolah pikirannya sudah melalang buana pergi entah kemana-mana.
Sebagai seorang pria dia tahu apa yang sedang terjadi dan mereka lakukan disana walau tanpa harus dijelaskan secara detailnya. Apalagi dengan suara-suara harem yang juga sering dia lakukan sebagai pria perkasa yang sudah berhasil menciptakan dua anak selama ini.
__ADS_1
Menjadi bahagia tidak berarti bahwa semuanya sempurna. Anda hanya perlu melihat keindahan dalam setiap ketidak sempurnaan. Kita memang punya keinginan, tapi semesta punya kenyataan.