Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
57. Kuyang


__ADS_3

...Happy Reading...


Suara rintik hujan yang jatuh membasahi bumi, seolah menemani hancurnya hati seorang pria, yang masih duduk disebuah kursi roda.


Memandang lepas kearah jendela kaca kamarnya, yang sudah berembun karena dinginnya cuaca sore ini.


Hari ini tepat tujuh hari istri Arga meninggalkan dirinya bersama putra kesayangan mereka untuk selama-lamanya.


" Sayang... ternyata ini yang kamu maksud ingin pulang?"


Saat Arga berdiam sendiri di kamar, selalu saja air matanya itu lancang turun dengan sendirinya, walau tanpa dia pinta.


" Apa kamu sudah bahagia sekarang? Aku disini sepi tanpamu sayang?"


Kamar itu menjadi saksi dan menjadi kenangan terindah bagi mereka berdua, karena disanalah tempat Arga dan istrinya memadu kasih dalam suka maupun duka sehingga menghasilkan buah cintanya yang sangat tampan.


" Kamu orang baik, kamu istri yang selalu taat dengan suami, sayang dengan anak, bahkan di saat-saat terakhirmu pun kamu menjaga maruah seorang suami, sungguh kamu benar-benar wanita istimewa yang sudah Tuhan ciptakan untukku."


Apalagi saat mengingat awal mula kecelakaan itu terjadi, Arga begitu terpukul, rasa bersalah selalu saja muncul dihatinya, ribuan kata Andai selalu bersarang di otakknya.


Itu terjadi seolah begitu cepat dan sampai saat ini kejadian itu masih seperti di alam mimpi. Berulang kali Arga memejamkan mata, berharap dia bisa bangun dari mimpinya, namun beribu kali sayang, ternyata ini adalah kenyataan pahit yang harus Arga telan walau sangat sulit.


" Mas ikhlas atas kepergianmu, asalkan kamu bahagia disana sayang, aku rindu senyumanmu dan semoga kamu bisa tersenyum saat tidak lagi merasakan kesakitan di dunia fana ini."


Berulang kali dia menghela nafasnya, mau dia berontak dan tidak terima pun apa gunanya, karena istrinya sudah berada didalam pusara, tempat peristirahatan terakhirnya.


" Sayang... Istirahatlah dengan tenang, doa kan juga aku dan Hugo bisa menjalani kehidupan yang baik walau harus tanpa kamu, sering-seringlah datang menemui mas walau hanya dia alam mimpi, agar bisa mengobati rasa rindu mas terhadapmu, dan sampai kapanpun mas akan selalu menyayangimu, bahkan untuk selamanya."


Tok.. Tok..


Suara ketukan pintu yang terdengar kasar akhirnya membuyarkan segala lamunan Arga tentang almarhumah istri tercintanya.


" Masuk."


Arga langsung mengusap air matanya yang masih tersisa di kedua pelupuk matanya, cukup dia yang tahu akan kesedihannya sendiri, dia akan selalu beranggapan bahwa istrinya hanya pergi dengan raganya, namun jiwanya dan segala kebaikannya akan selalu tersimpan didalam hatinya.


" Kamu ngapain masih disini, temui itu teman-teman kamu, mereka sudah pada datang." Ucap Mama mertua Arga dengan raut wajah yang sudah tidak mengenakkan.


" Siapa ma?" Tanya Arga yang langsung menjalankan kursi rodanya sendiri.


Saat ini Hugo juga masih berada di rumah sakit, saat malam Arga sengaja pulang, karena ada acara doa bersama untuk almarhum istrinya.


" Manalah ku tahu, cepat kamu temui dia, aku sudah capek harus menyiapkan makanan dan minuman di dapur." Ucapnya yang langsung melenggang pergi dari hadapan Arga.


Padahal dia hanya duduk-duduk santai saja di dapur, yang bekerja menyiapkan hidangan dan minuman juga ibu kandung Arga.


" Iya Ma."


Pedih memang, namun tidak terlalu Arga fikirkan, karena mau bagaimanapun juga dia wanita yang sudah melahirkan orang sebaik istrinya, jadi sekasar-kasarnya ibu mertuanya terhadapnya, dia akan selalu memakluminya, walau sebenarnya puncak dari pertengkaran yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi adalah ibu mertuanya itu sendiri, tapi Arga memilih diam saja, karena mengkoreksi diri sendiri lebih baik dari pada harus menyalahkan orang lain.


Dengan susah payah Arga menggunakan tongkat besi untuk turun dari kamarnya, biasanya ibunya yang selalu membantunya, namun karena mungkin beliau sibuk di dapur, jadi Arga tidak mau menggangunya.


Saat sampai ditangga paling bawah, tiba-tiba Arga seolah kehilangan keseimbangannya, jadi dia tanpa sadar berteriak karena akan terjatuh.


" A... Aw..."


Namun seseorang terlihat berlari dan menyangga tubuhnya agar tidak terjatuh, walau terlihat meringis karena tidak kuat menahan berat badannya.


" Astaga Arga, hati-hati kalau jalan, kalau jatuh terus gimana kakimu mau sembuh, siapa nanti yang mau membayar biaya obat kamu dan biaya rumah sakit Hugo, jalan sendiri aja nggak bener kamu ini!"


Bukannya mau menolong, ibu mertua Arga yang kebetulan baru saja lewat hanya mengoceh dan menghujatnya saja, tanpa memikirkan perasaan menantunya itu.


" Astaga.. Itu orang apa Kuyang! Mulutnya melebihi pedasnya mulut deterjen!"

__ADS_1


Melody yang tadi ingin menumpang ke kamar mandi sontak berlari saat melihat dari arah tangga Arga sudah berdiri limbung hampir tumbang.


" Melody, kamu sudah datang?" Arga langsung merangkul bahu melody agar dia bisa berdiri dengan tegak kembali dengan bantuan tongkat miliknya.


" Iya pak, aku datang dengan teman-teman kampus dan juga para dosen." Melody langsung memapah langkah Arga agar tidak terjatuh.


" Hmm... Terima kasih ya sudah membantu bapak." Ucap Arga sedikit lega karena tidak jadi jatuh.


" It's okey pak, kenapa nggak pake kursi roda saja tadi pak, bahaya loh pakai tongkat begini, kondisi tubuh bapak kan masih lemah."


Melody sudah tidak terlalu canggung dengan Arga, karena dia pernah merawat Arga seharian saat musibah itu baru saja terjadi dan orang tua Arga saat itu belum datang.


" Kalau turun tangga susah pakai kursi roda sendiri Mel." Jawab Arga sambil menahan segala rasa, dari rasa sakit dibadan sampai rasa sakit di ulu hati karena omongan mertuanya.


Biaya rumah sakit memang tidak sedikit, apalagi dia harus cuti mengajar sebagai dosen, jadi pemasukannya pasti berkurang sedangkan biaya pengeluarannya semakin membengkak.


" Minta bantuan dong pak, jangan turun sendiri, ibu bapak kemana?" Tanya Melody yang kasihan karenanya.


" Mungkin didapur."


" Pantes saja, hanya ada mak lampir yang seliweran sedari tadi." Umpat Melody tanpa sadar.


" Hush... Siapa yang kamu bilang mak lampir itu?" Bisik Arga sambil menaikkan kedua alisnya.


" Yang tadi ngomel-ngomel nggak jelas itu lah, bukannya bantuin malah ngoceh nggak jelas! Apes banget nasip bapak kan!"


" Kenapa apes?"


" Dapet mertua kayak gitu, tapi udah mau pensiun kan pak?"


" Pensiun apa?"


" Pensiun jadi menantunya lah, nggak baik lama-lama jadi menantu Kuyang kayak gitu, bisa makan hati, habis nanti badan bapak, nggak macho lagi."


" Ckk... Kamu ini kalau ngomong ya, jangan ketularan Ratu kamu, nggak baik kayak gitu!" Baru kali ini senyum Arga terbit, saat melihat murid paling cerdas di kampusnya ngedumel tentang mama mertuanya yang memang bermulut pedas.


" Aku duduk dulu disini, kakiku agak nyeri Mel."


Arga sedikit terlihat kesakitan, jadi dia memilih duduk sebentar di kursi sebelum menemui rekan-rekan dan para mahasiswanya yang datang berkunjung.


" Apa kaki yang diperban yang sakit?" Melody langsung membantu Arga duduk dan mengambil tongkatnya.


" Bukan tapi yang satunya, karena tadi aku buat menumpu, tapi karena sudah beberapa hari jarang untuk beraktivitas jadi mungkin agak kram." Arga terlihat sedikit kesusahan untuk memijit ujung kakinya yang memang terasa kaku.


" Coba sini aku lihat."


Melody dengan santainya langsung duduk bersila di lantai tepat dibawah Arga duduk saat ini.


" Nggak usah Mel, nggak papa ini, istirahat sebentar juga pasti membaik, kamu mau kemana tadi?"


" Tadi mau numpang ke kamar mandi sih, tapi masih bisa ditahan kok, aku bantu lemesin kaki bapak dulu, ini emang bengkak loh kaki bapak."


Melody bahkan langsung memangku kaki kiri Arga dan memijitnya perlahan, tanpa rasa segan karena dia ikut prihatin atas kejadian yang menimpa dosennya itu, apalagi dia seolah diperlakukan tidak baik oleh mama mertuanya, yang bukan siapa-siapanya saja sakit saat mendengar ocehannya, apalagi Arga sendiri pikirnya.


" Ya sudah sana, ada diujung itu kamar mandinya."


" Nggak papa, aku bantu pijit dulu, dari pada nanti nenek Kuyang itu datang lagi, trus lihat bapak disini nanti diceramahin lagi."


Melody terus saja memijit kaki Arga, tidak memperdulikan Arga yang malah merasa tidak enak hati.


" Hei..."


Benar saja, baru saja diomongin ternyata orangnya sudah datang menyapa dengan lengkingan suaranya.

__ADS_1


" Iya ma, ada apa?" Tanya Arga dengan nada perlahan.


" Baru juga genap tujuh hari anakku meninggalkan kamu, tapi kamu sudah berani nempel dengan seorang wanita, apa tidak bisa kamu menahan sebentar lagi, bahkan kuburan anakku masih basah, tapi kamu sudah mencari wanita lain!" Teriak Mama mertua Arga yang langsung membuat Panji dan Ratu yang ingin mencari mereka terpaku di tempat.


" Astagfirullohal'azim... Kok ada Kuyang model begituan di dunia ini." Melody langsung ngesot mundur dan mengusap dadaanya sendiri karena terkejut.


" Ssst... Kamu ini ngapain, katanya mau ke kamar mandi, malah cari gara-gara disini." Ratu yang melihatnya langsung menarik telinga sahabatnya.


" Kaki pak Arga kram, dia hampir saja terjatuh tadi, jadi aku menolongnya, kakinya bengkak susah buat jalan, jadi aku bantu mijit doang, nggak ngapa-ngapain loh." Ucap Melody dengan jujur.


Memang tidak ada sedikitpun niatnya untuk modus dengan Arga, kebetulan saja tadi dia menolongnya, namun ternyata kebaikannya disalah artikan.


" Alasan saja kamu, dari tadi kamu nempel-nempel kan sama Arga!" Hujat Mama mertua Arga itu kembali.


" Bukan begitu ma." Arga mencoba meluruskan kejadian sebenarnya, namun mama mertuanya sudah terlihat emosi dan tak terkendali.


" Bukan nempelin buk, cuma membantu saja." Jawab Melody yang langsung melakukan pembelaan, karena memang dia tidak punya maksud buruk, dia pun paham posisi Arga dan keluarganya masih berduka,namun ucapan mama mertua dosennya itu memang terasa sangat menyakitkan baginya.


" Halah... Wanita mana kamu, pasti kamu sudah mengincarnya dari dulu kan, kamu pasti senang sekarang karena dia sudah jadi duda, mau ngincer dia kamu!"


" Astaga... Pedesnya mulut ini Kuyang!" Bisik Melody sambil melengos karena menahan emosi.


" Buk, bukan begitu, tadi kaki saya memang sedikit nyeri, jadi Melody membantu saya, dia anak didik saya buk, bukan siapa-siapa." Ucap Arga setelahnya.


" Heleh... Didepan orang banyak kamu bilang bukan siapa-siapa, tapi dibelakang kalian main serong berdua kan, jangan-jangan kalian sudah berkhianat dibelakang putriku sejak dia masih hidup ya!"


" Allohu akbar! Astaga nyebut Kuy... Eh buk, pak Arga bukan orang seperti itu, dia bahkan sangat menyayangi putri ibuk, puluhan orang berusaha mendekati menantu ibuk itu saat di kampus, tapi tidak ada satupun yang dia tanggapi, demi menjaga hati istrinya, tadi aku beneran hanya ingin membantunya, jangan sembarangan menuduh buk, inget dosa! Karena semua yang ibuk ucapkan akan dipertanggung jawabkan dihadapan Tuhan yang maha Esa, ngerti nggak!" Tanpa sadar Melody langsung ikut ngedumel disana.


" Sssttth... Udah, nggak usah dilawan." Ratu langsung menyeret Melody untuk membawanya pergi dari sana.


" Ingat satu hal buk, jika ibuk tidak bisa menjaga mulut ibuk, suatu saat ibuk akan menerima balasannya, punya mulut tuh dipake buat makan, jangan buat nyinyir aja!" Tambah Melody kembali.


" Hei... Awas kau ya, dasar wanita tak tahu diri dan tidak punya sopan santun dengan orang yang lebih tua!" Mama mertua Arga langsung berkacak pinggang saat mendengarnya.


" Aku memang bukan wanita yang sempurna buk, tapi aku dari kecil selalu diajarkan untuk menjaga lisan, tidak berprasangka buruk dan menjelek-jelekkan orang lain tanpa tahu kebenarannya." Jawab Melody yang tidak terima.


" Melody!"


Arga langsung mendelik kearah Melody, bukan marah karena Melody membela dirinya, namun dia tidak ingin kemarahan mama mertuanya semakin meradang dan akhirnya menimbulkan keributan disini.


" Haish... Ratu, kamu bawa pulang saja temanmu itu, nanti aku jemput kamu di rumahnya setelah acara doa selesai." Panji langsung menggiring dua perempuan itu agar segera pergi dari hadapan mama mertua Arga, yang memang sudah memerah wajahnya karena marah.


" Okey yank, aku antar dia pulang dulu."


Ratu bahkan langsung mendorong tubuh Melody agar segera berlari dari sana, sebelum kemarahan mama mertua Arga meledak disana, sebenarnya Melody seolah masih belum puas beradu mulut dengan seorang wanita yang dia sebut dengan Kuyang tadi, namun dia juga tidak ingin malu sendiri jika teman-teman dan para dosen melihat keributan itu, jadi dia memilih menurut untuk pergi saja.


" Ma... Maafkan anak didik saya, tapi kami memang hanya sebatas dosen dan murid saja, tidak lebih dari itu, nama putri mama masih dan akan terus menjadi wanita spesial di hati Arga, sampai kapanpun itu."


Skak!


" Bodo amat!"


Karena sudah kalah telak dan kalah bicara, mama Arga langsung melenggang pergi dari sana dengan sejuta kekesalan yang melanda karena seolah dia kalah berdebat dengan Melody.


Sayang... Maafkan mas, karena harus ada kejadian seperti ini di acara doamu, semoga kamu memaafkan kesalahan mas, kamu pasti lebih tahu kejadian yang sebenarnya, mas tidak seperti apa yang dibilang mamamu, tolong maafkan mas..


Arga hanya bisa memejamkan kedua matanya, menahan rasa amarah dan sedih yang tercampur menjadi satu, tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini selain berserah kepada-Nya, untuk kebaikan dirinya dan berjuang untuk tetap baik-baik saja demi putranya yang masih berjuang melawan kesakitannya di rumah sakit saat ini.


Siapa yang perduli dengan kesempurnaan?


Bulan pun tak sempurna, ia penuh dengan kawah. Laut itu luar biasa indah, tetapi asin dan gelap di kedalamannya. Langit selalu tidak terbatas, tapi sering mendung dan juga hujan.


Jadi, semua yang indah itu tidaklah sempurna, tapi ia istimewa. Oleh karena itu, setiap manusia itu bisa menjadi spesial bagi seseorang.

__ADS_1


Berhenti menjadi sempurna, tetapi berusahalah terus memperbaiki diri agar terus menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna bagi orang lain, bukan hanya bagi diri sendiri.


Dan jangan lupa jempol kalian adalah semangatkuh😁


__ADS_2