
...Happy Reading...
Broto dengan Gendhis berada dalam situasi serba salah, mau berhenti nanggung, karena hanya tinggal satu genjotan lagi mereka sudah sampai di awang-awang, namun kalau diteruskan ada tamu yang datang, apalagi pintu utama mereka terbuka.
Dan akhirnya daripada pedang pusaka Broto harus bantat karena aliran listriknya harus terputus, maka dengan menahan rasa malu sedikit dia lanjutkan saja gencatan senjatanya sampai kata ahh terucap dari mulutnya.
Lagian mereka tidak membuka seluruh pakaiannya, hanya kancing-kancing baju mereka saja yang terlepas, apalagi Gendhis hafal betul dengan suara tamu yang datang.
"Melody... Masuklah, kakak sudah selesai!"
Gendhis langsung membenahi bajunya dan membereskan tissu yang sudah bertebaran.
"Beneran kak, kalau masih mau lanjut aku tinggal saja undangannya didepan ya?" Melody merasa segan sendiri, lain halnya jika itu Ratu, dia tidak mempermasalahkan akan hal itu.
"Undangan apa sih?" Gendhis memilih keluar menemui mereka.
"Undangan pernikahan kami kak." Jawab Melody sambil nyengir dan menyodorkan undangan miliknya walau dengan tangan yang masih sedikit bergetar.
"Kamu mau menikah sekarang? bukan karena kamu bestie nya Ratu terus kamu mau ikut-ikutan dia menikah dini kan?" Siapapun pasti terkejut saat mendengar berita pernikahan Melody.
"Ya enggak lah kak."
"Sttth... apa kamu hamil duluan juga kayak kakak dulu?" Karena penasaran, Gendhis langsung menarik lengan Melody dan berbisik kepadanya.
"Enggak kak, aku bahkan masih ting-ting!" Jawab Melody dengan bangga.
"Lalu kenapa harus buru-buru dek, asal kamu tahu aja, menikah itu tidak seindah yang kamu bayangkan, apalagi kamu masih kuliah, belum wisuda juga kan, kamu itu masih terlalu muda dan dia bukannya temannya mas Panji kan?" Gendhis menunjuk Arga yang pura-pura tidak mendengar.
"Aku tahu kak, tapi aku memang nggak punya pilihan lain."
"Menikah memang perlu disegerakan. Tapi bukan berarti harus serba terburu-buru. Sebuah pernikahan butuh dua individu yang sama-sama "utuh". Dalam arti memang sudah benar-benar siap menikah untuk tujuan yang mulia, dan bukan menjadikan pernikahan sebagai "tumbal" untuk menyembuhkan luka atau apapun itu." Gendhis langsung menasehatinya, karena dia sudah mengagangap Melody sebagai adeknya sendiri, karena terlalu akrab dengan Ratu.
"Tapi semua sudah terjadi kak."
"Apanya? kalian sudah ninu-ninu gitu, woah... si Ratu pasti ngeracunin otak kamu dengan yang enak-enak pasti kan, anak itu memang menyesatkanlah!"
"Tapi menikah ada enaknya juga kan kak?"
"Siapa bilang?"
"Buktinya kakak proses produksi terus? kalau nggak enak, sudah pasti kakak menolak kan?"
"Pftttth..."
Arga yang sedari tadi menguping obrolan mereka langsung menahan tawa saat mendengar celotehan istri kecilnya.
"Kapan kalian menikah?" Setelah Broto selesai dari kamar mandi dia langsung ikut keluar dan menemui tamu mereka.
"Akhir pekan ini bang, jangan lupa datang ya!"
Melody pun ikut-ikutan Ratu memanggilnya dengan sebutan abang.
"Beneran kamu mau nikah? padahal misi kita hari itu belum selesai kan? Tas Hermess nya udah abang pesan hari itu."
"Aaaa... Melayang deh Tas Hermess gue?"
Setelah sekian purnama dia kembali teringat dengan misinya membuat Gendhis cemburu.
"Haha.. siapa suruh kamu menikah terburu-buru."
"Kalau sekarang masih ada kesempatan nggak bang?"
"Kalian ini pada ngomongin apaan sih?" Gendhis bingung sendiri jadinya.
"Dulu kami sempat ingin kencan yank?" Jawab Broto dengan santainya.
"APA!"
Bukan hanya Gendhis, bahkan Arga langsung berteriak dan mendelik kearah Melody yang langsung menaikkan kedua jarinya sebagai tanda perdamaian.
"Ayo kita pulang sekarang, jangan hanya gara-gara tas, kamu mau jadi pihak ketiga, pakai aja nih tas kresek, bahkan dia lebih serbaguna, bisa dipakai untuk bawa apa aja!"
Arga langsung menarik lengan istrinya bahkan mengalungkan tas kresek tempat undangan ke lengan Melody karena merasa cemburu saat istrinya bisa sesantai itu bicara dengan Broto.
"Ahaha... apaan sih pak, pamit dulu kali!"
"Nggak usah, kayak sama siapa aja!"
"Cie... Cemburu ya?"
__ADS_1
"Iya, emang kenapa? aku sudah berstatus suamimu sekarang!" Arga pun tidak malu-malu untuk mengakuinya.
Karena dia tipe pria yang kalau sudah sayang, pasti akan dia jaga dengan ketat.
"Kak Gendhis, Bang Broto, aku pulang duluan ya, tas Hermessnya jadiin kado boleh banget loh, hehe...bye!"
Akhirnya Melody dan Arga pergi dari rumah mereka meninggalkan Broto yang sudah tertawa geli karena Gendhis langsung mengelitik tubuh suaminya karena kesal dengan misi masa lalunya.
"Pak, kita langsung ke rumah Melody aja ya, biar nanti kita bisa langsung pulang lagi ke kampung, kasihan Hugo ditinggal sama ibuk di rumah."
Keluarga Melody sudah memutuskan akan membuat pesta pernikahan dirumah Melody akhir pekan ini. Sekalian juga karena Melody juga masih izin sakit dari kampus.
Mereka berdua sengaja kembali ke kota, hanya ingin meminta doa restu dan memberikan undangan langsung kepada keluarga Ratu dan Gendhis yang sudah mereka berdua anggap sebagai keluarga sendiri.
"Nggak, kita ke rumah aja dulu, aku capek mau istirahat dulu!" Arga seolah masih terbawa suasana, entah kenapa mood nya turun seketika.
"Atau mau gantian aku yang bawa mobil pak? aku bisa kok."
"Tidak perlu, pokoknya kita pulang aja dulu, belajar nurut sama suami, jangan protes aja."
Ternyata walau sudah jadi duda dia bisa cemburu juga, padahal cuma hal remeh temeh begituan loh, bisa badmood juga nih duda?
"Huft... baiklah."
Melody sudah merasakan hawa-hawa semriwing dari wajah suaminya, jadi dia memilih diam dan menyetujuinya, walau harus berperang batin dengan suami dudanya.
Bahkan sampai didalam rumah, Arga masih diam saja dan memilih mandi trus baring di ranjang kamarnya.
"Pak... mau dibuati sesuatu? minuman atau makanan gitu?" Melody mencoba merayu Arga yang terus terdiam dan terlihat sibuk mengotak-atik ponselnya.
"Nggak!"
Hedeh... dia marah beneran? ya elah... Untung tampan dia, kalau enggak sudah aku tinggal kabur aja dia.
"Ya sudah, nanti kalau perlu apa-apa panggil saja ya pak, aku laper pengen buat mie instant di dapur."
Melody memilih pergi ke dapur saja, daripada harus dicuekin sama duda tampannya, dia lebih memilih mengisi perutnya dengan sesuatu yang hangat-hangat.
Dengan isengnya dia menelpon Ratu sambil menunggu rebusan mie instannya mateng.
"Hallo Mel? loe dimana? Pak Arga sudah kayak orang gila dari kemarin nyariin kamu!" Saat baru mengangkat panggilannya saja Ratu sudah mengoceh kesana kemari, padahal Melody belum berkata apa-apa.
"Jadi kalian udah ketemu nih ceritanya? terus elu dicuekin gitu, haha... drama lah itu." Ratu langsung terkekeh dibalik ponselnya.
"Emang gimana caranya buat suami elu berhenti ngambek?"
"Kalau gue sih gampang aja!"
"Gimana?"
"Kekepin aja laki loh, gesek-gesek dikit, tiup-tiup dikit bagian mana yang sensitif."
"Trus?"
"Langsung terjang deh, nggak bakalan nolak deh dan satu lagi, dijamin laki loe bakalan tersenyum-senyum setelahnya!"
"Dih... Itu kan laki elu, yang udah sama-sama mesvm kayak elu, nah.. Pak Arga mah lain, dia itu gimana ya?"
"Emang gimana Pak Arga? cerita aja deh, kayak ama siapa aja elu nih!"
"Dia kan belum bisa melupakan istrinya, sepertinya dia hanya terpaksa menerimaku, jadi pasti mengatasi badmoodnya bukan dengan cara itu deh?"
"Siapa yang bilang terpaksa?"
Glodak!
Melody langsung menjatuhkan ponselnya karena terkejut, karena melihat Arga tiba-tiba kuncul disana, namun ternyata ponsel itu jatuh diatas kursi dapur.
"Pak... apa bapak butuh sesuatu?" Melody langsung berjalan mundur saat Arga bergerak mendekati dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Siapa yang bilang aku terpaksa menerimamu?" Arga bahkan terus berjalan untuk memojokkan tubuh istrinya di tembok.
"Pak aku sedang memasak mie, nanti gosong itu, kita makan mie aja yuk!" Melody malah jadi ketakutan sendiri, saat melihat wajah Arga yang terasa sulit dia pahami.
Ceklik!
Bahkan tanpa mengalihkan tatapannya Arga mematikan kompor didekatnya dan langsung mengangkat tubuh Melody agar dia duduk di meja disamping kompor.
"Pak ampun, aku beneran nggak ngapa-ngapain dulu sama Bang Brott itu, belum jadi setingan, mereka udah baikan sendiri." Melody langsung memilih jujur duluan.
__ADS_1
"Tapi kamu tadi meminta kesempatan kan hanya demi tas Hermess? apa kamu bisa dibeli hanya dengan seharga tas itu?"
"Eh... aku cuma bercanda aja tadi pak, lagian Bang Broto juga pasti nggak mau lah, dia kan sudah bahagia dengan kak Gendhis!"
Krak!
"Lalu, apa kamu mau merusak kebahagiaan mereka!"
Arga bahkan tidak sabar untuk membuka kancing istrinya satu persatu, akhirnya dia menariknya saja sampai kancingnya jatuh berserakan dilantai.
"Pak Arga marah nih sama aku?" Melody langsung memejamkan matanya karena panik.
"Menurutmu?" Arga mengusai kedua bukit istrinya yang masih kenyal dan tidak begitu besar, karena memang belum tersentuh selain dirinya.
"Pak, emh... Beneran loh, kami cuma bercanda, jangan marah!" Melody ingin menolak, namun entah mengapa dia malah merasakan sensasi yang lain.
"Bercanda kamu tidak lucu, kamu tahu kan bapak juga bisa marah?" Arga langsung membuka celana istrinya dengan faseh, kalau hal seperti itu saja dia sudah terlalu pandai, bahkan dalam suasana gelap pun dia tahu letaknya, karena jam terbangnya sudah tinggi.
"Pak tapi eugh."
Melody tidak lagi bisa berkata-kata setelah tangan suaminya mengobrak-abrik isi dalam celananya.
"Kamu ini memang suka main-main ya, walau sudah tahu kalau kita ini sudah menikah?" Arga bahkan dengan fasehnya sudah bermain gitar dibawah sana.
"Argh... apa ini pak? aku jadi ingin pipis!" Melody baru kali ini merasakan foreplay didalam hidupnya, sungguh rasanya sangat sulit untuk digambarkan.
"Rasain kamu!" Arga bahkan tersenyum dengan lepas sambil menambahkan ritme kecepatan tangannya.
"Ampun pak, eugh!" Melody bahkan sampai menggelinjang kekanan dan ke kiri.
"Tidak ada ampun bagimu, kamu kalau nggak aku jebol duluan maunya main-main terus sama pria lain kan? Kemarin sepupu kamu, sekarang suami orang, besok siapa lagi?" Arga bahkan menggerakan kedua tangannya dikedua bagian sensitif istrinya.
"Pak... aduh gimana ini?" Melody bingung harus bagaimana, akhirnya dia menjambak rambut suaminya.
Slep!
"Aaaaaaaa... Aduh.. Duh.. Duh..!"
Krompyang!"
Bahkan tangan melody tanpa sadar menyampar piring bumbu mie instant yang sudah dia siapkan tadi, karena merasakan sesuatu yang menusuk tubuhnya.
"Sakit nggak!" Ledek Arga yang menjeda pergerakannya sebentar.
"Ampun pak, jangan marah begini dong?"
"Makanya jangan merasa kalau kamu masih sendiri, kapok enggak!" Arga semakin memperdalam tusukannya.
"Enggak, eh.. Kapok deh!"
"Kamu benar-benar ya! rasakan ini, hmpth... Fuuh.. mantapnya dapat perawan dua kali!" Celoteh Arga yang puas merasakan sensasi itu untuk kedua kalinya.
"Paaaaaaaaaak!"
"Teriak aja sepuasmu, tidak akan ada yang tahu, hegh!"
Arga tidak perduli,dia bahkan langsung gas poll, saat tidak ada lagi penggangu dirumahnya, karena hanya ada mereka berdua didalam rumah itu.
"Woi... hallo... hallo... kalian lagi ngapain? asiall... !"
Ternyata sambungan telpon dengan Ratu saat itu belum terputus.
"Pak... Itu ponselnya belum aku matiin!" Ucap Melody sambil merem melek menahan serangan suaminya.
"Hah, ckk... biarkan saja, kita selesaikan saja dahulu, sebelum mereka semua datang menggedor pintu rumah kita!" Jawab Arga yang tidak menggubrisnya.
"Tapi pak?"
"Mulai hari ini, kamu sudah sah menjadi milikku sepenuhnya, bahkan luar dalam, jadi jangan pernah menggangap aku belum menerimamu, karena aku sudah sangat menyayangimu Melody sayang, aku milikmu dan kamu milikku, hegh!" Arga semakin mempercepat temponya saat istrinya sudah mulai merasa nyaman dan menikmatinya.
"Woi... dasar istri cicilan, besok kalian baru sah dimata hukum dan orang tua kalian! Nggak sabaran amat dah, hallo.... Woi... sayang... Mas Panji, anterin aku ke rumah pak Arga sekarang!" Teriak Ratu yang terdengar cempreng di ponsel milik Melody itu.
Endingnya, Ratu sendiri yang langsung kelabakan mencari suaminya, sedangkan Melody dan Arga tetap meneruskan hak mereka sebagai pasangan suami istri.
... "Life is a question and how we live it is our answer."...
...(Hidup adalah sebuah pertanyaan dan bagaimana kita hidup itu adalah jawabannya)....
Aman kan bestie? biar pun partnya bikin ngilu-ngilu sedikit jangan di skip ya, karena ini sudah menjelang selesainya petualangan Ratu dan kawan-kawannya, tapi tenang aja masih ada satu episode endingnya.
__ADS_1
Dan Author sudah menyiapkan buku baru yang siap menggetarkan dunia ranjang kalian kembali, ehh... opsh... Piye toh iki😅🤣