Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
53. Garis Tangan-Nya


__ADS_3

...Happy Reading...


Hasrat mantan Jodi memang tidak bisa ditahan, apalagi dihentikan begitu saja, walau niat awalnya cuma minta satu ronde, namun akhirnya Panji nambah sampai tiga kali putaran bahkan sudah tidak terhitung banyaknya, kalau digabung dengan yang tadi malam.


Itupun karena waktunya sudah mepet, karena dia harus menggantikan Arga mengajar di kampus.


" Ratu, sudah selesai belum, ini sudah jam berapa?" Panji sudah mondar-mandir menunggu istrinya sedari tadi.


" Bentar lagi Ay, rambut aku belum aku keringkan lagi."


" Ckk... Lama deh, ngapain mesti dikeringkan, nanti kena angin juga kering sendiri."


" Belum pake bedak juga, Ayang berangkat aja duluan sana, aku bisa naik taksi atau pake mobil ibu mertua nanti."


" Emang tujuan kamu dandan buat apa sih?"


" Ya biar cantiklah, gimana sih yank?"


" Sebagai seorang wanita, kalau sudah menikah, kamu hanya boleh bergaya dan berpenampilan cantik di depan suami saja, kalau kamu dandan menor kayak gitu tidak ada faedahnya, hanya akan menimbulkan nafsv syahwat seorang pria, mau apa dosa kamu bertambah?"


" Ya udah sih, besok kalau lebaran juga di lebur dosanya, tiap tahun kan lebaran, lagian aku dandan nggak menor-menor banget Ay, cuma pakai pelembab sama bedak tabur doang, trus ditambah lipstik aja, istrimu ini sudah cantik dari sononya!"


" Kamu ini, kalau dikasih tahu ada saja jawabannya! pake baju cepat, nggak usah berias kalau bukan didepanku, mengerti kamu!"


" Tapi Ay?"


" Nggak pake tapi-tapian, sudah bersuami kok keganjenan!"


Panji langsung mengambilkan baju lengan panjang dan celana panjang dari lemari pakaian istrinya.


" Jangan baju itu Ayang, ini cuacanya panas banget loh, pake yang pendek aja ya?"


" Nggak! Jangan pernah berpenampilan seksih kalau tidak berdua denganku!" Panji seolah langsung memberikan ultimatum.


" Yaelah... Ribet amat sih hidup bapak!"


" Panggil bapak lagi!" Panji semakin melotot dibuatnya.


" Ya ampun ini baju bikin gerah Ay... Nanti aku nggak bisa konsentrasi belajar kalau berkeringat!"


" Alasan saja kamu ini, mulai sekarang pakai baju yang tertutup, jangan mengumbar aurat, kalau maaih bandel nggak usah berangkat ke Kampus!"


" Okey siap!"


Bukan Ratu namanya kalau tidak bahagia, jika disuruh tidak berangkat kuliah.


" Tapi aku suruh dosennya yang datang ke rumah, dan ngajar privat, mau kamu!"


" Astaga, punya suami satu aja kejamnya minta ampun, kalau kayak gitu sama aja bohong!" Ratu langsung saja protes.


" Cih... Ganteng begini kamu bilang kejam, ayo berangkat!"


" Nasip-nasip punya suami model beginian, aaaaa... Aku ingin bebas seperti dulu lagi!" Ratu langsung merengek dengan rasa dongkol didalam dadaa.


Dia memang tidak bisa menjadi Ratu yang bebas haha hihi nongkrong sana sini lagi sekarang, karena sudah banyak tanggung jawab yang dia emban sebagai seorang istri.


" Jangan mimpi kamu!" Panji langsung tersenyum dengan liciknya, akhirnya perdebatan hari ini berhasil dia menangkan.


Mobil mereka akhirnya memasuki gerbang kampus terpopuler di kota itu dan Panji langsung memarkirkan mobilnya di tempat yang biasa digunakan para dosen untuk parkir mobil.


" Ayang turun duluan sana!" Saat Ratu menoleh kanan kiri ternyata masih banyak mahasiswa yang lalu lalang melewati mobil mereka.


" Kenapa?"


" Udah sana cepat turun duluan!"


" Iya, tapi kenapa? Kamu malu datang berdua dengan suami kamu ini?"


" Apa bapak lupa, kalau hubungan kita dirahasiakan di Kampus? Lagian sebagian orang tahunya Ayang kan nikahnya sama kak Gendhis?"


" Justru karena itu, wajar kan kalau datang barengan adeknya?"


" Dih... Dulu hubungan kita tidak semudah dan sedekat itu Ferguso!" Ratu langsung memalingkan wajahnya seolah tidak sudi.


" Ckk... Awas kamu ya, sama suami sendiri berani kamu melengos seperti itu!" Panji langsung memiting leher Ratu dan membawanya kedalam pelukan hangatnya.


" Ahahaha... cuma bercanda tadi, haha... Ampun yank!" Ratu langsung terkekeh karenanya dan berusaha berontak dari pelukan Panji walau selalu tidak bisa.


" Aku hukum kamu!"


Panji langsung menghujani kecvpan di kepala istrinya, sekarang bukan rasa benci lagi yang tercipta didirinya saat bergaduh dengan Ratu, tapi lebih ke rasa gemas sendiri, apalagi kalau mengingat moment mereka saat proses produksi, karena walau tengil seperti itu istrinya selalu bisa memberikan service terbaik untuk dirinya sesuai dengan versinya.


" Jangan yank, nanti ada yang lihat, sudah sana turun duluan, nanti kalau sudah sepi aku turun sendiri." Lain dengan Ratu, dia lebih merasa cuek-cuek saja seperti biasanya.


" Ya sudah, jangan kabur kamu, kelas pertama kamu sama aku kan?"


" Iya." Jawab Ratu yang sebenarnya masih malas, beberapa hari tidak memikirkan belajar dan tugas membuat dirinya malas mengawali kuliah hari ini.


" Kiss dulu sini." Pinta Panji dengan tampang datarnya.


" Nggak mau, nanti ada yang lihat!"


" Mana ada, orang-orang lewat dibelakang mobil kita, didepan itu tembok, siapa yang mau lihat!"


" Udah sana turun, nanti aja di rumah, jadi dosen itu yang profesional, kalau dirumah aku istri Ayang, kalau di kampus aku murid bapak, mengerti?"


" Kenapa kamu yang jadi mengaturku?" Protes Panji yang langsung tidak suka.


" Turun, atau aku teriak kalau pak dosen mau menodai diriku yang lemah ini!" Ancam Ratu pura-pura.


" Haish... Dasar bocah yang satu ini, bandelnya minta ampun, dari dulu sama aja!"


" Tapi udah sayang kan?" Ratu langsung menaikkan kedua alisnya dengan tatapan menggoda.


" Ciiih... Suka hatimulah, aku turun dulu, awas saja kalau kamu berani kabur, aku gempur kamu nanti malam habis-habisan!" Panji langsung turun duluan sambil mengumpat istri tengilnya.


Kelas pertama sudah akan dimulai, karena terlalu semangat mengajar hari ini, Panji datang ke kelas Ratu lima menit lebih awal, seolah sedetik saja dia tidak melihat Ratu kali ini, terasa ada yang kurang karenanya.


" Selamat siang pak."


Para mahasiswa itu langsung mencari tempat duduk masing-masing, karena sudah takut duluan saat melihat wajah dingin Panji dengan beberapa argumen yang tercipta, karena seharusnya Arga lah yang mengajar siang itu.


" Siang, hari ini bapak yang menggantikan pak Arga, karena beliau sedang ada urusan mendadak."


Panji menjawabnya sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan istrinya, namun meja disamping Melody masih kosong dan Ratu belum memasuki kelasnya.

__ADS_1


Kemana itu bocah! jangan-jangan kabur lagi, haish... Harusnya aku tidak percaya begitu saja dengan bocah nakal itu!


Panji langsung mengeratkan barisan gigi putihnya dan bersiap menyusun rencana untuk hukuman nanti malam, namun tak selang beberapa menit, bayangan istrinya sudah sampai didepan pintu.


Tok.. Tok...


" Selamat siang pak?"


Ratu mengetuk pintu ruangan itu dengan senyum yang mengembang dan membuat semua teman-teman kampusnya merasa kaget. Ratu yang terlambat, mereka semua yang ketar-ketir karena takut terkena imbasnya.


" Jam berapa ini Ratu?"


Seperti biasanya, tatapan mata elang itu seolah langsung tajam menusuk kearahnya.


" Masih kurang dua menit loh pak, belum terlambat kan?"


Jawab Ratu dengan senyum termanis yang dia punya, dia sengaja turun mepet, agar teman satu ruangannya tidak ada yang tahu saat dia turun dari mobil dosen terkiller di kampusnya.


" Masuk cepat!"


Mau marah namun saat melirik jam tangan mewah di pergelangan tangannya memang benar, dia yang terlalu awal masuk pikirnya.


Ditengah-tengah jalannya pelajaran siang itu, entah mengapa rasa kantuk didiri Ratu seolah tidak terkendali, karena setelah menikah, jam tidur malamnya memang sering berantakan.


" Ssttth... Ratu, bangun kamu, pak Panji melirik ke arah sini itu?"


Melody langsung menendang-nendang kaki Ratu dari samping, namun Ratu tetap saja menyandarkan kepalanya diatas meja.


Melody memang sudah tahu kalau Ratu menikah dengan dosennya itu, tapi Melody masih berfikir jikalau hubungan mereka masih seperti sama dulu, karena baru beberapa hari saja mereka menikah tidak mungkin langsung akur pikirnya.


Glodak


Panji sengaja sedikit mendendang kursinya agar Ratu terbangun karenanya.


" Sstth... Ratu, gila ini bocah, hei..." Melody ikut ketakutan sendiri melihat Panji yang sudah berkacak pinggang didepan sana.


" Eherm!"


Karena Ratu sama sekali tidak terusik, Panji sengaja berdehem dengan keras, bahkan membuat mahasiswa lainnya langsung memastikan tidak ada yang salah dengan diri mereka masing-masing.


" Woi... Ratu!"


" Apasih Mel, aku ngantuk banget ini!"


Dengan nada santainya Ratu memindahkan lengannya sebagai bantal kepala, agar lebih nyaman melanjutkan tidurnya.


" RATU ANDARA, MAJU KAMU KE DEPAN!"


Akhirnya lengkingan suara Panji berhasil membuat rasa kantuk Ratu hilang seketika dan langsung membuat dirinya menegakkan tubuhnya dengan sisa-sisa energi yang ada.


Semua mata tertuju ke arah Ratu, mereka yang sedari tadi tidak berani menoleh ke kanan dan kiri, akhirnya memberanikan diri melihat obyek yang dilihat dosen killer mereka sedari tadi.


" Mampus kamu Ratu, dari tadi gue bangunin malah ngeyel kamu!" Umpat Melody dengan kesal.


" Apa dia beneran marah Mel?"


" Melihat mahasiswanya mengobrol aja beliau ngamuk, apalagi melihat kamu tidur kayak kebo gitu, wasalam deh!" Melody bahkan tidak berani melihat wajah dosennya itu.


" Aku begini kan gara-gara dia juga!"


" Eh... Maksud gue kami berantem tadi malam!"


Tapi berantem di kasur!


" Ya ampun, sudah gue duga, dulu aja kamu benci banget sama dia, gimana ceritanya kalau kalian hidup satu rumah berdua, wah.. Pasti mengenaskan sekali kan?" Melody bahkan sudah membayangkan yang tidak-tidak.


" Habislah gue nanti malam!" Umpat Ratu perlahan.


" Hah? Kenapa?" Melody samar-samar mendengarnya.


" Nggak ada." Ratu langsung membungkam mulutnya sendiri.


" RATU!"


" Iya pak dosen yang terhormat, mau jalan ini."


Semua mahasiswa di ruangan itu berbisik-bisik mengomentari Ratu yang terlihat santai dan tidak terlalu cemas, apalagi ketakutan seperti yang lainnya.


" Kalian semua kerjakan tugas tambahan dari saya, harus selesai dalam satu jam ini, mengerti kalian!"


" Mengerti pak!" Jawab mereka serentak.


" Dan kamu Ratu, ikut bapak ke ruangan sekarang juga!" Panji kembali menatap wajah Ratu dengan tatapan horornya.


" Hedeh." Ratu langsung menjawabnya dengan jengah.


" Kamu bilang apa!" Tanya Panji sambil melotot.


" Siap pak." Ratu langsung berdiri tegak pura-pura ketakutan, padahal dia sedang menahan kantuk yang tidak tertahan.


Akhirnya Ratu mengikuti langkah Panji menuju ke ruangannya, meninggalkan semua kasak-kusuk mahasiswa yang mengomentari aksi Ratu hari ini.


" Kunci pintu dan tutup jendelanya!" Ucap Panji saat mereka sudah memasuki sebuah ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dosen disana memang difasilitasi punya ruangan sendiri-sendiri.


" Maaf pak, aku ngantuk banget tadi."


" Sini kamu!" Panji langsung menjentikkan satu jarinya kearah Ratu agar dia berjalan mendekat kearahnya.


" Aku ngantuk begini kan gara-gara bapak juga, siapa suruh ngajak bergadang sampai malam, pagi juga masih lanjut, masak mau dihukum juga, yang salah kan bapak?" Ratu langsung berjalan dengan wajah yang ditekuk.


" Kamu berani menyalahkan aku?"


" Emang salah bapak kok, ngapain juga mau dinikahkan sama seorang mahasiswa, mereka itu nggak boleh diajak bergadang, inget kata Bang Rhomah!"


" Apaan?"


" Bergadang jangan bergadang, kalau tiada artinya!" Ratu langsung menirukan gaya bernyanyi penyanyi Rhomah iramah.


" Haish kamu ini... makanya buruan kesini!" Panji langsung menepuk kedua pahaanya dengan cepat.


Hap!


Bahkan Ratu sengaja melompat kearah pelukan Panji karena merasa kesal sendiri, rasa kantuk yang dicampur dengan rasa kaget itu nggak enak banget menurutnya.


" Astaga, kalau jatuh gimana tadi Ratu!" Panji bahkan menyentil kening Ratu saat istri nakalnya itu sudah berada didalam pelukannya.

__ADS_1


" Hehe... Jatuh masih ke bawah ini, kalau jatuh tapi terbang itu baru menakutkan!" Ratu langsung terkekeh sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Panji.


" Kamu ini nakalnya kebangetan, tapi ngegemesin juga!" Panji langsung memainkan pipi Ratu seperti squisy.


" Jangan pak, nanti pipiku nggak cubby lagi, pijitin aja kali pak, pegel banget badan aku semuanya, aku sudah kayak romusha kerja siang malam tanpa dibayar."


" Emang kamu mau minta bayaran berapa, orang semua gaji aku nantinya juga milik kamu!"


" Beneran ya, bapak nggak boleh minta sedikitpun."


" Iya, tapi panggil Ayang lagi, kita kan cuma berdua?"


" Tapi ini kawasan kampus?"


" Tapi ini ruanganku, cepat panggil aku Ayang!" Panji langsung mengeratkan pelukannya sambil mengungselkan wajahnya didadaa istrinya. Ada rasa senang saat Ratu memanggilnya dengan sebuatan Ayang, seolah merdu sekali suaranya walau aslinya cempreng.


" Iya Ayang, tapi jangan kayak gini dong!"


Ratu merasa risau sendiri, saat Panji sudah bertingkah manja seperti ini, karena endingnya pasti dia minta mantap-mantap setelahnya.


" Kamu ngantuk kan?"


" He em."


" Kalau gitu aku buat biar kamu nggak ngantuk!" Panji langsung dengan terampilnya menyelipkan kedua tangannya dibelakang tubuh istrinya untuk melepas pengait kedua benda kenyal favoritnya.


" Ayang, jangan disini? Ini masih jam pelajaran loh! Tadi kan belum selesai?"


" Nggak papa, tadi kan sudah aku beri tugas, dan untuk tugas kamu nanti bisa kamu kerjakan di mobil saat perjalanan pulang, okey?" Walaupun dia memberi kelonggaran pada istrinya, namun study Ratu tidak boleh terlupakan begitu saja.


" Halaaaaaaaah... Sama aja bohong, tetap saja aku yang rugi!" Umpat Ratu dengan kesal.


" Ya enggaklah, sebagai gantinya akan aku buat kamu menjerit keena kan dalam satu jam, akan aku tunjukkan foreplay terbaik dariku, okey?"


" Tapi yank, eurm!"


Saat mulut dan tangan Panji sudah berada diposisi ternyamannya, tidak ada hal lain yang Ratu lakukan selain mende sah dan mengge linjang karena merasakan nikmat yang luar biasa.


" I love you Ratu." Panji berucap disela-sela aktivitas ngempengnya.


" Hem? Ehh... Apa? Ayang ngomong apa tadi?" Ratu seolah kembali sadar setelah dibuai oleh ketrampilan Panji.


" Apa sih, nggak ada!" Panji tidak mau mengulanginya, dan langsung kembali menerkam Ratu.


" Ngomong apa tadi yank, dih.. Pelit banget sih?" Ratu sudah mendengarnya samar-samar, namun dia ingin mendegarnya dengan jelas sekali lagi.


" Mau berapa ronde?"


" Bukan itu tadi, nyebelin banget deh!"


" Tapi yang satu ini enggak kan?"


" Apa?"


Slep!


" Hmpth! Ayang curang, katanya cuma foreplay aja tadi?"


" Nanggung Ratu, biar kamu nggak jadi mengantuk bahkan sampai nanti sore!"


" Eumh.. Tapi yang!"


" Jangan keras-keras Ratu, nanti terdengar dari luar!"


" Makanya berhenti dong!"


" Nggak mau!"


" Ayang gilaklah, masak main di kampus, eugh!" Walau angan-angannya sudah melayang namun rasa cemas didiri Ratu masih ada.


" Nggak papa, sekali aja, biar jadi kenangan sekaligus cari sensasi baru, hegh!" Panji tetap dalam posisi wuenaknya.


" Aish.. Dosen yang satu ini memanglah!"


Bahkan Ratu dibuat tidak bisa berkata apa-apa oleh perbuatan suaminya itu, walau dia kesal namun seolah hal ini sudah menjadi hal wajib bagi mereka berdua, karena mereka berdua selalu mendapatkan kepvasan masing-masing karenanya.


Tok.. Tok..


" Pak Panji!"


Tiba-tiba terdengar suara rekan dosennya mengetuk pintu dari luar.


" Aish... Siapa lagi!" Panji langsung merasa kesal saat ada yang menggangu.


" Yank, gimana ini?"


" Diem aja kamu!"


" Tapi?"


" Pak Panji, apa anda didalam?" Teriak rekan dosennya kembali.


" Iya buk, eurm... Ada apa ya?" Panji bukannya menghentikan aksinya, dia malah mempercepat goyangannya.


" Bisa kita bicara sebentar pak Panji, ada kabar yang tidak baik yang baru saja terjadi." Ucap rekannya dari luar.


" Hah? Iya.. Sebentar buk, hegh!"


Panji langsung menghentakkan pedang pusakanya, sambil membungkam mulut Ratu agar dia tidak menjerit karenanya.


" Sekarang kamu sembunyi dibawah kolong meja, sambil membenahi bajumu itu, aku keluar dulu, kamu diam disitu, okey!" Karena meja Panji kebetulan tertutup dari depan, jadi apapun dibawah sana tidak akan terlihat dari depan.


C U P


Hanya kecvpan manis dari bibir Panji, sebagai bayaran atas kegilaan dosennya disaat jam pelajaran Ratu yang sebenarnya masih berlangsung.


" Mau jadi mahasiswa, atau jadi istrinya sekalipun, aku selalu disiksa olehnya, Aduh Gusti, biar pun enak tapi kan senam jantung aku dibuatnya!"


Akhirnya dengan susah payah Ratu membenahi baju dan celananya dibawah kolong meja yang sempit itu, sepertinya dia harus mulai terbiasa dengan kelakuan mantan si Jodi yang sering di luar nalar itu.


Selalu ada pertanyaan tentang bagaimana nanti, bagaimana masa depan dan bagaiman akhirnya.


Sadarkah kalau semua pertanyaan itu terhubung dengan Takdir?


Tak ada yang bisa mengatur Takdir, jadi cukup kamu nikmati setiap detik yang kamu punya untuk bersamanya.

__ADS_1


Like, vote dan hadiahnya tetap author tunggu untuk part yang panjang ini, apalagi koinnya😄😄


__ADS_2