
...Happy Reading...
Setelah Ratu sudah memastikan kondisi kakaknya baik-baik saja, dia merasa sedikit lebih tenang sekarang dan Panji pun mengajaknya untuk pulang kerumahnya.
Selama didalam perjalanan pulang, mereka berdua sama-sama saling terdiam dengan pemikiran mereka masing-masing.
Tidak ada obrolan atau bahkan adu debat seperti biasa, sampai mobil mereka memasuki gerbang rumah mewahnya.
" Ehh... Ada pak Arga? Long time no see? Gimana kabarnya pak, rindulah sama kelas bapak?" Ratu langsung berjalan cepat dan duduk menemani Arga yang sedang minum teh di teras rumah Panji.
" Rindu sama kelasnya atau sama dosennya?" Arga sengaja berkata-kata seperti itu sambil melirik ke arah Panji yang sudah melotot.
" Ya sama kelasnya dong, tapi kalau bukan bapak yang ngajar aku tidak jadi rindu, hehe..." Seperti biasa, Ratu akan bersikap seperti itu jika berhadapan dengan Arga, bahkan dia lupa statusnya jika sidah bersuami.
" Ya berarti sama aja lah itu?" Celoteh Arga sambil tersenyum manis seperti biasanya juga, karena dia tidak bisa marah walau sebandel apapun muridnya yang satu ini.
" RATU ANDARA!"
Panji langsung menarik telinga istrinya tanpa ampun.
" Aw... Aw... Astaga, sakit tau pak!"
" Kamu panggil aku apa!"
" Pak!"
" Kamu tahu hukumannya apa!"
" Nggak mau tahu!"
" Apa aku perlu melakukannya didepan Arga!"
" Hehe... jangan dong!"
" Jadi panggil aku apa?"
" A... Ay..."
Ratu merasa segan sendiri karenanya,dia bahkan hanya mampu nyengir sambil melirik ke arah Arga yang terlihat sudah menahan senyuman.
" Panggil aku apa RATU!" Ucap Panji sekali lagi.
" Ayaanngggggg!"
Ratu langsung ingin pergi kabur dari hadapan kedua dosennya, namun Panji langsung menarik kerah baju istrinya dari belakang.
" Mau kemana kamu!"
" Mau masuk ayang!"
" Sini, duduk dulu kamu!"
Panji bahkan sengaja menarik tubuh Ratu dan mendudukkan tubuh rampingnya dikedua pahaanya, dia sengaja ingin menunjukkannya didepan Arga dengan terang-terangan, karena memang Rekan dosennya yang satu itu sudah tahu jalan cerita keseluruhan dari dirinya.
Prok.. Prok.. Prok...
Pernikahan mereka baru beberapa hari saja, namun Panji seolah tidak rela saat Ratu ingin menggodaku? Apa dia sudah bisa melupakan kakaknya dan menerima adeknya?
" Wow? Sudah bisa bucin-bucinan kalian berdua?" Arga langsung bertepuk tangan, seolah tidak percaya juga saat melihat temannya yang dulu sangat membenci muridnya yang satu itu, akhirnya bisa manis seperti ini walau terlihat agak dipaksakan.
Tapi saat melihat kemarahan Panji ketika dia dengan sengaja menggoda Ratu tadi, Arga semakin yakin bahwa sebenarnya sudah ada benih-benih cinta yang tertanam sebelumnya, walau mungkin mereka belum menyadari sepenuhnya, karena tidak mungkin rasa takut kehilangan akan datang sesingkat itu pikirnya.
" Mana ada pak, kami bahkan berantem setiap saat!" Ratu langsung protes, karena memang seperti itu adanya.
" Diam kamu, siapa yang suruh kamu bicara!"
" Trus kenapa aku ditahan disini, biarkan aku masuk kalau begitu!"
" Temani aku disini!" Panji langsung mengeratkan kedua tangannya diperut Ratu dari belakang dan menempelkan dagunya di bahu Ratu sebelah kanan.
" Dih... Gerah ayang, biarkan aku duduk sendiri, badanku lengket semua ini, berkeringat tauk!"
" Aku bilang diam ya diam Ratu, apa mau aku bungkam mulutmu sekarang, hah?" Panji langsung memiringkan kepalanya ke arah wajah Ratu, bahkan tanpa merasa segan ataupun malu saat Arga dengan jelas melihatnya.
__ADS_1
Dia malah seolah ingin Pamer dengan sahabat baiknya kalau mereka berdua bisa bermesraan seperti pasangan yang lainnya juga.
" Mundur dikit lah Ay, rimas ini tau nggak!" Ratu mencoba memberontak dari pangkuan suaminya, namun tenaganya tidak sebanding dengan lengan kokoh Panji.
" Nggak mahu tahu!"
Kalau di area rumahnya dia bebas melakukan apapun, karena disana semua orang tahu bahwa mereka suami istri.
" Haish... Sudahlah kalian kapan bisa akur!" Akhirnya Arga mulai bersuara dalam menanggapi tingkah keduanya.
" Kalau lagi anu lah!" Jawab Panji tanpa sadar.
" Anu apa!" Arga sampai melongo mendengarnya, namun belum bisa menyimpulkan tentang kenyataan yang terjadi.
" Hmpt!"
Panji ingin berkata-kata namun Ratu langsung membungkam mulut suaminya dengan kedua tangannya.
" Haduh... Kenapa aku jadi rindu dengan istriku, ini pasti gara-gara kalian!"
" Temen bapak ini lapar sepertinya jadi ngomongnya agak ngawur sedikit, tapi ini semua tidak seperti yang bapak pikirkan, hehe."
Cekit!
" Aww... Sakit tahu yank!"
Ratu langsung mengibaskan tangannya saat telapak tangannya digigit oleh Panji agar mau melepaskan bungkaman tangannya.
" Rasain kamu, suruh siapa melawan sama suami, dosa tahu nggak!" Umpat Panji.
" Dih.. Apa sih yank!"
" Sudah... Sudah... Sakit telingaku mendengar perdebatan kalian, bisa bahaya juga kalau tongkat saktiku bangun gegara melihat ke uwuwan kalian berdua, aku kesini tadi karena ingin meminta kamu menggantikan kelasku hari ini."
Panji memang menguasai beberapa mata kuliah di kampus, jadi kalau Arga ada kepentingan mendesak Panji bisa menggantikannya kalau memang diperlukan.
" Kamu tahu aku pulang hari ini?" Tanya Panji heran, karena dia sudah beberapa hari ini tidak bertemu dengan Arga pikirnya.
" Eyang yang bagi tahu, katanya kalian pulang lebih awal karena kakaknya Ratu sakit kan?"
" Istri dan anakku ada dirumah mama mertua dari kemarin dan hari ini mereka minta dijemput, padahal kemarin janjiannya besok, entah kenapa tiba-tiba istriku minta dijemput sekarang."
" Apa ada masalah dengan mereka?"
" Entahlah, sepertinya memang begitu karena tidak biasanya, tadi aku sudah bertanya tapi istriku tidak mau mengatakannya, itu mengapa aku ingin segera menjemputnya."
" Owh iya, siapa yang ingin kamu jemput tadi?" Panji pura-pura tidak mendengar dengan jelas dan ingin Arga mengulanginya kembali.
" Istri dan anakku." Arga mengulanginya dengan tatapan penuh heran.
" Bilang yang keras." Pinta Panji yang seolah memaksa.
" Apaan sih?" Arga kembali dibuat heran karenanya, sahabatnya yang satu ini memang sering susah ditebak tingkah dan perlakuannya.
" Mau digantikan ngajar nggak?" Ancam Panji sambil menaikkan kedua alisnya seolah membuat kesepakatan bersama.
" Iya lah." Jawab Arga dengan tatapan curiga, tidak seperti biasanya temannya seperti itu.
" Jadi siapa yang ingin kamu jemput tadi, bicara dengan suara lantang!"
" ISTRI DAN ANAKKU!" Teriak Arga dengan kesal.
" Tuh... Telinga kamu nggak rusakkan Ratu, dia sudah punya anak dan istri, jadi jaga kelakuan kamu, jangan centil-centil lagi dengannya, saat dirumah maupun di kampus, mengerti kamu!" Panji langsung menarik dagu lancip Ratu agar dia menatap dirinya.
" Pfffthhh!"
Arga baru paham maksud dan tujuan Panji kenapa dia menyuruhnya tadi, ternyata judulnya tak lain dan tidak bukan adalah Cemburu.
Namun secara tidak langsung dia ikut bahagia mendengarnya, akhirnya sahabatnya bisa merasakan apa itu arti cemburu karena cinta.
Saat dia mendengar kabar pernikahan ganti pasangan hari itu dari Eyang, Arga merasa sangat prihatin melihat nasip sahabat baiknya itu, karena mereka berteman sudah lama bahkan sudah seperti saudara sendiri, jadi kalau Panji terluka dia pun ikut merasakannya juga.
" Astaga, nggak usah teriak-teriak juga kenapa sih yank, semua orang juga sudah tahu kalau pak Arga sudah punya anak dan istri." Ratu heran sendiri jadinya, kenapa dosen killernya bisa berubah drastis seperti itu, dulu dia cuek-cuek saja saat dirinya sengaja menggoda Arga didepannya.
__ADS_1
" Biar kamu paham dan tidak mencoba untuk merayunya lagi." Panji seolah memberikan titah baru kepada istrinya, entah kenapa dia seperti orang yang takut kehilangan akhir-akhir ini, atau mungkin karena banyak hal kejutan yang terjadi di hidupnya.
" Cie.. Cemburu ya?" Ledek Ratu sambil tersenyum miring.
" Cih... Ini bukan cemburu namanya, tapi memperingatkan kamu agar kamu bisa menjaga diri dan sikap kamu, karena seorang istri adalah pakaian buat suami, kalau kamu sukanya menggatal dengan pria lain, aku sendiri yang malu!"
Lagi-lagi dia gengsi mau mengakuinya, akhirnya berbagai kata dia ucapkan untuk melindungi harga dirinya.
" Mana ada pria lain, orang cuma sama pak Arga doang!" Ratu semakin menantang suaminya, seolah dia sedang melakukan uji nyali dengan Panji.
" SAMA AJA ITU RATU!" Emosi Panji seolah tertantang saat mendengar istrinya masih saja ngeyel dan membantah ucapannya."
" Hop... Sudah dong, suara kalian ini bikin sakit telingaku, lebih baik kalian segera bersiap dan pergi ke Kampus, nanti ada kelasmu juga kan Ratu, kamu sudah beberapa hari nggak berangkat kan?" Arga langsung menjadi pihak ketiga untuk menengahi perdebatan suami istri yang unfaedah itu.
" Males kalau bukan bapak yang ngajar!" Umpat Ratu yang semakin membuat Panji naik darah.
" Kamu bilang apa tadi? Jadi kamu nggak suka kalau suamimu ini yang ngajar di kelasmu!" Bahkan wajah Panji sudah memerah karena umpatan istrinya.
" Iya, emang dari dulu begitu kok!" Ledek Ratu bahkan dengan tatapan mengejek.
" Awas kamu Ratu, aku tidak akan pernah mengampunimu!"
Panji langsung membulatkan tekad dan....
C u p
Dengan tampang liciknya, Panji mencivm leher Ratu bahkan meninggalkan beberapa kiss mark disana karena terlalu gemas saat melihat kelakuan istri bocilnya.
Brak!
" Kalian benar-benar ya, apa kalian tidak menggangapku ada, aish... lebih baik aku segera menjemput istriku, agar aku bisa bermesraan dengannya!"
Arga langsung bangkit dan menendang kursi yang dia duduki tadi karena terlalu kesal melihat Panji yang sudah berani terang-terangan dihadapannya secara langsung.
Walaupun mereka seperti tikus dan kucing, namun endingnya selalu bikin orang yang melihatnya baper dan hanya bisa menggigit bibiirnya sendiri karena pengen.
" Tuh kan pak Arga jadi pulang!"
" Biarkan saja!"
" Ayang ini nggak punya malu deh!"
Ratu merasa tidak enak hati sendiri, apalagi dia dosen favoritnya dari dulu, bahkan dia pernah berkompromi untuk menjodohkan Panji dengan kakaknya sendiri.
" Yang penting aku punya kemalvan, werk!"
" Apa sih Yank, jorok terus deh pikirannya!" Ratu mencubit kesal kedua pipi Panji.
" Haha... Emang kenyataan kok, lagian juga Arga biasa melakukan hal seperti ini didepanku, dia bahkan lebih tidak tahu malu walau aku melihat aksi gilanya." Panji mengingat kejadian hari itu.
" Maksudnya?" Ratu langsung menaikkan kedua alisnya, dia berfikir Arga adalah orang polos dan berhati selembut sutra tanpa pernah mau bersikap neko-neko, apalagi bersikap mesvm didepan orang.
" Dia bahkan pernah atraksi langsung didepan wajahku!"
" Atraksi apa?" Tanya Ratu semakin penasaran saja.
" Ayo masuk sekarang, biar aku tunjukkan apa yang dia lakukan terhadap istrinya didepan kedua mataku!" Panji langsung kembali bersemangat.
" Emang mereka ngapain?"
" Makanya ayo masuk ke dalam, biar aku praktekkan, mumpung masih ada waktu sebelum kita berangkat ke kampus!"
" Hah?"
" Nggak usah hah heh terus deh, palingan juga nanti ahh terus kamu!"
" Eh... Apa ini, turunkan aku pak dosen!"
" DIAM RATU!"
" Aaaaaaaa... Aku mau diapain lagi ini!"
Panji tidak mendengarkan umpatan Ratu, dia langsung saja memanggul tubuh Ratu di atas bahunya dan membawanya masuk kedalam rumah mereka.
__ADS_1
Siap eksekusi lagi nih?
Tuhan selalu punya cara sendiri dalam menjawab sebuah doa, bukan cara kita, tapi Tuhan pasti menolong kita dengan cara-Nya sendiri. Bukan maunya kita, tapi semua atas kehendak sang pencipta Alam.