Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
42. Ulah Eyang


__ADS_3

...Happy Reading...


Walau dengan berat hati, Ratu akhirnya ikut ke rumah suaminya untuk tinggal bersama keluarga mereka.


Sebenarnya dia ingin menolak, namun ayah dan juga ibunya selalu mengingatkan dirinya, bahwa kodrat seorang istri harus selalu ikut kemanapun suaminya pergi membawa dirinya.


Tok... Tok...


Panji ingin masuk kedalam rumahnya, namun tumben sekali jam segini pintunya itu sudah terkunci, padahal masih jam sembilan malam.


" Kemana mereka? kenapa sepi ya?" Panji berulang kali mengetuk, namun pintu itu tak kunjung terbuka, biasanya bibinya juga masih selalu stand by kalau masih jam segitu, karena terkadang dia juga sering pulang malam.


" Sudah tidur kali pak, ini kan sudah malam, lagian kan tadi sudah aku bilang, besok aja kesininya."


" Nggak mungkin, masih jam segini kok." Berulang kali Panji melihat jam di pergelangan tangannya.


" Ayolah pak, kita balik kerumah ibu aja." Rengek Ratu dengan wajahnya yang lesu, sekujur tubuhnya terasa capek, resepsi pernikahan mereka begitu menguras tenaga, karena tamu undangan mereka datang silih berganti.


" Bi... Bibi... Eyang!"


Panji tidak menggubris ocehan Ratu, bukannya dia tidak mau menginap di rumah mertuanya, namun adanya Gendhis disana membuat Panji merasa serba salah, hatinya tidak tega, namun kenyataan hidup memang mengharuskan mereka untuk tidak bisa bersama mengarungi bahtera rumah tangga.


" Ayah... Ibu... Eyang!" Panji kembali berteriak memanggil mereka.


" Siapa?" Tak lama kemudian terdengar suara Eyang menyahut dari dalam.


" Panji sama Ratu Eyang! tolong buka pintunya."


" Iya... Iya..."


" Tuh kan, mereka biasanya belum tidur jam segini." Panji langsung kembali mengangkat koper milik Ratu saat dia mendengar suara kunci pintu terbuka dari dalam.


1


2


3


Wuuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrrr!


Satu keranjang kecil bunga mawar merah dan putih berhamburan mengenai tubuh Panji dan Ratu, apalagi ditambah aroma asap dari bau kemenyan yang dibakar, membuat siapapun pasti merinding malam itu.


Bahkan penampilan Eyang pun tak kalah horor, rambutnya yang sudah memutih itu dia gerai begitu saja, dan beliau pun menggunakan baju tidur berwarna putih, lengkap sudah untuk bisa membuat Ratu menangis ketakutan.


" Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"


Seperti biasa, Ratu langsung berteriak histeris dan melompat ke tubuh Panji untuk memeluknya dengan erat.


" Astaga Eyang, apalagi ini!?Jangan menakut-nakuti Ratu dong." Panji langsung melempar koper ditangannya dan beralih mengusap punggung Ratu yang sudah menempel seperti bunglon ditubuhnya.


" Pak... Aku mau pulang, ayo kita pulang! hiks.. hiks..." Air mata Ratu benar-benar menetes membasahi kemeja Panji.


" Sssttt... Mulai hari ini, inilah rumah kita, kalau mau pulang ya kesini." Panji mengusap rambut Ratu perlahan untuk menenangkannya.


" Tapi aku takut sama Eyang, hiks.. hiks.. Srrooook!"


Bahkan Ratu mengungselkan wajahnya didadaa bidang Panji, untuk membersihkan wajahnya dari banjiran air mata dan air lainnya, karena tidak bawa tissu, kemeja suaminya pun jadi pikirnya.


" Dia Eyang Romlah, bukan hantu, lihatlah kakinya masih menapak di lantai!"


" Nggak mau, aku takut pak, ayo kita pergi dari sini, atau kita pergi bulan madu sekarang saja gimana?" Apa saja dia tawarkan, daripada harus terjaga semalaman gara-gara terbayang-bayang kembang kuburan.


" Ckk... Sudah malam Ratu, nggak apa-apa, ada bapak disini, okey?"

__ADS_1


" Cie... Eyang bilang juga apa, jodoh kamu itu Ratu, bukan kakaknya!" Sang Eyang malah terlihat kegirangan melihat cucunya begitu mesra dengan istri belia nya.


" Apa sih Eyang, kenapa bikin sesajen lagi?" Tanya Panji dengan tatapan jengah.


" Biar hubungan kamu itu beneran langgeng sampai maut memisahkan dan biar Eyang cepet dapat cucu, hehe..."


" Cucu apa sih? Eyang saja menakutinya!"


" Loh... Selalu ada hikmah dibalik semuanya, lihat... Karena Ratu takut dia jadi meluk kamu seperti itu, bukannya ini so sweet kalau kata anak muda jaman sekarang?" Bahkan Eyang tertawa dan menampilkan giginya yang sudah sebagian onpong.


" Aish... Terserah Eyang saja lah! Ratu turun kamu, ini Eyang sungguhan, bukan jelmaan." Panji sengaja mencubit kaki Ratu, namun dia tetap tidak mau beralih.


" Nggak mau!" Tolaknya dengan keras.


" Kamu berat Ratu! Ayok kita naik ke kamar atas saja."


" Sudahlah, kamu gendong saja sampai atas, Eyang punya satu kejutan lagi nanti, hehe.." Ucap Eyang dengan santainya.


" Cukup Eyang, jangan pernah Eyang memberikan kejutan apapun untuk kami berdua, okey Eyang, kami mau pergi istirahat dulu, Eyang tidur sana, ingat..sudah tua jangan bergadang."


Panji hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil terus menggendong Ratu menuju kamar mereka, bahkan dia melupakan koper Ratu yang masih teronggok didepan pintu.


" Hmm... Lihat aja surprize berikutnya, biar malam pertama kalian terasa Syahdu.. Du.. Du.. Du.. hehe!"


Eyang langsung berjalan sambil tersenyum-senyum menuju kamarnya, sedangkan bibi yang ternyata sudah berdiri dibelakang eyang langsung membawa koper Ratu masuk dan mengunci pintu rumah mewah itu.


Eyang memang sengaja, menunggu kepulangan mereka, untuk memberikan ritual buang sial untuk cucu menantu mereka, jadi sebelum dia memastikan itu Panji dan Ratu, Eyang sengaja mengunci pintu rumah itu dari dalam.


" Pak... Kenapa sih Eyang mainnya kembang kuburan terus, dulu aja semaleman aku nggak bisa tidur tahu."


" Sudahlah, namanya orang jaman dulu, itu bukan apa-apa, kamu tenang saja, kasur bapak itu mahal, kamu pasti bisa tidur nyenyak malam ini dan melupakan itu semua, sekarang turun kamu!"


Panji langsung menurunkan Ratu dengan paksa karena ingin membuka pintu kamarnya.


Ceklek!


Ratu kembali menjerit histeris dan memeluk Panji, saat kamar Panji dipenuhi dengan taburan bunga mawar sekebon yang berbentuk hati, tidak lupa juga bau kemenyan yang menyengat sebagai aromatherapy kamar itu.


" Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?"


Panji langsung memejamkan kedua matanya sambil mengeratkan pelukan Ratu, bahkan tanpa sadar dia menyandarkan kepalanya yang terasa berat di tubuh Ratu, karena Ulah Eyang.


" Pak... Aku mau pulang, aku nggak mau tinggal disini, ibuuuukkk... Bapaaaak... Aku mau pulang!" Ratu benar-benar terlihat ketakutan.


" Fuuuhh...! Emm... Nggak papa Ratu, bukannya ini malah terlihat romantis? Biasanya kan kamar pengantin memang dihiasi bunga mawar merah kan?" Panji mencoba membujuknya saja, daripada dia harus kembali ke rumah mertuanya.


" Ini bukan romantis pak Dosen! Ini sih Hororr!" Rengek Ratu kembali.


" Kamu bersihkan saja dulu tubuhmu, nanti bapak bersihkan kamar ini, sana ke kamar mandi!"


" Nggak mau, aku takut!"


" Makanya, biar aku bersihkan dulu kamar ini Ratu! Biar kamu nggak takut lagi." Panji mencoba menggali rasa sabarnya sedalam mungkin.


" Temenin pak."


" Jangan manja kamu Ratu, atau jangan-jangan kamu memang mau modus ya, pura-pura takut padahal ini cuma akal bulusmu saja buat pedekate sama bapak?"


" Cuih... Sory deh pak, kagak ada ceritanye kayak begituan, ingetlah idaman gue itu bukan kayak bapak!"


Jiwa sombong Ratu langsung ternodai saat Panji mengatakan hal itu dan sontak dia langsung turun dari gendongan Panji dan melenggang pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari guyuran bunga dan bau kemenyan.


" Sudah belum pak?" Ratu sengaja menunggu didalam kamar mandi, entah kenapa sejak pertama kali dia ditaburi bunga oleh Eyang saat itu, sampai sekarang Ratu seolah trauma melihat bunga mawar, padahal memang biasanya bunga mawar itu identik dengan kata romantis.

__ADS_1


" Sudah, keluarlah!"


Panji sudah menyapu, bahkan mengepel kamarnya dan memberikan parfum ruangan berbau jeruk segar agar bau kemenyannya hilang.


" Nah... Gini kan enak, tadi aku merasa ada di pemakaman umum tau nggak."


" Ya sudah, kamu istirahat dulu, bapak mau mandi, capek juga jadi cleaning service dadakan begini."


" Hmm.." Ratu langsung naik ke atas kasur dan masuk kedalam selimut tebal milik Panji.


Tubuhnya yang memang terasa lelah, membuat Ratu sekejab saja memejamkan kedua matanya, apalagi ruangan itu terasa nyaman baginya.


Saat Panji selesai dan keluar dari kamar mandi, dia tersenyun melihat Ratu yang sudah tertidur pulas dengan dengkuran halusnya.


Wajahnya yang polos tanpa make up terlihat menenangkan sekali, apalagi saat tertidur begini, tampang bawelnya sama sekali tidak nampak, bahkan dia terlihat begitu lucu dan menggemaskan bagi Panji.


" Ratu.. Ratu.. Kamu ini kadang bikin bapak kesel, jengkel, tapi kadang suka bikin gemas juga." Tanpa sadar tangan Panji mengusap pipi mulus Ratu.


" Tapi bapak kagum dengan kelapangan hatimu, bahkan kamu bersedia menikah dengan bapak walau kamu terlihat membenciku." Dia mengusap rambut Ratu yang menjuntai dan menyelipkan kebelakang telinganya dengan perlahan.


" Aku pun tidak tahu harus apa dan bagaimana menghadapi ini semua Ratu, dilain sisi bapak sangat mencintai kakak kamu, tapi dilain sisi bapak harus menerima semua ini demi kebaikan kita semua, bapak nggak mau egois, hanya karena mementingkan perasaan cintaku saja."


" Tolong maafkan bapak, jika belum bisa melupakan kakakmu, jauh didalam lubuk hati bapak, memang kakakmu yang sudah bertahta dihati bapak."


" Sebisa mungkin, bapak akan mencoba menerima kamu dengan segala tingkah nakal kamu itu dan mencoba menyayangimu walau entah semua itu kapan bisa terjadi."


" Tapi herannya, saat bersama kamu bapak seolah lupa akan kesedihan yang bapak rasakan, pikiran bapak selalu teralihkan dengan segala tingkah kamu yang sering membuat pusing kepala, kamu memang beda dari wanita-wanita lainnya Ratu, semoga semua kesilapan yang terjadi ini bisa membawa hikmah tersendiri, untuk bapak dan juga untuk kamu."


Panji lebih merasa nyaman bicara dengan Ratu saat dia tertidur begitu, dia bahkan bisa menceritakan semua kisahnya saat itu.


" Emm... Panas!"


Tiba-tiba Ratu mengeliat dan mengubah posisinya dengan lasak nya bahkan tanpa sadar dia membuka kimono tidurnya karena merasa kegerahan.


Panji memang lupa menyalakan AC dikamarnya kembali, setelah dia selesai membersihkan kamarnya tadi.


Glek!


Tanpa sadar Panji menelan ludahnya sendiri, saat melihat dua gundukan yang menantang itu terbuka separuh.


Bibirnya perlahan mulai bergetar, dia ragu, namun semakin lama kedua matanya terus memandang dan enggan berpaling, rasa penasaran itu semakin melanda h@sratnya sebagai seorang pria normal, apalagi gadis yang ada dihadapannya itu sudah dia beli dengan kata Sah.


" Ratu..."


Nalurinya sebagai lelaki seolah menggerakkan tangannya sendiri untuk meraba benda kenyal itu dengan perlahan, namun lama kelamaan dia penasaran dengan rasanya.


Seketika bayangan @degan Arga dengan istrinya yang tanpa sengaja dia lihat dulu kembali terlintas di memori ingatannya.


" Sebenarnya apa enaknya? Kenapa mereka selalu mencicipinya? Apa mungkin sudah keluar airnya ya?" Dengan wajah penuh keraguan namun penasaran, membuat kepalanya seketika mulai merunduk dan....


" Shhh."


Ratu bahkan sedikit mengeliat saat merasakan gunung merbabu miliknya terasa sedikit basah, karena ternyata kepala Panji sudah tenggelam diatas dua gundukan itu.


" Emh... apa ini, kok gerah!"


Brak!


Bahkan Ratu mendorong kepala Panji sekuat tenaganya karena tubuhnya mulai terasa panas, apalagi dia merasakan ada yang membuat sekwilda nya terasa geli-geli gimana gitu?


" Awh... aish, astaga.. apa yang aku lakukan!"


Panji akhirnya tersadar sambil memegangi kepalanya yang sudah benjol karena terkena sudut meja tidurnya.

__ADS_1


Ratu mendengar umpatan seseorang, namun matanya seolah tidak kuasa untuk kembali terbuka dan akhirnya dia kembali melanjutkan mimpinya dan menyisakan Panji yang seolah merutuki tingkah gilanya sendiri.


..."Cinta itu terkadang bukan hanya sekedar kata-kata. Mulut boleh berkata lain, namun hati yang merasakan dan sikap kita yang membuktikan, betapa cinta itu bisa datang kapan saja dan dimana saja, tanpa kita sadari."...


__ADS_2