Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
87. Menepi


__ADS_3

...Happy Reading...


Kelas siang Arga pun sudah dimulai, entah mengapa kali ini dia semangat sekali saat ingin masuk kelas karena ingin melihat senyum malu-malunya Melody saat menatapnya.


Tadi pagi pun saat dia mencicipi makanan dari Melody dia langsung suka, bahkan memakan sarapannya dengan lahap dan full senyum, karena sudah lama dia tidak memakan sarapan selezat itu setelah istrinya tiada.


Namun saat dia sampai di kelas siangnya, kedua matanya tidak menemukan keberadaan Melody, bahkan berulang kali dia melihat arah pintu kelas, namun tidak melihatnya juga, padahal seharusnya kelas sudah dimulai.


Kemana istriku? Apa dia sakit? tidak biasanya dia bolos saat jam kuliah, tapi memang aku tidak melihatnya sedari tadi?


Arga berulang kali melihat jam tangannya, namun Melody memang tidak muncul-muncul.


" Hari ini ada tugas buat kalian, kerjakan dengan benar dan kumpulkan di meja bapak kalau jam sudah berakhir, bapak ada urusan mendadak, namun tugasnya harus selesai hari ini juga ya."


" Iya pak!" Jawab mereka serentak dengan riang gembira.


Arga ingin menghubungi Melody, takut jika ada sesuatu yang terjadi dengan istri kecilnya itu. Namun setelah dia berulang kali menghubungi nomor istrinya tapi selalu saja di luar jangkauan.


" Kemana dia?"


Arga langsung berlari mencari ke kantin kampus, namun tidak juga menemukannya, lalu dia kembali berlari ke perputakaan kampus, siapa tahu dia ada disana, namun hasilnya pun nihil.


" Apa tadi dia nggak jadi pergi ke kampus? Tapi kenapa? Apa terjadi sesuatu? Astaga... Aku harus tanya siapa?"


Arga terlihat panik, dan langsung menghubungi Ratu, karena setahu Arga hanya dia teman dekat istrinya dan saat ini Ratu memilih cuti kuliah, jadi dia tidak bisa mencarinya di kampus.


" Hallo, ngapain kamu ganggu istriku! Bukannya kamu juga sudah dapat daun muda, jangan maruk kau, belum pernah nyobain rasa kepalan tangan gue ya!"


Ternyata yang menjawab panggilan dari Arga adalah Panji, tadi dia langsung mendelik kesal saat ponsel istrinya berdering dan muncul nama Arga disana, apalagi masih ada tanda jambu merahnya di nama belakang, karena Ratu lupa belum menggantinya.


Alhasil tadi mereka sempat berdebat dulu sebelum akhirnya suara Panji langsung melengking untuk menjawab panggilan telpon itu.


" Dasar Panjul gilak, siapa juga yang mau ganggu istrimu, aku cuma mau tanya keberadaan Melody saja, apa dia ada disana sekarang?"


" Baru juga nikah kemarin malam, sekarang sudah berantem kalian? Nih ya... Gue kasih tahu,menikah dengan anak ABG itu harus sabar, lebih baik kamu mengalah, sebelum kamu nggak dikasih jatah, mengerti kamu bokir!"


" Aku nggak butuh ceramahmu di siang bolong Panjul, lagian aku belum meminta jatahku, aku cuma mau tanya, istriku ada disana tidak? Dia nggak datang di kelasku ini, tidak biasanya dia bolos seperti ini." Arga langsung kesal dibuatnya.


" Atau karena belum di kasih jatah kali, dia jadi kabur?"


" Kamu ini kalau ngomong ngawur aja, orang tadi pagi kami baik-baik aja kok, cepat tanyakan istrimu, kemana biasanya Melody pergi?" Bentak Arga yang jadi sewot karenanya.


" Sayang, dimana istri Arga pergi kalau dia bolos kuliah?"


Panji langsung meloudspeaker ponsel istrinya sambil memeluk perut buncit istrinya yang sedari tadi ingin menjawabnya namun dilarang.


" Ya nggak tahu, dia kan emang nggak pernah bolos." Jawab Ratu yang memang tidak tahu menahu, bahkan tadi Melody juga tidak menghubunginya sama sekali.

__ADS_1


" Kalau tempat tongkrongan kalian biasanya dimana?" Tanya Arga yang sudah melesat kedalam mobilnya.


" Di kafe deket kampus itu, tapi kalau jam segini belum buka pak, emh.. sore biasa baru bukanya!" Ratu mende sah saat Panji seolah tidak rela istrinya ngobrol dengan dosen idolanya dulu.


" Selain disana dimana lagi Ratu, tempat yang biasanya kalian datangi?" Tanya Arga kembali.


" Mas.. Geli ih.. aku jadi nggak konsen ngomong sama pak Arga." Rengek Ratu karena kepala suaminya sudah nongkrong aja didadaanya.


Nyot


Nyot


Panji terus saja menikmati buah ranum istrinya walau tidak ada rasa dna mengabaikan panggilan Arga.


" Ya ngobrol aja, orang aku baru mau ngobrol sama dedek kok?" Jawab Panji tidak mau kalah.


" Ngobrol itu di perut mas, bukan disana!" Umpat Ratu kembali.


" Kan haus sayang, mampir minum dulu bentar, yaelah... Gratis aja pelit deh kamu." Protes Panji yang tidak terima jika dilarang.


" Aw.. Emh.. Mas jangan digigit, sakit tauk!" Ratu gemas sendiri jadinya.


" Woii... Woii... Woii... Bisa serius dikit nggak kalian berdua, teman lagi kebingungan nyari istrinya yang menghilang malah asyik ngromance aja kalian, bisa nanti nggak Njul! Atau gue culik istri elu sekarang!"


Teriak Arga yang langsung tersulut emosi, sudah dia galau, ditambah di iming-imingi sesuatu yang lama tidak dia sentuh, seolah dadaanya bergemuruh dan tangannya gatal ingin menonjok sesuatu.


" Hehe... Biarkan dia berusaha, enak aja dapet daun muda dengan mudahnya, usaha sono bokir, jangan mau enaknya saja! Belum ada dua puluh empat jam kan hilangnya? Kalau lapor polisi juga belum laku Ga!"


Panji malah menjawabnya dengan santai, karena walau dia menikah dengan Ratu juga mudah, namun dulu untuk menakhlukan istrinya itu juga butuh perjuangan yang tidak mudah pikirnya.


" Dasar teman jahanam kamu, itu makanya aku tanya kebiasan dia dimana? Jadi aku mau mencarinya!"


" No coment, itu sih derita elu, masa bodoh nggak mau tau!" Celoteh Panji sesuka hatinya, karena kalau wanita pergi jam segini masih wajar pikirnya, dia hanya menggangap Arga berlebihan saja khawatirnya.


" Ratu abaikan saja suamimu, kemana biasanya temanmu itu pergi selain ke kafe?" Arga semakin emosi saat mendengar suara Panji.


" Emh.. Aw.. Mas... Pelan-pelan dong, kasian si dedek, main sodok aja, kebiasaan deh!"


Namun pertanyaan Arga tidak mendapatkan jawaban, yang ada hanya suara kasak-kusuk dan erangan kecil saja disana.


Karena sekarang Panji hanya mengajar kelas online saja, jadi kerjaannya saat ini hanya nempelin istrinya dan menggangunya saja.


" Aisshh... Dasar pasangan mesvm!"


Arga langsung mematikan ponselnya dan memilih melemparnya di kursi samping karena terlalu kesal.


" Kemana kamu Melody?"

__ADS_1


Arga langsung menambah kecepatan mobilnya untuk menuju ke kontrakan istrinya. Dan saat dia ingin masuk ternyata pintunya di kunci.


Namun menemukan satu carik kertas yang sengaja ditindih dibawah batu didepan pintu.



Pak Arga...



Aku tak menginginkan hubungan ini berakhir, aku juga tak menginginkan hubungan ini dimulai. Tapi, inilah hidup, bahkan hari baik yang tak disangka-sangka tetap merasakan tenggelamnya matahari.



Disini ada tangisan, ada perjuangan, ada luka, ada tawa, bahagia dan rindu. Dan itu semualah yang memberatkan ketika aku harus pergi.



Namun Senja mengajari kita menerima sebuah perpisahan dengan jaminan pertemuan yang hangat pada esok hari.



Jika pak Arga menemukan surat ini mungkin aku sudah tidak lagi berada di kota ini, tidak perlu mencariku, aku pasti akan kembali, aku hanya sedang menepi.



Pikirkan sejenak tentang hubungan kita, pikirkan apa yang terbaik untuk kita, kita tidak melakukan sesuatu yang salah, jadi bapak tidak perlu berkorban terlalu banyak, aku tahu bapak belum bisa menerimaku, jadi tidak perlu dipaksakan. Karena sesuatu yang terpaksa tidak akan baik nantinya.



Jika kita memang kembali berjodoh, suatu saat nanti pasti akan bertemu lagi, namun jika tidak, terima kasih karena sudah memperlakukan aku dengan baik selama menjadi istri bapak, walau hanya dalam hitungan jam saja, namun aku sudah sangat bahagia sekali ketika bisa menjadi salah satunya.



Sekali lagi terima kasih pak, salam untuk semua, maafkan aku ya pak, karena telah menjadi duri yang menghalangi kesetiaan bapak dengan almarhumah istri pak Arga.



^^^( Melody)^^^



" Aish... Apa-apaan ini Melody, apa tadi malam dia mendengar ucapanku? Aaaaaa... Bukan ini yang aku inginkan Melody!"


Arga langsung terduduk didepan pintu kontrakan milik Melody sambil menjambak rambutnya dan mengepalkan kertas tulisan dari istri kecilnya itu dengan rasa penyesalan.


Akan selalu ada luka perpisahan untuk waktu yang dikorbankan, untuk hati yang dipatahkan dan untuk tubuh yang ditinggalkan.

__ADS_1


Selalu haru, ditengah perpisahan, untuk insan yang disandingkan, untuk citra dari wujud kerinduan, dan untuk setiap cahaya yang dipadamkan.


__ADS_2