Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
92. Perjuangan yang sulit.


__ADS_3

...Happy Reading...


Jika segala hal direncanakan, apa menariknya hidup? rencanakan sebagian. Sisanya, biarkan jadi kejutan.


Begitupun dengan kisah Broto dan juga Gendhis, mereka telah melewati hubungan masa-masa sulit selama ini.


Tangisan, cacian, pertengkaran seolah sudah menjadi makanan keseharian mereka dahulu, namun akhirnya semua itu berakhir dan menyisakan senyum bahagia diantaranya.


"Sayang... Main yuk? cuacanya dingin banget nih!"


Bahkan tiada hari mereka lewatkan tanpa suara de sahan, sudah tidak ada lagi kata jaim diantara mereka berdua, seolah sifat asli mereka sudah terlihat semua.


"Husssh... aku lagi kuliah online ini sayang, kamu ini kalau ngajak sering nggak lihat-lihat keadaan deh!" Broto langsung menutup laptopnya dengan cepat.


Broto saat ini memilih meneruskan kuliahnya untuk mengambil jurusan spesialis secara online saja, karena Gendhis tidak ingin quality time mereka berdua berkurang hanya karena kesibukan masing-masing.


"Opsh.. hehe... maksudnya itu main kejar-kejaran loh, biar badan kita berkeringat, habisnya kalau Weekend begini kamu asyik didepan layar monitor terus, kapan lihatin akunya coba?"


Gendhis langsung saja merengek dan duduk diatas pangkuan suaminya serta mengalungkan kedua tangannya di leher Broto dengan manja.


"Namanya juga kuliah online sayang, kamu baring aja duluan, aku lanjutin kuliah lagi, tinggal satu jam lagi kok, sabar ya?" Broto langsung mengusap kepala istrinya dengan lembut.


Sikap Gendhis saat ini seolah berbanding terbalik dengannya, dulu Broto yang selalu saja melakukan berbagai cara agar bisa selalu dekat dengan Gendhis, namun sekarang Gendhislah yang selalu merengek manja minta diperhatikan dan selalu ditemani.


Setiap pengorbanan yang tulus memang tidak pernah menghasilkan sesuatu yang sia-sia.Kerja keras akan selalu menghasilkan sesuatu. Jika kau menganggapnya sia-sia, itu berarti usahamu belum cukup.


Karena jika cinta kau anggap sebagai doa, percayalah, tidak ada satu doa pun yang akan menjadi sia-sia.


"Matiin aja camera dan suaranya, aku masih pengen dipeluk sama kamu." Gendhis masih menempel saja di pangkuan suaminya tidak perduli apapun yang Broto lakukan.


"Ya ampun Gendhis, makin lama penyakit manja kamu ini jadi akut ya? satu jam lagi aja sayang, kamu makan dulu kek, apa kek? nanti kalau kuliahnya sudah selesai, tanpa kamu minta juga aku yang akan membuat kamu kecapekan mende sah, sudah sana aku sudah kelewatan materi ini." Broto mencoba merayu istrinya, namun tidak mempan.


"Ckk.. dulu aja waktu masih bertengkar sok manis, sok perhatian, sekarang udah baikan malah dianggurin, apa aku harus jadi Yamahaa dulu biar bisa selalu terdepan!" Umpat Gendhis yang langsung melengos dengan kesal.


"Bukan begitu sayang, satu jam aja ya, nanti kamu bebas mau minta apa aja deh?" Broto kembali merayunya, walau istrinya tetap tidak mau bergeser dari tubuhnya.


"Orang aku maunya sekarang, kalau kamu nggak mau ya sudah, jangan pernah menyentuhku lagi, bye!" Gendhis langsung ingin bangkit dan pergi dari sana.


"Eitss... okey, jangan ngambek dong, tapi sambil ngezoom ya, sekarang aku matiin kamera dan suaranya dulu."


Broto tidak ingin mengambil resiko, perjuangan cintanya terlalu rumit dan panjang saat ingin merebut hati Gendhis, tidak sebanding jika hanya dengan perjuangannya menahan rasa sabar dengan segala rengekan dari permintaan absurd dari istrinya kini.


"Mas... sshh... aku pengen makan mie ayam deh."

__ADS_1


Saat keinginan pertamanya terkabulkan, mulai muncul kembali permintaan istrinya yang lain.


"Jadi ini mau dilanjut, apa mau makan mie ayam aja nih?"


Broto kembali dibuat kesal dengan permintaan istrinya yang beraneka ragam, padahal dia baru saja menancapkan pedang pusakanya sambil duduk memangku tubuh istrinya, bahkan dengan terpaksa dia mengeksekusinya didepan layar laptop sambil ngezoom.


"Kek gini sambil makan mie ayam kan enak yank?" Ucap Gendhis yang membuat suaminya kembali melongo.


Sabar-sabar, inget Broto, cara ngedapetin hatinya dulu susah banget, jadi jangan terpancing emosi..


"Jangan aneh-aneh dong sayang, gimana ceritanya makan sambil kek beginian?" Broto langsung mengeratkan pelukannya, walau tanoa banyak gerakan tidak masalah, yang penting istrinya diam.


"Kamu ini belum dicoba udah protes aja deh!" Gendhis pun heran, kenapa dirinya selalu ingin melakukan hal-hal ekstrim bahkan diluar nalar, kalau dia sudah teringin, tidak ada yang bisa menghalanginya.


"Logikanya aja deh Ndis, kalau tersedak bisa bahaya nantinya!" Bahkan walau matanya selalu terarah ke layar monitor, namun tidak ada pelajaran yang bisa masuk kedalam pikirannya.


"Dih... kamu ini malah nakut-nakutin aku deh, kalau begitu jawab aja teka-teki dari aku." Ucap Gendhis kembali yang sudah berubah haluan.


"Sayang... seharusnya kalau kita sedang berhubungan seperti ini, ada baiknya jangan sambil ngobrol, nggak boleh banyak bicara." Broto semakin kuwalahan dibuatnya.


"Ya elah yank... sambil menyelam minum air kan bisa, lagian juga sesekali aja, orang kamu gerakannya lambat begitu." Umpat Gendhis kembali.


"Tapi aku harus ikut kelas ini Ndis?"


"Kamu ini ngomong apa sih Ndis?"


"Makanya, jawab dulu tebak-tebakan dariku, jangan salah ya yank, ini tuh bisa melatih otak kanan dan kiri kamu secara bersamaan tau nggak!"


"Fuh...sshh! okey... apapun itu lah yank, yang penting kamu senang." Broto akhirnya memilih pasrah saja.


"Ada seorang pria terjebak didalam gua, dia kebingungan karena Gua tersebut gelap dan di kedua tangannya ada lilin dan juga obor. Apa yang harus ia nyalakan terlebih dahulu?" Gendhis mulai mengeluarkan tebak-tebakannya.


"Lilin?" Jawab Broto dengan cepat.


"Salah!"


"Berarti obor dong?" Jawab Broto kembali.


"Salah juga, dih... kamu ini gitu aja nggak bisa jawab deh, gimana mau jadi ahli spesialis kalau memecahkan pertanyaan begitu saja nggak bisa!"


"Jadi apa dong, orang pilihannya cuma itu?" Broto memilih kembali mengalah, karena walau dia memberikan seribu alasan pun pasti akan salah juga.


"Korek api dong sayang! kalau nggak pake korek api gimana mau menghidupkannya?"

__ADS_1


"Eh... Iya juga ya?"


Apalagi dengan posisinya yang sekarang, atas bawah, depan belakang jalan semua, bagaimana Broto bisa berpikir dengan jernih.


"Satu lagi, kalau nggak bisa jawab awas kamu ya!"


"Apaan, jangan sulit-sulit, konsentrasi aku nanti terbelah."


"Apa yang sering ditekan-tekan orang, dengan bentuknya yang kadang kecil, bisa panjang dan warnanya kebanyakan hitam?"


"Pffthh... Astaga sayang, bisa nggak kalau ngasih tebakan yang bener dikit? kamu ini ngeres aja pikirannya sekarang, apa kamu nyidam lagi ya Ndis?" Broto langsung menyimpulkan sesuatu.


"Apaan sih, emang menurut kamu apa jawabannya?"


"Noh.. Si Otong Hot!"


Broto langsung menunjuk sesuatu yang terselip di tubuh istrinya sambil menahan tawa.


"Apaan sih yank, orang bel pintu kok, kamu ini yang serius dikit bisa nggak sih jawabnya!"


"Ahahaha... terserahlah, aku sudah tidak tahan lagi, persetan dengan kelas hari ini, makan dulu apa yang ada didepan mata, hmpth!"


Broto merasa gemas sendiri dengan istrinya, karena konsentrasinya sudah terpecah belah tidak karuan, akhirnya dia memilih membanting tubuh istrinya di sofa ruang tamu itu dan langsung memenuhi keinginan istrinya yang memang sudah tidak perduli dengan apapun itu.


"Permisi, Assalamu'alaikum kak Gendhis?"


"Wa'alaikumsalam.. aduh, nanggung ini, emh!"


Mereka berdua tetap menjawab salam walau dengan suara yang sedikit ngos-ngosan, bahkan masih menggencatkan senjata difase-fase terakhir pertarungan mereka.


"Astaga? jangan lihat pak, ayo kita keluar dulu!"


Ternyata pemilik suara itu adalah Melody, yang sengaja datang bersama Arga dengan bertujuan untuk memberikan undangan pernikahan mereka, namun yang ada malah mendapati sepasang suami istri yang sama-sama berprofesi sebagai dokter itu, sedang bermain gulat di atas sofa, bahkan dengan pintu yang terbuka.



Berpisah dengan sesorang mengajarkan kita untuk menghargai bahwa setiap detik kebersamaan adalah anugerah yang tidak boleh kita sia-siakan.


Entah kau pasrah atau menyerah, sadarilah bahwa dunia akan terus berputar tanpa henti, dan waktumu akan terbuang sia-sia jika hanya duduk menanti.


Kita dilahirkan bukan untuk menjadi sia-sia. Segala yang Tuhan ciptakan pasti punya makna.


TO BE CONTINUE...

__ADS_1


__ADS_2