
...Happy Reading...
Terkadang memang jiwa dan raga kita sering tidak sejalan, hati ingin menolak, namun tubuh kita ternyata bereaksi duluan, bahkan menyambut segala sentuhan lembut yang diberikan.
Civman kedua pasangan ini masih terus berlanjut, bahkan mereka saling mengimbangi, memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, seolah mengiringi irama detak jantung mereka yang semakin terpacu dengan cepat karena aliran listrik yang memanas.
Betapa bahagianya hati Broto kali ini, saat gayungnya seolah bersambut, seolah rasanya tidak lagi bertepuk sebelah tangan.
" Eherm.."
Broto sengaja melepaskan civmannya terlebih dahulu dan ingin melihat reaksi Gendhis setelahnya.
" Ehh.."
Ternyata bibiir Gendhis masih mengaga, seolah dia masih belum puas dan mengharap civman itu kembali, namun lagi-lagi rasa Gengsi menyelimuti dirinya.
" Kenapa, mau lagi?"
Ledek Broto dengan senyumnya yang terlihat menggoda, bahkan dia sengaja menggigit dan mengvlvm bibiir tebalnya untuk mengiming-imingi Gendhis yang kedua pipinya sudah bersemu merah karenanya.
Haduh... Rasa apa ini? Kenapa aku sangat menikmatinya tadi?
" Apaan sih!"
Gendhis langsung melengos, pura-pura acuh, padahal jantungnya sudah berdetak lebih kencang sedari tadi.
" Kamu makan dulu ya?" Broto langsung mengambilkan makanan diatas meja.
" Nggak mau, nggak lapar!" Gendhis masih enggan melihatnya wajah suaminya kembali, dia merasa malu, apalagi sebenarnya dia belum ingin menyudahinya.
" Ayolah makan dulu, sekali-kali nurut bisa nggak, biar kita nggak berantem terus, emang kamu nggak capek apa?"
Selama ini Broto bukan tipe orang penyabar, namun saat tahu dia akan menjadi ayah dari janin yang ada di perut Gendhis, dia selalu mencoba untuk menahannya.
" Nanti saja aku bisa makan sendiri." Dia melirik Broto yang sudah memangku sebuah piring siap untuk menyuapi dirinya.
" Sekarang aja, mumpung aku lagi baik ini, ayo sini.. aku suapin." Pinta Broto dengan menurunkan egonya.
" Nanti saja." Tolak Gendhis kembali.
" Kamu harus makan sekarang, biar punya tenaga, nanti kita bisa lanjut lomba adu mulut lagi, gimana?" Broto bahkan menaikkan kedua alisnya untuk menggoda istrinya kembali.
" Adu mulut apa maksudnya?" Gendhis langsung menjeling kearahnya.
" Bukan adu mulut bertengkar, tapi yang kayak tadi, setelah itu kita bisa lanjut ninu-ninu, mau sampai pagi juga boleh, ayok.. Akk dulu!" Broto langsung menyendokkan satu sendok makanan.
" Apaan sih Broto!"
" Eh.. Ndis, bahasa indonesianya Darling apaan sih?" Broto berusaha mengalihkan pembicaraan sesaat.
" Sayang."
" Iya, ada apa istriku?" Broto kembali tersenyum dengan tengilnya sambil mengusap kepala istrinya dengan lembut.
" Dih... Apaan sih?"
" Hehe... ayok coba buka dulu mulutmu, makan satu suap aja, biar perutmu ada isinya, okey?"
" Nanti aku bisa makan sendiri kok!"
" Wah... Sepertinya kamu memang belum puas tadi, okelah kalau begitu, nggak perlu makan, kita langsung lanjut saja ke sesi berikutnya."
Broto langsung meletakkan kembali makanan itu ke atas meja dan langsung mendorong dan menindih tubuh Gendhis.
C U P
" Broto?"
" Apa sayang? Kita lanjut pelan-pelan okey?"
" Awas Broto!"
" Panggil dulu sayang!"
" Nggak mau!"
Bukannya marah, Broto malah semakin gencar menggoda istrinya, bahkan tangannya langsung merayap kemana-mana sesuka hatinya.
" Tapi aku mahu dan si dedek sepertinya juga rindu ingin dijenguk oleh ayahnya."
" Aaaaaaa... Hmpth!"
Broto langsung kembali melancarkan serangannya dan menyumbat bibiir mungil itu dengan bibiirnya, dia semakin besar kepala saat tahu sebenarnya Gendhis menginginkannya juga, namun dia hanya terlihat gengsi saja.
Bahkan Broto sengaja melepas selang infus milik Gendhis, karena dia juga sudah terlihat sehat dan yang pasti agar dia bisa melakukan serangannya dengan bebas tanpa hambatan yang menghadang.
" Kenapa? Pak Dosen cemburu?"
Dan ternyata aksi mereka dilihat secara langsung dari balik pintu oleh Panji dan Ratu.
" Ini bukan Kampus, jadi bisa nggak jangan panggil aku pak dosen?" Panji langsung melirik kesal ke arah Ratu.
Entah kesal karena benar-benar dipanggil pak dosen, atau kesal karena melihat Gendhis yang ternyata bisa bermesraan dengan Broto.
" Ceileh... Bilang aja bapak cemburu kan?" Ledek Ratu dengan senyum kecutnya.
" Kemarin bisa panggil aku mas, kenapa sekarang pak lagi?" Panji bahkan mengalihkan pembicaraan mereka.
" Harusnya aku yang disana, dampingimu dan bukan dia, harusnya yang kau pilih bukan dia.."
Ratu malah bernyanyi dengan enjoynya di punggung Panji, sedari tadi Ratu merengek ingin menjenguk kakaknya di rumah sakit, namun kondisi kakinya masih memar dan masih berbalut perban.
Jadi dengan terpaksa Panji memilih menggendongnya saja dibelakang punggung seperti bocah, namun saat mereka masih didepan pintu, ternyata mereka melihat aksi uwuw diantara kedua penghuni ruang VIP itu, jadi mereka tertahan disana karena tidak ingin menjadi pihak penggangu.
" Sudah lihat kalau kakakmu baik-baik saja kan, kalau begitu kita pulang sekarang!" Panji memilih tidak ingin menggangu kemesraan mereka berdua.
" Bilang aja bapak iri kan sama bang Broto, ternyata dia sudah bisa menakhlukkan wanita kesayangan dirinya dari dulu?"
" Cih... Ngapain aku iri, orang aku juga punya kesayangan." Jawab Panji sambil membenahi tubuh Ratu diatas punggungnya.
" Siapa?"
" Kamu lah!"
Serrrr!
Entah mengapa hati Ratu seolah teraliri air pegunungan saat mendengar pengakuan Panji kali ini, walau entah itu tulus dari hati atau hanya karena tidak ingin tersaingi.
" Bohong ini pasti?" Ucap Ratu yang seolah tidak yakin dengan ucapan suaminya itu.
*Aku memang terkejut saat melihat Gendhis seperti tadi dengan Broto, namun entah mengapa hatiku tidak terasa sakit, bahkan aku lebih marah saat Ratu hanya bersenda gurau saja dengan Broto? Apa sebenarnya sedari dulu aku menyukai adeknya dan bukan kakaknya, tapi masak iya*?
" Sudahlah, kita mampir kampus sebentar ya?" Panji tidak mau lagi meladeni pertanyaan istrinya yang sengaja mengejek dirinya itu.
" Ngapain sih pak?"
" Ratu, aku capek nyuruh kamu mengubah nama panggilan, kamu sebenarnya punya telinga atau enggak? Atau cuma kamu buat untuk pajangan saja!"
__ADS_1
Panji bahkan menurunkan paksa istrinya saat mereka sudah sampai di Parkiran.
" Punya dong pak, tapi lidahku kayak susah gitu panggil mas, sering lupa!"
" Kalau begitu panggil aku Ayang, biar nggak gampang lupa."
" Cih... Pengen banget aku panggil Ayang? Sory ya nama Ayang itu tidak mudah diberikan kepada seseorang begitu saja, harus dengan pasangan yang benar-benar saling mencintai, nah... Emang bapak sudah bisa cinta sama aku?" Tantang Ratu.
" Ckk... Kurang bukti apa lagi kamu!"
" Ya... Gimana ya?"
" Sini kamu!" Panji langsung masuk kedalam kursi kemudinya dan menarik lengan Ratu.
" Eh... Ada apa, kenapa duduk disini?" Karena kaki Ratu masih sedikit pincang dia menurut saja daripada berontak yang ada kakinya tambah nyeri.
Grep!
Panji langsung memangku tubuh istrinya dan memundurkan kursinya kebelakang, agar lebih leluasa untuk duduk berdua sambil berpelukan.
" Ngapain sih pak, nanti kalau dilihat orang gimana?"
Walau situasi parkiran terlihat sepi karena belum waktunya jam jenguk, namun Ratu kelabakan sendiri, takut jika ada orang yang melihat tingkah mereka didalam sana.
" Biarkan saja orang lihat, ini mobil kita sendiri, lagian kita sudah sah sebagai suami istri, so... Tidak masalah dong!"
Panji langsung saja membuka resleting jaket Ratu dengan paksa.
" Pak, jangan disini dong, ini tempat umum!" Ratu langsung menahan tangan Panji yang sudah menyusup kedalam kaosnya.
" Panggil aku Ayang dulu!"
Sebenarnya Panji juga tidak mau melakukan hal itu disana, dia hanya menggertak istri nakalnya itu saja.
" Apaan sih pak, nggak perlu kayak gini juga kali?"
" Ya sudah kalau nggak mau!"
Panji langsung mengibaskan kedua tangan Ratu dan langsung menarik kain pelindung dua bukit kembar itu.
" Pak, ada orang lewat itu!" Umpat Ratu yang mulai panik.
" Bodo amat!" Jawab Panji dengan lantang, padahal jantungnya juga deg-degan karena aksi gilanya
Dengan mudahnya Panji bisa ngempeng sesuka hati, karena tubuh Ratu yang menghadap kearahnya, ditambah lagi tubuh istrinya terbentur dengan stang bundar mobilnya, jadi dia pun tidak bisa mundur atau bergerak bebas.
" Eurm... Pak."
Saat pertama dulu memang dia merasakan sedikit geli dan tidak nyaman, namun lama kelamaan dia merasakan sensasi yang luar biasa dan tidak tergambarkan oleh kata, saat suaminya terus mengis sapnya dengan perlahan.
" Panggil aja pak terus, biar aku lanjut sampai bawah!" Ancam Panji.
Panji bahkan meninggalkan tanda merah-merah mengelilingi dua bukit itu.
" Pak sudah dong?" Ratu lebih khawatir jika ada yang mengetuk kaca mobil mereka sekarang.
" Ganti dulu nama panggilanmu, atau..."
Tangan Panji tidak mau diam saja, kedua jarinya bahkan sudah menyusup di area hutan terlarang.
" Pak... Augh!"
Dan disanalah kelemahan dari seorang Ratu, saat Panji ngempeng sambil mengobok-obok isi dalam celana istrinya.
" Gimana, enak nggak gitaran aku?" Panji tersenyum miring saat melihat Ratu langsung membusungkan dadaanya karena seolah merasakan sengatan aliran listrik yang mampu membuat kedua lututnya lemas.
" Tapi itu bukan gitar pak, eurm!" Ratu mencoba tidak tergoda, namun tubuhnya tidak bisa berbohong dan seketika tubuhnya mengge linjang karena ke enakan.
" Karena kamu masih menolakku, RASAKAN INI!"
Slep!
Karena ladang Ratu sudah basah, dengan mudahnya Panji bisa menanamkan tumbuhan padi satu-satunya kedalam sawah halal yang ada di bawah sana.
" Eugh... Okey.. Okey aku panggil Ayang, please... jangan disini ya, nanti ada yang lihat malu sendiri kita."
" Tapi ini enak Ratu, masak mau dicabut gitu aja, coba goyang sedikit?" Pinta Panji yang sudah setengah kopling.
" Ckk... Ayang ini, nggak punya malu deh!" Karena dia sendiripun merasakan kenik matan tersendiri, walau mulutnya menolak namun tanpa sadar dia mengge olkan buntutnya perlahan.
" Eurm.."
Panji semakin mengeratkan pelukannya saat burung perkutut peliharaannya seolah berkicau dan menemukan Surga dibawah sana.
__ADS_1
" Ayang... Udah ya."
" Iya, tapi cepetin dulu goyangnya!"
" Argh... aku jadi pengen pipis ini."
" Keluarkan saja, itu pipis enak!"
" Mana ada pipis enak, yang ada bau pesing nanti mobil kamu!" Umpat Ratu dengan polosnya.
" Nggak masalah, kita bisa mencucinya atau kalau tidak kita bisa beli mobil yang baru, pokoknya aku ingin kita pipis disini hari ini."
Awal mulanya dia memang cuma berniat untuk memberikan pelajaran kepada Ratu agar mengganti nama panggilannya, namun ternyata syaitonirojim telah membuat dirinya kebablasan.
" Ayang... Aku... Eurm..."
" Kita pipis bareng, okey?
" Dih... Ayang jorok deh!"
" Satu.. Dua.. Tiga!"
Panji langsung menghentakkan dengan keras torpedo miliknya, agar menancap lebih dalam lagi kedalam lembah surga kenik matan yang ada di bumi ini.
" WahJanTonjoTenanRasane!"
Akhirnya mereka berdua berpelukan dengan erat saat kedua air titisan Surga itu saling bertemu didalam sana.
Tok.. Tok.. Tok..
Saat mereka berdua memejamkam mata sejenak, merasakan sensasi yang war biasah, ternyata sudah ada security yang berdiri disamping mobil mereka.
" Mampus kita yank, ada pak Satpam disana!" Rayu tidak berani menatapnya, dia menyembunyikan wajahnya didadaa bidang suaminya.
" Diam kamu, pejamkan kedua matamu, jangan bersuara apapun walau ditanya, cukup kamu peluk aku dengan erat atau kamu akan malu sendiri nantinya!"
Panji langsung menarik jacket miliknya yang ada dikursi belakang untuk menyelimuti tubuh Ratu dari belakang dan baru membuka kaca mobilnya.
" Permisi pak?"
" Iya pak?"
" Kalian sedang apa? Tolong jangan berbuat mesvm di wilayah rumah sakit ini, atau akan mendapatkan sanksi dari kami!" Security itu bahkan memalingkan wajahnya saat melihat mereka berdua duduk berhadapan sambil berpangkuan.
*Maaf,tapi aku sudah selesai pak*!
" Kami tidak berbuat mesvm pak, tapi kaki istri saya sedang sakit, kakinya bahkan diperban, dia kesulitan untuk jalan."
Karena Panji tidak melepas celananya hanya mengeluarkan tombak kesaktiannya yang bahkan masih tertancap didalam sana, dia tidak terlihat sedang proses produksi karena tertutup dengan jacket tadi.
" Owh ya?"
" Lihat ini kakinya kirinya diperban kan? Dan tubuhnya lemah, aku tidak tega membaringkan tubuhnya di jok belakang, takut jika nanti aku ngebut dia jatuh."
Karena kaki Ratu yang diperban disebelah kiri, jadi tanpa bergerak pun security itu bisa melihatnya dengan jelas.
" Begitu ya?"
" Iya pak, dan dia istri sah saya, bukan cuma pacar."
" Boleh saya lihat kartu identitasnya."
" Tentu pak!"
Panji langsung menarik dompet yang ada disaku celana belakangnya dan menunjukkan kartu tanda penduduk miliknya yang memang bukan lagi berstatus lajang.
" Emm... Baiklah, kalau begitu saya minta maaf, saya pikir kalian tadi pasangan anak ABG yang tidak tahu tempat, kalau begitu silahkan dilanjut, sudah periksa atau belum, atau mau saya bantu?"
" Tidak usah pak, kami sudah periksa, ini mau pulang."
" Kalau begitu silahkan pak, utamakan keselamatan, jalan pelan-pelan saja, karena menyopir sambil memangku istrinya seperti itu tidak aman."
" Terima kasih pak, rumah kami dekat kok, hanya diseberang sana, kalau begitu kami permisi." Baru kali ini dia fasih dalam berbohong.
" Silahkan pak!"
Akhirnya Panji bisa bernafas lega, dia kembali menutup kaca mobilnya dan langsung melajukan mobilnya dengan cepat, meninggalkan pak security yang masih melamum karena merasa ada yang janggal.
" Ckk... Tapi sepertinya tadi aku mencivm bau-bau apa gitu, nggak asing bau anyirnya itu, tapi bau apa ya?"
Security yang memang belum menikah itu berjalan meninggalkan parkiran sambil mengingat-ingat bau apa tadi, namun belum juga menemukannya.
Sebagai pria dewasa, walau belum menikahpun mereka pasti pernah mengeluarkan zat-zat seperti itu walau hanya mandiri.
..."*Hidup bukan hanya tentang mengejar, mendapatkan dan memiliki. Tapi hidup juga tentang melepaskan, mengikhlaskan dan berdamai dengan kenyataan*."...
__ADS_1