
...Happy Reading...
Hari ini Ratu kembali berulah selain suaminya yang menjadi korban, Melody sahahatnya pun ikut terkena imbasnya.
Sedari pagi saat dia baru saja sampai di kampus, Ratu sudah menelpon dan merengek ingin dibelikan sempol yang sering berjualan di dekat area kampus mereka.
" Hallo.. apa lagi Ratu, jam kuliahku baru selesai ini." Melody sampai bosan merijeck panggilan dari Ratu, akrena dia terus saja menghubungi saat kuliah masih berlangsung, hanya demi sempol ayam semata.
" Mel... selain sempol aku mau juga rujak eskrim ya, buruan anter ke rumah gue, ntar gue kasih hadiah deh buat elu!" Pinta Ratu dnegan suara yabg sengaja dia buat melow.
" Laki elu kemana sih? Kenapa nggak suruh dia aja yang beli?"
" Dia masih nge Zoom sedari tadi, lagian nanti kalau aku atau mas Panji yang beli kesana, anak-anak di kampus pasti masih menggibah tentang kami kan?" Umpat Ratu kembali.
" Bukannya kamu sudah terbiasa jadi bahan perghibahan orang? tumben sekarang kamu perduli?" ledek Melody.
" Ckk... Aku lagi males aja, pokoknya buruan beliin harus dapet ya, aku tungguin di rumah pokoknya, nanti aku share lokasi rumah mas Panji okey?"
" Ya sudah, aku beliin sekarang, bye!"
Walau sebenarnya kesal namun Melody membelikannya juga, selama ini dia belum bisa membalas kebaikan-kebaikan Ratu, yang memang tidak pernah pelit dengannya, bahkan dulu sebelum Ratu menikah dia selalu mengantar jemput dirinya ke kampus walau tanpa dia minta.
Sedangkan Ratu kali ini hanya menginginkan hal sepele yang harganya tidak seberapa dengan semua kebaikan Ratu. Jadi tidak ada alasan lain untuk dia menolak keinginan sahabatnya itu.
Satu kantong kresek sempol ayam sudah ditangan, dan hanya tinggal mencari rujak eskrim aja sekarang.
Karena tidak memiliki mobil, Melody lebih memilih naik ojek online saja, selain murah juga lebih praktis dan cepat sampai.
" Bang... Kita cari rujak eskrim dulu ya, sebelum ke titik lokasi, nanti aku kasih bonus deh buat abang?" Ucap Melody kepada tukang ojol itu.
" Belinya dimana neng."
" Didekat sekolah SD jalan XX biasanya sering ada kan bang?"
" Asiap neng, itu kan satu jalan juga dengan alamat tujuan di aplikasi kan?"
" Iya bang, yok tancap gas!"
Melody langsung menaiki motor itu, bahkan dia belum sempat makan siang gegara ulah Ratu yang kalau sudah punya keinginan itu sering sulit di tolak.
Benar saja, jam-jam bubaran sekolah memang banyak sekali berjajar penjual jajanan di sepanjang jalan.
" Tunggu bentar ya bang, aku beli rujak es krim dulu."
" Siap neng!"
Melody langsung berlari kearah penjual rujak eskrim keliling yang sedang mangkal disana.
Dan saat Melody masih menunggu giliran, kedua matanya teralihkan oleh segerombolan anak yang sepertinya sedang saling membully.
" Mana ibu kamu yang kamu bangga-bangga kan itu?"
" Iya mana?"
" Kamu nggak punya ibuk kan sekarang!"
" Kami semua punya sedangkan kamu enggak, huuu!"
" Haha... Nggak punya ibuk... kamu nggak punya ibuk.. Werk!"
Dan anak yang terintimidasi itu hanya menundukkan kepala sambil menahan air mata saja saat dia diejek oleh teman-teman yang lainnya.
" Kayaknya gue pernah lihat tuh bocah dah? tapi dimana yak?" Melody jadi kasihan sendiri melihatnya, akhirnya dia berjalan mendekat ke arah gerombolan anak-anak itu.
" Besok kalau kita piknik berarti kamu sendirian dong, kan kami semua didampingi oleh ibu kita masing-masing, haha... Kasian sekali dia, aku tidak mau lah berteman dengan dia!"
Namanya juga masih anak yang belum bisa berpikir secara rasional, jadi masalah sepele pun bisa jadi bahan bullyan diantara mereka.
" Iya.. Aku juga, haha!"
" Hugo... Nggak punya ibuk... Nggak punya ibuk, haha... Kasian deh loe!"
Apalagi jika salah satu dari mereka sudah menjadi pihak provokator, yang lain pun jadi ikut-ikutan.
" Owh iya... Dia Hugo anaknya pak Arga kan? Ternyata dia sekolah disini? Apa pak Arga telat jemput ya? Kenapa dia menunggu didepan sekolah sih? Tadi kan emang sepertinya pak Arga masih ada kelas ngajar, ya ampun kasian sekali dia."
Melody langsung berlari ke arahnya, saat dia sudah memastikan kalau itu benar-benar anak dari dosennya.
" Hallo... Anak-anak manis, kalian lagi pada nunggu jemputan ya?"
" Siapa kamu?" Tanya salah satu anak yang menjadi pelopor pembullyan terhadap Hugo disana.
" Saya Mama nya Hugo, kenapa?"
" Hah?" Hugo langsung memperhatikan Melody dengan seksama.
" Ssst... Jangan takut, kakak bukan penjahat, kakak temannya ayah kamu, nama ayah kamuArga kan?" Bisik Melody disamping telinga Hugo.
" Tapi?"
" Kamu kenal Om Panji? Atau tante Ratu? Dia juga besti kakak, jadi kamu jangan takut, kakak akan membela kamu didepan teman-teman kamu yang nakal itu, okey?" Melody terlihat meyakinkan Hugo.
" Okey!"
Saat dia mendengar nama Arga dan Panji, Hugo langsung mengusap air matanya yang menetes tiada henti di kedua pipi gembulnya dan dia akhirnya menyetujui ide itu.
" Siapa tadi yang bilang Hugo nggak punya mama?" Melody langsung memasang tampang garangnya.
" Eh.. Gimana ini? Gimana?" Anak itu langsung saling berbisik satu sama lain.
" Kalian nggak boleh meledek teman kalian seperti ini ya adek-adek, dosa tau nggak, asal kalian semua tahu aja, semua makhluk hidup di dunia ini adalah titipan, begitu juga dengan ibu dan ayah kalian itu, bisa kapan saja diambil oleh sang Pemiliknya." Melody bahkan mendramatisir suasana siang itu.
__ADS_1
" Emang siapa pemiliknya?"
" Tuhan yang maha Esa, Dialah yang menciptakan kalian semua ini lewat ibu kalian." Ucap Melody.
" Tapi ayah dan ibu kami kan masih muda, nggak mungkin dia akan diambil sekarang." Jawab Anak itu kembali dengan polosnya.
Woah... Anak-anak jaman sekarang sudah kenal mbah goggle, jadi pandai ngeles aja!
" Emm... Kalian tahu berapa umur semut ini? Ada yang kecil dan ada yang besar kan?" Melody melihat ada semut yang sedang berbaris di tepi jalan.
" Tidak tahu dan tidak mahu tahu, huh!"
Aish... Anak yang satu ini sepertinya dulu tercipta dari tanah Sengketa, mulutnya itu kalau ngomong udah mirip banget kayak netizen!
Ingin sekali rasanya Melody mencubit anak orang ini, namun dia sadar bahwa umur mereka masih sangat kecil dan terpaut jauh dari dirinya, takkan dia kalah berdebat sama anak dibawah umur pikirnya.
Jluk... Jluk!
" Kalau saya injak sampai mati begini, apa semut ini harus menunggu tua dulu baru mati? Kalian tau nggak, kalau semut ini juga makhluk Tuhan?"
" Lalu?"
Lalu apa ya? Ya ampun sepertinya aku perlu memberikan apresiasi tertinggi untuk para guru SD yang punya murid bandelnya setengah mati seperti ini!
" Intinya, semua makhluk hidup itu, termasuk juga manusia seperti kita ini, belum tentu sampai Tua baru bisa meninggal, karena kita tidak akan pernah tahu jika sudah ajal menjemput, bahkan kalian sering meledek teman kalian ini, kalau nanti tersedak trus nggak bisa bernafas, apa yang akan terjadi?"
" Mati?"
" Yes... Karena manusia seperti kita itu butuh bernafas, makanya kalian hati-hati kalau bicara, jangan suka mengganggu atau mengolok-olok teman lainnya, karena dipundak kalian itu ada Malaikat yang mencatat semua perbuatan kalian, termasuk perbuatan kamu itu, yang gembul siapa namanya?" Melody kembali menunjuk pentolan dari anak-anak SD itu.
" Dion... Hayoloh... Kamu kan tadi yang mulai duluan?" Temna lainnya langsung menyalahkan, begitulah kehidupan anak jaman sekarang.
" Hei Dion, kamu tadi yang meledek Hugo ya, awas itu di pundak kiri kamu ada siapa?"
" Siapa, emang ada siapa?" Dion langsung menolehnya.
" Ada seseorang yang berjubah hitam, bermata merah yang sedang mencatat kejahatan kamu, wuidih... Dia bawa pedang samurai lagi, aduh... Menyeramkan sekali, sepertinya dia lah malaikat pencabut nyawa, dan itu cuma ada di pundakmu loh Dion, teman kamu yang lain nggak ada itu!"
" Hiiiiiiiii.... Lariii... Ada malaikat Pencabut nyawa di pundak kiri Dion, awas!"
Akhirnya mereka berlari berhamburan dan memilih menjauh dan tidak ingin berdekatan dengan Dion lagi.
" Kakak bohong kan?"
" Apanya?"
" Mana ada malaikat pencabut nyawa di pundak Dion tadi?" Celoteh Hugo sambil memandang wajah Melody.
" Biar saja, Dion itu anak nakal, jadi biar dia tidak berani jahat lagi dengan kalian?
" Tapi kata daddy kalau berbohong itu dosa?"
" Kalau berbohong demi kebaikan itu tidak masalah, hehe... Kamu belum dijemput daddy kamu ya?"
" Mau mama... Eh, kok malah keterusan sih? Mau kakak anterin ke rumah kamu?"
" Nggak mau!"
" Loh kenapa? Kakak beneran bukan orang jahat loh? Kamu nggak percaya sama kakak? Nih... kakak beneran temannya Tante Ratu." Melody langsung menunjukkan foto kebersamaan mereka dari ponselnya.
" Bukan begitu, tapi kalau daddy belum pulang, aku dirumah sendirian, aku takut kak, sedangkan mommy pergi tapi nggak pulang-pulang sampai saat ini."
" Ya ampun Hugo, kasian sekali kamu nak?"
" Kenapa mommy tega sama Hugo, ninggalin Hugo sama Daddy sendirian, Hugo jadi sering diledekin sama teman-teman Hugo karena mommy nggak pernah mau jemput Hugo disekolah?
" Hugo?" Melody semakin iba dengannya.
" Apa salah Hugo, apa mommy tidak sayang aku lagi? Kenapa dia tidak merindukan aku lagi? Padahal Hugo sudah berjanji tidak akan nakal, hiks..hiks.."
Hugo terlihat menahan air matanya, namun mimik wajahnya tidak bisa berbohong bahwa dia sangat merindukan sosok mommynya.
Kasihan sekali anak ini, dia masih terlalu kecil untuk mengetahui kematian mommynya, api tidak seharusnya pak Arga terus menutupinya, karena Hugo hanya akan lebih sedih nantinya.
" Hugo... Mommy kamu pasti sangat menyayangi kamu nak, walaupun mommy Hugo sudah pergi, tapi mommy Hugo bisa melihat Hugo dari atas sana." Akhirnya satu pelukan hangat dia berikan kepada Hugo.
" Atas mana?"
" Hmm... Mungkin mommy Hugo ada diantara bintang-bintang saat malam tiba?"
" Kenapa mommy disana? Kenapa nggak turun dan nemenin Hugo juga Daddy disini?"
" Hugo... Setiap manusia di dunia ini pasti akan pergi kesana, hanya tinggal menunggu giliran saja, dan mommy Hugo sudah sampai disana duluan, tapi mommy Hugo bukan bermaksud meninggalkan Hugo, dia akan selalu ada di dalam hati Hugo."
" Benarkah? Tapi Hugo ingin berjumpa dengan mommy!"
" Untuk saat ini Hugo tidak bisa bertemu dengan mommy, kan masih ada daddy Arga kan? yang penting Hugo doain mommy aja ya, dan harus menjadi anak yang cerdas dan hebat, siapa tahu nanti Hugo bisa bertemu mommy di dalam mimpi."
" Tapi Hugo kangen mommy, hiks.. hiks.."
" Mommy juga pasti kangen Hugo, tapi mommy Hugo pasti tidak mau melihat Hugo menangis begini, Hugo mau mommy Hugo senang nggak?"
" Mau."
" Kalau begitu Hugo harus jadi anak yang kuat ya sayang, nurut sama daddy, belajar yang rajin biar daddy dan mommy Hugo bangga! Kakak yakin Hugo pasti bisa, okey?"
" Hmm.."
" Sekarang mau kakak anter ke tempat daddy Hugo nggak?"
" Mau."
__ADS_1
" Kamu lapar nggak, mau sempol ayam?"
" Mauk!"
" Okey baiklah, kamu bisa memakannya sambil menunggu daddy nanti okey?"
Dia langsung melupakan si pemilik sempol ditangannya itu, padahal Ratu sudah sedari tadi keluar masuk rumah hanyabuntuk menunggu kedatangan Melody.
" Okey."
Akhirnya Melody kembali membayar ongkos ojek online tadi dan memilih mencari taksi karena membawa Hugo bersamanya.
" Kita tunggu daddy disini ya, sebentar lagi pasti daddy sudah selesai mengajar." Melody membawa Hugo untuk duduk di kursi kampus.
" Hmm... Tapi Hugo haus?"
" Haus? Okey... Kakak beliin minuman sebentar ya di kantin, Hugo nggak boleh pergi kemana-mana, janji?"
" Janji." Jawab Hugo patuh.
" Pinter deh anak mama yang satu ini."
" Hah?"
" Ehehe... Maksudnya kakak pergi dulu ya, tunggu disini okey?"
Melody langsung berlari sambil mengigit bibirnya sendiri menuju Kantin, entah kenapa dia bisa terus keceplosan membahasakan dirinya sebagai mama Hugo, pikirnya.
" Hugo... Sayang? Kamu kok bisa disini?"
Arga yang baru saja keluar kelas langsung terkejut dengan kedatangan Hugo di kampus.
" Daddy! Kenapa daddy lama sekali?"
" Maaf sayang, daddy lupa kalau kamu pulang awal, trus yang nganterin Hugo kesini siapa nak?"
" Mama Hugo."
" Astaga sayang, mommy sudah pergi nak, kamu pasti salah orang." Arga langsung menggendong Hugo dan memeluknya dengan erat.
" Enggak kok, sekarang mama Hugo lagi beli air mineral untuk Hugo!"
" Ya ampun sayang, kamu harus mencoba ikhlas nak, mommy Hugo sudah tenang di Surga, tidak mungkin dia ada disini, itu pasti hanya halusinasi kamu nak?"
" Hugo bilang kan mama, bukan mommy?"
" Maksudnya gimana nak?" Arga semakin bingung dibuatnya.
" Itu dia mama baru Hugo!" Tiba-tiba Hugo menunjuk seseorang yang baru saja muncul dari balik bangunan tinggi itu.
" Hah?"
Jreng!
Terlihat Melody berjalan kearah mereka sambil melambaikan tangannya dengan senyum termanisnya dan juga membawa satu kantong kresek ditangannya.
" Hugo... Ini minumannya, mau pilih yang mana?" Melody membelikan beberapa botol air minum, karena tidak tahu minuman kesukaan anak kecil itu.
" Melody, kamu yang mengantarkan Hugo kemari?"
" Iya pak, Kasian Hugo dibull... Emm... Maksudnya kasian Hugo kelamaan nunggu didepan sekolah."
Arga langsung menggerutkan kedua keningnya saat dia menangkap sesuatu yang aneh dari Melody.
" Okey... Kita pulang sekarang juga ya Hugo!"
" Kalau begitu saya permisi juga pak Arga!" Melody lansung bangkit juga dari sana.
" Mama nggak ikut dengan kita?" Tanya Hugo dengan polosnya.
Aduh... Anak ini, kenapa dia panggil aku mama? Aku kan jadi nggak enak sama bapaknya!
" Owh... Nggak usah Hugo, kakak harus pergi ke rumah tante Ratu, sudah ditunggu soalnya."
" Rumah Ratu sekarang dekat dengan rumah kami Melody, kami tetanggaan, jadi kamu ikut saja dengan mobil kami, emm... Ada sesuatu hal juga yang ingin bapak tanyakan kepadamu."
" Baiklah kalau begitu."
" Yeay... Akhirnya Hugo punya daddy dan mama lagi!" Hugo bahkan bersorak kegirangan karenanya.
" Kenapa kamu bilang kak Melody mama Hugo nak?"
" Mama sendiri yang bilang ke semua teman-teman Hugo kalau dia mama Hugo kok."
" Hehe... Sebenarnya anu pak... Itu!" Melody bingung harus menjelaskannya bagaimana, sebenarnya dia tidak ingin Hugo kembali mengingat kejadian tadi.
" Begitu? apa kamu senang punya mama muda seperti kak Melody?"
" Hmm... Mama Melody hebat, dia bahkan bisa mengalah semua teman-teman Hugo yang nakal-nakal!" Jawab Hugo dengan lucunya.
" Maksudnya?"
Waduh... Pak Arga pasti salah sangka ini?
" Pokoknya mama keren, aku suka sama mama!" Hugo bahkan langsung memeluk tubuh Melody dengan erat.
Meninggalkan Melody yang merasa tidak enak hati, karena tatapan Arga seolah terlihat tidak suka dengan hal ini.
Pasti pak Arga mikirnya aku sengaja kek gini buat ngedeketin dia lagi, aduh... Biarpun dia duda tampan, aku juga tidak bermaksud tebar pesona lewat anaknya, aku kan cuma kasian aja sama Hugo yang di bully teman-temannya.
Akhirnya Melody hanya bisa membuang pandangannya ke jendela luar, dia memilih membalas pelukan Hugo dan menyandarkan dagu lancipnya di tubuh Hugo yang terlihat nyaman di pelukannya.
__ADS_1
Kita bisa menulis seribu kata perpisahan. Tapi yang kita rasakan hanya satu, yaitu kehilangan.
Tak peduli apa yang telah hilang, selama kamu masih mampu bersyukur pada Tuhan, kamu tak kehilangan apa pun. Karena suatu hari nanti Tuhan pasti akan menggantikannya dengan nikmat yang tidak pernah kamu duga sebelumnya.