Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
16. Terpesona


__ADS_3

...Happy Reading...


Kesibukannya sebagai seorang dokter membuat Gendhis memang jarang sekali bisa quality time bersama kekasihnya.


Berulang kali mereka membuat janji, berulang kali juga Gendhis harus terpaksa membatalkannya.


" Sayang... pokoknya aku tidak mau tahu, hari ini kita sama-sama ambil cuti, kita pergi jalan-jalan seharian full, titik!"


Karena terlalu kesal Panji memperlihatkan sifatnya yang sering memaksakan kehendaknya, bukan tanpa alasan, karena memang dalam satu minggu ini bahkan mereka tidak sempat bertemu.


" Iya deh mas, emang kita mau jalan kemana?" Gendhis langsung bergelayut manja ke lengan Panji, agar bisa semakin dekat melihat wajah juteknya kalau lagi ngedumel begini.


" Kemana aja, yang penting kamu nggak kerja, masak sedikitpun kamu tidak punya waktu untukku, kamu kerja apa dikerjain!"


" Harusnya seneng dong mas kalau punya calon istri yang rajin kerja, kan demi masa depan yang cemerlang untuk kita berdua juga?"


Bluuss!


" Eherm... setelah ini kamu offkan saja ponselnya."


Wajah Panji yang memang putih bawaan dari lahir itu terlihat bersemu merah saat mendengar kata calon istri, membuat gumpalan-gumpalan api kemarahan didirinya langsung membeku seketika, seolah teraliri arus air dari puncak pegunungan yang sejuk dan menenangkan.


" Janji ya, kita langsung berangkat sekarang aja, okey?"


" Okey, kalau begitu aku siap-siap dulu ya mas?"


Walau mungkin harus menuai pro dan kontra karena dia mengambil cuti dadakan, namun dia tidak ingin membuat kekasihnya itu kesal karena merasa tidak diperdulikan.


Bagi Gendhis, karier itu memang penting, tapi masa depan juga tidak melulu hanya soal karier, karena suatu saat kita juga pasti butuh seorang pendamping hidup yang kelak bisa menemani diri kita dikala tubuh sudah menua dan tidak mampu lagi untuk bekerja.


Penampilan sporty terlihat terlihat dari penampilan mereka masing-masing, karena rencananya mereka akan pergi ke puncak, untuk menikmati udara segar yang jauh dari kerumunan kota.


" Sayang... kamu sudah siap?" Panji yang memang terlalu rindu itu, sudah standby dirumah wanitanya sedari pagi, padahal tadi saat dia datang, Gendhis baru saja selesai mandi.


" Sudah dong mas, yuk kita berangkat!"


Hari ini dia sudah berjanji untuk tidak membuat Panji kesal berulang kali.


" Gendhis! kenapa kamu susah sekali dihubungi!"


Tiba-tiba ibu Gendhis datang dari arah luar rumah, masih dengan menggunakan jas putih kebanggaannya.


Ada apa lagi ini? habislah aku...


" Emm... ponselnya Gendhis charger tadi buk, lagian kan Gendhis sudah minta izin satu hari?"


" Lain kali saja izinnya, ada anak dari rekan ayahmu yang sedang membutuhkan pertolongan kamu, mereka ingin kamu yang menanganinya, ayo cepat kita ke rumah sakit sekarang!"


" Tapi buk, aku sama mas Panji mau pergi."

__ADS_1


" Owh... ternyata ada Panji, maaf ya nak, lain kali saja kalian perginya, Gendhis harus melakukan tanggung jawabnya sebagai dokter yang profesional, okey nak?" Karena terlalu terburu-buru dia bahkan tidak melihat Panji yang ada dibelakangnya.


" Tapi buk, kasian mas Panji sudah nunggu sedari tadi loh, masak nggak jadi sih?"


" Begitu ya... tapi kamu harus tetap pergi ke rumah sakit, emm... owh iya, Ratu kan ada dirumah, dia bilang kuliah sore nanti kok, nak Panji kamu ngobrol sama Ratu aja dulu ya?"


" Buk, mas Panji kan pacar aku, bukannya pacar si Ratu!"


" Emang siapa yang nyuruh mereka pacaran, Panji kan dosennya Ratu, sekalian aja Panji ngajarin Ratu, kalau perlu privat dia, katanya nilai Ratu sering merah di mata pelajaran pacarmu itu."


" Buk..."


" Maaf ya nak Panji, kami pergi dulu."


" Baik Tante."


Selain menggangukkan kepalanya, Panji bisa apa, dia tidak mungkin melawan calon mertuanya itu, bisa-bisa dia dicap buruk dan dicoreng sebagai kandidat calon menantu nantinya.


" Fuuuhh..." Akhirnya hanya helaan nafas kasar yanh bisa dia lakukan.


" Wuidih... mending jomblo kan pak, punya pacar tapi selalu sendiri, sakit banget pastinya, emm... enaknya dikasih judul apa ya pak? owh... rindu yang tertahan dan sulit tersampaikan, terasa menyesakkan kalbu yang dirudung pilu, owh... Gendhis, kamu sungguh terlaluuuu, hihihi.. capek deh!" Ratu yang punya kebiasaan baru menguping obrolan kakaknya itu langsung turun tangga untuk mengejek dosen killer di kampusnya.


" RATU, SINI KAMU!" Panji langsung melotot kesal kearahnya.


" Maaf pak, ini bukan di area kampus, so... excuse me, numpang lewat aja ya!" Ratu ingin berlalu dari hadapan dosennya setelah puas meledeknya.


" Jangan harap kamu bisa pergi begitu saja!" Panji langsung menarik lengan Ratu agar mendekat kearahnya.


" Kerjain tugas kamu sekarang juga!"


" Yaelah pak, nggak usah nurut-nurut amat ama perintah ibuk, lagian mereka juga sudah pergi, bapak juga bisa pulang saja sekarang kok!" Secara tidak langsung Ratu malah jadi mengusir Panji.


" Sebagai kandidat calon kakak ipar yang baik, bapak harus memenuhi perintah ibu kamu, sekarang aku kasih tugas spesial buat kamu, ayo ikut bapak!"


" Aaaaaaaaaaa... aku nggak mau pak!" Ratu bahkan seperti bocah yang disuruh belajar secara paksa.


" Atau mau aku telponkan ibu kamu dan bilang kalau kamu anak paling nakal di kampus, ditambah sering bolos lagi!" Ancam Panji seperti biasa.


" Jangan dong pak, nggak kawan kita nanti!"


" Ya sudah nurut saja kamu, emang sejak kapan kita berkawan, bapak ini dosen kamu, apa kamu lupa!"


" Emm... tapi aku lapar pak, belom makan dari kemarin, si bibi pulang kampung, saya sudah seperti anak terabaikan ini, hiks.. hiks.." Dia langsung mulai bersandiwara.


" Bohong kamu!"


" Beneran pak, coba cek meja makanku kosong kan! aku buat mie instant dulu deh pak, kalau lapar aku nggak bisa mikir juga loh pak."


" Jangan kebanyakan makan mie instant Ratu, nggak baik buat kesehatan kamu, emang kamu nggak bisa masak?"

__ADS_1


" Kalau aku pinter masak, kasian si bibi nanti nggak punya pekerjaan jadinya!" Ada saja alasan yang keluar dari mulut Ratu yang bikin Panji geleng kepala.


" Alasan saja kamu ini, kuliah asal-asalan, masak juga nggak bisa, mau jadi apa kamu nanti!"


" Jare bapak kudu dadi pns, jare ibuk sing penting sukses, tonggo-tonggo mung marai setres, jare mbah dukun kurang hewes-hewes... ora tak pikir, ora tak gagas sing penting aku iso tuku beras, ho uwooo..." Ratu dengan santainya menyayikan lagu terbaru dari band favoritnya itu.


" Kamu ini, kalau ada orang ngomong serius nggak pernah didengerin, kulkas kamu ada isinya nggak!" Panji langsung berjalan menuju dapur yang ada diujung ruangan.


" Hehe... ada dong pak, kulkas Sultan mah isinya selalu penuh, emang bapak bisa masak!" Ratu langsung mengikuti langkah dosennya dari belakang.


" Duduk diam disana, biar bapak masakan sesuatu buat kamu." Dia langsung mengambil celemek yang ada didapur itu.


Wuidih... mau pake celemek juga sebenarnya dia tetap keren, cuma galaknya itu loh, amit-amit jabang bayik!


" Woah.. terima kasih pak dosen, ini baru yang namanya dosen panutan, ya kan!" Kalau ada maunya dia langsung pandai memuji.


" Berisik kamu!" Panji hanya menatap mahasiswinya yang tidak bisa apa-apa itu dengan tatapan jengah.


" Sini deh pak, aku bantu potong-potong!"


" Nggak usah, kamu malah ngribetin aja nantinya!"


" Sini pak, aku kan juga mau belajar memasak!" Ratu langsung mengambil pisau dan telenan, siap memotong bahan makanan yang Panji keluarkan dari kulkas besarnya.


" Awas nanti kamu malah mengacaukan masakan bapak Ratu!"


" Ya enggaklah, gini doang mah gampang pak!"


Prak.. prak.. prak..


" Eeh... aw... aww!"


Karena memang tidak pernah masuk kedalam dunia dapur selain makan, Ratu asal saja memotong sayur itu ala-ala chef terkenal, namun dia melupakan jarinya yang berada diatas telenan, akhirnya daraah segar pun mengalir dari jemari Ratu.


Pranggg!


" Astaga Ratu!" Panji bahkan melempar pancinya yang dia pegang ke sembarang arah.


" Aaaaaa... berdaraah ini pak!" Teriak Ratu dengan histeris.


Cep!


Dengan sigap Panji langsung menarik jari Ratu yang teriris dan langsung menghi sapnya, agar daraahnya tidak merembes kemana-mana.


Degh!


Maaaak... what he is doing?


Ratu hanya bisa melongo melihat reaksi Panji yang secepat kilat memberikan pertolongan pertama kepadanya, padahal kan dia bisa saja melakukannya sendiri, dan disitulah tiba-tiba terselip perasaan lain direlung hatinya, yang seolah membuat Ratu terpesona dalam sesaat.

__ADS_1


Mungkin akan tiba saatnya untuk kita mengganti sebuah doa yang kita panjatkan.


Bahwa bukan lagi 'Meminta bahagia disetiap waktu', tapi 'Diberi hati yang cukup luas untuk menerima segala sesuatu'.


__ADS_2