Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
38. Aku bisa apa?


__ADS_3

...Happy Reading...


Tidak seharusnya kita cemas tentang perihal Takdir, yakinlah akan ada sesuatu yang menanti, setelah banyak kesabaran yang kau jalani, yang akan membuatmu terpana, hingga lupa betapa pedihnya rasa sakit.


Sebelum Ijab Qobul di mulai, Panji mendatangi kamar seorang pria yang telah berhasil merebut wanita yang sangat dia cintai kini walau dengan cara yang tidak sportif.


Untuk mampu mengucap kata ikhlas itu memanglah mudah, namun untuk merealisasikan itu semua memang sangat sulit, dan itulah yang dialami oleh Panji, dia masih sangat menyayangi Gendhis, bahkan sebenarnya mau saja menikahi Gendhis walau dalam keadaan hamil seperti itu.


Namun, seluruh anggota kelurganya seolah sudah terkontaminasi dengan ucapan Eyang, dan akhirnya menentang dirinya jika ingin tetap bersama Gendhis.


Dia bisa apa, jika tak ada seorang pun yang mau berdiri dibelakangnya, dan setelah dipikir-pikir lagi, dia kasihan juga kepada janin yang Gendhis kandung itu, jika nanti dia terlahir sebagai wanita, walaupun dia ayahnya tapi tidak sah baginya jika harus menjadi seorang wali nikahnya, dan itu pasti akan membuat sang anak merasa malu karena sudah pasti banyak orang yang akan bertanya-tanya tentang kisah kedua orang tuanya.


Lain cerita jika memang ayah kandungnya yang menikahinya, mungkin masalah ini hanya akan heboh sekarang dan lambat laun nanti pasti akan hilang tertimbun dengan gosip lainnya.


" Hei kamu!"


Walau sudah mencoba merelakan, tapi Panji seolah tidak sudi jika harus menyebut namanya saja.


" Ckk, apalagi sih!"


Umpat Broto dengan santainya, sambil membenahi jas putih yang akan dia pergunakan untuk Ijab Qobul nanti.


" Apa kamu yakin mau menikahi Gendhis sekarang?" Tanya Panji yang langsung duduk dimeja yang ada dihadapannya.


" Tentu, kenapa tidak? Atau kamu yang mau menikahinya, silahkan kalau bisa!" Seperti biasa, karena sudah merasa menang telak, dia berbicara selekeh dan sesuka hatinya.


" Hei... Sialaaan kau ya! Jangan main-main denganku, ataupun dengan Gendhis, mengerti kamu!"


Panji langsung mencengkeram lengan Broto dan bersiap ingin menonjok wajahnya saat itu.


" Haish... Santai aja kali bro, nggak usah pakai kekerasan bisa nggak? Sebentar lagi kita foto pengantin loh, mau apa wajahmu terlihat benjol dan berwana biru, hanya karena berkelahi denganku? Itu foto berlaku seumur hidup bro! Pikir lagi dah, nanti kamu menyesal kalau terlihat jelek."


Jawaban dari Broto seolah diluar pemikiran Panji, emosinya yang memuncak kini berubah menjadi kekesalan semata.


" Kamu bisa nggak jadi orang serius sedikit, kenapa orang kayak kamu bisa jadi dokter, hah!" Umpat Panji yang langsung melengos dan melepas cengkraman pada lengan Broto.


" Jangan melihat orang hanya dari Cover nya saja!" Sahutnya kembali tanpa ada rasa segan atau apapun.


" Cih... Kelakuanmu saja sudah bej*t, Mau Cover ataupun isinya aku rasa sama saja." Umpat Panji yang langsung berdecih saat mendengarnya.


" Aku tidak merebutnya darimu, tapi kan keluargamu sendiri yang tidak memperbolehkan kamu menikahi Gendhis kan? Jadi kamu jangan hanya menyalahkan aku doang, sebentar lagi kita jadi kakak beradik loh, apa kamu lupa kalau kamu akan menikahi adek calon istriku? Harusnya kamu belajar memanggil aku dengan sebutan kakak sekarang." Bukan Broto kalau tidak bisa membuat orang lain menjadi semakin kesal karena ucapannya.


" Cih... Kenapa jadi pengen muntah aku saat kamu bilang dia calon istriku!"


Entah sampai kapan Panji akan membenci pria itu, dia pun tak tahu, Panji juga masih belum bisa membayangkan jika nantinya dia harus sering-sering melihat Broto bersama Gendhis, karena dia pun nantinya akan masuk kedalam keluarga besar Andara.


" Sudahlah, kita terima nasip saja, lagian adeknya juga cantik dan manis, mana dia lucu lagi, murah senyum, apa mau tukaran saja kita?" Bahkan Broto mampu tersenyum licik saat mengatakannya.

__ADS_1


" JANGAN MAIN-MAIN KAMU!" Teriak Panji dengan kesal, karena Broto seolah terlihat main-main dalam pernikahan ini, padahal ini adalah acara sakral, bukan untuk bahan candaan pikirnya.


" Hehe... cuma bercanda bos, jangan marah-marah terus, mau apa jantungmu bocor gara-gara gampang emosi seperti ini? Kalau darahmu gampang naik, bisa menjadi komplikasi penyakit tau nggak? Semua sudah terjadi tinggal jalanin aja apa susahnya? sudahlah... cepatlah berkemas Dek, sebentar lagi acaranya akan di mulai!"


Dengan santainya Broto bahkan menepuk bahu Panji, bahkan dia sengaja memanggilnya dengan sebutan Adek, karena apapun yang terjadi sudah pasti dia adalah pemenang yang akan menikahi Gendhis, walau mungkin bukan pemenang di hatinya.


" Okey Fine, saat ini mungkin kamulah pemenangnya, tapi satu yang harus kamu ingat." Panji menatap Broto dengan tatapan dalam dan penuh makna yang tersirat.


" Apa itu?" Liriknya kembali.


" Kelak, jika kamu tidak bisa membuatnya tersenyum, jangan kau buat Dia menangis."


" Okey." Broto menaikkan kedua bahunya dengan santai.


" Jika kamu tidak bisa membuatnya bahagia, jangan kamu buat dia menderita." Ucap Panji kembali melanjutkan perkataannya.


" Tidak masalah." Jawabnya kembali dengan menaikkan satu sudut bibirrnya.


" Jika nanti kamu tidak bisa memujanya, jangan kamu lantas mencelanya." Suaranya terdengar sedikit bergetar, mungkin Panji menahan sesuatu didalam hati, entah itu apa, hanya dia dan Tuhan yang tahu.


" Gampang lah itu, jangan terlalu di fikirkan!"


" Satu lagi."


" Yaelah... Apalagi sih, ribet banget kamu ini?" Lama-lama Broto kesal juga, karena masih banyak yang harus dia lakukan sebelum pernikahan dadakannya ini berlangsung.


" Siap pak Dosen, apa aku sudah boleh pergi sekarang? Aku harus menemui ayahku dulu sebelum acara Ijab Qobul dimulai!" Bahkan Broto memberikan salam hormat kepada Panji karena jengah mendengar nasihat darinya.


" Hmm."


Jauh didalam lubuk hatinya, Panji masih tidak rela jika Gendhis dimiliki olehnya, ingin rasanya dia mengajak pria itu untuk beradu kekuatan, baku hantam, bahkan menghabisinya sekalian.


Namun itu tidak akan menimbulkan perubahan apapun, bahkan akan merugikan dirinya sendiri, sedangkan hubungannya dengan Gendhis seolah sudah terhalang lautan luas yang membentang, memisahkan mereka berdua, terlalu sulit baginya untuk kembali menyatukan hubungan mereka seperti sedia kala.


" Maafkan aku mas."


Tiba-tiba, tak selang beberapa lama, Gendhis muncul keruangan itu setelah Broto keluar dari sana.


Gendhis sebenarnya sudah ada disana sejak tadi, dia sengaja ingin mendengar semua pembicaraan Panji dengan Broto, dan saat Broto keluar dia sengaja bersembunyi dan kembali lagi saat Panji masih terduduk diam di ruangan itu.


" Gendhis?"


Panji langsung bangkit dan berdiri mendekatinya saat Gendhis memasuki ruangan itu dengan wajah cantiknya, karena dia sudah selesai dirias saat itu.


" Mas... Kita kabur aja bagaimana? Kita bisa menikah di luar negri, aku akan mengurus segalanya?"


GILA

__ADS_1


Satu kata terbesit didalam pikiran Panji saat ini.


" Gendhis, kabur bukanlah cara penyelesaian masalah dalam hubungan kita."


" Tapi mas, aku tidak menemukan cara lain agar kita bisa terus bersama, kita saling mencintai mas, dan ini semua hanya karena kecelakaan, aku sama sekali tidak berniat untuk menduakan mas, jadi ayolah mas, bawa aku pergi dari sini, tolong mas, aku tidak ingin berpisah darimu dan menikah dengan Broto!" Gendhis langsung merengek dan memeluk pinggang Panji.


" Gendhis... Bukannya aku tidak mencintaimu lagi, tapi sampai kapan hubungan kita akan bertahan? Aku masih punya orang tua dan aku sangat menghormati dan menyayangi mereka, jangan hanya karena kita mempertahankan hubungan kita dan harus menyakiti banyak orang disekitar kita." Panji langsung mengusap lembut lengan wanita yang pernah menjadi tahta di hatinya itu.


" Tapi mas, hiks.. hiks.."


Tangisan Gendhis kembali pecah, apalagi saat mengingat ucapannya kepada Broto tadi, betapa dia sangat memperdulikan dirinya, dan berharap mau membawanya kabur dari pernikahan paksanya, namun ternyata harapannya pupus sudah, saat secara tidak langsung Panji menolaknya, walau tidak dengan kata-kata kasar.


" Gendhis... Dulu aku sering berdoa kepada Tuhan, meminta pasangan yang baik, sabar juga pengertian dan kamu pun hadir." Panji mencoba menenangkan, walau sudah dalam keadaan yang berantakan seperti ini.


" Mas..."


" Dan aku juga minta sama Tuhan, tolong mudahkanlah jalan nya, biar kita bisa bersatu, tetapi Takdir berkata lain, ternyata jalan nya begitu sulit dan rumit." Ucap Panji kembali.


" Maafkan aku mas.. Maaf." Hanya kata itu yang bisa Gendhis ucapkan, walau sudah berulang kali dia mengatakannya.


" Aku tidak tahu, kedepannya akan seperti apa, sejak awal kita bertemu aku selalu berharap dan berdoa, agar aku dan kamu akan terus menjadi Kita, walaupun pada akhirnya Takdir berkata lain."


" Aku pun begitu mas." Gendhis tidak perduli dengan riasan wajahnya, mau luntur atau jadi seperti apapun dia tidak perduli, karena pernikahan ini bukan yang dia inginkan.


" Tapi ya sudahlah... setidaknya aku pernah mencintaimu, walaupun aku tidak bisa memilikimu, tetapi aku akan selalu bersyukur, karena pernah terikat hari-hari yang indah bersama dirimu."


" Mas.. sampai kapanpun aku akan terus menyayangimu mas."


" Huft... Terima kasih untuk semuanya, maaf mas tidak bisa memperjuangkan kamu sampai akhir, karena mas tidak ingin menjerumuskan kamu ke dalam api Neraka, mas ingin kamu menjadi orang yang baik, berbakti dan tidak membangkang dengan perintah orang tua, karena itulah cara mas menyayangi kamu Gendhis."


" Mas... Maafkan aku."


" Sudahlah, acara Akad sudah mau dimulai, kita keluar sekarang, mereka pasti sudah menunggu kita." Tersenyum walau hatinya sedang terluka, itu akan menjadi kebiasaan Panji mulai saat ini.


" Mas... Jika memang kita harus begini, izinkan aku mencivmmu untuk yang terakhir kalinya."


" Tapi Ndis?"


C U P


Gendhis langsung saja berjinjit dan menyambar bibiir itu dengan syahdunya, bahkan dia sengaja menangkupkan kedua tangannya di pipi Panji, agar dia tidak bisa menghindar.


Huft... Sebenarnya ini yang aku takutkan jika menikah dengan pak Panji, aku akan terus berada dalam situasi begini, bagaimana aku bisa hidup bahagia, sedangkan calon suami dan kakakku masih saling mencintai, bahkan akan bertemu setiap hari? Pernikahan ini hanya akan menjadi beban untuk kami bertiga, tapi aku harus bagaimana ya Tuhan? Aku bisa apa?


Ternyata Ratu sudah ada dibalik pintu ruangan itu, dia sempat menyaksikan mereka berdua bercivman didalam, dia melihat kakak dan calon suaminya saling menyalurkan rasa cinta mereka masing-masing, walau sudah terlarang.


Ada sesuatu yang memang tidak bisa dipaksakan, dimana hati harus bisa mengikhlaskan dan percaya semua ini terjadi memang karena Ketetapan Tuhan.

__ADS_1


Terkadang Tuhan memang memberikan sakit terlebih dahulu, agar kelak kamu bahagia untuk kedepannya.


__ADS_2