Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
68. Buah Kesabaran


__ADS_3

...Happy Reading...


Inilah kelemahan diri dari seorang Broto, saat dia sudah melihat kedua mata Gendhis mengeluarkan air matanya, pertahanannya langsung lemah, walau dia tak banyak mengeluarkan suara atau komentar apapun dia memilih langsung menggendong tubuh istrinya agar kembali ke dalam ruangannya.


" Broto? Maafkan aku, emm.. aku tidak bermaksud untuk menghilangkan janin kita, semua terjadi begitu saja."


Gendhis mencoba untuk membujuk suaminya saat dia berada didalam gendongannya, namun Broto sama sekali tidak bersuara, dia seolah tidak berminat untuk menjawabnya.


" Broto, kenapa kamu diam saja, aku jatuh terpeleset karena mengejarmu, kenapa kamu pergi diam-diam tanpa memberitahuku? Dan apa maksud kamu memberikan blackcard itu kepadaku, kamu pikir aku orang yang seperti apa Broto?" Umpat Gendhis yang merasa tidak terima.


Broto tetap memilih diam saja, bibirnya seolah terkunci rapat walau Gendhis sudah menjelaskan alasan kenapa dia bisa keguguran saat itu.


" Broto, ngomong dong? Jangan diam begini?"


Setelah Broto membaringkan tubuh istrinya dia langsung membenahi selang infus dan memasangkan nya kembali di lengan istrinya, walaupun masih tanpa suara.


Apa yang harus aku lakukan sekarang, kenapa dia tetap diam saja?


" Broto, apa kami tidak bisa memaafkanku?"


Setelah aliran air infus itu dia pastikan berjalan lancar seperti semula, Broto kemudian menyelimuti tubuh istrinya.


" Broto jangan pergi!"


Teriak Gendhis saat Broto ingin segera berlalu dari sana.


" Broto please, jangan tinggalkan aku!"


Gendhis kembali terduduk dan menarik lengan Broto yang sudah memunggungi dirinya.


" Broto! Akhirnya kamu datang juga, kemana saja kamu?"


Tiba-tiba ibu Gendhis muncul dari balik pintu dan langsung menyapa Broto, dia tidak tahu ada kejadian tragis sesaat sebelum dia datang tadi.


" Buk... Tolong jaga Gendhis, dia harus banyak istirahat, maaf saya harus pergi!" Ucap Broto dengan tampang dinginnya.


" JANGAN! JANGAN TINGGALKAN AKU BROTO, TOLONG JANGAN PERGI!"


Gendhis bahkan langsung menjerit dengan histeris kembali saat Broto berpamitan dengan ibunya.


" Broto? Ada apa ini?" Ibu Gendhis langsung merasa bingung sendiri.


" Aku sudah mentalak satu Gendhis buk, jadi mulai sekarang aku serahkan Gendhis kepada ibu!" Broto sama sekali tidak mau memandang wajah Gendhis saat ini.


" Aaaaaaaa... Aku nggak mau Broto, aku nggak mau berpisah darimu!" Teriak Gendhis kembali.


" BROTO SUSENO! Kamu tidak sedang bercanda dengan ibuk kan? Seorang pria tidak boleh main-main dengan kata talak, mengerti kamu!" Ibu Gendhis pun langsung ikut terbawa emosi.


" Semua sudah terjadi buk, aku terlanjur mengucapkan kata talak untuk dirinya." Tutur Broto selanjutnya.


" Tapi Gendhis tidak ingin berpisah darimu nak, coba pikirkan kembali hubungan kalian, kalau talak satu kalian masih bisa rujuk kembali kan?" Ibunya pun tidak tega melihat putrinya seperti itu.


" Aku tidak akan pernah rujuk dengan dia, kalau dia tidak bisa merubah sikapnya denganku."


Degh!


Gendhis langsung terdiam ditempat, apalagi saat lirikan mata Broto terarah kembali dengannya, setelah sedari tadi dia memilih diam membisu dengan dirinya.


" Maksudnya gimana nak, silahkan diperjelas, biar Gendhis bisa mendengarnya secara langsung."


" Kalau putri ibu masih memperlakukan aku sama seperti kemarin, dan tidak pernah menggangap aku sebagai suaminya, aku lebih baik berpisah saja darinya."


" Broto, jangan pergi!" Ucap Genshia dengan perlahan.


" Tolong bilang sama putri ibu, aku tidak akan pergi, asalkan dia tahu bagaimana caranya melayani seorang suami yang baik itu seperti apa!"


Walaupun suaranya sudah pasti bisa di dengar dengan jelas oleh Gendhis sendiri, Broto sengaja mengatakan hal itu kepada ibu mertuanya, agar Gendhis bisa mengkoreksi diri sendiri, tidak selalu melimpahkan semua kesalahan kepada orang lain.

__ADS_1


" Hmm... Ibu mengerti." Ibu Gendhis memilih menggangukkan kepalanya saja, dia pun paham posisi Broto saat ini pasti serba salah.


" Dan satu hal lagi bu, aku tidak pernah mau menerima hal apapun soal mantan kekasihnya dihidupnya, selagi dia masih memikirkan mantan kekasihnya, jangan pernah berharap aku akan ada dan kembali lagi untuknya."


" Trus kamu mau kemana sekarang, istrimu masih sakit Broto?" Ibu Gendhis menahan lengan anak menantu pertamanya saat dia ingin beranjak pergi lagi.


" Rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan selama ini buk, bahkan sampai aku harus kehilangan calon bayi yang belum sempat aku lihat, padahal aku sudah memohon dengannya untuk menjaganya, jadi untuk saat ini biarkan dia mengambil hikmahnya dari semua kejadian yang menimpanya"


" Broto, yang namanya hidup mati dan juga takdir seseorang itu sudah digariskan, jadi kamu tidak bisa menyalahkan Gendhis seorang, dia pergi malam itu karena ingin mencari kamu, apa kamu tidak tahu?" Ibu Gendhis sedikit melakukan pembelaan kepada putrinya.


" Aku sudah meninggalkan surat untuknya, dia hanya perlu menjaga janinnya, bukan malah menghilangkannya." Ucap Broto yang masih belum bisa terima alasan apapun tentang hal itu.


" Tapi Broto?"


" Biarkan dia pergi buk!" Tiba-tiba Gendhis kembali bersuara setelah dia terdiam sesaat.


" Tapi Gendhis?"


" Biarkan dia pergi, jika dia mau buk!" Ucap Gendhis kembali.


" Okey fine, aku pergi!"


Tanpa ragu lagi, Broto langsung melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan Gendhis, bahkan tidak berniat untuk membalikkan tubuhnya untuk sekedar menatap raut wajah istrinya, dia memilih melenggang keluar begitu saja setelahnya.


" Gendhis, katanya kamu tidak ingin dia pergi?" Setelah kepergian Broto, ibu Gendhis langsung mendekati putrinya.


" Aku yakin, Broto tidak akan pergi dariku buk, dia hanya ingin aku berbalik mengejarnya saja."


" Maksud kamu?"


" Dia masih meragukanku, jadi biarkan aku yang akan membuktikan kepadanya kalau aku memang sudah menginginkan dirinya saat ini."


" Kamu sudah memutuskannya? Apa kamu tidak menyesal?" Ibu Gendhis hanya ingin memastikan saja bahwa putrinya tidak salah untuk yang kedua kalinya.


" Aku memang menyesal buk, tapi sesalku karena aku tidak membuka ruang untuk dia agar masuk kedalam hatiku saja, jauh didalam hatinya aku yakin dia ingin bersamaku juga."


" Hmm... Gendhis mengerti buk."


" Tapi kamu beneran sudah di talak satu tadi nak?" Tanya ibunya kembali.


" Iya buk, tapi aku yakin, kalau Broto hanya marah saja denganku, dia pasti hanya merasa kalau aku sengaja menggugurkan calon bayi kami."


" Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"


" Saat aku membaca surat darinya, hatiku seolah tidak rela buk, disaat itulah aku sadar, bahwa Broto sebenarnya tulus denganku, aku saja yang tidak memperhatikannya dan menggangap dia ada dan mungkin kata-kataku dan perlakuanku masih sering menyakiti hatinya sebagai seorang suami."


" Kelak kamu akan mengerti, bahwa menahan untuk menjaga orang lain agar tidak tersinggung karena lisanmu, itu jauh lebih mulia daripada mengutarakan isi hatimu." Satu wejangan langsung keluar dari mulut ibunda tercinta.


" Aku mengerti buk, tapi beneran kan buk, kalau baru talak satu bisa rujuk kembali?" Tanya Gendhis yang memang tidak begitu paham.


" Iya, menurut sepengetahuan ibuk, Suami yang sudah menjatuhkan talak satu pada istri boleh rujuk kembali asalkan masih dalam masa iddah." Jelas ibu Gendhis seketika.


" Caranya bagaimana buk?" Gendhis langsung penasaran.


" Cara rujuknya dengan ucapan kinayah, seperti “aku rujuk engkau”, “aku terima kembali engkau”, atau kalimat serupa yang menunjukkan keinginan suami untuk rujuk kembali disertai dua orang saksi tanpa tebusan."


" Berarti nggak harus nikah lagi kan buk?"


" Selama Broto mau rujuk saat kamu masih dalam masa iddah, kalian tidak harus menikah, namun kalau sudah lebih dari itu, mau tidak mau kalian harus melangsungkan akad nikah kembali."


" Berapa lama buk?"


" Setahu ibu sih tiga bulan, nanti kamu bisa tanya-tanya lagi kepada yang lebih paham."


" Baiklah buk."


" Jadi, kalau bisa secepatnya kamu kejar Broto kembali."

__ADS_1


" Tenang saja buk, akan aku pastikan tidak lebih dari tiga puluh hari aku sudah bisa mendapatkan Broto kembali."


" Jangan lupa hatinya, bukan hanya orangnya."


" Ya iyalah buk, masak hatinya ditinggal begitu saja?"


" Hehe... Ibu senang kalau kalian bisa akur nak, walau awalnya kalian menikah karena sebuah kesalahan, tapi apa salahnya kalian perbaiki, saling mengisi dan saling mencintai hingga kalian bawa rumah tangga kalian ke Surga nanti."


" Iya buk."


" Alloh memang tidak mengharamkan sebuah perceraian, tapi Beliau sangat membencinya, jika hubungan kalian memang masih bisa diperbaiki tanpa harus saling menyakiti, apa salahnya dicoba kan? Manusia itu tidak ada yang sempurna nak, pasti semua punya kesalahan, tapi jangan hanya melihat seseorang dari sisi buruknya saja."


" Aku tahu Buk." Gendhis pun sadar akan hal itu.


" Jangan pernah tertipu oleh terangnya bulan, karena dibalik itu semua pasti ada sisi gelapnya dan jangan menghina malam, karena dibalik itu masih ada setitik cahaya terang, bahkan bintang tidak akan terlihat cantik kalau tidak datang saat malam tiba kan?"


" Hmm.."


" Mata boleh melihat dengan jelas, tapi hati mampu menilai dengan jujur, mengerti nak?" Ibu Gendhis mengusap lembut kepala putrinya.


" Terima kasih buk, ibuk selalu tahu apa yang Gendhis rasakan."


" Ya iyalah... Orang kamu itu ibu kandung, sembilan bulan diperut ibuk kok!"


" Hiks.. Hiks.. Kenapa anakku harus pergi secepat itu buk, aku tidak benar-benar membencinya buk, aku hanya kesal dengan ayahnya saja saat itu."


" Sudahlah Ndis, mungkin memang itu belum rezeki kalian, besok kalau sudah rujuk kan bisa buat lagi, ya kan?"


" Dih... Ibuk ngomongnya."


" Hehe... Mungkin saat itu kamu belum merasakan dalam keadaan sadar, kalau sudah juga pasti kamu akan nempel terus, lihat noh adek kamu, dia....?" Ibu Gendhis langsung saja menggodanya agar situasi tidak terlalu tegang.


" Apa mereka sudah melakukannya buk?"


Sudah berkali-kali katanya!


" Emm... Entahlah, ibuk tak tahu, tapi ibu rasa mereka sudah melakukannya."


" Owh."


" Gendhis, jalan hidup kita itu sudah digariskan, tidak perlu membantah kuasa Tuhan, jika memang Panji jodoh Ratu, sekeras apapun kamu mencoba kembali dengan Panji, tetap saja tidak akan berhasil nak, selalu saja ada halangan yang melintang, jadi ibu mohon, bisakah kalian saling mengikhlaskan?"


" Iya buk, Gendhis ingin memulai kehidupan baru Gendhis dengan Broto, entah mengapa saat dia menulis surat itu aku benar-benar takut akan kehilangan dia?"


" Ibu dukung kamu nak, karena ibu perhatikan Broto juga selalu perhatian dan siaga denganmu kan?"


" Hu um, hanya saja wajahnya itu sering terlihat menyebalkan buk!"


" Tapi dia tampan juga kan? Nggak kalah juga sama si Panji, mereka ganteng dengan versi mereka masing-masing?"


" Dih... Ibu ini sudah tua masih aja mau yang ganteng-ganteng deh, aku laporin sama ayah nanti, baru tahu ibuk!"


" Haha... Mau seribu laki-laki tampan datang menggoda ibuk, ayahmu tetap nomor satu!"


" Ibu lebay deh, hehe..."


Akhirnya mereka berdua saling berpelukan,mengubah tangis menjadi sebuah tawa.Gendhis pun bisa sedikit bernafas lega, walau dia harus berganti berjuang untuk menakhlukan hati suaminya kembali.


Yes... akhirnya, aku bisa mendapatkan hatinya, tapi maaf, semua tidak akan semudah yang kamu bayangkan sayangku, agar kamu tahu rasanya berjuang dan tidak pernah punya niatan untuk kabur dari suamimu ini lagi, hehe...


Broto akhirnya bisa tersenyum dengan tenang kali ini, sedari tadi dia sengaja ingin menguping pembicaraan istri dengan ibunya, untuk mendengar kejujuran hati dari diri seorang Gendhis yang tidak pernah dia ketahui.


Jadi tadi Broro sengaja tidak pergi jauh, dia hanya memilih bersembunyi disamping luar pintu ruangan itu, sambil menyadarkan punggungnya di tembok luar, dengan kedua tangannya yang dia masukkan ke dalam saku celana panjang miliknya.


Jangan menyerah saat doa-doamu belum terjawab. Jika kamu mampu bersabar, Allah mampu memberikan lebih dari apa yang kamu minta.


..."Sesungguhnya kemenangan itu beriringan dengan kesabaran. Jalan keluar beriringan dengan kesukaran. Dan sesudah kesulitan pasti akan ada kemudahan." ...

__ADS_1


__ADS_2