
...Happy Reading...
Flashback
Setelah kepergian Panji dari ruangan para dosen, Arga langsung mengikutinya keluar, karena dia pun tidak mau hanya berduaan saja dengan janda genit di ruangan itu, selain kurang nyaman, dia takut pula ada fitnah, walaupun mereka sama-sama dosen disana.
" Hei... Ratu!"
Saat Ratu melintas disana, Arga segera memanggilnya.
" Ehh... ada pak Arga, kenapa pak? kangen ya karena hari ini tidak ada jadwal kelas saya?" Dengan tanpa rasa malu sedikitpun dia selalu saja gencar menggoda dosen favoritnya yang satu ini.
" Ckk... kamu ini! nggak habis-habis godain saya, nggak capek apa!"
Kalau dengan anak didiknya Arga berani mengumpatnya secara langsung, lain halnya dengan bu Sri yang sesama dosen, kalau dia sudah mulai memasang tampang genitnya, Arga memilih kabur duluan daripada terjebak dalam situasi yang tidak mengenakkan.
" Hehe... saya serius loh pak!"
" Kamu ini masih bau ingus juga ngomongin hal yang serius, ada tugas dari bapak besok jangan lupa kamu kerjakan ya!"
" Astaga bapak, ssst... saya kasih tahu ya pak, biar kecil begini juga kalau diajak buat anak saya sudah bisa pak." Bisik Ratu yang berhasil membuat kedua bola mata Arga melotot.
" Ratu! kamu itu masih terlalu kecil untuk membahas soal itu, belajar aja masih nggak bener sudah berani ngomong kayak begituan, mau bapak hukum kamu?" Arga langsung berkacak pinggang setelah mendengarnya.
" Hehe... jangan dong pak, trus kenapa manggil-manggil tadi kalau nggak ada maunya, hayow?" Ratu langsung cengengesan kalau Arga sudah begitu.
" Bapak cuma mau nanya, kakak kamu itu bekerja dirumah sakit mana?" Demi misi mencarikan jodoh sabahatnya, dia bahkan rela berurusan dengan bocah tengil di kampusnya yang sering menguji tingkat emosinya itu.
" Kenapa emangnya pak?"
" Ssst... kamu ingat misi kita kemarin?" Arga terlihat memberikan tanda kepada Ratu untuk mendekat kearahnya.
" Yang mana pak?" Ratupun langsung reflek mendekat.
" Nyomblangin pak Panji sama kakak kamu itu." Bisik Arga sambil melirik kanan kiri, untuk memastikan tidak ada yang melihat mereka.
Ya ampun, kalau orang tampan dan suami orang memang pesonanya beda ya, nafasnya aja sesiang ini masih bau mint, humm... gerrrr pakde!
Dengan gilanya Ratu malah membayangkan sesuatu yang keluar dari topik pembicaraan mereka.
" Ratu? kok malah ngelamun sih?" Tiba-tiba Arga menyadarkan lamunan mahasiswanya yang satu ini.
" Owh ya, inget pak, kenapa? mau sekarang?"
" Sepertinya tanpa campur tangan dari kitapun mereka sudah sama-sama saling tertarik."
" Masak sih pak?"
" Gimana kalau kita pastikan saja?"
" Caranya?"
" Tadi Panji bilang kalau dia mau bertemu kakakmu dirumah sakit, gimana kalau kita cek aja disana?"
" Cuss... berangkat pak!" Ucap Ratu tanpa basa basi, asalkan bisa berdekatan dengan Dosen idolanya, apapun itu dia iyain aja pikirnya.
" Heh.. heh.. tangan kamu itu tolong dikondisikan!"
__ADS_1
Ratu tanpa sadar langsung menarik lengan Arga seperti sahabatnya sendiri.
" Hehe... maaf pak, kesenengan soalnya!"
" Kenapa kamu yang jadi seneng, orang kakakmu yang dapet gebetan kok?"
Seneng bisa berduaan sama bapak dong, biar nggak bisa jadian juga aku rela, asalkan bisa dekat dengan bapak, ahahaha...
" Sebagai adek kan kalau kakaknya seneng, adeknya juga ikutan seneng."
" Bisa aja kamu, tapi bapak nggak bawa mobil, kita naik taksi saja ya?"
Pagi tadi saja dia masih numpang sama Panji, karena mobilnya belum beres.
" Ngapain naik taksi, pake mobil saya saja pak, kali ini biar saya yang jadi sopir pribadi bapak, okey."
" Beneran? kamu nggak papa?"
Jangankan jadi sopir bapak, jadi istri kedua bapak pun aku mahu, haha... ya ampun... apa aku sudah gila karena suami orang?
" Santai aja lagi pak!"
Akhirnya mereka masuk kedalam satu mobil, Ratu terlihat sangat exited, bahkan dia melupakan Melody yang tadi baru dia tinggal diruang perpustakaan kampus.
" Woah... ternyata dirumah sakit ini kakakmu bekerja? ini kan rumah sakit swasta paling besar di kota ini?" Arga menatap kagum megahnya salah satu rumah sakit swasta terbaik itu.
" Kalau bapak mau check kesehatan gratis bisa loh pak."
" Masak? tapi ini kan rumah sakit swasta, emang bisa gratis?"
" Apaan tuh?"
" Bapak bilang saja kalau bapak itu calon suami saya, semua dijamin gratis."
" Uhuk.. uhuk.. Gila kamu ya, dikasih makan apa sih kamu sama orang tuamu? nggak ada loh segan-segannya sama dosen? apalagi yang sudah beristri begini." Arga dibuat terkejut bukan kepalang oleh ocehan Ratu.
" Hehe... saya kan cuma menawarkan pak, mau atau tidaknya itu terserah bapak saja."
" Kenapa bisa gratis?"
" Karena ini rumah sakit keluarga saya pak."
" Hah? pantesan! sebenarnya seberapa kaya sih keluargamu itu Ratu, kampus juga milik keluargamu, rumah sakit juga iya, Mall diujung sebrang sana milik keluarga kalian juga nggak?"
" Kalau bapak mau, bisa aku suruh ayah beliin Mall itu, buat kado pernikahan kita, gimana?"
" RATU!"
" Hehehe... bercanda lagi pak, yaelah... serius amat sedari tadi, kita kan sudah diluar kawasan kampus, rileks sedikit kenapa sih pak? atau mau mampir makan dulu kita pak, biar saya traktir makan apa saja sepuasnya, mau?"
" Nggak! bisa jadi fitnah ini nanti!" Arga kembali menolak keras.
" Haduh... bapak terlalu baik jadi orang deh!"
" Untung bapak ngak matre jadi orang, kelak kamu harus berhati-hati dalam mencari pasangan Ratu, jangan sampai kamu dapat pasangan yang hanya mengincar harta kekayaan keluarga kamu saja!"
" Emang kenapa kalau dapat yang matre? saya nggak masalah kok pak?"
__ADS_1
" Heh? kenapa?"
" Saya kan Kaya, keluarga juga kaya semua, walau jadi pengangguran juga harta keluarga saya tidak akan habis begitu saja kok."
" Woah... luar biasa kamu ya?"
" Keren kan pak?"
" Luar biasa sombongnya!"
" Hehe... jadi bapak berubah pikiran atau tidak? gimana kalau aku saja yang nglamar bapak, soal mas kawin bapak bebas mau minta apa aja deh!"
Pletak!
Karena terlalu gemas, akhirnya Arga menyentil kening Ratu, dia bahkan dibuat tidak bisa berkata-kata oleh celotehan Ratu huru hara yang satu ini.
" Pak Arga, sakit pak!" Ratu mengusap keningnya sambil melihat ramainya jalanan.
" Lebih sakit lagi harga diri bapak, kamu ini kalau ngomong nggak ada filternya, ceplas ceplos sesuka hati nggak jelas."
" Wah... KDRT ini namanya."
" Sttt... diem saja kamu, buruan nanti kita ketinggalan momentnya."
Arga memilih tidak mengobrol saja dengan mahasiswinya yang satu ini, karena ada saja perkataannya yang membuat dirinya sakit kepala.
Benar saja, saat mereka berdua sampai dirumah sakit, saat itu juga sosok Panji dan Gendhis berjalan berdua menuju Kafe yang ada disebrang rumah sakit itu.
" Woah... sepertinya sebentar lagi akan ada pajak jadian ini kan?"
" Ssst... jangan keras-keras pak, nanti ketahuan sama mereka!"
" Coba tebak, mereka jadian enggak setelah ini?"
" Enggaklah!"
" Masak enggak?"
" Pasti pak Panji jual mahal dulu, biar terlihat keren gitu!"
Asal kamu tahu aja Ratu, dia aja tiap hari diceramahin Eyangnya biar cepet pulang kerumah bawa calon istri.
" Sok tahu kamu!"
" Pasti dalam drama ini, kakak saya yang bakalan ngejar pak Panji habis-habisan."
" Lah... kamu ini anak kecil tahu apa!"
" Dih... jangan remehkan saya hanya karena umur saya tidak sebanding dengan bapak, karena kedewasaan seseorang itu tidak diukur dari umur tau pak."
Skak!
Mau menyangkalnya namun kenyataannya memang sering benar adanya, mau bilang iya gengsi juga karena dia Dosennya, jadi Arga memilih diam dengan tatapan kesal, selalu saja Arga kalah telak jika harus berdebat dengan anak didiknya yang satu ini.
Flashback off
..."Tidak perlu memadamkan cahaya orang lain untuk membuatmu terlihat bercahaya, karena pribadi yang baik, akan selalu bercahaya dimanapun ia berada."...
__ADS_1