Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
23. Pacar Sehari


__ADS_3

...Happy Reading...


Walau dengan berat hati Ratu tetap mengikuti langkah dosen yang sekaligus merangkap menjadi calon kakak iparnya, untuk menyusuri lantai demi lantai menuju toko perhiasan terbesar disalah satu Mall di Kota itu, hanya demi tidak mendapatkan hukuman berupa tumpukan tugas dari para dosen Ratu rela melakukannya.


" Ini gimana ceritanya, dia yang mau lamaran kenapa aku yang harus capek-capek dibawa ke tempat ini."


" Niat hati bolos kuliah mau tidur karena tadi malam nonton drama negri Gingseng, jadi gagal total deh."


" Kenapa sih, aku selalu apes kalau bertemu dengan dosen yang satu ini!"


" Jangan sampai deh aku ketemu dia tiap hari, apalagi berjodoh dengan modelan kayak begini, hidih... amit-amit deh!"


Ratu hanya bisa komat-kamit sendiri seperti mbah dukun dan melotot sambil mengepalkan kedua telapak tangannya dari belakang tubuh Panji, seolah gemas dan dongkol ingin meninju kepala sang dosen, yang menurutnya paling killer di kampusnya itu.


" Ratu, bisa cepat sedikit nggak jalannya, lelet banget kamu ini, kebiasaan jadi orang!"


" Salah lagi.. salah lagi, kenapa sih saya selalu salah dimata bapak!"


" Heh?"


" Sudahlah, aku tunggu disini saja, bapak beli sendiri sono!" Ratu langsung ngambek.


" Ratu, kakak kamu tadi bilang apa? mau kamu aku aduin ke Gendhis, kalau kamu ingkar janji?"


" Aduin aja sono, orang dia sibuk terus!"


" Aku telponin ini ya?" Ancam Panji walau tidak mempan.


" Cobalah telpon, kak Gendhis itu nggak pernah bawa ponselnya ke ruang tindakan, paling juga yang jawab operator, maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk, silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi kentuut!"


" Ckk... Ratu, ayolah itu toko perhiasannya sudah ada diujung sana."


" Males!"


" Fuuhh... okey, kamu mau bapak beliin apa?"


" Bapak kira aku miskin, nggak mampu beli apapun yang aku mau gitu, hellow... aku punya kartu unlimited pak, bisa belanja dan jajan sepuasnya!"


" Haish... trus kamu maunya apa!" Panji hanya bisa mengalah, karena hanya hari ini kesempatan dia untuk membeli cincin lamaran."


Apa gue kerjain aja nih dosen ya kan? siapa suruh dia ngeribetin aku terus dari tadi, hehe..


" Okey aku temenin beli, tapi ada satu syarat!"


" Apalagi Ratu?"


" Kita nonton bioskop dan makan dulu, gimana?"


" Ratu, bapak sudah bukan anak ABG yang gemar nonton bioskop, yang lainnya aja deh, mau apa gitu, tinggal pilih saja kamu!"


" Kalau tidak mau ya sudah, saya balik duluan saja, bye."


" RATU!"


" Mau apa tidak nih?"


" Ya sudah, tapi kita beli dulu cincinnya ya?"


" Nggak mau, nanti bapak bohong lagi!"


" Ya enggaklah, emang kamu pembohong kelas kakap, kita beli yang penting dulu, jadi setelahnya kita bisa santai."


" Janji tapi ya? kalau bohong aku sumpahin bapak gagal nikah!"


" Ratu, kalau ngomong itu dijaga, jangan sembarangan kamu!" Panji seolah trauma dengan kata Gagal.


" Hehe... kalau begitu, cuss... kita beli cincinnya sekarang juga." Ratu hanya bisa cengengesan sambil berlari menuju toko perhiasan itu."


" Selamat sore mbak dan mas, selamat datang di toko kami, ada yang bisa kami bantu?"


" Cincin buat lamaran mbak." Ucap Ratu dnegan semangat.


" Baik mbaknya, mau model full emas atau yang pakai berlian diatasnya?"


" Emm... yang..." Panji masih melihat mana yang lebih berkesan.


" Yang emas saja mbak, nggak usah yang mahal-mahal banget." Ratu langsung saja memotong ucapan Panji.


" Ratu?"


" Baik mbak, silahkan dipilih yang mana yang cocok."


" Ratu, jangan asal pilih!" Lirik Panji dengan kesal.


" Aku nggak asal pilih pak, sebaik-baiknya calon istri itu, dia yang tidak memberatkan pihak calon suami, jadi apalah arti dari sebuah cincin, apalagi baru lamaran, ini kan hanya tanda pengikat saja, yang paling penting kan masalah hati, saling menerima dan saling menyayangi, it's enough, right?" Kalau sudah begini Panji tidak bisa menjawabnya.


" Woah... mbaknya bijak sekali, beruntung banget mas nya, dapet calon istri cantik, baik dan pengertian lagi seperti mbaknya." Puji pelayan toko itu.


" Bukan dia calon saya mbak, tapi kakaknya!" Jawab Panji dengan tegas.


" Owh... maaf pak, maafkan saya, kirain tadi mbaknya." Pelayan toko perhiasan itu langsung menundukkan kepalanya karena merasa bersalah, apalagi saat melihat wajah Panji yang memang terlihat judes.


" Ckk... sudahlah, nggak papa mba, calon kakak ipar saya ini memang sedikit B U A S.." Bisik Ratu disamping telinga pelayan itu.


" RATU, cepat kamu pilih, jangan lihat harganya, yang penting kakakmu suka aja!"


" Udah nyuruh pake tampang galak lagi, minta tolong kek, apa kek? dasar killer, aku pilihin yang paling mahal baru tahu rasa!"


" Pffthh." Bahkan karyawan lain di toko itu menahan senyuman saat mendengar umpatan Ratu.


" Cincin emas saja mbak, yang besar dan murni, pokoknya yang muat dijari manis saya." Ratu langsung menyodorkan tangan kirinya, agar pelayan toko itu mencarikan ukuran dan model yang bagus."


" Yang bagus ya mbak, kalau perlu yang tidak ada duanya, karena saya tidak mau diduain!" Celoteh Panji tanpa sadar.


" Cih... dasar dosen bucin!"


" Ngomong apa kamu Ratu!"


" Enggak... mana ada, itu cincinnya bagus buanget loh pak, yang itu saja gimana?"


" Apa itu bagus menurutmu?"


" Bagus, bentuknya unik dan juga elegan."

__ADS_1


" Kamu suka?"


" Emang kalau suka bapak mau beliin juga buat aku?"


" Ya enggaklah, suruh saja kekasihmu yang beliin, kenapa harus saya!"


" Dasar Pelit!" Umpat Ratu sambil melotot ke arah Panji, namun hanya dia jawab dengan senyuman tipis dari bibiirnya.


" Bungkus saja yang itu mbak!"


" Baik pak, ini barangnya, terima kasih sudah berbelanja di toko kami."


Akhirnya mereka berdua keluar dari toko itu, meninggalkan para karyawan yang langsung bergosip ria membahas tentang mereka berdua.


" Kita makan dulu yuk pak?"


" Makan juga?"


" Aku lapar pak, setelah kenyang baru kita nonton bioskop, ada film terbaru minggu ini, dari kemarin belum sempet nonton."


" Kamu sudah punya pacar apa belom?"


" Kenapa bapak jadi kepo begini?"


" Kalau punya suruh dia datang kemari, biar aku belikan makan sekaligus tiket VIP buat nonton bioskop!"


" Kenapa nggak bapak saja, tadi sudah janji nemenin aku kan, bohong dosa loh pak, bapak sendiri yang ngajarin begitu!"


" Kalau begini jatuhnya, kita kayak orang sedang pacaran, jalan berdua, makan berdua, apalagi nonton berdua, males banget tau nggak!"


" Yaelah pak, tadi kan sudah janji, anggap saja bapak itu pacar sehari buat saya, nanti aku yang bayar semuanya deh, jangan takut rugi bapak!"


" Dih... baru denger aja udah males banget, apalagi sampai beneran!"


" Ya udah sih, buruan kita makan dulu!"


Saat sampai didepan restoran cepat saji, Ratu melihat seorang bocah yang duduk didepan restoran itu sendirian.


" Adek, kamu sendirian aja disini? atau kamu kehilangan teman kamu atau orang tua kamu? mari kakak bantu?"


" Tidak kak, aku sama teman-teman aku kok."


" Mana dia?"


" Itu ada didalam." Bocah itu menunjukkan segerombolan anak pakai baju seragam SMP sedang makan ramai-ramai didalam sana.


" Trus kenapa kamu nggak ikut makan didalam?"


" Aku belum lapar kak."


" Ya nggak papa dong, kan lebih baik makan sebelum lapar dan behenti sebelum kenyang bukan?"


" Iya, tapi nggak papa kak, saya menunggu mereka disini saja."


Bocah itu kembali tertunduk, padahal Ratu tadi sempat melirik saat bocah itu menoleh kearah teman-temannya dia menelan ludah beberapa kali, apalagi dari tempat itu juga tercium bau masakan ayam yang mereka sajikan.


Kasihan sekali bocah ini, pasti sebenarnya dia juga lapar, hanya saja dia tidak mau meminta-minta dengan kawan-kawannya, mungkin dia tidak punya uang yang cukup untuk membelinya.


" Tunggu sebentar ya dek."


" Pak minta duitnya, aku nggak bawa uang cash."


" Berapa?"


" Emang bapak punya berapa?"


" Ada sih kalau cuma em... coba aku lihat dulu." Panji langsung mengeluarkan dompet miliknya.


" Kelamaan pak, semuanya saja deh!" Ratu langsung saja mengambil dompet milik Panji.


" Astaga Ratu!"


Dan Panji hanya bisa berkacak pinggang sambil mengawasi Ratu dari arah belakang.


" Nih dek, buat kamu."


" Apa ini kak?"


" Ambil saja, ini rezeki buat kamu."


" Nggak mau kak, kata ibuku nggak boleh minta-minta sama orang kak."


" Kamu kan nggak minta, ini kakak kasih kok."


" Nggak usah kak, nggak mau!"


" Emm... kakak ulang tahun hari ini, jadi bagi-bagi rezeki, ambil saja dek buat beli jajan nanti."


" Tapi kak?"


" Sudah, nggak papa, ambil saja semua." Ratu langsung meletakkan uang itu di saku baju anak itu.


" Terima kasih banyak kak."


Kasihan anak itu, ternyata tidak semua orang seberuntung diriku yang bisa beli ini itu sesuka hati.


Ratu sempat tertegun dengan bocah kecil itu, dia tahu kalau sebenarnya bocah itu ingin juga makan seperti teman-temannya.


" Eherm... kamu lahir tanggal berapa Ratu?"


" Dua puluh Juli, emang kenapa pak?"


" Cih....jadi kamu hanya bohong tadi?"


" Bohong sedikit untuk kebaikan nggak papa kan pak, kasihan pak, lihatlah dia akhirnya bisa tertawa dan gabung dengan teman-temannya, masak harga makanan cuma beberapa puluh ribu aja nggak ada yang mau belanjain dia, tega banget temen-temennya itu."


" Iya sih, tapi bapak jadi nggak punya uang cash buat beliin kamu makan."


" Emm... kalau begitu kita cari tempat ATM dulu, kali ini biar aku yang traktir bapak, okey!"


" Cih... aku masih mampu ngasih makan kamu sampai perut kamu kenyang, bahkan meledak sekalipun!"


" Cie... yang baru belajar menafkahi seorang wanita!"

__ADS_1


" Diam kamu!"


Namun didalam hati dia pun ikut senang, dia juga tidak menyangka jika ada sosok lain dari seorang Ratu, walau dia terkesan ceroboh dan urakan, namun sebenarnya Ratu mempunyai hati yang sangat lembut.


" Ehh... ada acara apa itu pak?"


Tiba-tiba Ratu langsung penasaran saat melihat kerumunan orang-orang yang ada di depan sana.


" Apaan sih Ratu, jangan buang-buang waktu disini, nanti kita pulangnya bisa kemaleman!"


" Kalau begitu kita nggak usah nonton!"


" Bagus lah itu, bapak memang kurang suka nonton di Bioskop!"


" Tapi aku mau ikut acara ini!"


" Acara apaan?"


" Itu ada lomba gendong pasangan dengan satu kaki, hadiahnya lumayan loh pak!"


" Hei Ratu, tapi kita kan bukan pasangan!"


" Heleh... anggap saja kita pasangan satu hari, hadiahnya sepasang jam tangan keren loh itu, seru banget deh kayaknya!"


" Ya elah, katanya orang kaya, pengen jam kok harus ikut lomba kayak begituan, kayak kurang kerjaan aja kamu!"


" Pak, seru lagi kalau kita bisa menangin hadiah karena lomba, atau jangan-jangan kaki bapak lemah ya, nggak kuat gendong aku!"


" Sembarangan kamu, bukan lemah tapi aku hanya malas saja ikut lomba kayak begituan, lagian disana tertulis jelas, HANYA UNTUK PASANGAN!"


" Heleh... bilang aja bapak nggak punya tenaga, kalah tuh sama orang yang badannya lebih kurus dari bapak, huu... lemah.. lemah!"


" Dih... nantangin bapak kamu ya!"


Yes... berhasil, horay!


" Cus... kita ikut gabung!"


Ratu langsung bersemangat saat melihat keseruan acara itu.


" Okey baiklah, kali ini ada promo dari toko kami, pasangan mana yang bisa bertahan paling lama menggendong kekasihnya hanya dengan satu kaki, akan mendapatkan hadiah sepasang jam tangan cantik!" Ucap Sang pembawa acara itu.


" Yuhuuuu...!"


Teriak orang-orang yang ada disana semuanya.


" Dan satu lagi, jam tangan couple ini tidak akan kalian temukan di toko manapun, karena jam tangan ini khusus kami buat hanya untuk promosi pembukaan dari toko kami, jadi beruntunglah pasangan yang mendapatkannya nanti, karena tidak akan ada yang menyamai bentuk maupun modelnya."


" Wah.. keren nih, udah kayak jam tangan limited edition kayak punya artis-artis ya kan?" Terdengar pujian dari peserta pasangan lain yang ikut serta dan membuat mereka semakin semangat untuk memenangkan perlombaan ini.


" Kalau begitu kita mulai saja ya, tiga.. dua.. satu.. mulai!"


" Semangat ya pak, tunjukkan kelaki-lakian bapak, jangan kalah sama pasangan-pasangan yang lainnya, malu tahu badan gede tapi tenaga lemah!"


" Diam kamu Ratu, semakin banyak bicara semakin berat kamu!"


" Hehe... bapak bisa aja, bertahan pak, bapak pasti bisa!" Bahkan Ratu semakin mempererat pelukan tangannya di leher Panji, dia terlihat senang sekali bisa mengikuti acara seperti ini.


Dengan wajah yang sudah memerah dan tubuh yang sudah condong kesana kemari, Panji mencoba bertahan, bahkan sampai tinggal ada dua pasangan yang bertahan disana.


" Semangat pak, pasti kak Gendhis bangga punya calon suami kuat kayak bapak, okey!"


" Ratu, udahan saja ya, nanti bapak belikan kamu jam tangan seperti ini, nggak harus menang lomba, okey!"


" Ckk... nggak mau, aku maunya hadiah dari lomba, kalau cuma beli aku pun bisa, ayolah pak, seumur-umur aku belum pernah juara, jadi pengen banget bisa merasakan dapat hadiah dari juara pertama."


" Tapi kalau begini ceritanya, bapak yang berjuang, kalau kamu mau juara, belajar yang bener, juara dalam Akademi itu lebih membanggakan daripada lomba seperti ini, kalau begini sama aja bohong!"


" Tapi kan aku ikut nemplok dipunggung bapak, pegel juga tahu dari tadi."


" Dasar kamu!"


Brugh!"


" Yeaaaaay... kita menang pak!"


Ratu langsung berteriak dan melompat dari gendongan Panji, karena lawan mereka satu-satunya akhinya tumbang juga.


" Wow... selamat, akhirnya kalian berdua yang berhasil memenangkan sepasang jam tangan cantik dari toko kami, kalian berdua memang pasangan yang serasi dan kompak ya."


" Terima kasih, hehe.." Jawab Ratu dengan heboh, sedangkan Panji terduduk di lantai sambil memijit kakinya yang pegal.


" Civm.. civm.. civm!"


Tiba-tiba mereka bersorak bersamaan saat Panji dan Gendhis berdiri diatas mimbar kemenangan yang telah disiapkan.


" Hah?"


" Ayo.. ayo.. kalian kan pasangan, jangan ragu-ragu untuk menunjukkan kasih sayang diantara kalian berdua."


Pembawa acara itu lah yang sebenarnya mempelopori adegan itu, agar acaranya semakin terkesan meriah.


" Tapi kami bukan..."


C U P


Panji bahkan hanya bisa melongo, dia terkejut dengan kelakuan Ratu yang langsung mengecvpnya tanpa ragu sebelum perkataannya selesai.


" Huuuuu... kenapa cuma di pipi saja, anak kecil juga bisa, atau hadiahnya nggak jadi diberikan ini, ayo ulang.. ulang.. ulang!"


Pembawa acara itu tidak merasa bersalah sama sekali, karena dia memang sengaja mempersiapkan susunan acara seperti itu, lagian didepan tadi dia sudah menuliskan syarat lomba, dengan tulisan besar bahwa, 'Hanya untuk Pasangan'.


" Maaf ya pak... maafkan aku, aku janji ini rahasia kita berdua, lagian tidak ada yang mengenali kita di Mall ini, kalau bapak tidak tega, biar aku saja yang melakukannya!" Bisik Ratu perlahan.


" Ratu, jangan gila kamu!" Jawab Panji dengan mata yang langsung melotot.


C U P


Dengan bibiir yang bergetar Ratu langsung saja menyambar bibiir sang dosen, sekaligus calon kakak iparnya itu didepan mereka semua, walau hanya sekilas, namun ternyata sangat berbekas.


Suara sorak sorai dan tepuk tangan menggema ditempat itu karena melihat adegan tersebut, namun lain halnya dengan Panji yang seolah syock dengan kegilaan Ratu huru-hara yang satu itu.


Perasaan cinta manusia memiliki fase yang begitu unik. Dimana cinta bisa menjadi sumber kekuatan dan sekaligus kelemahan bagi mereka. 

__ADS_1


Terkadang kamu harus mendengarkan kata hati. Jangan tanyakan siapa yang kamu cintai, tapi tanyakan siapa yang membuatmu bahagia.


Dan jangan lupakan Vote, Like, hadiah dan kata bijak dari kalian untuk Ratu Huru Hara kita😁


__ADS_2