
...Happy Reading...
Rasa canggung karena kejadian di mobil bersama Ratu saja belum ternetralkan sepenuhnya, dan ternyata masih ditambah lagi, saat dia sampai di rumah calon istrinya, tiba-tiba dia melihat seorang pria yang tidak dia kenal sedang berjongkok didepan wajah Gendhis, bahkan tangannya terlihat mengusap wajah dan rambut tunangannya itu.
" HEI, SIAPA KAMU!"
Dengan rasa kekesalan yang semakin menumpuk Panji langsung berkacak pinggang ditengah-tengan pintu, dengan ditemani Ratu yang ada disampingnya.
" Uhuk.. uhukk..!"
Ternyata selain minyak angin, suara Panji pun bisa menyadarkan orang-orang yang sedang pingsan, buktinya Gendhis langsung terbangun karena mendengar suaranya.
" Gendhis, are you okey?"
Tidak ada rasa takut sedikitpun di diri Broto, saat Gendhis terbangun dia kembali mengecek suhu badan Gendhis dengan menempelkan telapak tangannya di kening Gendhis.
" Jangan sentuh calon istriku!" Panji langsung mendekat dan mengibaskan tangan Broto.
" Apa kamu calon suaminya?" Tanya Broto yang langsung tersenyum miring.
" Tentu saja!" Panji langsung menggeser tubuh Broto agar dia menjauh dari Gendhis.
" Mas... kepalaku pusing." Gendhis langsung memeluk leher Panji, agar dia tidak lagi terlihat emosi.
" Cih."
Heleh... nggak tahu aja dia, aku adalah orang pertama yang memiliki tubuh Gendhis sepenuhnya.
Broto langsung melengos dan tersenyum kecut saat melihatnya.
" Ngapain lagi kamu disini, kamu siapa, sedari tadi kamu belum menjawab pertanyaanku!" Panji kembali melirik Broto, entah mengapa perasaannya seolah tidak tenang saat melihatnya.
" Asal kamu tahu saja, aku adalah orang yang..." Ucapannya terpotong saat dia menoleh kearah Gendhis.
" Dia rekan dokterku mas." Gendhis diam-diam menangkupkan kedua tangannya kearah Broto, seolah memohon agar dirinya tidak berbicara jujur tentang apa yang sudah terjadi dengan mereka.
" Benarkah itu?"
" Hmm... Gendhis tadi pingsan di taman, aku tidak sengaja melihatnya, jadi aku membawanya kemari."
Entah mengapa Broto tidak tega saat melihat Gendhis, apalagi dia terlihat memohon kepadanya, padahal tadi niat hatinya ingin berbicara jujur, saat melihat Panji terlihat emosi, bahkan jika Gendhis tadi mengancamnya atau marah dengannya, dia pasti akan mengatakan kalau dialah ayah dari Janin didalam perut Gendhis saat ini.
" Iya mas, tadi aku beli rujak disana, trus tiba-tiba kepalaku pusing lagi."
" Katanya nggak enak badan, ngapain kamu beli rujak segala coba?"
" Aku pengen yang seger-seger mas, tadi panas banget cuacanya."
Gendhis langsung bergelayut manja di lengan Panji, membuat darah di tubuh Broto seolah memanas, dia bahkan enggan melihat kemesraan diantara mereka.
" Cih... sok manja!" Umpat Broto sambil melengos kembali.
Apa dia lupa, kalau diperutnya itu ada hasil karyaku?
Broto kembali kesal karenanya, tanpa sadar dia merasa cemburu, saat Gendhis bermesraan dengan calon suaminya.
__ADS_1
" Katanya tadi sudah dirumah? kamu bohong sama mas?" Tanya Panji mulai mengkorek kebohongan Gendhis.
" Aku... aku... emm... tadi saat mas telpon aku sudah sampai didepan rumah, tapi tiba-tiba pengen rujak, jadi balik lagi ke taman kota, maaf ya mas, maafkan aku."
Saat Gendhis terlihat memelas begitu, Panji sudah pasti langsung tidak tega karenanya, jadi dia tidak akan mempermasalahkan itu lagi, walau sebenarnya dia semakin curiga karenanya.
" Sory!"
Tiba-tiba Broto mengucapkan satu kata yang mampu membuat mereka semua yang ada disana menoleh ke arah Broto.
" Hah?"
Denyut jantung Gendhis seolah langsung berlarian kesana-kemari, takut jika Broto mengakui kejujurannya hari ini.
" Kenapa?" Panji langsung menautkan kedua alisnya dan melirik kearah Broto.
Sory, karena aku telah merebut hakmu sebagai calon suaminya.
" Emm.. sory karena tadi aku memegang keningnya, aku hanya ingin mengecek suhu badannya saja."
Gendhis terlihat memejamkan kedua matanya, dia seolah lega, Broto tidak mengatakannya sekarang.
" Kalau begitu aku permisi pulang dulu." Broto memilih pulang saja, daripada dia semakin kesal melihat mereka berdua lengket terus seperti itu, entah mengapa ada rasa tidak rela didirinya.
" Okey, terima kasih karena menolong calon istriku." Ucap Panji walau seolah tidak rela.
" Hmm... it's okey, titip juga calon..."
" Broto, apa mobilku masih ditaman?" Gendhis langsung menyambar saja ucapan dari Broto saat dia baru mengucap kata calon saja.
" Hmm... kunci mobilnya didalam tasmu, aku sudah menitipkan sama salah satu penjual disana, mobilmu pasti aman."
" Makasih ya Broto."
Senyummu manis sekali.
Broto seolah kembali meleleh saat Gendhis tersenyum dengannya, entah tulus atau tidak itu tidak penting baginya.
" Okeylah kalau begitu, owh ya... daya tahan tubuh Gendhis sedikit sensitif sekarang, dia perlu minum multivitamin setiap hari, dia juga harus banyak istirahat, nggak boleh lelah dan kalau dia nggak doyan makan nasi beri dia susu yang berkalsium."
" Hmm... baiklah." Panji pun mengiyakan saja, karena menurutnya dia kan juga dokter, jadi pasti lebih tahu tentang kesehatan calon istrinya.
" Kalau perlu minum aja susu ibu hamil!"
" HAH?" Semua langsung kompak terkejut.
" Uhuk.. uhuk.. Broto! kamu ini ada-ada saja kalau ngelawak ya." Gendhis langsung pura-pura terbatuk karena tertawa.
Mau sampai kapan kamu membohonginya, sebentar lagi perutmu itu juga pasti membesar, apa lagi yang akan kamu tutupi.
" Maksud aku, susu itu banyak sekali kandungan kalsiumnya, jadi boleh juga diminum orang yang kekurangan kalsium kayak Gendhis, biar dia lebih sehat dan cepat sembuh." Ucap Broto sambil tersenyum melihat kepanikan Gendhis.
" Aku baik-baik saja Broto, jangan kelewatan kamu kalau bercanda, kamu ini lucu sekali, hehe." Gendhis langsung mencairkan suasana tegang disana.
Suatu saat kamu pasti akan tersenyum hanya untukku Gendhis!
__ADS_1
" Ya sudah, malah nggak jadi pulang-pulang nanti aku, nyangkut pula disini jadi ban serep, bye-bye!" Celoteh Broto sambil melenggang dengan memasukkan kedua tangannya disaku kanan kiri, bahkan jalannya sudah seperti model saja dia.
" Eherm... boleh saya antar sampai keluar rumah?"
Ratu langsung berjalan mengikuti Broto dari arah belakang.
" Kamu?" Broto menyipitkan kedua matanya saat melihat Ratu tersenyum dengannya dan terlihat ingin mendekatinya.
" Aku adeknya kak Gendhis, namaku Ratu." Ratu langsung menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
" Kamu manis sekali dek, umur kamu berapa?" Ucap Broto yang langsung mengacak rambut Ratu yang terlihat menggemaskan baginya.
" RATU, SINI KAMU!"
Panji langsung berteriak kearahnya, entah mengapa dia tidak suka Broto menjadi sok kenal dan sok dekat dengan calon adek iparnya itu, karena firasat Panji mengatakan Broto punya maksud lain.
" Sebentar pak Panji, aku mau nganterin dokter Broto dulu keluar." Ratu sedari tadi hanya menyimak perbincangan diantara mereka, namun dia menyimpulkan sesuatu yang lain disana.
" Dia sudah tahu jalannya, kamu nggak lihat kakak kamu lagi sakit? cepat ambilkan minum hangat untuknya, dia lebih membutuhkan kita sekarang!" Panji mencoba mencari alasan, padahal Gendhis pun merasa tidak haus.
" Tapi pak?"
" Sudahlah, it's okey, saya bisa keluar sendiri, lain kali kita ngobrol lagi ya, kalau enggak sering-seringlah main ke rumah sakit." Ucap Broto dengan lembut kearah Ratu.
" Asiap, anda dokter spesialis apa di rumah sakit?"
" Saya dokter umum."
" Emm... boleh minta nomor ponselnya, biar enak nanti nyari dokter disana?"
" RATU, bisa kesini nggak!" Panji kembali berteriak saat ucapannya seolah tidak dihiraukan.
" Yaelah.. brisik banget dah calon kakak ipar gue itu!" Umpat Ratu kesal.
" Syirik pasti dia!" Broto pun kompak mengumpatnya.
" Kok dokter tahu sih?"
" Kelihatan dari muka jeleknya itu." Bisik Broto disamping telinga Ratu.
" Bahahaha." Mereka malah jadi kompak tertawa bersama.
" Okey, kalau begitu saya pulang dulu ya, jangan lupa calling-calling okey?" Broto memang paling bisa bersikap manis dengan segala jenis wanita di muka bumi ini.
Entah mengapa ada yang aneh dengannya, aku merasa dokter Broto itu bukan hanya sekedar rekan, pasti ada sesuatu yang disembunyikan diantara mereka, owh kak Gendhis.. apa kamu mendua? tidak biasanya kamu seperti ini kak? aku harus menyelidikinya.
" Asiap Dokter!" Ratu melambaikan tangannya kearah Broto yang sudah tersenyum melihatnya.
" Lihat kelakuan adekmu itu sayang?" Panji seolah mengadu tentang kelakuan adeknya yang terlihat menggatal.
" Biarkan saja, daripada dia jomblo."
Gendhis seolah tidak perduli, Broto tidak mengatakan semua yang terjadi pada mereka saja dia sudah lega, selain itu dia tidak ambil pusing sekarang, karena kepalanya saja sudah terasa berat sedari tadi.
..."Jangan terlalu dikejar, jika memang sudah jalannya, pasti Alloh memperlancar, karena yang menjadi takdirmu akan mencari jalannya untuk menemukanmu, namun jika memang bukan takdirmu, sekeras apapun kamu berjuang, dia tetap tidak akan menjadi milikmu."...
__ADS_1