Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
26. Mahkota seorang Wanita


__ADS_3

...Happy Reading...


Kilau cahaya sang Surya pagi ini mulai menelusup ke sela-sela tirai kamar, memancarkan hangatnya sinar mentari pagi, walau kini tidak mampu menghangatkan tubuh Gendhis, karena AC didalam ruangan itu terasa begitu dingin menusuk tulang.


" Aduh... kepalaku kenapa masih pusing dan ini apa lagi? kenapa bantal gulingku terasa berat sekali."


Gendhis merasakan sesak didadaanya karena seperti ada sesuatu yang menindih tubuhnya didalam selimut tebal, tapi dia belum begitu sadar.


" Aww... kenapa berat sekali?"


Gendhis mencoba bangun sambil memegangi kepalanya yang seolah berputar-putar.


" Hmm.. eugh!"


Tiba-tiba terdengar suara helaan nafas seorang pria yang seolah tidak wujud dari pandangan Gendhis.


" Apa ini?"


Dengan mata yang seolah masih melekat, dia langsung menyibak selimut tebal yang menyelimuti dirinya.


" Aaaaaaaaaaaaa! siapa kamu!"


Gendhis langsung menjerit sekuat tenaga, saat melihat sesosok tubuh pria yang tidur dengan nyaman dibawah sana, bahkan dia tidur telungkup diatas perutnya.


" Apa sih yank, masih pagi ini, jangan berisik!" Ucapnya dengan suara parau, khas bangun tidur.


" Siapa kamu? kamu bukan mas Panji, awas pergi sana!" Seingatnya hanya Panji yang dia izinkan memanggil dirinya dengan panggilan sayang.


" Haissh! yang bilang aku Panji juga siapa!" Jawabnya sambil mendengus kesal, rasa kantuknya masih mendera, namun Gendhis sudah membangunkannya sepagi itu, apalagi tubuhnya sedikit terdorong oleh wanita itu.


" Aaaaaaaaaa... kenapa kamu nggak pakai baju!"


Saat pria itu bangkit, pandangannya langsung terarah ke suatu benda yang mirip dengan lonceng hidup, yang bergoyang-goyang dihadapannya.


" Ckkk... bisa diem nggak sih, sakit telingaku mendengarnya! bukan hanya aku yang nggak pakai baju, kamu pun nggak pake apapun Gendhis sayang, haha!"


Dengan senyum liciknya, dia bahkan menyentil puncak kedua bukit kembar milik Gendhis untuk menyadarkan dirinya ke dunia nyata.


" ASTAGA BROTO! Aaaaaaaaaaaaa... apa yang kamu lakukan terhadapku, hiks.. hiks.."


Air mata Gendhis langsung turun dengan derasnya saat melihat tubuhnya yang memang polos tanpa sehelai benang sekalipun.


" Bukankah kamu menikmatinya?" Ledek Broto dengan gaya tengilnya.


" BROTO jangan gila kamu ya!" Teriak Gendhis yang langsung melilitkan tubuhnya dengan selimut tebal itu.


" Aku gila begini karena kamu, Gendhis sayang." Broto kembali mendekati tubuh Gendhis dan ingin memeluknya, namun Gendhis langsung memukul dirinya dengan bantal.


" Jangan dekati aku!" Tolak Gendhis dengan sekuat tenaga yang masih tersisa.


" Gendhis, nggak ada gunanya kamu menolakku, apa kamu tidak lihat sprei dibawahmu itu, bekas-bekas percintaan kita tadi malam masih terukir indah disana!"


Dengan wajah penuh kepuasan dan kesombongan Broto menunjukkan noda merah yang sudah mengering di sprei hotel yang berwarna putih itu.


" Aaaaaaaaa... BROTO! kenapa kamu melakukan itu denganku, aku sudah punya calon suami Broto, bahkan mungkin bulan depan aku sudah mau menikah!"


" Baru juga calon! selagi janur kuning melengkung, kamu masih milik bersama, haha!" Tawa Broto langsung menggelegar di ruangan itu.

__ADS_1


Plak!


Satu tamparan keras langsung mendarat di pipi dokter umum dirumah sakit yang sama dengan Gendhis bekerja itu.


" HEI... BERANI KAU MENAMPARKU!"


Broto langsung mencengkeram dagu Gendhis dengan kuat sambil melotot kesal kearahnya.


" BROTO, apa kamu tidak sayang dengan kariermu sebagai Dokter! apa kamu lupa siapa aku!" Teriak Gendhis yang mencoba untuk melawan.


" Aku tahu kalau kamu itu anak orang kaya, bahkan aku paham betul, bahwa kamu anak pemilik dari rumah sakit tempat aku bekerja!"


" Lalu kenapa kamu berani menyentuhku Broto! bahkan kamu berani menodaiku, hiks.. hiks.."


Gendhis begitu terpuruk melihat kenyataan yang ada, dia sama sekali tidak menyadari akan hal itu, seingatnya dia hanya merasakan pusing kepala saat di toilet kemarin malam, setelah itu dia sudah tidak sadarkan diri sampai pagi menjelang.


" Karena aku menginginkanmu!" Jawab Broto dengan entengnya.


" Dasar Gila kamu Broto, akan aku pastikan masa depanmu hancur setelah ini!" Ancam Gendhis dengan kemarahan yang sudah membara.


" Hmm... owh ya? tapi... sebelum masa depanku hancur, masa depanmu atau bahkan harga dirimu akan hancur terlebih dahulu, hahaha!" Tidak ada rasa ketakutan apalagi sebuah penyesalan atas kejadian ini baginya.


" Awas kamu Broto, lihat saja nanti!" Wajah penuh kebencian terlihat jelas dari Gendhis.


" Kamu yang seharusnya mawas diri, coba lihat dulu video ini."


Broto langsung berdiri dan mengambil ponselnya, serta memutar video yang dia ambil tadi malam.


" Aaaaaaaaaaa... Broto, terkutuk kamu ya, cepat pergi dari sini, dasar binatang kamu ya!"


" Hahaha... tidak ada gunanya kamu mengamuk saat ini, sudahlah... tidak lagi perawan bukannya hal yang wajar, sudah umum bagi wanita jaman sekarang kan?"


Broto tidak merasa takut sama sekali, karena dia sudah punya bukti video untuk mengancam Gendhis, semua sudah dia persiapkan dari awal.


" Diam kamu! aku tidak seperti wanita-wanita j*l*ngmu itu Broto!" Gendhis tahu jika Broto memang sering gonta-ganti pasangan, ada wanita yang terlihat berkilau sedikit saja pasti langsung dia embat.


" Hmm... memang sih, dari sekian wanita yang pernah aku test drive, baru kamu yang masih Ori dan itu nikmat sekali sayang, terima kasih ya, sudah memberikan aku kesempatan untuk mencicipi keperawananmu itu." Senyum bangga bahkan terlihat dari pria itu.


" Dasar Pria Bej*t, nggak ada otaknya kamu memang! harusnya kamu malu, kita ini dokter Broto, apa kamu lupa! cepat pergi dari sini, aku muak melihatmu!"


Gendhis menjambak rambutnya sendiri, dia begitu prustasi, entah apa yang harus dia lakukan setelah ini.


" Kenapa mesti buru-buru, kita main satu ronde lagi mau nggak?" Tanya Broto dengan senyum liciknya.


" Bangs*t kamu Broto, cepat pergi atau aku laporkan kamu ke polisi!" Walau itu rasa-rasanya tidak mungkin, namun dia mencoba menggertak Broto.


" Tidak ada gunanya kamu mengancamku Gendhis, coba saja? bahkan sebelum polisi datang video kita pasti akan tersebar di media sosial." Dia kembali memamerkan video syuur itu.


" BROTO!" Gendhis mencoba meraihnya, namun dia tidak bisa, karena pria itu jauh lebih tinggi darinya.


" Sssstt... nggak usah berisik, kalau mau karier dan harga dirimu aman, cukup kamu kenang saja malam ini, atau mau aku kirimkan video ini kepadamu, agar kamu bisa lihat caraku menjebolkan gawang milikmu!" Broto bahkan semakin menggoda Gendhis.


" Aaaaaaaaaa... B*jing*n kamu Broto, pergi dari sini, cepat pergiiiiiiii!" Gendhis kembali berteriak secara histeris.


" Okey fine... hmm.. seharusnya tadi malam aku mendengarkan jeritan itu, sayang sekali tidurmu pulas sekali, tapi it's okeylah, tiga ronde sudah cukup untuk pemanasan tadi malam."


Kata-kata Broto semakin membuat Gendhis meradang, dia bahkan menutup kedua telinganya dengan tangan, seolah tidak sudi mendengar ucapan dari pria itu.

__ADS_1


" PERGI!"


" Iya sayang, biarkan aku memakai bajuku dulu okey?"


Dengan santainya Broto memunguti pakaiannya yang tercecer dilantai dan memakainya sambil pamer senyuman dengan Gendhis yang masih asyik menangis tiada henti.


" Owh iya, apa kamu tidak lapar?" Tanya Broti kembali.


" PERGI!" Usir Gendhis kembali, dia sungguh tidak sudi berada dalam satu ruangan dengan Broto.


" Opsh... aku lupa, kan kamu nggak gerak tadi malam, yang kerja keras dalam tiga kali tanjakan kan cuma aku, sayang sekali aku tidak mendengar suara de sah an mu, lain kali kita ulang lagi ya?" Bahkan Broto mengedipkan satu matanya dengan genit.


" JANGAN MIMPI!" Hardik Gendhis dengan mata dan wajah yang sudah memerah.


" Kenapa harus mimpi? kita bahkan bisa mengulanginya lagi dan lagi, aku tidak akan keberatan jika kamu menginginkannya lagi, punyamu terasa candu bagiku, aku sangat menikmatinya!"


" Dasar cowok Brengs€k, aku tidak akan pernah memaafkanmu Broto!"


" Okey.. tidak masalah bagiku, karena aku juga tidak butuh kata maaf darimu, aku pergi!" Setelah kembali mengenakan pakaiannya dia berjalan kearah pintu.


" Jangan pernah menampakkan wajahmu didepanku lagi!"


" Emm... sayang sekali, kita bekerja ditempat yang sama."


" Cih... masih berani kamu kerja disana?" Gendhis tidak habis pikir dengan kelakuan gila rekannya itu.


Dia tahu kalau Broto memang pemain wanita, namun dia sungguh tidak menyangka jika dia yang akan menjadi korbannya, bahkan dalam keadaan tidak sadar.


" Why not? kamu tidak akan pernah bisa mengancamku dalam hal apapun, kalau begitu bye! opsh... eh... ada satu lagi."


" Apa lagi!"


" Kalau calon suamimu kelak membuangmu, kamu bisa mencariku, aku akan dengan senang hati memungutmu!" Broto kembali menoleh kearah Gendhis.


" Cih... kamu kira aku sampah! aku bahkan tidak sudi mengenalmu lagi!"


" Jangan begitu, aku bahkan sudah menitipkan hasil karyaku tadi malam, siapa tahu jadi ya kan?" Ledek Broto yang mampu membuat Gendhis semakin marah.


" Sumpah, aku sangat membencimu Broto!" Tatapan kebencian semakin tertanam didalam hati Gendhis untuk pria gila dihadapannya itu.


" Jangan lupa juga simpan sprei itu sebagai kenang-kenangan pertempuran perdanamu atau kalau perlu kamu bawa pulang dan simpan baik-baik di almari milikmu, dan satu lagi... tutupi juga lehermu itu, banyak sekali bekas-bekas percintaan kita tadi malam yang masih menempel disana, wow... merata juga ya merahnya, cantik sekali loh, kamu suka nggak!"


" Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!"


Gendhis kembali menangis dengan histeris, sambil memukul-mukul kepalanya sendiri, saat dia melihat kiss mark yang memang merata ditubuh bagian depannya.


Apalagi saat melihat noda berwarna merah di sprei yang Broto tunjuk, Gendhis seolah tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi, namun video dari Broto memang memperlihatkan bahwa tadi malam rekan kerjanya itu telah merenggut kesucian dirinya.


Ingin rasanya dia terjun bebas dari lantai Hotel itu, tapi dia sadar mengakhiri hidup dengan sengaja adalah sebuah dosa besar.


Apakah ini awal dari kehancuran nasib seorang Gendhis?


Sebaik apapun kamu, sebanyak apapun kamu melakukan hal-hal baik, percayalah akan tetap ada diantara mereka yang membencimu bahkan mungkin tanpa alasan.


Tapi inilah hidup, pasti akan ada yang terlahir sebagai penguji kesabaranmu, tetap lakukan saja yang terbaik, tidak usah pedulikan apa yang dikatakan orang lain. Biarkan sang Pencipta Alam yang akan mengurus segalanya.


Hayo... jangan lupakan VOTE nya ya bestiekuh😁

__ADS_1


__ADS_2