Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
44. Cemburu?


__ADS_3

...Happy Reading...


Sebuah Speedboat mewah sudah dipersiapkan, walau berukuran sedang namun cukup luas untuk membawa dua pasangan pengantin baru ini ke suatu pulau kecil yang dikelilingi hamparan lautan berwarna biru dan disuguhi pemandangan alam yang indah dan sejuk dipandang mata.


Ayah Gendis dan Ratu sudah mengatur segalanya, sebuah Villa ditepi pantai sudah dia sewakan dengan fasilitas lengkap didalamnya.


Sepanjang perjalanan hanya Ratu saja yang selalu menebar senyuman saat melihat pemandangan yang tidak bisa dia lihat di kawasan perkotaan.


Dan tiga orang lainnya hanya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing, merasa tidak nyaman sudah pasti, begitu juga dengan Ratu, dialah seseorang yang tidak ada kaitannya dengan masalah mereka namun harus terkena imbasnya.


Tapi Ratu selalu berhasil menutupi kesedihan dan kerisauan hatinya dengan pura-pura tersenyum, dia sudah menduga akan seperti ini keadaannya, namun rentetan tugas dikepalanya lebih terasa memusingkan daripada hal ini, jadi dia memutuskan untuk bersikap masa bodoh, biarkan mereka mengurus kebahagiaan mereka masing-masing, toh mereka semua sudah dewasa, ada sebab pasti ada akibatnya pikir Ratu, yang memang sudah terlihat Legowo.


" Selamat datang nona dan tuan, perkenalkan saya pengurus villa ini, jika ada sesuatu yang dibutuhkan silahkan panggil kami di rumah belakang." Sapa bapak-bapak penjaga Villa itu dengan sopan.


" Ada berapa kamar di Villa ini pak?" Tanya Ratu dengan antusias.


" Sebenarnya ada banyak nona, tapi yang dipesan hanya dua katanya, jadi saya hanya membersihkan dua kamar saja." Ucap Bapak itu yang memang sudah mengatur sesuai bookingan mereka.


" Kalau pesan satu kamar lagi bisa pak?" Tanya Ratu dengan ragu.


" Buat siapa?" Tanya Panji dengan heran.


" Buat aku lah, Aku mau nyuruh Melody datang kesini."


" Kenapa harus mengundang Melody?"


" Kalian semua nggak asyik, nggak ada yang bisa diajak seru-seruan, kalau ada Melody kan enak, bisa diajak jalan-jalan."


" Trus kamu mau tidur sama Melody?" Pikiran Panji langsung terarah kesana, karena mungkin dua benda kenyal yang sudah dia cicipi itu membuat dirinya seolah terpikat oleh sosok Ratu.


" Ya iyalah, kenapa emangnya?"


" Nggak usah, kalian berdua kalau udah ketemu bisanya cuma buat rusuh saja, sudahlah ayo pilih salah satu kamar buat kita, aku capek mau istirahat." Panji langsung mengambil alih tas ransel milik Ratu.


" Emm... Ratu, boleh kakak tidur denganmu?" Tiba-tiba Gendhis langsung mengalihkan perhatian mereka.


" Hah? Maksudnya tidur bertiga sama pak Panji juga gitu?" Ratu langsung menatap kakaknya dengan wajah keheranan.


" Ya enggak, kita tidur berdua aja, biar mas Panji tidur sama Broto." Ucap Gendhis yang seolah tidak rela jika melihat Panji tidur satu kamar dengan wanita lain, walau itu adeknya didepan kedua matanya.


" Cih...apa-apaan ini?" Broto langsung tersenyum dengan bengis, sudah tadi malam dia tidur diluar karena kamar Gendhis sudah dikunci duluan dari dalam, sekarang saat mereka menginap di Villa pun tidak boleh tidur satu kamar lagi.


" Sudahlah, Broto kan suamimu, lebih baik kamu tidur dengannya saja, lagian demi keamanan bersama, lebih baik ada pria yang menjaga kalian masing-masing saat tidur." Panji pun merasa tidak enak hati, saat melihat Broto seolah tidak setuju.


" Tapi aku tidak nyaman tidur dengannya mas, tolonglah pengertiannya." Gendhis belum bisa menerima Broto sepenuhnya, bayangan kejadian saat itu masih terekam jelas di pikirannya.


" Bukan tidak nyaman, kamu hanya belum terbiasa saja." Panji hanya tidak ingin ada keributan malam ini, apalagi jika dia harus tidur dengan Broto, baru membayangkan saja sudah malas duluan.


" Aku tetap ingin tidur dengan adekku, kalau tidak kalian pesankan aku kamar satu lagi." Ucap Gendhis masih tetap dengan pendiriannya, tidak mudah menghilangkan rasa benci terhadap Broto, karena dia adalah pria yang sudah merusak masa depan yang sangat dia impi-impikan.


" Sudahlah, biarkan dia tidur dengan adeknya! Gitu aja ribet!" Broto langsung memilih pergi meninggalkan mereka untuk melihat-lihat Villa itu.


" Haish... Sudah aku duga, tapi ya sudahlah, kita pilih kamarnya yuk kak, mau yang dilantai atas atau bawah?" Ratu pun memilih menyetujuinya saja, daripada suasana semakin tidak mengenakkan pikirnya.


" Di lantai bawah saja." Jawab Gendhis yang merasa sedikit lega.


" Tapi Ratu?" Panji seolah tidak rela dengan keputusan ini.


" Sudahlah pak, tidur dimana aja nggak masalah, yang penting nggak ada nyamuknya, nggak kayak di kamar bapak!"


" Enak saja banyak nyamuk, itu tuh... Anu... Emm.." Panji kembali mengurungkan perkataannya saat Ratu dan Gendhis menatap dirinya secara bersamaan.


" Apa hayow." Tanya Ratu kembali.


" Ya sudahlah, terserah kalian saja."


Daripada aibnya terbuka didepan Gendhis juga, lebih baik Panji tidak membahas lagi soal itu, dia memilih masuk kedalam kamar satunya dan segera istirahat, karena perjalanan mereka kesini cukup memakan waktu.


Setelah mereka semua membereskan barang-barang mereka dan membersihkan diri masing-masing, penjaga kebun itu sudah menyiapkan BBQ untuk hidangan makan malam mereka, itu merupakan salah satu service yang disediakan oleh Villa itu.


" Pak... Aku mau cumi-cumi panggang dong, yang pedes ya." Ratu mendekat kearah Panji yang sedang membakar ikan disana.


" Bocil itu nggak boleh makan yang pedes-pedes, pake kecap aja ya?"


" Nggak mau, aku mau yang pedes pak, biar mantep gitu rasanya."


" Kamu ini kalau dibilangin bandel ya, nggak baik buat pencernaan kamu!"


" Ckk... Bapak resek deh, aku udah biasa makan pedes pak!" Rengek Ratu kembali.


" Ya sudah, tapi dikit aja sambelnya ya, nanti kamu sakit perut, bapak juga yang repot!"


" Ya udah deh, resiko punya suami yang nyebelinnya nggak ketulungan."


Akhirnya Ratu pun menurut saja, walau sebenarnya dia kesal.


" Mas.. Aku mau juga dong, cumi-cumi bakarnya."

__ADS_1


" Okey, mau sosis mayonaise juga nggak? Ini ada banyak, itu kan makanan favoritmu." Panji yang memang sudah tahu apa saja yang menjadi makanan favorit Gendhis selama ini langsung menawarkan juga.


" Mas tahu aja, dari kemarin aku pengen itu loh, cuma belum sempat beli." Ucapnya dengan seutas senyum di kedua sudut bibirnya.


" Apa sekarang masih muntah lagi kalau makan nasi?" Tanya Panji yang sedikit khawatir akan kesehatan Gendhis.


" Masih mas, tapi kalau sosis bakar kayaknya enggak deh!"


" Okey, mas bakarin yang banyak ya, kamu duduk dulu saja, nanti pegel kakimu." Jawab Panji dengan perkataannya yang selalu manis jika dengan Gendhis.


Perlahan tapi pasti Ratu memilih memundurkan langkah kakinya dan pergi dari sana, hubungan mereka bertiga memang salah sedari awal, jadi mau sampai kapanpun hal seperti ini akan terus terjadi.


Hubungan Panji dan Gendhis bahkan belum bisa dikatakan putus, karena mereka berdua memang tidak pernah ada yang mengikrarkannya, namun kalau dibilang masih, tapi keduanya sudah punya status masing-masing.


Walau Ratu memang belum pernah berpacaran sampai ke tahap yang serius, namun dia juga paham, bahwa melupakan orang yang tersayang memang tidak mudah, apalagi perpisahan mereka karena suatu kecelakaan yang tidak diinginkan.


" Woi.. Pak dokter, diem-diem baek, sakit gigi ya?"


Akhirnya Ratu memilih menemani Broto yang duduk di atas kursi panjang dengan sebuah gitar dipangkuannya.


Sebenarnya dia juga tidak terlalu dekat dengan Broto, tapi daripada duduk sendirian nggak ada teman, dia memilih mengobrol saja dengan Broto, karena cuma ada mereka berempat disana, andai Melody boleh kesana, pasti suasananya tidak akan se kaku ini pikirnya.


" Cih... Lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati ini, orang temenku dokter semua!" Jawab Broto dengan mode yang sudah buruk sedari awal.


" Cie... Dia curhat?"


" Ngapain kamu kesini? Disana jadi obat nyamuk ya? Kasian amat!" Ledek Broto sambil memainkan gitarnya.


" Ada yang cembokur nie yee?"


" Dih sory ya, mau bagaimanapun juga, aku lah yang jadi pemenangnya disini!"


" Ckk... Pak dokter dilema kan sekarang?"


" Dilema sih enggak, tapi kakak kamu itu nyusahin."


" Emang kak Gendhis nyusahin apa?"


" Dimilikin hatinya sulit, mau dilupain juga nggak bisa, ngrepotin banget kan jadinya?"


" Ahahaha.... Pak Dokter bisa aja!" Ratu bahkan tertawa ngekek dibuatnya.


" Tapi ya sudahlah, mau gimana lagi ya kan, setidaknya aku sudah bisa menjadi suaminya, walau belum bisa mendapatkan hatinya, namun aku sudah mendapatkan tubuhnya, bahkan ada hasil karyaku yang sudah ada didalam perutnya?" Broto hanya mampu melirik dengan kesal, saat melihat istrinya yang selalu tersenyum menatap suami adeknya sendiri diujung sana.


" Kenapa kalian harus melakukan itu sih pak dokter?" Tanya Ratu ingin mencoba mengkorek hal itu.


" Hmm... Iya juga sih, tapi kelihatannya pak dokter beneran suka sama kak Gendhis? Apa pak dokter memang sebelumnya sudah suka duluan dengannya?"


" Emm... Banyak orang bilang bahwa benci dengan cinta itu beda tipis, bisa jadi aku pun mengalami hal yang sama."


" Kalau begitu kejar dong, tunjukkan bahwa pak dokter itu pantas untuk kak Gendhis."


" Bagaimana mau menunjukkan, kakak kamu saja sudah menutup semua pintu akses kedalam hatinya, mau masuk sedikit aja susah dek!"


" Gitu aja nyerah, cemen kamu pak!" Ledek Ratu yang langsung menurunkan jempol tangannya dihadapan Broto.


" Yaelah... Kayak dia yang bisa aja, emang kamu udah bisa menakhlukan hati suamimu itu? Pasti belum kan, lihat mereka aja masih terlihat mesra berduaan sekarang!" Broto langsung menunjuk mereka yang masih asyik BBQan berdua.


" Kalau gue sih lain cerita pak, aku tidak terlibat dalam hubungan cinta segitiga diantara kalian!"


" Haish... Iya juga sih, setelah aku pikir-pikir kasihan kamunya juga ya?"


" Tau pun!"


" Kalau begitu jaga dirimu, kalau memang hubungan kalian tidak bisa dipertahankan nanti, kamu tinggal minta pisah saja, gampang kan!"


" Ckk... perceraian begitu tabu dikeluarga kami pak, tidak semudah itu!"


" Tapi kamu kan masih terlalu muda, kamu bahkan belum tamat kuliah, masih lama lagi perjuangan kamu kan, apa kamu tidak ingin seperti yang lain, menikmati masa mudamu, masa kuliahmu, bisa jadi orang yang membanggakan, apa kamu tidak tertarik?"


" Heleh.. Tidak menjadi apapun juga tidak masalah, tidak dikenal orang juga tidak masalah, tidak diakui keberadaanya juga tidak masalah, bahkan tidak dihormati juga tak mengapa, justru bersembunyi dari perhatian banyak orang malah lebih leluasa dan santai, yang penting kan tidak merugikan orang lain." Jawab Ratu dengan santainya, seolah itu adalah motto didalam hidupnya.


" Woah... Baru kali ini aku takjub dengan ucapan seorang bocah kayak kamu, ternyata kamu tidak bisa disepelekan begitu saja!" Broto bahkan menatap takjub dengan Ratu.


" Siapa dulu dong?"


" Okey, mulai saat ini, aku ikrarkan bahwa kamu resmi menjadi adek ipar aku!" Bahkan Broto merangkul baru Ratu tanpa sadar.


" Ya elah, dari kemarin juga kita udah jadi kakak adek ipar bang!"


" Kok aku seneng ya kamu panggil aku abang?"


" Cih... hari gini nggak ada yang gratisan loh bang!"


" Masak iya dipanggil abang juga bayar!"


" Ya iyalah, punya adek limited edition kayak gue mah berharga banget!"

__ADS_1


" Tidak masalah, kamu bisa minta apa saja nanti."


" Beneran bang, nggak bohong kan?"


" Ya enggaklah, aku kan Kaya!"


" Gue demen yang sombong-sombong kek gini nih, sepertinya kita satu server ya bang, haha."


Ratu dan Broto terlihat asyik sendiri disana, bahkan mereka duduk berdekatan, sesekali mereka berangkulan dan bercanda tawa melupakan semua yang ada disekelilingnya.


" RATU, SINI KAMU!"


Tiba-tiba Panji sudah ada dihadapan mereka dengan membawa satu piring cumi-cumi bakar.


" Kenapa, kamu cemburu?" Umpat Broto yang merasa terganggu, baru saja dia bisa tertawa lepas lagi semenjak kejadian kemarin, tapi sudah ada makhluk penggangu yang datang pikirnya.


" Itu bukan urusanmu, Ratu ayok kita makan disana."


" Cih... Sebenarnya elu mau yang mana, kakaknya atau adeknya? Atau malah mau dua-duanya?" Broto langsung meliriknya dengan tatapan sinis.


" HEI... ASAL KAMU TAHU AJA YA...!"


" Eits... Sudah-sudah, jangan berantem dong, ini sudah malam, ayo kita makan disana pak Panji, aku sudah lapar sekali." Ratu langsung memeluk perut Panji saat dia ingin maju dan beradu mulut atau bahkan ingin beradu jotos dengan Broto.


" Makanya kamu jangan dekat-dekat dengan orang seperti dia, dia itu...!"


" Apa loe! Tau apa elu tentang gue, hah!" Broto merasa tidak terima dengan perkataan Panji.


" Aduuuuh... Pusing pala berbie bestie! Kak Gendhis tolong amankan peliharaan kakak itu!" Ratu langsung berteriak untuk memisahkan mereka berdua.


" Ratu, aku belum selesai dengannya!"


" Sampai kapanpun perdebatan kalian tidak akan pernah selesai kalau diantara kalian masih saja tidak ada yang mau menerima takdir Tuhan!" Umpat Ratu yang langsung menyindir mereka semua yang ada disana.


" Ratu?"


" Aku lapar, boleh aku makan dulu? Atau kalau tidak, sini makanannya biar aku makan sambil nemenin pak Broto, kalau bapak mau menemani kak Gendhis silahkan, aku nggak marah kok, lanjutkan saja kisah kalian berdua kalau perlu!"


" Ratu, kamu ini kenapa?"


" Bapak yang harusnya aku tanya kenapa? Kalau bapak ingin meneruskan hubungan bapak dengan kak Gendhis monggo, silahkan... Tapi nggak harus berantem malam-malam begini juga kan?"


" Ratu, aku hanya tidak suka kamu dekat-dekat dengan Broto, mana pakai rangkul-rangkulan tangan segala lagi, ngapain coba kalian berdua tadi?"


" Emang kenapa pak, ada yang salah?"


" Jelas salah Ratu, apa kamu lupa yang pria itu lakukan dengan kakak kamu!"


" Aku tidak lupa pak, tapi kita tidak pernah tahu cerita mereka sebelumnya kan? Dan sepertinya pak Broto benar-benar menyukai kak Gendhis, Lagian kan dia kakak ipar aku sekarang, apa yang salah jika kami sekedar rangkulan tangan saja, kita nggak main hati kok?"


" Tetep aja aku nggak suka!" Umpat Panji dengan tegas.


" Aku aja melihat bapak sama kak Gendhis berduaan biasa aja, malah aku kasih kesempatan ngobrol berdua kan tadi?"


" Kalau aku bilang nggak suka ya nggak suka Ratu, kamu itu harus nurut sama perkataan suami, mengerti kamu!"


" Atau kita tukar pasangan aja malam ini, aku nggak keberatan kok, pak Dokter juga asyik diajak ngobrol, lebih asyik daripada ngobrol sama bapak, pasti cuma berantem aja endingnya!"


" Enak saja, nggak ada ceritanya ganti-gantian pasangan, nanti malam kamu harus tidur denganku, titik!"


Entah mengapa dia tidak rela saat melihat Ratu bersenda gurau dengan Broto tadi, bahkan dia langsung meninggalkan Gendhis saat melihat Broto merangkul bahu istri bocilnya itu.


" Dih... Orang aku tidur sama kak Gendhis kok!"


" Cih... Lihat saja, nanti malam aku culik kamu!"


" Apaan sih pak, nggak jelas banget!"


" Bodo amat, emm... sepertinya aku sudah mulai cocok minum susu dengan merk yang satu itu."


" Hah? Emang susu merk apa?" Tanya Ratu dengan polosnya.


" Ada deh!"


Bahkan Panji tersenyum dengan manisnya, membuat Ratu seolah terpana akan ketampanan suaminya, selama ini Ratu hanya melihat sosok Panji saat dia marah, kesal dan memelototi dirinya, baru kali ini Panji seolah tersenyum dengan tulus saat melihat dirinya.


Apapun yang kamu berikan kepada wanita, ia akan menjadikannya lebih baik.


Jika kamu memberi dia tempat tinggal, ia akan memberimu rumah.


Jika kamu memberi dia bahan makanan, ia akan memberimu sesuatu untuk dimakan.


Jika kamu memberi dia senyuman, ia akan memberimu hatinya.


Wanita selalu melipat gandakan, bahkan melebihkan apa-apa yang diberikan kepadanya.


Maka...

__ADS_1


Jika kamu memberinya Sampah, bersiap-siaplah untuk menerima Ton Kotoran.


__ADS_2