Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
46. Nabung Amal


__ADS_3

...Happy Reading...


Ratu sebenarnya masih ingin mengobrol dengan sahabat lamanya, namun Panji seolah tidak memberikan kesempatan lagi untuknya.


" Edward maaf aku harus pergi, lain kali sambung ngobrol lagi, bye.. Bye..."


" Tunggu Ratu, minta nomor ponselmu dong, nomorku sudah ganti, jadi hilang semua kontak teman SMA kita?"


" Ponsel Ratu juga rusak, kemarin jatuh di air laut, belum sempat ganti, BYE!" Panji Langsung menjawabnya dengan nada yang ketus, bahkan tampang garangnya sudah terlihat disana.


Ratu yang baru ingin menjawabnya sudah langsung dibungkam oleh ucapan Panji yang terlihat tidak suka melihat mereka mengobrol.


" Kok gitu sih pak ngomongnya, orang Hpku nggak rusak kok!"


" Nggak usah keganjenan kamu jadi orang, mulai sekarang kamu harus bisa jaga diri dan perilakumu, kamu ini sudah menikah, dan wanita yang sudah menikah itu ibarat pakaian untuk suaminya, jadi jika kamu berkelakuan buruk, aku yang harus menanggungnya, mengerti kamu!"


" Tapi pak, kita kan cuma..?"


" Dan satu lagi, kalau di luar kampus, jangan pernah memanggil aku dengan sebutan bapak, bisa kan?"


Ucapan Edward menyadarkan Panji bahwa sebutan bapak membuat dirinya terkesan tua, jadi dia tidak ingin Ratu memanggilnya dengan sebutan itu saat di luar kampus.


" Kenapa sih pak?"


Pletak!


" Bisa nggak panggil yang lain!" Karena terlalu gemas, Panji menyentil kening Ratu.


" Dih... Sakit pak."


" Makanya kalau orang ngomong itu dengerin!"


" Maunya dipanggil apa dong?"


" Panggil apa saja, asal jangan bapak!"


" Om?"


" Enak saja, sejak kapan aku jadi om kamu!"


" Trus apa? Kakak? Tapi kan bapak nggak jadi kakak iparku?"


" Panggil yang lain lah, mas atau apa gitu!"


" Bukannya mas itu mahal?" Ledek Ratu dengan jahilnya.


" Kamu juga aku beli mahal Ratu, apa kamu lupa?" Teriak Panji yang merasa tidak terima.


" Yaelah... Kayak dagangan aja deh diriku ini, ckk.. Trus mau kemana lagi ini, nggak jadi ngopi?"


Ratu langsung berdecak kesal, Panji dan keluarganya memang memberikan mas kawin dan seserahan yang sangat fantastis, namun Ratu terlihat biasa saja, karena memang sedari awal itu yang seharusnya diberikan kepada kakaknya, bukan dirinya.


" Kita buat sendiri aja didapur Villa!"


" Dih... Lagian ngapain sih susah-susah bikin, di kafe tadi kan lebih enak dan seru lagi, sambil lihat pantai."


" Nggak usah banyak protes, dari dapur Villa juga bisa lihat pantai! Siapa suruh jadi cewek kegatelan!" Panji dan Ratu kembali memasuki Villa itu dan berjalan ke arah dapur.


" Siapa yang kegatelan pak, dia temen baik aku saat di SMA loh, bahkan dia yang selalu ngasih contekan kalau aku lupa ngerjain PR."


" Hidih.. Jadi tukang nyontek aja bangga kamu!"

__ADS_1


" Biarin, itu namanya saling tolong menolong sebagai makhluk hidup, emang bapak yamg bisanya cuma marah-marah terus!" Ratu langsung duduk di sofa kecil diruangan itu, sambil menselonjorkan kakinya yang terasa capek karena berjalan kaki bolak-balik dari villa ke kafe dan balik lagi ke Villa.


" Itu bukan...!


Brugh!


Saat Panji ingin mengumpat Ratu, tanpa sengaja kaki Panji menabrak kaki Ratu dan membuat dirinya oleng, alhasil dia jatuh keatas tubuh Ratu.


Degh!


Jantung mereka berdua sama-sama berdetak dengan kencang, mata mereka saling menatap dengan intens, bahkan dinginnya angin pantai seolah menembus kedalam dapur itu dan membuat mereka seolah terpana dengan apa yang ada didepan mata.


C U P


Tanpa sadar Panji sudah menempelkan bibiirnya terlebih dahulu dan anehnya Ratu pun tidak menolak, bibiir mungilnya pun tanpa terasa menyambut hangatnya sentuhan kasih yang Panji berikan.


Dalam waktu sperskian menit bibiir mereka saling beradu dan saling melilit seiring irama deburan ombak di luar sana.


" Empth.. Uhuk.. Uhuk.." Ratu yang memang tidak terbiasa ber civ man terlalu lama seolah kehabisan nafas karena Panji tidak kunjung menyudahinya.


" Makanya jangan lupa bernafas Ratu, mau minum nggak?" Panji akhirnya tersadar dan bangkit dari atas tubuh Ratu, dia langsung mengusap bibiir Ratu yang sudah basah karena ulahnya.


" Hu um.. Uhuk.. Uhuk.. !" Jawab Ratu dengan wajah yang sudah memerah karena menahan malu.


" Ratu, malam ini aku tidur denganmu ya?" Panji memberikan satu gelas air putih dan langsung duduk jongkok dihadapannya.


" Bapak, eh... Mas, mau tidur satu kamar bertiga dengan kak Gendhis juga gitu, hais... Dasar kadal buntung?"


Hatinya seolah tidak terima, baru saja dia melancarkan serangan maut, tapi kemudian mau cari enaknya saja pikirnya.


" Ckk.. Kamu itu pikirannya yang buntung, ya sama kamu saja lah! Kamu pikir aku ini pria yang bagaimana!" Panji kembali menyentil kening istrinya.


" Siapa tahu kan? Secara cinta kalian kan belum usai!" Sindir Ratu kembali.


" Eh.. Iya?" Ratu ingin mundur, namun kepalanya sudah terbentur bahu sofa, tidak bisa bergerak kemana-mana.


" Aku bukannya tidak tahu mana yang halal dan mana yang tidak, sedari dulu aku diajarkan untuk menghormati seorang wanita, bahkan selama aku pacaran dengan wanita manapun, aku tidak pernah menyentuh benda yang terlarang aku sentuh, sebelum kata Sah terucap di hari pernikahan, begitu juga dengan kakakmu itu!" Panji mengatakan yang sejujurnya, karena gaya pacarannya hanya sebatas civ man dan pelukan saja, itupun dengan kasih sayang, bukan dengan nafsv.


" Apa mas tidak punya keinginan untuk kembali bersama kak Gendhis suatu hari nanti?" Ratu mengeluarkan unek-unek yang ada didalam hatinya.


Menikah dengan Panji memang hal yang tidak diinginkan, namun jika sudah terjadi dan tidak bisa ditolak, dia bisa apa, lagian sosok Panji cukup sempurna bagi wanita manapun, hanya saja Ratu tidak begitu srek dengan sifatnya, bahkan dia mulai bisa menerima Panji didalam kehidupannya, namun saat mengingat kisah cinta suaminya dengan kakak kandungnya, itu membuat dia ragu, untuk bisa bersama dengan dirinya selamanya.


" Sepertinya tidak!" Jawabnya singkat.


" Kok sepertinya, berarti masih ada niatan dong?" Tanya Ratu sambil melengos.


" Ratu, kita tidak pernah tahu rencana Alloh seperti apa, tapi untuk saat ini, aku hanya ingin menjalankan tugas dan kewajibanku sebagai seorang suami, tanpa mau memikirkan hal-hal diluar kuasaku."


" Tapi kak Gendhis gimana?"


" Ini sudah jadi takdir kami, lagian dia juga sudah punya suami kan? Jadi apa masalahnya, pokoknya kamu tidur denganku malam ini."


" Nggak mau!"


" Kalau begitu kita tidur aja berdua disini!"


Panji langsung menggangkat tubuh Ratu dan bergantian dia yang duduk di sofa itu sambil memangku tubuh Ratu dan menguncinya dengan sebuah pelukan.


" Pak.. Eh... Mas.. Jangan begini dong!"


" Siapa suruh nggak mau tidur denganku?"

__ADS_1


" Nanti kak Gendhis nyariin aku?"


" Palingan dia sudah tidur, ibu hamil kan sering mengantuk! Lagian nggak ada kamar lain, kita tidur disini saja." Panji bahkan mempererat pelukannya lagi.


Dugh!


Karena posisi Ratu yang lebih tinggi darinya, kepalanya kembali menghantuk kedua bukit kembar yang kemarin dia kuasai itu.


Serrr!


" Ratu... Kamu mau masuk Surga nggak?" Tanya Panji tiba-tiba.


" Enggak, aku kan belum mau mati, mas aja duluan sono!" Jawab Ratu dengan santainya.


" Ckk... Maksudnya itu nanti, nabung amal dulu kamu, aish... Kamu ini nggak pernah belajar ilmu a gama atau bagaimana sih?" Panji langsung mengungselkan kepalanya dipertengahan bukit itu.


" Mas, geli tahu! Nggak sopan deh!" Ratu langsung menjewer telinga Panji.


" Sudah berani kamu sekarang ya!" Umpat Panji yang langsung melotot.


" Hehe... Siapa suruh kayak gitu tadi!" Celoteh Ratu sambil cengengesan.


" Sini, biar aku ajarkan kamu agar kelak masuk Surga lewat tangan suamimu ini."


Panji langsung menarik dagu lancip Ratu dan mulai mengeksplore kembali bibiir mungil istrinya, lagi, lagi dan lagi sampai akhirnya kepalanya merosot turun ke bawah, mampir ke leher dan mendarat kembali ke kedua benda kenyal yang sudah meracuni otak sucinya.


Ratu pun tidak bisa menolak, sentuhan demi sentuhan lembut itu seolah membuatnya terbang melayang ke angkasa, apalagi tubuhnya yang memang sedang kedinginan dan butuh kehangatan.


" Ratu, bolehkah aku meminta hakku sekarang?"


" Hak apa?"


" Nggak usah banyak tanya, biar aku saja yang mempraktekkannya!"


Panji kembali bernostagia seperti jaman balita dulu mencari benda kesukaannya dulu maupun akhir-akhir ini, untuk melakukan sesi pemanasan dan setelah Ratu terlihat menekan-nekan kepalanya karena menahan segala rasa, kedua tangan Panji mulai berani mengusik pakaian bawah Ratu, tanpa melepas sumber air itu.


KROMPYANG!


Tiba-tiba terdengar suara pecahan keramik yang berasal dari vas bunga di samping pintu menuju dapur itu.


" Ka... Kalian ber... Berdua ngapain...?"


" Hah, kak Gendhis?" Ratu langsung menoleh kearah sumber suara.


" Mas Panji? Kamu... Jahat mas.. Hiks.. Hiks.." Gendhis seolah tidak kuasa untuk melihat aktivitas malam mereka.


" Pak... Eh... Mas... Eh anu...! Aish... lepas dong pak, udah enyennya, ada kak Gendhis itu!" Panji yang terkejut malah seolah terpaku dan membeku ditempat.


Dan saat Ratu melarangnya, tanpa sadar Panji malah semakin mengeny*t dua gunung itu dengan cepat.


Nyot


Nyot


Nyot


Dan hal itu semakin membuat Gendhis histeris, apalagi saat melihat mulut Panji yang masih terus ngempeng walau matanya sudah melihat kearah dirinya.


Orang enak kok dilarang, ya kan?


Relakan apa yang sudah terjadi, yang salah hanya perlu diperbaiki.

__ADS_1


Tinggalkan hal yang membuatmu tersiksa jiwa dan raga, roda kehidupan tidak bisa diputar ulang kembali, cukup jalani apa yang ada didepan mata dan hiduplah dengan damai tanpa menggantungkan harapan di pundak orang lain.


__ADS_2