Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
40. Spek Idamanmu


__ADS_3

...Happy Reading...


Penampilan Panji hari ini sungguh terlihat perfect, apalagi dengan bodynya yang memang tinggi dan kekar, mau menggunakan pakaian apapun pasti terlihat keren, apalagi menggunakan Tuxedo mahal, sudah pasti membuat para kaum Hawa terpana, kecuali dua mahasiswa ini, yang memang sudah negative tingking dulu dengannya.


" Tuh... Suami elu sudah datang, dia ingin menjemput permaisurinya naik ke atas kursi pelaminan, kalau begitu dadaa bye-bye, enjoy your wedding bestie, gue mau makan aja daripada harus mendengar omelannya, hihi.." Melody langsung berbisik dan memilih pergi kabur dari sana, apalagi saat melihat tatapan Panji yang seolah tajam menusuk seperti menghadapi mahasiswanya yang lupa membuat tugas.


" Ckk... Baru beberapa menit yang lalu sah menjadi suami saja sifat killernya sudah kembali, bagaimana aku bisa menjalani kehidupanku setiap harinya, Ya Tuhan... Paringono ati sing jembar kanggo ngadepi kahanan uripku iki?" Umpat Ratu perlahan, dia sudah seperti orang yang paling tersakiti di dunia, padahal dia mendapatkan suami yang terlihat Perfect dimata orang.


" Apa kamu lupa, kalau kamu ini mempelai pengantin wanita, kenapa tingkah kamu petakilan kayak begini, hah? bisa nggak jaga sikap kamu!" Umpat Panji dengan gemas, ingin sekali dia menjewer telinga mahasiswanya itu sekuatnya, tapi takut jika dia menjadi bahan gibahan para tamu undangan.


" Yoo ndak mampu, aku... Dudu spek idamanmu, nuruti karepmu, aku Linu... Linu... Linu!" Seperti biasa, karena sudah lelah menangis, lebih baik dia bernyanyi saja, untuk mengurangi rasa pilu di hatinya.


" Ayo kita naik ke atas panggung." Ajak Panji dengan tatapan jengahnya.


" Ngapain?"


" Konser!"


" Cih... Kayak bapak bisa nyanyi aja!"


" Astaga bocah, kita harus menyambut para tamu undangan Ratu, yang bilang mau nyanyi juga siapa!" Kadar Emosi Panji sudah diuji saat baru saja mendapatkan label Sah hari ini.


" Males lah pak, bapak aja sendiri!"


" Mana ada pasangan pengantin menyambut tamu undangan sendirian Ratu!"


" Sama kak Gendhis aja sono, dia kan pengantin idaman bapak, lagian pakai masker juga kok, nggak akan ada yang tahu deh!"


" Ckk... tapi kan kamu yang menjadi istriku, Ratu Andara!"


" Aku kan cuma pengantin pengganti doang!"


" Sudahlah, nggak usah banyak bicara, mau jalan sendiri atau aku seret kamu ke panggung pelaminan!"


" Nah... Seret aja sono! Aku nggak perduli!" Umpat Ratu yang malah terlihat semakin menguji kesabaran Panji.


Hup!


Tanpa Ratu duga, Panji langsung mengendong tubuh Ratu dan membawanya naik ke panggung pelaminan.


" Piwwiiittt...!"


" Woah... Romantis sekali mereka!"


" So sweet banget, cihuy...!


Para tamu undangan yang sudah hadir langsung bersorak dan bertepuk tangan saat melihat Panji dan Ratu yang terlihat mesra, walau sebenarnya mereka saling melotot kesal sepanjang perjalanan.


" Turunkan aku pak, malu tahu!"


" Diamlah!"


" Pak, kita jadi pusat perhatian mereka tahu!"


" Tahu lah, masak Tempe!"


" Pak Panji!"

__ADS_1


" Ratu Andara, semakin kamu banyak bicara, semakin berat tubuhmu ini!"


" Makanya turunkan aku!"


Bugh!


Panji langsung sedikit membanting tubuh Ratu dengan kesal, namun diatas kursi pelaminan, jadi para tamu undangan tidak merasa curiga jika sebenarnya mereka beradu mulut.


" Aww... Sakit tahu pak!"


" Bukannya kamu sendiri yang minta!"


" Pelan-pelan kan bisa, dasar suami killer!"


" Kamu bilang apa!"


" Enggak kok, itu ada cicak lewat!" Ratu langsung membenahi gaunnya dan memilih duduk santai di kursi empuk namun tidak nyaman menurutnya.


Tidak pernah terbayangkan sedikitpun di dalam benak Ratu, jika dia akan menikah, bahkan di usianya yang masih tergolong belia.


" Ratu, berdiri kamu, itu para tamu undangan sudah mau naik keatas panggung untuk berjabat tangan."


" Biarkan saja, aku duduk saja!"


" Ratu, berdiri nggak kamu!"


" Aku capek pak, apalagi ini high heelnya tinggi banget, pegel tahu pak, kalau nggak percaya coba pakailah!" Ratu langsung melepas high heelnya dan memijit kakinya.


" Ya Tuhan, belum ada sehari aku menikahi bocil ini, tapi kenapa seolah stok kesabaranku sudah habis, bagaimana aku bisa menghabiskan sisa hidupku dengannya?" Panji langsung mengendorkan dasi yang dia pakai, seolah melonggarkan rasa sesak di dadaanya.


" Apalagi!"


" Laper."


" Astaga Ratu, emangnya kamu nggak sarapan tadi? sebentar lagi kita akan menyambut tamu undangan Ratu!"


" Gimana mau sarapan, selesai mandi langsung diserbu para perias, mana tanganku di Inai dua-duanya, nggak boleh megang apa-apa, gimana mau sarapan."


" Tahanlah sebentar Ratu, paling cuma dua atau tiga jam an juga sudah selesai acaranya."


" Tapi aku nggak kuat berdiri loh pak, aku lemah tak berdaya, haduh... Jadi pengantin kok gini-gini amat yak, sudah tersiksa batin, tambah tersiksa perut lagi, kalau aku pingsan disini gimana coba?"


" Ya Tuhan... Berikanlah hambamu stock kesabaran yang lebih untuk menghadapi istriku yang manja ini!"


" Amin."


Dengan santainya bahkan Ratu mengamini ucapan Panji, padahal dia ingin menyindir dirinya.


" Aish... Ya sudah, kamu tunggu disini sebentar, bapak ambilkan makanan untukmu."


" Minumannya juga ya pak, pake es biar seger!"


Walau dengan hati yang dongkol, Panji langsung turun dari panggung duluan dan menemui pembawa acara terlebih dahulu, agar menunda acara berjabat tangan sebelum nanti Ratu selesai makan.


" Nih... Makan, habiskan kalau perlu!"


" Susah pak, ini jari-jariku pakai kuku palsu, kalau pegang sendok takut copot, gimana dong?"

__ADS_1


" Kamu ini emang ngribetin banget, ya sudah sini aku suapin."


" Hehe... gitu dong, ini baru namanya suami yang baik."


" Cih... Mimpi apa aku, bisa menikahi bocah nakal seperti kamu ini!" Walau sambil mengumpat, namun dengan tlatennya dia menyuapi Ratu, bahkan dihadapan semua orang dibawah sana.


" Haduh... Kakiku pegel, numpang dikit boleh ya pak su, sambil dipijit juga boleh deh!" Dengan santainya Ratu menyilangkan kaki dan menopangkan kakinya dipangkuan Panji yang duduk menghadap dirinya.


" Ratu, jaga kelakuanmu, ini di kursi pelaminan Ratu, bukan di Warteg tau nggak!"


" Sebentar aja pak, pegel banget nih, lagian juga nggak kelihatan, orang bajunya mengembang begini."


" Kamu ini benar-benar ya, bandel kalau dibilangin!" Tapi tangan kiri Panji tanpa sadar memijitnya juga.


" Hehe... Bapak makan juga lah, nanti kalau bapak juga pingsan siapa yang mau gendong!"


" Bodo amat!"


" Bapak lucu juga kalau lagi sewot gitu!"


" Diam, habiskan makananmu!"


" Pastilah, harusnya pake sambel tadi pak sama lalapan, pasti mantep banget ini!"


" Kamu ini, sudah diambilkan makanan masih protes lagi, mana makan belepotan kayak anak kecil, nggak takut lipstikmu luntur apa!" Panji bahkan mengvsap bibiir Ratu karena ada nasi yang menempel disana.


" Biarkan saja yang penting kenyang, nanti juga pakai masker lagi, kalau kelihatan jelek juga nggak masalah, nggak ada temanku yang lihat kok, bodo amatlah." Jawab Ratu dengan santainya.


" Kamu ini memanglah!"


" Terus...! Ngomel aja terus pak kalau nggak capek!"


" Bisa nggak kalau jadi wanita itu yang..."


Karena terlalu kesal Ratu langsung menyambar bibiir Panji, yang masih ingin ngedumel lagi dengannya.


Degh!


Panji langsung terdiam ditempat, Ratu benar-benar selalu membuat jantungnya berolahraga kalau sudah berdekatan berdua seperti ini.


Bahkan dia melupakan rasa sedihnya karena menghadapi tingkah ratu yang selalu membuat dirinya geleng kepala.


Dia juga melupakan lara dihatinya, karena bukan nama Gendhis yang dia sebut dalam lafal Ijab Qobulnya tadi.


" Ssst... Jangan marah-marah terus, nanti gantengnya hilang loh pak, hehe..!"


Ratu bahkan tersenyum dengan liciknya, apalagi saat melihat wajah Panji yang terlihat sedikit merona dan gelagapan karena ulahnya. Ratu pun santai saja melakukannya, toh.. mereka sudah sah, walau mungkin belum ada rasa.


Dan kejadian itu tidak luput dari penglihatan Gendhis, yang memang sedari tadi terus menatap Panji, karena dia masih berada di ujung ruangan bersama ayahanda tercinta.


Alloh menguji insan dengan jalan hidup yang berliku, agar diri mengenal makna disebalik kehidupan.


Ada kalanya kita salah, gagal dan kecewa menghadapinya, mengeluh dengan apa yang disebut sebagai Takdir.


Namun tanpa kita tahu, sebenarnya Alloh selalu membuka ruang yang besar untuk kita kembali bangkit dan membangun masa depan.


Bagaimana saja bentuk masa lalu yang telah dihadapi, akan ada hikmah buat pegangan diri, agar kita menjadi Insan yang lebih baik lagi.

__ADS_1


__ADS_2