
...Happy Reading...
Sedari pagi, perut Ratu bahkan belum terisi karbohidrat sama sekali, entah kenapa perutnya terasa enek sekali saat melihat sarapan yang sudah dibuatin asisten rumah tangganya.
" Ratu... Kamu kenapa nggak makan?" Tanya ibu mertuanya saat dia hanya minum teh hangat saja sedari tadi.
" Ratu belom lapar buk, nanti saja Ratu makan sendiri?" Ucap Ratu denan tidak bersemangat.
" Kenapa? Kamu mau makan apalagi, jangan yang aneh-aneh ya, ini masih pagi?" Panji yang dari kemarin sudah uring-uringan sendiri karena permintaan makanan dari Ratu langsung paham, pasti akan ada makanan aneh lagi yang dia inginkan.
Dih... Nanyanya gitu banget, cuma dimintain makanan aja kayak dimintain emas berlian, omongannya nggak ngenakin banget, huh...aku juga bisa nyari sendiri.
Entah mengapa Ratu menjadi sosok yang sensitif sekarang, biasanya dia tidak perduli dengan omongan ketus suaminya, karena memang sudah wataknya seperti itu kalau tidak ada maunya.
" Enggak.. Nggak ada kok!" Bahkan mata Ratu sudah terasa memanas saat ini.
" Ratu... Bilang sama ibu, kamu sukanya makan apa? Nanti biar ibu bilang sama bibi."
" Biasanya dia juga pemakan segala buk, apa aja dia makan."
Panji seolah kembali mengucapkan kata-kata yang menyakitkan bagi Ratu, walau biasanya Ratu cuek dan tidak pernah tersinggung, tapi kali ini Ratu merasa tidak terima.
" Aku mau ke depan dulu buk, mau cari udara segar."
Ratu langsung bangkit dari meja makan dan memilih pergi ke teras rumah itu karena kesal melihat suaminya sendiri.
" Istrimu kenapa?"
Ibu Panji yang melihat mereka bergaduh biasanya memang tidak asing, tapi kali ini dia melihat Ratu beda, biasanya dia langsung membalas ucapan Panji tanpa segan dihadapan ibu Panji, dan sekarang Ratu memilih mengalah dan pergi, itu bukan kebiasaannya sama sekali.
" Nggak tahu buk, akhir-akhir ini sering minta makanan atau minuman yang aneh-aneh." Umpat Panji sambil meneruskan memakan sarapannya.
" Dia mual-mual atau muntah nggak saat bangun tidur?"
" Enggak, emang kenapa?" Tanya Panji heran.
" Jangan-jangan Ratu hamil?"
" Hamil? Masak iya sih buk, kayaknya enggak deh?"
" Kok kamu kayak nggak yakin gitu, emang kamu nggak pernah menyentuhnya?" Ibu Panji langsung melirik tajam kearahnya, orang dia setiap pagi melihat rambut Ratu pasti basah pikirnya.
" Apaan sih buk?" Panji langsung terlihat malu-malu.
" Kamu tidak pernah menanam saham dengan Ratu begitu?"
" Tiap malam buk!" Panji malah keceplosan bicara.
" Ya sudah, ada kemungkinan dia hamil, apalagi kalau dia lebih sensitif dengan makanan, biasanya itu tanda-tandanya."
" Hah? Jadi aku sudah berhasil buat anak buk?" Dia masih belum percaya dengan keperkasaan dirinya sendiri.
" Mana ibuk tahu, bulan ini Ratu sudah datang bulan belum, emang tiap malam kamu garap nggak?"
" Iya dong, wajib dilaksanakan itu, apalagi kalau pagi buk, mana cuaca dingin banget ditambah sering hujan, mau ngapain lagi kan, ketimbang masuk angin, mending juga olahraga pagi." Karena terlalu exited dia malah ngoceh dengan gamblangnya.
" Astaga... Sejak kapan kamu nggak ada malunya begini?" Ledek ibu Panji.
" Ngapain mesti malu, ibu juga pasti kayak begitu sama ayah kan?" Dia malah berani-beraninya membalikkan perkataan itu.
" Hush... Kamu ini, ya sudah.. Kamu lihat sana istrimu, tanyain dia mau minta apa, wanita kalau sedang ngidam karena hamil itu sensitif, jadi gampang baperan!"
" Siap buk, hebat kan aku buk!"
" Hebat apanya?"
" Sudah bisa bikinin cucu buat ibuk!"
" Hmm... Padahal dulu marah-marah, berontak, nggak terima mau dijodohin sama Ratu, eh... ternyata?" Ibu Panji langsung menyindirnya tentang kisah awal mereka dulu.
" Hehe... namanya juga Takdir, siapa yang bisa melawannya?"
" Bukan takdir, tapi kamu memang nggak bisa lihat yang mulus-mulus dianggurin kan?"
" Rezeki masak di tolak? Apalagi masih seger, beuh... Lagi ganas-ganasnya umur segitu buk, hehe." Jawab Panji yang membuat ibunya langsung geleng-geleng kepala.
" Ya sudah sana, samperin istri kamu, sebelum kamu kena semprot dengannya."
Panji tak lagi kesal dan cemberut karena tingkah Ratu, ada rasa yang sulit digambarkan saat akhirnya dia bisa memberikan keturunan di keluarga Panji.
" Ratu, kamu dimana?" Panji mencari-cari istrinya disekitar taman di depan rumahnya.
" Hiks.."
Terdengar isakan tangis di pojokan taman yang membuat Panji langsung berlari ke sana.
" Ratu... Ada apa? Kamu kok nangis?"
" Nggak papa, sudah sana mas masuk aja!" Ratu langsung melengos dan mengusap air matanya yang menitik.
" Hei... kamu kenapa? Cerita dong sama mas?" Panji langsung merengkuh bahu istrinya.
" Aku baik-baik saja kok, sana masuk, aku mau sendiri disini."
...Kamus wanita...
...Iya belum tentu iya, tidak belum tentu tidak, iya kadang tidak dan tidak kadang juga iya....
" Sini.. Sini mas peluk, apa perkataan mas tadi melukai hatimu?"
Dan pelukan hangatlah solusinya, karena wanita itu terkadang tidak butuh kata tanya, yang mereka inginkan lebih ke perlakuan yang manis dan romantis, pasti hatinya akan segera meleleh seperti es krim yang terkena sinar matahari.
" Hiks.. Hiks.."
Tidak ada jawaban atas pertanyaan Panji, yang ada hanya isakan tangis saja.
" Maafkan mas ya? emang kamu pengen makan apa sayang, biar mas beliin."
Dan kata sayang terkadang mampu menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan hati yang tergores dengan sebuah perkataan.
" Sempol ayam."
Nah kan? Apalagi itu?
Panji mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia yang jarang jajan cemilan seperti itu mana tahu sempol ayam itu apa.
" Itu makanan apa sayang?"
" Makanan manusia lah, tapi aku maunya yang dijual di dekat Kampus."
" Aduh... jadi mas harus kesana? Tapi sempol ayam yang kayak apa sih bentukannya?"
" Mas beneran nggak tahu sempol ayam itu kayak apa?"
" Kalau ayamnya saja mas tahu, tapi kalau pake sempol mas beneran nggak tahu?"
" Ckk... Sama aja bohong, ya sudah aku suruh Melody aja yang beli."
" Good wife, kalau begitu kita masuk ke dalam yuk, mas ada jadwal zoom pagi sampai siang nanti."
" Mau dibuatin sesuatu nggak untuk mengisi perut?"
" Nggak mau!"
__ADS_1
" Ya udah kalau nggak mau, lagian mas sudah berhasil mengisi perut kamu dengan sesuatu yang berharga, hehe.."
" Apaan?"
C U P
" Mas masuk duluan ya, kalau ada apa-apa, panggil mas okey?"
Panji memilih meninggalkan kecvpan di kening istrinya, daripada nanti dia banyak tanya, sedangkan sebentar lagi ada jadwal ngezoom, rencananya nanti sore baru dia akan membawa istrinya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.
Waktu berlalu begitu cepat, namun Ratu belom mau mengisi perutnya selain sempol ayam, sedangkan Panji masih berada diruang tengah dan didepan layar laptopnya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang dosen.
" Ratu!"
Akhirnya sosok yang ditunggu-tunggu telah tiba, Melody datang bersama Arga dan Hugo.
" Mana sempolnya?"
Sebenarnya dia juga heran kenapa Melody bisa datang diantar oleh dosen favorit mereka, namun sempol ayam lebih penting saat ini bagi Ratu, jadi dia menanyakan pesanannya terlebih dahulu.
Astaga... Mana tadi dimakan sama Hugo lagi?
" Hugo.. Sempolnya tadi masih ada nggak?" Melody langsung berbisik ke arah bocah kecil yang berada dalam gendongan Arga.
" Tadi katanya Hugo boleh memakannya?" Ucapnya dengan wajah yang sudah lesu karena sedang mengantuk.
" Iya boleh, tapi tadi kakak kan beli banyak, sisanya buat tante Ratu ya?"
" Nggak boleh?"
" Apaan sih itu?" Arga hanya bisa memicingkan kedua matanya ke arah Ratu, dia pun sama tidak tahu apa itu sempol ayam.
" Hugo... Besok kakak beliin lagi yang banyak, tapi sekarang kasih dulu buat tante Ratu ya?"
" Ya sudah deh... nih tinggal satu tusuk, buat tante Ratu, kasian nanti dia nangis."
Hugo dengan santainya memberikan satu tusuk sempol itu kearah ratu yang kedua matanya sudah mulai memerah.
" Maaf ya Ratu, besok aku beliin lagi, tadi ada banyak kejadian yang tidak aku sangka, tapi ini rujak es krimnya ada kok, nah makan sana?" Dengan senyum yang dipaksakan Melody menyerahkan satu kantong kresek rujak eskrim yang mungkin sudah jadi air.
" Hiks.. Hiks... Mas!"
Ratu langsung berjalan cepat masuk kedalam rumahnya dan meninggalkan Ketiga orang itu yang masih memaku ditempat.
" Pak Arga, kayaknya Ratu marah deh, pesanannya aku kasihkan ke Hugo, kalau boleh minta tolong nih, anterin aku balik ke kampus boleh, buat beli sempol lagi."
" Tapi Hugo sudah ngantuk ini, karena jam segini biasanya dia tidur?"
" Waduh... Gimana ya?"
" Ya sudah, kita balikin dulu Hugo, biar dia tidur di rumah, setelah itu kita cari sempol ayam itu, ckk... Entah makanan apa itu, aku pun tidak berselera memakannya." Umpat Arga yang langsung menggendong kembali tubuh putranya dan mengajak Melody mampir ke rumahnya dulu.
" Hiks... hiks... Mas Panji!"
Ratu akhirnya berlari kearah ruang tengah untuk mencari keberadaan suaminya.
" Eh.. Eh.. Ada apa Ratu?" Panji yang mendengar suara istrinya yang sedang menangis langsung memutarkan kursinya.
" Astaga, emang apa yang kamu tunggu?" Panji pun sontak membalas pelukam istrinya.
" Sempol ayam, tapi udah dihabisin sama Hugo, hiks.. Hiks.."
" Ya ampun, sini mas peluk, nanti kita beli lagi ya, tapi jangan nangis begini?" Panji mengusap Ratu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
" Tapi aku mau sempol yang itu!"
" Utututu... Kasian sayangku, nanti kita bisa beli lagi setelah jam ngezoomnya selesai okey?"
" Ayang belum selesai ngajar?" Ratu langsung merengangkan pelukannya.
" Belom."
" Piwwit."
Ternyata para mahasiswa itu seolah sedang melihat layar tancap online, mereka sengaja tidak bersuara tadi karena ingin melihat keuwuwan seorang Panji yang terkenal menjadi dosen paling killer di kampus itu.
" Eh... Astaga!"
Panji langsung menutup laptopnya, tadi dia terkejut karena Ratu tiba-tiba menangis, jadi sontak dia menoleh kearah istrinya dan melupakan kamera yang masih terbuka dari laptopnya.
" Habislah sudah! Kemarin cuma pak Arga doang nggak masalah, ini satu kelas bapak melihat semuanya, semakin banyaklah gosip diantara kita, hiks..hiks..."
" Sudah dong, jangan menangis terus Ratu!"
" Tapi mau sampai kapan kita menghindar begini, bukannya hilang gosip malah nambah lagi?"
" Biarkan saja, lagian kamu juga bentar lagi cuti kuliah."
" Benarkah? Berapa hari ayang?"
__ADS_1
Begitu mendengar cuti kuliah, dia langsung sumringah, dalam prediksi Ratu mereka akan pergi jalan-jalan pastinya.
" Satu tahun atau dua tahun mungkin?"
" Hah? Lama amat emang kita mau keliing dunia?"
" Enggak."
" Jadi?"
" Nunggu sampai dedek dalam bayi kamu ini sudah besar, baru lanjut kuliah lagi."'
Panji mengusap lembut perut Ratu yang memang terlihat berisi.
" Hah? Dedek siapa?"
" Dedek kita lah, masa dedeknya kucing, kamu ini?" Panji menyentil kening istrinya.
" Emang aku hamil mas?"
" Prediksi ibuk sih iya, makanya kamu cepat bersiap kita cek ke dokter biar lebih tahu pasti, okey?"
" Aaaaaaaaa... Aku jadi gendut dong nanti, hiks.. Hiks.."
" Nggak papa, biar kamu gendut mas tetep sayang."
" Bohong!"
" Serius Ratu."
" Tapi aku belum siap ayang!"
" Kenapa belum siap?"
" Aku kan masih pengen wisuda, trus ngerasain masuk dalam dunia kerja, trus bisa puasin jalan-jalan dulu."
" Jadi kamu nggak mau jadi ibu dari anak-anakku? Awas turun kamu!" Panji langsung menurunkan Ratu dari pangkuannya.
" Bukan begitu Ayang."
" Sana... Jauh-jauh dari mas, katanya sayang, ternyata semua itu palsu."
Giliran Panji yang terlihat ngambek, bagi dia umurnya yang sekarang ini memang sudah pantas menjadi seorang ayah.
" Kok malah jadi mas yang ngambek?"
" Ya sudah terserah saja, mas nggak mau perduli lagi denganmu, orang kamu aja kayak nggak sudi gitu hamil anak aku."
" Astaga, kalau aku beneran hamil aku terima mas, jangan begitu?"
" Kalau begitu kita berangkat periksa sekarang, mau atau tidak?"
" Mau kok, tapi peluk dulu."
Ratu terlihat keakutan saat Panji terlihat merajuk dan ingin menjauh darinya.
C U P
" Hehe... sini... sini... Sayangnya mas, masak seneng buatnya kok nggak mau sama hasilnya, nggak baik itu."
Panji langsung menghujani kecvpan diwajah istrinya yang kembali mewek.
Ratu sebenarnya memang belum siap, di umurnya yang masih dua puluh tahunan, dia sudah mengandung dan akan memiliki anak, namun hatinya sungguh tidak rela jika Panji menjauh darinya, jadi walau belum ikhlas namun dia berusaha menerima dengan lapang dada.
*Hal yang pahit dalam hidup memang terkadang sering menyakitkan, namun kehidupan memang tidak selalu menawarkan tentang keindahan*.
*Kebutuhan paling dasar dalam hubungan manusia adalah kebutuhan untuk memahami dan dipahami*.
*Jika kau tidak ingin diragukan, maka tumbuhkanlah kepercayaan, tepati janjimu dan hilangkan sikap yang membuat orang meragukanmu*.
*Sederhana dalam mencintai, ikhlas menerima kekurangan, dan setia dalam menjalin hubungan, itulah kuncinya*.
__ADS_1