Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
73. Ora masalah.


__ADS_3

...Happy Reading...


Panji benar-benar nekad terus menggandeng jemari Ratu dari parkiran mobil menuju ruangan miliknya, dengan melewati puluhan mahasiswa yang sontak menoleh kearah mereka dengan segala opini masing-masing.


Kini Ratu yang malah merasa ketakutan sendiri, jika hubungannya dengan Panji sampai diketahui oleh publik, apalagi dia ternyata sudah menikah dengan dosen yang paling ditakuti di Kampus itu.


" Ssstt... Pak, lepasin dulu ini, tolong jangan begini?" Ratu bahkan tidak berani menoleh ke kanan dan ke kiri, dia memilih menundukkan pandangannya saja.


" Kalau sudah begini saja kamu minta tolong, siapa suruh kamu berani dekat-dekat dengan pria lain!" Umpat Panji dengan tatapan lurus ke depan.


" Itu karena bapak sendiri yang menurunkan aku di pinggir jalan kan?" Ratu langsung saja protes karenanya.


" Bukannya kamu yang memintanya tadi, makanya kalau ngomong atau mau ngapain aja itu dipikir dulu, jangan ngawur aja bisanya!"


" Tapi aku nggak ngapa-ngapain sama bang Juna pak, beneran deh!"


" Masuk kamu!"


Akhirnya Ratu langsung ditarik kedalam ruangannya dan Panji langsung saja mengungkungnya diantara kedua lengan kokohnya di sudut ruangan.


" Pak, kok marahnya jadi beneran sih?" Ratu malah keakutan sendiri saat melihat wajah Panji sudah memerah.


" Kamu tahu kan kalau Arjuna itu ada rasa denganmu, kamu sengaja mau memberikan harapan palsu dengannya? Atau kamu memang berharap lebih dengannya?" Panji langsung menarik dagu Ratu agar wajahnya terarah kepadanya.


" Enggak loh, beneran tadi maksudnya cuma mau numpang doang sampai kampus!" Ratu ingin memundurkan kepalanya, namun apa daya, dia terhimpit di tembok.


" Atau kamu memang sengaja mendekati Arjuna ya, kenapa bisa kebetulan gitu? Bahkan saat di Bukit perkemahan hari itu kamu bisa bertemu dengannya, atau saat itu kamu juga sengaja mau nempel-nempel dan berduaan sama dia dibelakang aku?" Panji langsung menghubungkan dengan kejadian hari itu.


" Aku beneran nggak tahu pak, kalau mereka juga punya kegiatan disana!" Jawab Ratu dengan jujur, walaupun setelahnya memang dia berniat untuk membuat suaminya cemburu.


" Kita hanya berdua, panggil yang bener!" Panji semakin mendekatkan wajahnya ke arah Ratu.


" Bapak cemburu ya? Cie... Bapak bisa juga jadi bucin ternyata?" Ratu malah sengaja meledeknya.


" Ratu, mas lagi ngomong serius sama kamu, bisa nggak jangan bikin aku tambah emosi." Panji semakin kesal karenanya.


" Jadi mas marah kalau aku dekat dengan pria lain?"


" Jelas marahlah, kamu itu sudah bersuami, tidak pantas kamu berduaan dengan pria lain!" Umoat Panji dengan mata yang sudah melotot.


" Lalu apa pantas jika mas berduaan dan berbagi perhatian dengan mantan kekasih, walaupun dia adalah kakak iparnya sendiri?" Saat punya kesempatan, Ratu langsung mengeluarkan unek-uneknya selama menikah dengannya.


" Ratu, itu lain ceritanya!"


" Kalau mas ingin aku menjaga hatiku untuk mas seorang, mas harus bisa juga menjaga diri dari wanita lain, walau itu dengan kakak ipar sendiri!" Kedua mata Ratu langsung memanas saat mengingatnya, entah mengapa dia sesedih itu saat mengingatnya, mungkin karena Ratu sudah sangat menyayangi Panji dan takut akan kehilangan dirinya.


" Jadi kamu cemburu dengan kakakmu sendiri?" Panji mengusap rambut Ratu perlahan.


" Ya iyalah, apalagi diantara kalian ada kisah yang belum kelar, coba deh... Mas posisikan diri mas, jika mas ada di pihakku, gimana rasanya coba?"


" Ratu, tapi hubungan kami memang sudah berakhir, saat itu aku hanya kasian saja melihat kakakmu, masak iya aku diam saja saat melihat kakakmu kesakitan, aku ini lelaki Ratu." Panji mencoba menjelaskan perlahan-lahan.


" Tidak ada yang memiliki porsi lebih besar dalam menjaga hati. Setiap pasangan memiliki peran yang sama untuk saling menjaga, apakah dia laki-laki atau perempuan, tidak ada bedanya." Ratu tidak menerima alasan apapun tentang itu.


" Mas nggak tega aja Ratu, dia cuma minta diusap perutnya, mas tahu kakakmu juga pasti dalam kesulitan saat itu."


" Mudah atau sulitnya menjalankan sebuah hubungan tergantung bagaimana cara kita dalam menjaga hati."


" Ratu?" Panji seolah tidak bisa lagi berkata apa-apa, dia tidak menyangka jika kebaikannya kepada orang lain, ternyata disalah artikan oleh istrinya.


"Jika mas tidak ingin diragukan, maka tumbuhkanlah kepercayaan itu, tepati janji mas untuk bisa setia dengan satu wanita dan hilangkan sikap yang membuat orang meragukan diri mas." Ratu memalingkan wajahnya agar tidak bersitatap dengan Panji secara langsung.


" Mas minta maaf denganmu akan hal itu, tapi kalau tentang Arjuna mas tetap tidak terima."


" Emangnya aku bisa terima jika mas berduaan dengan kak Gendhis?" Ratu langsung membalikkan kata-kata suaminya.


" Mas nggak sengaja hari itu Ratu, tolong maafkan mas!"


" Nggak sengaja kok lama, nyebelin banget!"


" Tapi masa nggak ngapa-ngapain juga loh, kamu ini jangan coba-coba memojokkan mas karena kesalahanmu hari ini ya?" Panji langsung memicingkan matanya kearah istrinya.


" Kalau mas mengulangi hal itu lagi, aku bahkan bisa lebih parah dari itu mas." Bukan hanya suaminya, dia pun bisa mengancam.


" Maksud kamu apa?" Panji langsung waspada, dia kembali dibuat ketar-ketir oleh mahasiswa yang sedari dulu paling bisa membuat emosinya naik turun.


" Kalau mas memang susah sekali move on dari kak Gendhis, aku tidak akan memaksa mas untuk terus berada di sisiku, kembalilah dengannya, lepaskan aku, biar aku pergi dan mencari kebahagiaan aku sendiri!"


C U P


" Hmpth, mas... Lepas!"


Entah setan apa yang seolah merasuki diri Panji kali ini, dia begitu marah saat istrinya mengatakan hal itu.

__ADS_1


" Mas... Hmpth, jangan begini!" Ratu mencoba berontak namun tenaganya tidak seberapa jika dibandingkan dengan otot kekar suaminya.


" Tarik kata-katamu untuk pergi dariku! Aku tidak akan pernah membiarkan kamu lepas dariku, sampai kapanpun itu, mengerti kamu Ratu!" Panji benar-benar marah akan hal itu.


" Tapi mas?"


C U P


Panji kembali melahap bibiir istrinya dengan rakus, bahkan tanpa kelembutan sama sekali, dia seolah tidak terima Ratu mengatakan hal yang paling dia benci.


Bahkan sampai lipstik Ratu berantakan sampai kemana-mana, begitupun dengan bibiir Panji yang sudah berwarna merah karena terlalu ganas mencivm bibir istrinya.


" Mas...sudah dong, hmpth!"


" Tarik kata-katamu tadi!" Panji langsung menautkan kening mereka.


" Apaan sih mas, hmpth!" Saat Ratu masih mencoba protes, Panji kembali melakukan aksinya tanpa ampun.


" Jangan pernah berfikir akan pergi dari mas, ngerti nggak kamu!" Bahkan tangan Panji langsung gemetaran, kali ini dia benar-benar takut akan kehilangan Ratu.


" ASTAGA, PAK PANJI?"


Tiba-tiba terdengar suara rekan dosen Panji yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


" Hah? Bu dosen?" Ratu langsung mendelik dan mencoba mendorong tubuh suaminya.


" APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN DISINI"


Bu Mirna yang juga adalah dosen Ratu, tidak sengaja mendengar sedikit keributan dari ruangan Panji, apalagi pintunya tidak tertutup terlalu Rapat, jadi dia bermaksud ingin mengintip saja tadi.


Karena Panji dan Ratu sama-sama tersulut rasa emosi tadi, jadi mereka tidak terlalu memperhatikan sekitar.


Mampus, gawat ini, mana ketahuan sama dosen yang terkenal paling julid lagi.


Ratu langsung mengumpat dengan kesal, dia sungguh tidak menyangka jika akhirnya seperti ini.


" Eherm.. Bu Mirna maaf, ini tidak seperti yang anda pikirkan." Ucap Panji sambil membenahi kemeja yang dia pakai.


" Sstt... Pak usap dulu bibiir nya, itu merah-merah semua kena lipstrikku!" Bisik Ratu perlahan, tapi sudah pasti bisa didengar oleh Bu Mirna disana.


" Astaga, gimana ini kok susah hilangnya?" Panji langsung mengusap bibiirnya dengan dasi miliknya, namun masih saja ada yang terasa menempel.


" Kalian berdua ini, berani-beraninya berbuat mesvm di wilayah kampus ya, pak Panji ini Dosen loh dan kamu mahasiswa kan Ratu, kenapa melakukan hal ini di kampus kita?" Sang Ratu julid seolah mendapatkan info paling panas saat ini dan tidak akan menyia-nyiakan sedikitpun tentang mereka.


" Saya memang sudah salah besar bu dosen, tapi tadi kami sungguh tidak berbuat apa-apa, kami hanya..."


" Sudahlah, pokoknya akan aku laporkan perbuatan kalian berdua kepada bapak Rektor." Bu Mirna seolah tidak mahu tahu, dia hanya ingin mencari muka saja dengan Rektor di kampusnya.


" Tapi buk?" Ratu langsung merasa gelisah sendiri, bukan karena ketemu dengan Rektor, tapi takut jika kabar mereka nanti langsung tersebar di area kampus.


" Huft, ya sudah... Laporkan saja, ora masalah buk, aku tunggu kabar selanjutnya, rencananya kita mau ngobol dimana buk? diruangan ini atau di ruangan pak Rektor sekalian?" Panji pun terlihat santai saja, dia sama sekali tidak khawatir akan hal ini.


" Disini saja, biar semua orang tahu kalau kalian berdua berbuat mesvm di ruangan ini."


Rekan dosen Panji langsung berjalan terburu-buru meninggalkan mereka berdua dan menuju ke ruang Rektor.


" Kamu sih mas, aku kan sudah menolak tadi!" Ratu langsung mencubit pinggang suaminya dengan kesal.


" Sudahlah, tidak apa-apa, lagian bukannya Rektor kampus ini adalah paman kamu?" Ucap Panji dengan senyum tipisnya.


" Owh iya juga sih, tapi kan mulut Bu Mirna itu lemes banget pak, bisa-bisa dalam satu jam berita kita sudah tersebar di area kampus!" Itu yang dia takutkan selama ini.


" Biarkan saja, mungkin sudah saatnya mereka tahu semua tentang kita kan?" Panji malah merasa tenang jika pernikahannya diketahui oleh semua orang di kampus itu.


" Trus mas gimana nanti, mau dipindah tugaskan?"


" Tidak masalah, jangan terlalu dipikirkan, apapun resikonya mas yang akan menanggungnya." Jawab Panji dengan mantap.


" Haduh... Habislah aku!" Ratu masih saja mengumpat kesal.


" Kenapa harus habis? Kamu kayak yang sedih banget? Takut jika fans kamu hilang gitu?" Panji langsung tersenyum miring karenanya.


" Itu salah satunya!" Jawab Ratu tanpa sadar.


" Awas kamu ya! Tahu gitu aku kasih tahu semuanya dari awal, biar kamu nggak keganjenan sama semua pria di kampus ini, terutama sama Arjuna!"


" Aku benci sama mas!" Ratu pura-pura marah.


" Apa kamu bilang!" Panji langsung memiting leher Ratu namun sambil memeluk tubuhnya dari belakang.


" Aaa... Lepas mas!"


" Bilang sayang dulu sama mas!" Pinta Panji dengan manja.

__ADS_1


" Nggak mau!"


C U P


Panji langsung menghujani kecvpan diseluruh wajah Ratu karena terlalu kesal.


" ASTAGA PAK PANJI!"


Ternyata Bu Mirna sudah muncul lagi di ruangan itu dengan ditemani oleh Rektor di kampus itu.


" Tuh kan pak, lihatlah kelakuan mereka, sungguh tidak pantas dilakukan oleh Dosen dengan mahasiswinya!"


" Ckk... Ternyata kalian berdua? Panji, Ratu... Lain kali lanjutkan dirumah saja, jangan begini di Kampus ya!" Rektor sekaligus paman Ratu hanya bisa menghela nafas beratnya saja, sambil menggelengkan kepalanya.


" Baik pak Rektor." Jawab Mereka serentak.


" Hah? Dirumah? Maksudnya gimana? Mereka tidak jadi mendapatkan sanksi gitu pak?" Bu Marni terlihat sangat kecewa.


" Sudahlah Bu Mirna, saya sudah memperingatkan mereka tadi." Jawab Pak Rektor dengan santai.


" Tapi itu tidak pantas pak?" Bu Mirna masih kekeh dengan pendapatnya.


" Mereka itu suami istri yang sah dimata hukum dan agama, lagian juga mereka melakukannya di dalam ruangan Pak Panji kan, bukan ditengah-tengah Aula Kampus?"


" Apa? Mereka suami istri?" Bu Mirna semakin syock mendengarnya.


" Mari buk kita keluar, mereka pasti tidak akan mengulanginya lagi dan pak Panji nanti setelah selesai mengajar temui aku di ruanganku!"


" Baik pak." Panji langsung menggangukkan kepalanya patuh.


Akhirnya Bu Mirna pun dengan berat hati meninggalkan ruangan itu, walau sebenarnya dia masih penasaran dengan status hubungan mereka.


" Huft... Pasti sebentar lagi gosip kita sudah menyebar ini mas!"


" Biarkan saja, biar semua orang tahu, kalau kamu hanya milikku seorang!"


" Aaaaa... Mas nyebelin, folowers aku pasti akan berkurang setelah ini."


" Kamu ini, bisa-bisanya mikirin folowers, harusnya kamu itu memikirkan suamimu ini."


" Mas aja nggak mikirin perasaanku! Ngelus-elus perut kak Gendhis, memperebutkan kak Gendhis, sok perhatian dengan kak Gendhis, bahkan didepan kedua mataku, hayow!"


" Alahay... Sini-sini mas peluk!" Panji malah semakin bahagia kalau Ratu semakin cemburu dengannya.


" Nggak!"


Grep!


Namun Panji tetap memeluk Ratu dengan paksa, dia sebenarnya bahagia, jika Ratu cemburu dengannya, itu berarti dia memang sudah jatuh hati dan tidak rela jika dirinya berdekatan dengan wanita lain.


" Mas janji, nggak akan deket-deket sama kakak kamu lagi, okey?" Bisik Panji sambil menyembunyikan wajahnya ditengkuk Ratu.


" Sama yang lain juga dong!"


" Iya."


" Iya apa!"


" Iya mas nggak akan dekat dengan wanita manapun selain kamu, tapi kamu juga nggak boleh tebar pesona dengan pria manapun, dan satu lagi."


" Apa lagi?"


" Jauhi Arjuna! Mas melarang keras kamu berbicara dengan dia, apalagi sampai berduaan dengan dia, mengerti kamu?" Panji seolah memberikan ultimatum kepada istrinya.


" Emm... Gimana ya? kalau itu nggak janji deh, soalnya bang Juna itu orangnya asyik, nggak nyebelin kayak mas!" Ledek Ratu dengan sengaja.


" Ratu! jangan menantangku, atau aku hukum kamu disini sekarang juga!" Tangan Panji langsung mere mas satu gunung merbabu milik istrinya dengan gemas, sebagai tanda sebuah peringatan.


" Aw... Aw... Mas!" Ratu langsung menjerit seolah merasakan kesakitan.


" Kenapa? Sakit ya?" Tanya Panji yang langsung terlihat khawatir dan merasa bersalah.


" Satu nya juga mau di pegang!" Bisik Ratu dengan gemasnya.


" Astaga Ratu, awas kamu ya!" Panji langsung menepuk keningnya sendiri, sambil terkekeh melihat kegilaan istrinya sendiri.


" Ahahaha... Ampun mas, aku cuma bercanda aja tadi."


Akhirnya mereka berdua malah berlari kejar-kejaran seperti anak kecil di ruangan Panji, tanpa memikirkan konsekwensi apa yang akan diperoleh Panji nanti, yang ada dipikirannya sekarang, dia hanya ingin rumah tangganya bahagia, tanpa orang ketiga.


Memang semua orang bisa bilang cinta, tapi tidak setiap orang mampu setia.


Orang hebat bukan dia yang memiliki banyak cinta, tapi dia yang bisa menolak kehadiran cinta lain demi pertahankan 1 cinta.

__ADS_1


__ADS_2