Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
14. Mengintip


__ADS_3

...Happy Reading...


Banyak yang bilang bahwa benci bisa menjadi cinta, tapi Ratu sama sekali tidak mempercayainya, karena menurutnya mau sampai kapanpun dia berdiskusi dengan dosennya itu, tidak akan pernah bisa membuat dia akur apalagi kompak.


" Mas Panji! kamu kesini mau ngapelin Aku apa Ratu!" Tiba-tiba Gendhis datang dari arah tangga dengan tatapan yang seolah tidak suka.


" Hidiih... siapa juga yang mau diapelin sama pak Panji, bisa-bisa aku dikasih tambahan tugas segudang!" Umpat Ratu yang langsung melengos setelah melirik dosennya itu sekilas.


" Apalagi bapak, melihat tingkah kamu dikampus setengah hari saja sudah bikin pusing kepala, mana yang boloslah, yang datang telat, sering lupa buat tugaslah, jawab kuis selalu asal-asalan dan kalau sampai ditambah semalaman lihat kamu lagi, bisa keriting rambut bapak."


Panji pun tidak mau dikalahkan begitu saja, karena memang dia selalu dibuat kesal oleh tingkah Ratu yang seolah tidak perduli dengan pendidikannya.


" Kalian nggak bersandiwara didepan aku kan?" Gendhis mencoba menelisik ucapan mereka berdua, entah mengapa dia malah sedikit curiga, karena menurut pendapatnya, perasaan cinta itu bisa muncul kapan saja, bahkan dengan musuh sekalipun.


" Hello? owh my sister, sini aku bisikin." Ratu langsung menjentikkan jemari lentiknya kearah kakaknya.


" Apaan?" Dan Gendhis pun tanpa sadar menuruti tingkah adeknya yang absurd itu.


" Asal kakak tahu ya, pria idamanmu itu bukan tipeku sama sekali, it's not my style right!" Ucap Ratu dengan gayanya yang Menthel.


" Heleh... gayamu itu!"


Gendhis langsung meno yor kepala adeknya yang memang selalu saja berbeda pendapat dengannya, dan itulah alasan mengapa mereka setiap hari selalu saja beradu pendapat terus, walau setelahnya mereka kembali baikan lagi, seolah tidak terjadi apa-apa, karena memang begitulah jalinan tali persaudaraan.


" Sorry mayori ya kak, gaya aku emang keren dari dulu, kalau begitu selamat bersenang-senang dengan kulkas tujuh pintu, kalau masih kurang dingin lagi, congkel aja tuh kulkas di dapur, haha!"


Seperti biasa, Panji pun hanya bisa tersenyum masam jika Ratu sudah memperlihatkan tingkah tengilnya.


" RATU!" Gendhis langsung berkacak pinggang saat wajah adeknya terlihat mengejek pria idamannya.


" Bye, hahaha.."


Ratu langsung berlari kedalam kamarnya dengan tawa yang menggelegar, meninggalkan sepasang muda mudi yang sedang merasakan apa itu Kasmaran.


" Gendhis... gimana kalau sekarang kita makan diluar?" Saat mereka tinggal berdua, Panji langsung memulai strategi yang sudah dia susun sebelumnya.


" Gimana ya mas, aku capek banget deh kayaknya?" Gendhis langsung memijat lengannya sendiri.


" Sebentar aja kok, cuma dinner saja, tempatnya juga dekat kok dari sini, setelah itu kita bisa langsung pulang."


" Haduh... gimana ya mas, tapi badan aku pegel semua, soalnya tadi ada beberapa jadwal operasi dadakan, kalau malam ini kita ngobrol di teras depan rumah aja gimana, deket taman samping itu, bisa sambil lihat bulan purnama, ya kan?"


Aku tidak boleh memaksanya, nanti dia bisa illfeel lagi sama aku, sabar Panji... wanita itu memang tercipta untuk menguji kesabaran kita.

__ADS_1


" Hmm... ya sudahlah, kita ngobrol diluar, owh iya ini bunga buat kamu." Sebenarnya Panji sedikit kecewa, karena dia sudah memesan restoran untuk menikmati malam spesial bersama Gendhis malam ini.


" Wah... makasih loh mas, pake repot-repot bawa bunga segala." Gendhis langsung menerima buket bunga itu dengan senyum yang mengembang, walau sebenarnya dia tidak begitu suka dengan bunga, namun dia tidak mau membuat Panji kecewa.


" Sama sekali nggak repot, kamu terima saja aku sudah bersyukur banget."


" Apanya?" Gendhis sengaja menggoda pria incarannya itu.


" Akunya." Jawab Panji dengan santainya.


" Heh?"


Walau Gendhis sudah tahu maksud kedatangannya kali ini, namun sebagai wanita dia pura-pura tidak tahu, untuk sekedar mengujinya saja.


" Eherm... Gendhis, apa tawaran kemarin masih berlaku?" Walau masih ada sedikit keraguan, namun dia berusaha menepisnya dan sudah bertekad untuk menyatakan perasaannya malam ini.


" Tawaran apa?"


" Menjadi kekasihmu."


Karena dia sudah tahu perasaan wanita dihadapannya itu, jadi dia enteng saja saat menyatakannya.


" Hah? jadi mas mau nih?" Gendhis langsung tersenyum malu-malu, entah mengapa saat pertama kali melihat Panji hatinya langsung berdebar-debar, walau tampang Panji terkesan jutek, namun itu yang membuat dirinya seolah tertantang dan rasa ingin memiliki pria itu semakin besar dan menggebu.


Berr!


Astaga... Ratu nggak tahu aja, dibalik sifat dinginnya, ternyata dia romantis juga tahu, yess... akhirnya aku otw nggak jomblo lagi.


Sudah lama Gendhis tidak merasakan kata-kata sejuk dari seorang pria.


" Mas sudah yakin dengan keputusan itu? aku nggak mau loh jadi uji coba buat mas?" Gendhis hanya ingin memastikan saja, walaupun perasaannya datang secara singkat namun, dia tidak rela jika hubungannya juga harus berlangsung singkat.


" Yakin kok, aku juga bukan pria yang suka main-main soal perasaan, hal terbaik dan terindah di dunia ini memang tidak dapat dilihat atau sekedar didengar, tetapi harus dirasakan dengan hati, jadi jika hatimu sudah yakin denganku, aku pun akan begitu." 


" Aku cuma nggak mau mas kecewa aja nantinya, atau mas pikir aku terlalu memaksakan kehendak karena aku yang menyatakannya duluan?"


" Tidak ada kekecewaan yang mendalam, jika tidak ada cinta yang dalam."


So sweet banget dosen tampan yang satu ini.


Gendhis sangat puas dengan segala jawaban yang diberikan oleh Panji.


" Terima kasih atas kehadiran mas dihidupku saat ini, karena mas telah memberikan sebentuk rasa kebahagiaan untukku yang tidak ternilai. Jika boleh, aku ingin mas kelak menjadi teman hidup yang akan melengkapi dan menyempurnakan ibadahku."

__ADS_1


" Amin, jadi boleh sekarang aku panggil kamu sayang?" Panji langsung tersenyum dengan hati yang berbunga-bunga, karena beberapa langkah lagi dia akan mewujudkan keinginan terbesar dari Eyangnya.


" Hmm..."


Saat itupun angin malam berhembus sepoi-sepoi, seolah ikut memberikan ucapan selamat untuk dua insan yang sedang jatuh cinta itu.


Hingga dengan reflek mereka memiringkan kepalanya masing-masing dan mulai mengikis jarak diantaranya.


Akhirnya kedua benda mungil itupun saling menempel walau hanya sekilas, sebagai tanda bukti bahwa mereka sudah resmi berpacaran malam ini.


Klik!


" Yaelah... gitu doang, nggak ada seru-serunya, kayak pacaran anak ABG aja, kalah mantep kalian sama drama anak SMA!"


" RATU, KAMU NGINTIPIN KITA YA!"


Gendhis dan juga Panji sontak terlonjak kaget saat Ratu muncul dari arah belakang mereka.


" Huuuuu... kalian payah!" Ratu bahkan mengacungkan jempol secara terbalik kearah mereka.


" DASAR BOCAH TENGIL!"


" Coba ulang lagi deh kak, kurang seru ini rekamannya!"


Astaga... bahkan dia merekamnya!


" RATU, HAPUS NGGAK!"


" Dih... Hp punya gue, kenapa juga kalian yang sibuk!" Ucap Ratu dengan santainya.


" RATU!"


Gendhis tidak tahu lagi harus menghadapi kelakuan adeknya seperti apa.


" Bahahaha... kabur!"


Ratu langsung melompat dan berlari dari balik semak-semak rumput, yang ada dibelakang taman mini didepan rumahnya, meninggalkan kakak perempuannya yang seolah emosinya sudah sampai di ubun-ubun.


Sedangkan Panji hanya bisa memejamkan kedua matanya, antara kesal dan juga malu sebagai dosen yang seolah memberikan contoh yang buruk kepada anak didiknya.


... "To love unconditionally requires no contracts, bargains, or agreements. Love exists in the moment-to-moment flux of life."...


...(Untuk mencintai tanpa syarat, tidak perlu kontrak, tawar-menawar, atau kesepakatan. Cinta ada dalam arus kehidupan.)...

__ADS_1


__ADS_2