Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
35. Patah


__ADS_3

...Happy Reading...


Tim Wedding Organizer sudah terlihat sibuk wira-wiri mempersiapkan Gladi bersih untuk acara pernikahan besar-besaran di ballroom hotel berbintang itu besok tepat pukul Tujuh pagi.


Semua anggota kedua keluarga sudah berkumpul semua disana, untuk melihat sudah seberapa persen persiapan mereka besok, namun yang menjadi pertanyaan mereka semua, kenapa Gendhis belum juga hadir disana, padahal seharusnya mereka sekarang menggelar acara malam Mido dareni saat ini.


" Kakakmu kemana sih Ratu? jadi nikah apa enggak dia?" Ibu Ratu sedari tadi mondar-mandir melihat arah pintu masuk, namun Gendhis tak kunjung muncul juga.


" Manalah ku tahu buk, bukannya dari kemarin kita sibuk berdua, coba tanya aja sama calon suaminya?" Ratu hanya bisa menggedikkan kedua bahunya, karena dia memang tidak tahu keberadaanya.


" Gimana sih Gendhis ini, niat mau nikah apa enggak sih, kenapa yang ngurus pernikahan dirinya malah orang lain semua, sudah jam berapa ini, cepat kamu cari dia Ratu!" Ibunya semakin terlihat panik, bahkan dia sudah melepas high heelnya karena capek mondar-mandir sedari tadi.


" Mau cari kemana buk, anak gadis mana boleh kelayapan malam-malam." Ucap Ratu pura-pura menjadi wanita polos, karena dia pun bingung mau cari kemana perginya kakak perempuannya itu.


" Tante.. Gendhis kemana? dari tadi dihubungi ponselnya nggak aktif." Tiba-tiba Panji muncul diantara perdebatan anak dan ibuk itu.


" Jadi kamu juga nggak tahu perginya calon istrimu itu nak Panji?" Ibu Ratu semakin heran sendiri jadinya.


Dari kemarin dia memang sibuk mempersiapkan ini itu dengan Ratu, karena akhir-akhir ini Gendhis sering tidak enak badan, jadi dia sengaja di istimewakan, tidak boleh terlalu capek, takut kalau pas hari H nanti dia malah tumbang.


" Ratu, kemana kakakmu?" Tatapan Panji terlihat seperti orang sedang menodong.


" Aku tidak tahu pak, disini yang menjadi calon imamnya siapa coba?" Ratu langsung saja ngeles.


" Kamu ini, masak sama kakaknya sendiri nggak perhatian sih, dia kan sering meriang akhir-akhir ini, harusnya kamu selalu menemaninya?"


" Dia sudah dewasa pak, apa bapak juga lupa kalau dia seorang dokter? kenapa juga aku yang harus ribet, pak Arga nggak datang ya pak?" Disaat orang panik seperti ini pun dia masih sempat clingak-clinguk mencari keberadaan dosen favoritnya yang sudah dianggap sebagai keluarga Panji itu.


" Dih... kamu ini, orang lagi sibuk nyari kakak kamu, kok bisa-bisanya malah ngurusin Arga!"


Karena terlalu gemas, tanpa sadar Panji memiting leher Ratu, seperti biasanya, karena terlalu sering bersama, keduanya memang sudah tidak lagi merasa canggung, bahkan didepan orang tua Ratu sekalipun.


" Panji Abisatya, sebenarnya calon kamu siapa? adeknya atau kakaknya ini!"


Suara Eyang Romlah semakin membuat orang tua Ratu merasa tidak enak hati, karena disaat penting seperti ini Gendhis tidak ada ditempat dan Panji malah terlihat lebih dekat dengan adeknya.


" Sabar ya Eyang, mungkin calon istri Panji lagi di jalan, Eyang duduk aja dulu disana sama ayah, atau Eyang butuh sesuatu? biar Panji ambilkan?"

__ADS_1


Kalau sudah menyangkut tentang Eyang, Panji memilih tetap terlihat santai, walau sebenarnya hatinya juga terasa kalut, dia hanya takut jika Eyang nya semakin khawatir.


" Kamu jadi mau nikah nggak sih, gimana kamu ini cari calon istri? masak acara penting seperti ini dia tidak datang? kami sudah menunggu sedari tadi! niat nggak sebenarnya buat acara, masak kegiatan calon pengantin keluarganya juga tidak tahu!"


Sebenarnya Eyang Panji ingin menanyakan itu kepada ibu Panji secara langsung, namun dia segan, jadi lebih memilih menyindir saja, karena sedari awal dia memang sudah kurang srek jika Panji bersama Gendhis. Firasatnya selalu mengatakan, jika Gendhis bukanlah jodoh untuk cucunya.


" Eyang, kita tunggu sebentar lagi ya, kalau memang Gendhis berhalangan hadir, pasti ada alasan yang mendadak, jadi kalau cuma acara malam Mido dareni nggak jadi juga nggak papa kan Eyang, yang penting acara ijab Qobul besok pagi terlaksana, okey Eyang? ayok... Panji antar Eyang duduk bergabung bersama keluarga kita."


Panji langsung menuntun Eyang agar tidak memperkeruh suasana, dia juga tidak tega saat melihat ibu Ratu merasa gelisah dan juga merasa bersalah.


" Selamat malam semuanya."


Tiba-tiba suara Gendhis membuat semua orang disana menoleh kearah Pintu masuk.


" Ini dia Artis kita, dari mana aja sih kak, kita sudah lama loh nungguin kakak disini?" Ratu langsung saja nerocos seperti biasanya, karena gara-gara kakaknya dia juga kena imbasnya.


" Permisi."


Tiba-tiba muncul lagi seorang pria dibelakang Gendhis dengan senyum yang terlihat mempesona.


" Sayang, ngapain kalian berdua bersama? dari mana kalian?"


Panji langsung berada dalam mode marah, entah mengapa jika sudah melihat Broto perasaannya menjadi tidak tenang.


" Apa semua keluarga sudah berkumpul semua?"


Dengan wajah yang terlihat sembab dan mata yang masih memerah, Gendhis akhirnya memberanikan diri untuk mengungkap semuanya malam ini.


Dia dan Broto sudah sepakat mengatakan bahwa ini terjadi karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja.


" Ada apa sayang? apa terjadi sesuatu denganmu?" Panji langsung merasa aneh, dia mengusap bahu calon istrinya, namun bukannya menenangkan, tapi malah membuat hati Gendhis seolah terasa semakin hancur.


Namun apa yang terjadi dengannya memang tidak bisa disembunyikan terlalu lama, mau tidak mau dia harus mengatakannya malam ini juga, masalah yang lainnya Gendhis serahkan dengan keluarga besarnya nanti.


Apapun keputusan mereka, dia akan menerimanya walau mungkin terasa berat, namun setidaknya beban dihatinya sedikit berkurang.


" Ratu, kamu pesan dulu satu ruangan VIP di hotel ini, ada sesuatu yang ingin kakak sampaikan kepada kalian semua."

__ADS_1


" Baik kak." Ratu langsung bergegas pergi ke ruang receptionist, dia sudah menduga ada yang tidak beres dari kemarin, jadi tanpa bertanya apapun dia langsung saja melaksanakan perintah kakaknya.


" Sayang, ada apa?" Panji langsung menangkupkan kedua tangannya ke wajah calon istrinya yang terlihat terpuruk itu.


" Kita bicarakan semuanya didalam saja ya mas." Gendhis langsung melepas kedua tangan calon suaminya dan berjalan mendahuluinya untuk menyusul Ratu.


Suasana hatinya sedang kacau, dia tidak punya pilihan lain lagi kali ini, entah apapun yang terjadi nanti dia sudah menyiapkan mental walau tidak sekuat baja.


" Ngapain kamu duduk disini!" Panji langsung merasa tidak terima saat Broto memilih duduk disebelah Gendhis.


" Dih... ini juga berhubungan denganku!" Umpat Broto yang langsung menjelingkan mata tajamnya kearah Panji.


" Maksud kamu apa!" Tensi darah Panji seketika langsung naik tiba-tiba saat mendengarnya.


" Sudahlah mas, biarkan saja, mas bisa duduk disebelahku juga." Gendhis langsung menarik lengan Panji agar tidak memancing keributan disana.


" Werk!" Dengan gaya selekehnya Broto melengos sambil menjulurkan lidahnya ke arah Panji yang langsung melotot kesal.


Akhirnya seluruh keluarga sudah duduk berjalan mengitari kursi sofa besar disana, tatapan mereka semua terarah kepada tiga orang yang duduk dalam satu kursi panjang.


" Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada semuanya, tolong maafkan kesalahan dan kesilapan saya, tolong ampuni saya."


Belum apa-apa, Gendhis sudah menjatuhkan air matanya begitu deras, hatinya bahkan seolah patah berkeping-keping dan hancur lebur tak bersisa, membuat semua orang disana mempunyai praduga masing-masing.


" Sayang? kamu kenapa? ada apa? apa yang terjadi dengan kamu?" Panji semakin khawatir saja saat melihat wanitanya menangis pilu seperti itu.


" A... ak... aku ha... hiks.. hiks.."


Lidah Gendhis seolah terasa kelu, ada rasa tidak rela jika hubungannya akan hancur saat ini juga.


" Dia hamil anakku!"


DUAR!


Broto langsung saja berkata dengan lantang, karena sebenarnya dia juga tidak tega melihat Gendhis seolah terpukul saat ingin mengatakannya.


..."Lepaskan yang memang harus di lepas. Bukan karena kamu menyerah untuk mempertahankannya, melainkan kamu meyakini bahwa dari sebuah kehilangan, kelak akan datang sesuatu yang baik, yang mungkin tidak pernah kamu Sangka."...

__ADS_1


__ADS_2