
...Happy Reading...
Setelah mengetahui keadaan kakaknya sudah baik-baik saja, Ratu langsung diajak pulang oleh suaminya.
Panji tidak ingin berlama-lama disana, bukannya tidak khawatir, namun dia tidak ingin membuat Ratu terus salah paham dengannya, karena dia sendiri yang akan menerima akibatnya nanti.
" Ratu... mas capek, boleh nyender bentar nggak?"
Panji mulai bersikap sok imut saat mereka sudah berada didalam kamarnya.
" Nggak usah sok pura-pura lupa deh, mas lupa syarat kita apa, mulai sekarang jaga jarak satu meter dariku!" Ucap Ratu dengan tatapan sinisnya.
" Ampun dah, tega banget kamu Cil!"
" Kenapa sih kalian suka sekali manggil aku cal cil cal cil..., nggak abang ngak mas semua sama, Aku tuh udah nggak bocah kecil lagi sekarang." Ratu langsung menepis tangan suaminya yang ingin menyentuh dirinya.
" Masak?" Ledek Panji yang malah terkekeh saat mendengarnya.
" Ya iyalah... Bahkan sekarang aku sudah tahu bagaimana caranya untuk membuat bocil!"
" Coba tunjukin sama mas, gimana caranya sayang?" Panji tidak mau membuang kesempatan dalam bentuk apapun, dia bukannya marah, namun malah semakin gemas melihatnya.
" Dih...bukannya aku sudah pandai dalam berbagai gaya?"
" Iya... Mas percaya, tapi mas lupa, coba sini praktekin dong sama mas, jangan cuma teori aja dong bisanya?" Panji terus saja memancing Ratu saat dia mulai tertantang.
" Woo... Mas nyepelein aku ya!" Ratu langsung membuka kemeja yang dia pakai sekarang tanpa ragu-ragu.
Cihuyy... Aku nggak jadi puasa!
Panji merasa kegirangan dalam hati, dia tidak mau membuang waktu begitu saja, dan langsung ikut melepas kaos miliknya sendiri, agar segala serangan bisa mendarat dengan cepat.
" Ehh... Enak saja, bukannya mas lagi kena hukuman sekarang!" Ratu langsung kembali memundurkan tubuhnya.
Yaelah... Dia pake acara ingat lagi!
" Udah nggak papa, ganti waktu aja lain kali sayang." Pinta Panji yang langsung mengedipkan satu matanya.
" Ow... Tidak semudah itu Ferguso!" Ratu langsung menggoyangkan ibu jarinya sebagai tanda penolakan.
" Nggak baik loh, kalau kita teringin tapi ditahan-tahan, sini mas bantu bukain?" Panji tidak mau menyerah begitu saja.
Dasar cowok! Kenapa yang ada di otaknya itu cuma hal begituan aja, sebenarnya dia itu sayang sama aku beneran atau hanya karena nafsv sih?
" Sini sayang, kok malah diem aja?" Ucap Panji yang kembali merayu.
Baiklah... Akan aku buktikan saat ini juga!
" Mas... kita jadi pergi ke Villa nggak." Tanya Ratu yang mulai mengihkan pembicaraan mereka.
" Jadilah, tapi setelah iklan yang satu ini!"
Hap!
Karena sudah tidak sabar, Panji langsung melompat ke arah Ratu begitu saja.
" Eits... Sory ya perjanjian kita tetap berlaku!"
" Nggak bisa ditunda aja apa, lusa gitu yank!"
" Kalau mas nggak bisa menahan ha srat mas, itu berarti rasa sayang mas hanya sebatas nafsv belaka." Ucap Ratu yang selalu ragu karena hal ini.
" Kamu ngomong apaan sih Ratu, apa kamu tidak percaya denganku?" Tanya Panji yang langsung melemas.
" Gimana aku bisa percaya, kalau setiap kali mas melihat kak Gendhis selalu saja gagal move on."
" Bukan Gagal move on Ratu, kamu pasti salah paham lagi kan?" Panji sudah menduganya.
" Begini ya mas, selama ini aku menerima perjodohan kita dengan lapang dada, selalu mencoba berpikir positif, dan berusaha melayani mas sebagai seorang istri, tapi... Jika pengorbanan aku selama ini sia-sia dan hanya menjadi pelampiasan mas aja, maaf... Aku sudah lelah mas."
Keinginan Ratu tidak pernah muluk-muluk, dia hanya ingin menjadi satu-satunya wanita di hidup Panji tanpa harus selalu menoleh ke belakang.
" Kenapa kamu berfikir seperti itu sih Ratu?"
" Mas... aku pun punya perasaan juga, bang Broto saja yang orangnya masa bodoh dia mulai menyerah, apalagi aku?"
" Ngapain juga kamu ngikutin Broto, mencari panutan itu yang baik, jangan kayak dia!" Panji tidak peenah suka jika nama Broto selalu disebut dalam hubungan mereka.
" Apa yang salah dengan bang Broto? kalau mas maaih sangat membenci abang, berarti mas memang masih punya rasa dengan kak Gendhis? karena mas masih mebggangap abang Broto sebagai rival mas?"
" Yaelah... Salah lagi.. Salah lagi!"
" Walau abang Broto awalnya salah, tapi dia tahu bagaimana caranya berjuang, dia bahkan selalu berusaha agar kak Gendhis melihat kearahnya, sedangkan mas apa coba, maunya cuma bercocok tanam aja terus kan!"
" Memangnya aku kenapa? Mas memang tidak suka jika dibanding-bandingkan dengan pria itu, karena mas tidak akan melakukan hal rendahan seperti yang dia lakukan kepada kakamu."
" Lalu disaat mas membela kak Gendhis darinya, bahkan didepanku? Apa itu pantas?" Tanya Ratu dengan wajah yang mulai menegang, karena selama ini dia hanya memilih memendamnya saja.
" Ratu, mas bukan bermaksud seperti itu, mas hanya kasihan saja dengan kakakmu itu."
" Sampai kapan mas akan seperti itu?"
" Ratu... Gendhis itu kakakmu loh?" Panji masih mencoba bersikap sabar.
" Iya... Dan aku ini istri mas, bisa nggak menjaga sedikit saja perasaan istrinya?"
" Sebenarnya apa yang ada didalam pikiranmu Ratu, mas nggak ngerti?"
" Ya sudahlah, kalau memang hal remeh seperti itu saja sulit buat mas, sementara kita break aja dulu!"
" Break apaan sih Ratu? Kita ini sudah menikah, ngapain pakai acara break segala, kayak pacaran aja?" Panji langsung sewot sendiri mendegarnya.
" Siapa tahu mas perlu berfikir tentang hubungan kita, atau mau mempertimbangkan yang lainnya? Kata ibuk, kak Gendhis sudah ditalak satu oleh bang Broto, ini kesempatan emas kan buat kamu mas?" Walau sebenarnya tidak rela namun Ratu tetap ingin mengatakannya.
__ADS_1
" Kamu ini kenapa sih Ratu, hubungan kakakmu yang sedang retak, kenapa rumah tangga kita yang kena imbasnya?"
" Sampai kapanpun itu, hubungan kita akan selalu berkaitan dengan keluarga mereka, jadi mas bisa pikirkan ini semua baik-baik."
" Ratu? Kamu ini lagi PMS atau bagaimana, tadi kita baik-baik saja kan, kenapa jadi begini lagi?"
" Sebelum mas bisa mengambil keputusan, pokoknya kita break dulu!"
Sebelum dia hamil, Ratu ingin semuanya clear, agar nanti tidak ada lagi rasa sesal didalam hatinya.
" Nggak ada ceritanya kita break-breakan segala, kamu nggak boleh pergi dariku sampai kapanpun itu!"
" Ini ada apa Panjuul!"
Eyang yang ingin memanggil mereka untuk makan malam jadi bingung sendiri saat melihat mereka malah beradu mulut.
" Malam ini aku tidur sama Eyang, mas tidur aja sendiri!"
" Nggak mau!" Tolak Panji dengan cepat.
" Nggak perduli!" Ratu pun langsung bersikap acuh karenanya.
" STOP! Ono opo iki to Le?" Eyang langsung berjalan mendekat untuk menjadi penengah diantara mereka.
" Ratu itu Eyang, cari gara-gara aja bisanya!" Panji langsung mengadu.
" Cucu eyang itu, selalu saja gagal move on, nggak punya pendirian!" Jawab Ratu yang tetap tidak terima.
" Apa sih, nggak usah ngadu-ngadu kamu, dasar bocah!"
" Lihatlah eyang, begitu tuh cucu eyang, boleh nggak eyang kalau Ratu marah sama cucu eyang itu?"
" Bolehlah, kenapa tidak, kalau dia bikin kamu kesal, marah ajalah!" Jawab Eyang yang masih mencoba menyimak masalah yang terjadi diantara kedua cucunya itu.
" EYANG, sebenarnya cucu eyang itu siapa?" Panji langsung melirik kesal ke arah Eyangnya.
Ting!
Eyang langsung mengedipkan satu matanya ke arah Panji.
" Kalau begitu kita makan malam dulu ya Ratu, nanti tidur sama eyang aja, okey?" Eyang hanya tidak ingin mereka terus berdebat, karena sudah pasti akan semakin runyam masalahnya.
" Haish, kenapa semua perempuan selalu saja bisanya cari gara-gara, nggak bisa apa kalau nggak ngajak berantem?"
Akhirnya Panji memilih mengalah terlebih dahulu, dia langsung mengikuti langkah mereka menuju meja makan.
" Ratu kamu mau kemana?"
Bahkan saat di meja makan pun Ratu memilih pindah tempat duduk menjauh dari Panji.
" Duduk deketan sama Eyang!"
" Ngapain? Biasanya juga didekatku?"
" Biarin, daripada nggak ketelan makanannya, sayang kan makanan enak-enak jadi hambar rasanya, karena gagal move on?" Ratu masih saja terus menyindir suaminya.
" Sudahlah, habiskan makan kalian, setelah itu cepat istirahat!" Eyang dan ibu mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat mereka yang sama-sama terlihat bocah.
Setelah makan malam selesai, Ratu benar-benar mengabaikan Panji begitu saja.
" Sayang.. Mau kemana?"
Wing!
Ratu sengaja mengibaskan rambut panjangnya didepan Panji.
" Jangan sentuh aku!"
" Okey, tapi tidur sama mas aja ya?" Panji mencoba melunak agar bisa membujuk istrinya, karena dia sudah disidang tadi oleh Eyangnya.
" NGGAK!"
" Ratu, menjadi seorang istri itu harus bisa menjaga aib suami atau apapun yang berhubungan tentang rumah tangga kita, jika kita ada masalah, selesaikan berdua, jangan sampai orang lain tahu, karena menceritakan aib kita dengan orang yang tidak tepat dengan maksud mencari solusi, terkadang malah berujung petaka, mengerti kamu!"
Aish... Kalah lagi gue, kenapa sulit banget mau jauh dari dia sebentar aja, okey deh... sepertinya nggak ada cara lain lagi.
Ratu langsung kembali masuk kedalam kamarnya dan langsung membuka baju kimono yang dia pakai dan menyisakan tangtop dan celana pendek saja.
" Ra... Ratu? kenapa sudah buka baju aja? kamu mau sekarang?" Panji langsung terkejut sendiri melihat kelakuan istrinya.
" Jangan berani mencoba menyentuhku malam ini, atau aku semakin marah sama mas!"
" Tapi Ratu?"
" Aduh... Kenapa panas sekali sih?"
Ratu kembali membuat ulah dengan melepas tangtop yang dia pakai dan menyisakan pakaian dalamnya saja.
Glek!
Panji hanya bisa menelan ludahnya sendiri, saat melihat tubuh istrinya begitu molek saat hanya menggunakan pakaian dalam diruangan yang terang benderang seperti ini.
Tuing!
Burung Panji yang tadinya tidur nyenyak didalam sangkarnya tiba-tiba mengeras begitu saja.
" Ratuku?"
Panji langsung bergegas mengunci pintu kamarnya dan langsung mendekat kearah Ratu.
" Kalau memang mas nggak bisa menahan nafzv mas, berarti mas hanya menjadikan aku pemuas nafzv aja, bukan tulus menyayangiku."
" Mana ada Ratu, mas beneran sayang sama kamu." Panji mulai gelisah saat torpedonya mulai berontak dibawah sana.
__ADS_1
" Ya sudah, kalau begitu buktikan, jangan sentuh aku malam ini, mengerti?" Gantian Ratu yang seolah memberikan peringatan kepadanya.
" Apa kalau mas bisa nahan, trus kamu percaya kalau mas memang hanya sayang sama kamu?"
" Tentu saja!"
" Okey, deal!"
Panji langsung memalingkan wajahnya dan menahan segala rasa sambil mendekap burung peliharaannya agar tidak berkicau.
" Aduh... Kenapa semakin gerah aja ya? Mana lagi remot ACnya ini?" Ratu benar-benar ingin menguji iman Panji malam ini, dia bahkan melempar pelindung kedua gunung miliknya dan berjalan didepan Panji, untuk berpura-pura mencari remote Ac, padahal dia sendiri yang menyembunyikannya dibawah tempat tidur tadi.
" Eherm!"
Panji langsung memejamkan kedua matanya saat melihat pemandangan langka itu, bahkan Ratu sengaja berjalan lenggak lenggok dihadapannya seperti model di majalah dewasa.
" Ya ampun, mana gerah banget ini, lepas semua aja deh!" Ratu sengaja melepas semua kain yang melekat di tubuhnya dan membuangnya disembarang tempat.
" Astaga Ratu! Mas tidur di luar saja ya?" Panji semakin tersiksa karenanya.
" Kalau mas tidur di luar, jangan harap mas bisa masuk lagi ke kamar ini!"
" Tapi Ratu, mas jadi... Emh!" Panji seolah tidak bisa menahannya.
" Kenapa?"
Sebenarnya Ratu malu melakukan hal itu, namun demi misinya di buang jauh-jauh rasa malu itu, lagian juga suaminya itu sudah melihat semua pikirnya.
" Enggak papa, fuuh.... sabar ya Tong!" Panji hanya bisa mendekap burung perkutut miliknya lebih erat lagi.
" Aduh... Tubuhku berkeringat ini, emh!" Ratu sengaja mende sah sambil berpose dengan tubuhnya yang seksih.
" Aaaaa... Kepalaku pusing sekali, lebih baik aku push up saja!"
Tuk..
Wak..
Ga..
Pat..
Panji langsung memposisikan tubuhnya diatas karpet dan berpush up ria untuk sekedar menghilangkan nafsvnya yang menggebu.
" Mas... Coba lihat deh, perutku agak gemukan nggak sih? Tapi lihat dari sana aja ya?" Ratu sengaja memamerkan tubuhnya yang ramping itu.
Glek!
" Eugh... Ratu, tolong jangan uji kesabaranku, please!" Rutuk Panji dengan kesal.
" Atau ada yang perlu di pasang silikon? Biar semakin berisi gitu?"
" Nggak usah, mas suka yang alami, aish... Lebih baik aku lari saja!"
Panji langsung memilih berlari keliling kamar mereka agar pusat perhatiannya tidak terarah dengan tubuh polos istrinya yang sengaja berpose menggoda diatas ranjang mereka.
" Mas... Coba garukin punggungku sebentar, gatal ini, tapi tanganku nggak sampai!"
" Nggak usah digaruk, biar saja, nanti hilang sendiri gatalnya!"
" Tapi ini gatal banget, buruan deh.. nanti aku peluk satu menit deh."
" Nggak mau!"
" Kalau begitu, selamanya jangan menyentuhku!"
" Ya Tuhan, tolonglah hambamu malam ini!"
Ingin rasanya Panji nyebur kedalam kolam renang, karena tubuhnya sudah memanas tidak terkendali.
" Emh! Buruan mas!"
Dengan sangat terpaksa Panji menggaruk punggung Ratu walau memilih dengan memejamkan kedua matanya.
" Peluk sebentar deh!"
Dengan nekadnya Ratu memilih memeluk Panji dari belakang dan sengaja mengge sekkan tubuhnya yang bergelombang dipunggung Panji.
" Aisssh siall... Mas mau ke kamar mandi sebentar!"
Ha srat Panji seolah sudah memuncak di ujung karena ulah Ratu.
" Ngapain sih mas, tunggu!" Ucap Ratu yang sebenarnya sedang menahan tawa.
" Diam disana, mas mau ganti oli dulu, kamu itu tega bikin mas menggila!" Umpat Panji yang sudah meringis sambil terus mendekap pedang pusaka miliknya yang tiada duanya itu.
Yes... Berhasil, horay!
" Pffftthhh... Bahahahaha!"
Akhirnya Panji langsung berlari ngibrit menuju ke kamar mandi didalam kamar mereka dengan segala umpatan tentang kejahilan Ratu.
" Mas... Butuh sabun lagi nggak? Apa mau pake minyak goreng bekas, biar makin gurih-gurih enyoi?"
" Awas kamu ya Ratu! Lihat saja nanti!"
Ratu sengaja mengetuk pintu kamar mandi itu setelah mendengar erangan-erangan kecil dari mulut suaminya dari dalam sana.
" Bodo amat, rasain tuh, itu masih tidak seberapa ngelu nya, ketimbang saat melihat mas selalu membela kak Gendhis di hadapanku!"
Ratu akhirnya memakai kembali bajunya dan langsung menyelimuti tubuhnya, sebenarnya sedari tadi dia menahan kedinginan, namun sebisa mungkin dia bersandiwara sampai suaminya benar-benar tergoda olehnya.
Rumah yang nyaman untuk berteduh dibangun oleh tangan manusia. Rumah tangga yang kukuh dibangun oleh hati manusia.
__ADS_1
Keharmonisan sebuah rumah tangga terletak pada sikap tanggung jawab dan terbangunnya komunikasi yang sehat.
Terwujudnya suatu keberhasilan terletak pada suasana rumah tangga dan keluarga yang bahagia.