
...Happy Reading...
Ratu langsung memikirkan cara agar orang-orang di kampusnya tidak curiga jika dia punya hubungan dengan dosen yang sedang menggendongnya saat ini.
" Bapak mau apa! Turunkan aku sekarang?" Ratu langsung memelankan suaranya.
" Kalau aku nggak mau gimana, kamu mau apa, teriak? Ayo silahkan saja?" Panji malah tersenyum licik saat melihat istrinya terlihat ketakutan begini, dia bahkan berani menantang nya, tidak masalah baginya semua orang tahu kalau dia menikahi mahasiswanya sendiri, mungkin dia hanya akan dipindah bagian atau jurusan saja pikirnya.
Mikir Ratu ayo mikir, jangan lemah kamu!
Ratu memejamkan matanya sejenak mencari cara untuk mengatasi suaminya yang ternyata bisa nekad juga.
" Ayang... sebenarnya aku kangen tauk!"
Ratu mulai memahami sifat suaminya, semakin dia memberontak Panji akan semakin nekad, jadi dia akan berubah haluan saja menjadi sok manja.
" Hah?"
Panji langsung memaku di tempat dan melihat kedua mata Ratu dengan heran.
" Mau kiss?"
Kedua tangan Ratu bahkan langsung dia letakkan di kancing kemeja Panji dan mulai memainkannya.
" Sekarang banget ini?"
Giliran Panji yang malah terlihat panik dan menoleh ke arah kanan kiri. Benar saja, ternyata banyak pasang mata yang melihat kearahnya.
" Hu um."
Ratu langsung menggangukkan kepalanya dengan cepat, seolah napsvnya sudah berada diujung.
" Nanti yaa.. kita dirikan tenda dulu, apa mau pulang aja sekarang? Aduh... Tapi mobil mas kehabisan bahan bakar tadi, mana udah mau gelap lagi." Panji langsung terlihat berpikir kembali.
" Aaaaaa... Mau kiss sekarang, sama di enyenin ayang!"
Ratu memasang tampang semanja mungkin, padahal didalam hati dia ingin sekali memaki habis-habisan pria dihadapannya kini.
" Aduh... Aku juga mau Ratu, tapi nggak ada tempatnya, nggak mungkin kan kita masuk ke dalam hutan untuk begituan, bisa bahaya nanti." Panji ternyata masih menggunakan otak kewarasannya untuk berpikir.
" Tapi aku kedinginan ayang, mau kek gitu sekarang!" Rengek Ratu walau sebenarnya dia ingin muntah setelah mengucapkannya sendiri.
" Iya ngerti sayang... Tapi mau dimana?"
" Ke tenda bang Juna aja!"
" Mana boleh Ratu, mereka sedang ada kegiatan!"
" Kalau begitu beliin aku jagung rebus, dua!"
" Heh? Kok jadi jadi jagung rebus sih? Mie rebus aja deh ya, biar aku mintain sama anggota Mapala, mereka pasti punya."
" Ckk... Ayang ini suami model apaan, dimintain ini itu nggak ada yang dikabulin, awas... Aku mau cari suami baru aja!" Ratu langsung menyiku perut suaminya dan berontak untuk turun, yang penting dia bisa lolos dulu, masalah lainnya pikir belakangan.
" Eeeee... enak aja kamu kalau ngomong!" Panji hanya meringis saja sambil tetap menahan Ratu.
" Makanya buruan beliin jagung rebus, dibawah tadi ada kan, yang didekat warung bawah tadi?" Padahal Ratu hanya mengarang saja, memang ada warung dibawah bukit tadi, tapi tidak menyediakan jagung rebus disana.
" Jauh Ratu, mana hari udah mulai gelap ini, besok ya, kita pulang pagi-pagi, akan aku kabulkan semua permintaan kamu, okey?" Panji mencoba menawarnya.
" Orang maunya jagung rebus sekarang kok, aduh... Apa jangan-jangan aku nyidam ya, makanya pengen yang aneh-aneh." Ratu kembali menggunakan trik yang lain, apapun akan dia lakukan asal misinya berhasil.
" Masak sih yank?" Panji seolah tidak percaya begitu saja, apalagi notabenya istrinya itu manusia paling tengil dan jahil.
" Kamu kan gempur aku siang malam, mungkin udah jadi kali."
" Trus gimana ini?"
" Turun sana, beliin jagung rebus, kalau enggak aku nggak mau kamu sentuh!" Ancam Ratu dengan tegas.
" Astaga... Ya sudah, kamu tunggu disini ya, mas turun dulu."
" Buruan, sama jus jeruk!"
" Mana ada jus jeruk jam segini Ratu, jangan bercanda kamu!" Panji sewot sendiri jadinya.
Sudahlah rasa pegel di kakinya belum sembuh, ini harus naik turun bukit lagi pikirnya.
" Yang sudah kemasan itu kan ada, perutku nggak enak ini, maunya yang itu."
" Aish... Ya udah deh, cck!"
" Kalau belum dapat jangan dulu naik loh, jangan juga coba-coba buat deket sama aku juga!"
" Iya.. Iya.. Punya istri satu aja Bawel deh."
" Trus kamu mau punya istri dua gituh, dasar buaya?"
" Enggak Ratu, ya ampun.. Satu aja udah pusing, gimana kalau dua, botak kepala aku."
Walau dengan dengusan dan decakan berkali-kali, Panji akhirnya bersedia menuruni bukit demi mencari jagung rebus dan jus jeruk pesanan istrinya tadi.
Yess... kena kamu aku kerjain, cari aja tuh jagung sampai jenggotan! Mau ke kebon jagung juga nggak ada, Hihi...
" Gimana, elu suruh kemana laki loe itu?" Tanya Melody yang langsung berani mendekat saat Panji sudah pergi.
" Nyari jagung rebus."
" Emang ada yang jual jagung rebus?" Melody menaikkan kedua alisnya.
" Bodo amatlah, yang penting dia pergi, haha!" Ratu berjalan dengan riang menuju tenda Arjuna untuk menyelesaikan misi plan B dadakan.
Dalam otaknya, entah bagaimana pun caranya dia harus berhasil pede kate dengan ketua Mapala itu, jadi dia bisa membuat Panji kepanasan nantinya, kalau nanti belum berhasil dia bisa melanjutkannya di kampus.
" Bang Juna!" Teriak Ratu saat melihat sasaran empuknya.
Arjuna adalah mahasiswa satu angkatan diatas Ratu, jadi dia pun tidak keberatan saat Ratu memanggilnya dengan sebutan abang.
__ADS_1
" Ratu, are you okey?" Tanya Arjuna yang langsung mendekat saat mendengar suara wanita terpoluper di kampusnya.
" Ckk... Tak okey pun! Tadi kepalaku sedikit kliyengan, makanya tadi pak Panji langsung menggendong aku." Ucap Ratu yang sengaja ingin mengklarifikaai tuduhan mereka duluan sebelum ditanya, walau semua itu bohong.
" O... Begitu ternyata, kirain kamu dekat dengannya, kok pak Panji bisa berurusan denganmu?" Tanya Arjuna yang langsung penasaran.
" Pak Panji itu kenal dekat dengan ayah ibuku, jadi karena nilaiku selalu jelek di mata kuliah pak Panji, jadi orang tuaku meminta tolong khusus kepada pak Panji buat ngawasin aku, gilak ya... Bahkan sampai disini pun aku harus terus diawasin oleh nya?"
" Pak Panji bener-bener keterlaluan ya?" Arjuna mulai terprovokasi olehnya.
" Emang!" Jawab Ratu sambil menahan tawa.
" Ya sudah, kamu lapar enggak kami buat mie rebus di depan api unggun, kamu mau?"
" Mau dong?"
Sedangkan Melody hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat kecerdikan Ratu saat mengatasi masalah non akademi, selalu saja ada cara untuk menjahili seseorang.
Bukan Ratu kalau tidak bisa berkenalan dengan orang begitu cepat, bahkan mereka sudah duet nyanyi sambil mengitari api unggun disana.
" RATU!"
Tiba-tiba Panji kembali berkacak pinggang disana, membuat semua mahasiswa hening sesaat.
" Cepet banget lagi dia datangnya!" Ratu langsung berdecak kesal karenanya.
" Ratu kamu nggak boleh bergadang malam-malam, dia sering masuk angin, aku akan membuatkan dia tenda khusus, jadi dia harus istirahat lebih awal sekarang!"
Panji sudah membawa satu kantong kresek dan satu ransel di punggungnya.
" Ckk... Lagi asyik nih pak!"
" Nggak ada ceritanya asyik-asyikan segala, ayo istirahat!"
" Dengan satu syarat!" Ucap Ratu yang membuat para mahasiswa disana merasa tegang, karena baru Ratu lah satu-satunya mahasiswa yang berani mengajukan syarat kepada Panji.
" Apalagi Ratu!"
" Nyanyi sebentar boleh dong pak!" Ratu sengaja menambah kekesalan pada diri Panji.
" Nggak, bapak kan bukan penyanyi!"
" Kalau begitu aku belum mau istirahat, orang aku masih mau nyanyi dulu kok!"
" Ratu jangan gila kamu!" Arjuna yang melihatnya malah ketar-ketir sendiri jadinya.
" Haish... Mana gitarnya!"
Akhirnya walau dengan wajah datar, Panji langsung meminta gitar dan mulai memangkunya.
Semua mata tertuju kearahnya, bukan ingin menikmati, tapi seolah mereka penasaran, seperti apa dosen tergalak di kampusnya kalau sedang bernyanyi.
" Aku takkan pernah berhenti.. Mencintaimu sampai aku mati.. Aku akan selalu setia..Menemanimu setiap waktu." Panji langsung menghadap ke arah Ratu yang memang duduk dibarisan paling depan.
" Wuhuhuhuy... Keren juga suara dosen kita!" Sorak mereka semua.
" Piwwwiiitt!"
Mereka seolah merasa terpukau dengan sisi lain dari Panji, bahkan dia fasih dalam memainkan gitar itu.
" Sayang aku takkan pernah.. Pergi meninggalkanmu.. Aku bernafas untukmu.. Percayalah padaku."
Engkaulah Ratuku...
Dan kedua mata Panji sedari awal menyanyi sampai akhir hanya tertuju ke arah Ratu seorang.
Melihat Ratu bisa tersenyum begitu, hatinya begitu bahagia, walau harus menurunkan pamornya sebagai dosen terkiller.
" Boleh juga suara Pak Panji, mana keren lagi main gitarnya, jawara emang laki loe!" Bisik Melody yang ikut terpesona juga.
Aduh gantengnya suamiku, aish... Jadi pengen nyicip bibiirnya itu, opsh... Jangan lemah Ratu!
" Okey, aku kesana dulu ya?"
Setelah Panji meletakkan gitarnya dia kembali melirik ke arah Ratu dan Ratu pun langsung paham maksudnya.
" Nggak papa kamu nanti?" Arjuna masih terlihat khawatir.
" Enggaklah, kan ada Melody juga disana, kita lanjut lagi besok ya abang, bye.. bye!"
Ratu memilih mengalah saja, daripada nanti mereka lebih curiga kalau Panji lebih nekad lagi.
" Kok bisa dapet jagungnya tadi?"
" Maksud kamu apa? Kamu sengaja ngerjain aku kan?" Umpat Panjo yang langsung memberikan kantong kresek yang dia bawa tadi.
" Ya enggaklah, orang emang pengen jagung kok."
" Ya sudah makan itu sampai kenyang!" Umpat Panji sambil tersenyum licik.
" Loh... Kok snack jagung sih? Aku kan maunya jagung rebus Ay!" Ratu langsung memilih pura-pura ngambek saja.
" Mau kamu cari sampai pagi juga nggak ada yang jual jagung rebus, orang menurut pemilik warung yang menyewakan tenda tadi, tidak pernah ada sejarahnya tukang jagung lewat sana, jadi kamu makan aja itu, yang penting sama-sama rasa jagung, jangan coba-coba membohongi suamimu ini, mengerti kamu!"
" Pfftth... Ternyata laki elu jauh lebih pinter daripada elu, dari segi apapun itu!" Melody langsung menahan tawanya.
" Melody!"
" Aduh... Apa aku kena juga? Eh.. Iya pak?" Senyum Melody langsung hilang seketika, saat mendengar namanya disebut.
" Kamu berani tidur sendirian nggak, bapak bawa dua tenda ini." Ucap Panji sambil mendirikan tenda agak jauh dari mahasiswa Mapala yang lainnya.
" Mana berani dia Ay, jangan ngaco deh, ini di pinggir hutan, masak tega sama Melody suruh tidur sedirian?" Ratu langsung membantu menjawabnya, karena kalau Melody yang jawab pasti cuma iya-iya aja.
" Ckk... Siapa tahu kan? Aku kan buat tendanya berdekatan."
" Dih... Maunya! Jangan harap aku kasih jatah!"
__ADS_1
Ratu langsung melengos saat melihat suaminya.
Malam pun semakin larut, akhirnya Panji masuk kedalam tendanya, Ratu dan Melody pun sudah masuk kedalam tenda karena cuacanya sangat dingin.
Tiba-tiba Arjuna datang membawakan satu cup susu panas dan cemilan ditangannya.
" Ratu, apa kamu sudah tidur?" Arjuna berdiri didepan Tenda Ratu dan otomatis Panji langsung mendengarnya, karena jarak tenda mereka memang sangat dekat.
" Eh... Bang Juna? Belum tidur bang?" Ratu langsung keluar menyambutnya.
" Belum, ini aku bawakan susu panas untukmu, sama cemilan juga, mau ngobrol dulu nggak sebelum tidur?" Arjuna langsung mengedipkan satu matanya ke arah Ratu.
Jadi nih, haha...
" Tentu boleh dong, eh...." Jawab Ratu dengan semangat, tapi...
" Nggak boleh, ini sudah jam berapa!" Panji langsung menyambarnya perkataan Arjuna begitu saja.
" Eh... Pak Panji!" Nyali Arjuna langsung mengkeret seketika.
" Sini susunya, Ratu nggak minum susu, nanti dia bisa obesitas kalau minum susu malam-malam, jadi daripada mubazir biar aku saja yang meminumnya."
" Eh... Tapi pak?"
Gleek.. Buuuuuuuurrrrrr!"
" Aw... Panas banget!" Panji langsung mengibaskan tangannya ke arah mulutnya, setelah menyemburkan susu itu kembali keluar dari mulutnya, karena lidahnya seperti sedang terbakar oleh api.
" Itu dia pak, bukannya aku nggak ngebolehin, kami masih punya banyak stock disana, tapi airnya memang baru turun dari panci, jadi pasti panas banget ya pak?"
" Menurutmu!" Teriak Panji sambil melotot.
" Pffftthh... Rasain!" Umpat Ratu perlahan sambil menahan tawa.
" Maaf pak, harusnya bapak tanya dulu tadi!"
" Cepat kembali ke tendamu, istirahat sana!"
" Masih jam segini pak, boleh dong ya aku ngobrol dengan Ratu sebentar, di tenda kami deh pak, jadi tidak akan menggangu istirahat bapak?" Ucap Arjuna dengan nada hati-hati.
" Kalau saya bilang kembali ke tendamu ya kembali Juna! kalian boleh berpergian di luar kampus bebas, tapi harus mementingkan jam istirahat juga, karena pelajaran akademi itu lebih penting, kalau kalian sudah kecapekan dengan kegiatan luar, saat di kampus kalian hanya akan tidur saja bisanya, materi pelajaran nggak ada yang masuk di pikiran, jadi sekarang kalian tidur di tenda masing-masing, mengerti kalian semua!"
" Mengerti pak!" Jawab Arjuna dengan lemas.
" Yaelah... Ya sudah, balik ke tenda gih, nanti kena semprot lagi." Bisik Ratu yang sebenarnya hanya lagi malas ribut saja.
" Ckk... Kenapalah harus ada si killer itu, jadi kacau semuanya!" Umpat Arjuna perlahan sambil melambaikan tangannya ke arah Ratu.
Akhirnya suasana hening, tidak ada yang berani keluar tenda, karena tahu jika ada dosen ter kiler di kampusnya yang juga ikut mendirikan tenda disana.
Walaupun masih banyak yang belum tidur, namun mereka memilih bergadang didalam tenda masing-masing, dari pada harus berurusan dengan Panji.
Saat suasana memungkinkan, Panji membuka tenda milik Ratu perlahan, ternyata dua sekawan itu sudah terlelap sambil berpelukan.
" Enak aja, kamu hanya boleh berpelukan denganku Ratu!"
Panji merasa tidak terima walau Ratu tidur berpelukan dengan perempuan sekalipun, pelan-pelan dia mulai menggeser tubuh Ratu dan langsung membopongnya keluar menuju tenda miliknya.
" Kamu hanya milikku, aku nggak bisa tidur kalau nggak meluk kamu!"
Panji langsung menidurkan Ratu di kasur tipis di dalam tenda itu dan memelvknya dengan erat, sambil menempelkan kepalanya di kepala Ratu dan menghujani puluhan kecvpan di area wajahnya.
" Huft... Maafkan mas ya Ratu, kamu pasti salah paham dengan kejadian tadi siang, tapi mas cuma disuruh, kakak kamu kesakitan perutnya, jadi mas cuma bantu ngusap aja kok, cuma pake tangan aja Ratu, mas nggak pake hati, beneran deh yank."
Panji mengajak Ratu yang masih terlelap itu untuk berbicara, dia benar-benar tidak tahu jika Ratu melihatnya tadi.
" Emh!"
Ratu hanya mengeliat saja saat Panji memainkan pipi Ratu dengan gemasnya.
" Besok pagi mas balikin lagi kamu ke tenda milikmu, tapi malam ini temenin mas ya, katanya kamu minta dipeluk tadi, sama di... muehehehe, tau aja kamu kalau mas mau yang seger-seger, tadi lidah mas terbakar soalnya."
Tangan Panji langsung terampil saat membuka resleting jacket milik Ratu.
Dengan secepat kilat dosen terkiller itu sudah menjadi pengemis cinta yang kehausan disana, apalagi ditambah udara yang dingin, seolah suasana malam itu sangat mendukung ulah Panji.
" Eumh... Jangan Mel, itu jatah laki gue, entar elu dimarahin kalau pegang-pegang itu!"
Ratu merasa ada yang mengusik kedua gunung merbabunya, namun matanya seolah lengket dan sulit terbuka, jadi dia hanya mendorong saja kepala Panji yang dia fikir Melody.
" Hihi... Tau aja kamu kalau ini milikku!" Panji langsung tersenyum-senyum sendiri melihat istrinya, namun dia kembali mengulanginya, lagi dan lagi, karena disana dia menemukan sebuah kehangatan yang tiada tara.
" Awas Mel, elu jangan deket-deket bisa nggak, ehh... Kok geli sih ini!" Ratu semakin terusik saat sesuatu didalam tubuhnya ada yang memainkannya.
" Nggak bisa!" Jawab Panji tanpa sadar
" Eh... Siapa ka...? dih... pak Panjuuul!"
Kedua mata Ratu langsung terbuka saat mendengar suara yang menjawabnya adalah seorang pria, namun mulutnya terbungkam saat sesuatu menembus pertahanan gawangnya.
Slepp!
Byuuhjianmantaptenannekngenekihrek!
" Eumh.. Aku Panji suamimu, jangan berisik, bismilah aja, semoga semua aman terkendali, tidak ada apa-apa, okey sayang... hegh!" Panji semakin memacu di area pacuan kudanya, walau pelan tapi dalam, karena dia tidak mau menimbulkan suara gendang ketiplak-ketimplung.
Dan Ratu hanya bisa pasrah saja menerima kelakuan suaminya, mau berteriak juga percuma, hanya akan malu sendiri, karena sudah pasti Melody dan yang lainnya pasti akan mendengarnya dan menangkap basah mereka berdua.
Malam ini Ratu boleh kecolongan, karena ternyata tidak mudah menjahili suaminya itu, namun dia tak patah arang, masih ada hari esok untuk membalasnya lagi.
Karena udara perbukitan malam itu juga terasa sangat dingin sekali, jadi Ratu melupakan sejenak rasa kesalnya, dan mencari kehangatan juga disana dan berganti menikmati sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata tentang sensasinya.
Panji dilawan?
Pernikahan yang hebat tidak terjadi ketika 'pasangan yang sempurna' bersatu. Itu adalah saat pasangan yang tidak sempurna belajar menikmati perbedaan mereka.
Karena Panji dosen kesayangan othor, nggak usah dikasih konflik yang berat-beratlah ya, hidup aja udah berat cuy, masak baca novel juga berat ye kan?
__ADS_1
Kenapa malah jadi curhat iniš¤£