Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
54. Nasip Jomblo


__ADS_3

...Happy Reading...


Pertempuran fanas dan menegangkan itu pun telah berakhir, walau endingnya Ratu harus duduk meringkuk dibawah kolong meja.


Setelah penanaman saham berharga dari suaminya, bukannya hilang rasa kantuk dari diri Ratu, namun seolah malah semakin bertambah saja, apalagi karena rasa lelah yang mendera dan juga energi serta kalori didalam tubuhnya yang terkuras habis karena adegan mantap-mantap tadi.


Ratu memilih memejamkan kedua matanya sambil menunggu suaminya yang sedang berbicara dengan rekan dosennya diluar sana.


" Iya buk, ada apa?"


Setelah memastikan pakaiannya rapi kembali dan tidak ada sisa air surga yang menempel ditubuhnya, dia langsung membuka pintu ruangannya.


" Emm... maaf pak Panji, apa saya menggangu anda?"


Sangat menggangu, karena buru-buru aku jadi tidak bisa menikmatinya.


" Owh... Tentu tidak buk, saya sedang mengerjakan kewajiban saya tadi, nanggung juga tinggal sedikit lagi, jadi aku selesaikan terlebih dahulu tadi, maaf sedikit lama menunggu." Jawab Panji dengan senyum yang dia paksakan.


" Begitu ya, soalnya kami mendapatkan kabar bahwa rekan kita mengalami kecelakaan mobil pak Panji."


Rekan dosen Panji bahkan tidak mempermasalahkan kewajiban yang mana yang tadi dikerjakan dan dimaksud oleh Panji, karena pikirannya bahkan tidak sampai ke arah sana, apalagi Panji adalah dosen yang terkenal bersikap tegas dan killer oleh para mahasiswanya.


" Siapa buk?" Panji langsung mengerutkan kedua alisnya.


" Pak Arga."


Degh!


" HAH? ARGA?"


Panji langsung terkejut bukan kepalang saat mendengarnya, apalagi dia tahu betul bahwa saat ini Arga memang sedang menjemput istri dan anaknya.


" Iya pak, mereka kecelakaan di sebuah perkampungan beserta anak dan istrinya." Jelas rekan dosen itu kembali.


" Astaga, kalau begitu biar aku susul kesana saja!" Jawab Panji yang memang langsung khawatir, karena Arga sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri.


" Tapi pak, menurut info tadi tempatnya agak jauh dan sekarang sudah ditangani kok?" Jelas rekan dosen itu kembali.


" Tidak papa, aku tahu kampung halaman istrinya, tolong bantu saya handle kelas saya siang ini ya buk, saya khawatir kalau belum melihat keadaannya sendiri."


" Baik pak Panji, apa perlu saya temani?" Dengan senang hati dosen itu menawarkan diri, kapan lagi bisa berduaan dengan dosen tampan itu pikirnya.


" Tidak usah, saya pergi dengan istri saya saja." Tentu saja Panji langsung menolak, dia tidak mungkin meninggalkan istrinya dibawah kolong meja sendirian disana.


" Owh.. Kalau begitu hati-hati dijalan pak." Ucap Dosen itu yang langsung sadar bahwa Panji sudah menikah.


" Iya terima kasih buk, RATU ayok ikut aku sekarang!" Panji langsung balik kanan dan berteriak memanggil Ratu.


" Hah? memangnya istri bapak Ratu? mahasiswa bandel terfenomenal di kampus kita itu?" Baru saja ingin melangkah pergi, dosen wanita itu sontak balik lagi.


" Eh.. Anu.. Emm... tadi saya sedang memberi hukuman untuk anak bandel itu, silahkan kembali ke ruangan ibuk, saya mau mengambil tas dan kunci mobil saya dulu, permisi!"


Karena terlalu panik, hampir saja Panji ketahuan, dia bahkan tadi lupa menutup pintunya, sehingga rekan dosennya tadi sempat mendengar Panji berteriak memanggil Ratu.


" Tadi dia bilang pergi dengan istrinya, tapi kenapa dia malah teriak memanggil Ratu? Ckk... Mungkin karena panik kali ya, gosipnya kan istri pak Panji itu seorang dokter, nggak mungkin juga mr. Perfect mau sama mahasiswi bandel kayak Ratu, impossible!"


Saat pintu itu tertutup, rekan dosen Panji langsung kembali ke ruangannya sambil mengumpat Ratu di sepanjang perjalanannya.


Ratu memang terkenal dan fenomenal, namun bukan karena prestasinya, tapi karena kecantikan dan keburukan tingkah lakunya.


" Ratu!"


Glodak!


" Aw... Aw... Apa sih yank!"


Karena kaget, Ratu langsung ingin bangkit dan lupa kalau dia tadi tertidur dibawah kolong meja.


" Astaga Ratu, kamu tertidur tadi? Baru aku tinggal sebentar saja sudah merem lagi mata kamu itu?"


Ingin heran tapi dia Ratu, jadi Panji hanya bisa menggelengkan kepala sambil memijit kepala Ratu yang sedikit benjol karena benturan keras meja tadi.


" Habisnya jadi orang ngagetin terus, bisa nggak kalau manggil itu pelan-pelan, kan jadi sakit kepalaku ini." Ratu langsung merengek seperti anak kecil.


" Ututuuh... Maaf Ratu, sini aku peluk!" Panji langsung merentangkan kedua tangannya.


" Emang di peluk doang bisa sembuh, nyeri ini kepalaku, benjol gara-gara Ayang?" Umpat Ratu dengan kesal, namun dia nempel juga ditubuh kekar suaminya itu.


" Iya.. Iya.. Tadi panik soalnya, pak Arga kecelakaan sekarang."

__ADS_1


" Hah.. Kecelakaan? Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Haduh... Berkurang pasti kegantengannya!" Celoteh Ratu dengan polosnya.


Wing!


Panji langsung menjewer telinga Ratu dengan gemas, saat mendengar ucapan dari istrinya.


" Berani-beraninya kamu memuji pria lain didepan suamimu, mau aku hukum lagi kamu!" Panji langsung melotot kearahnya, walaupun Arga sudah dia anggap saudara sendiri, namun dia tidak rela jika Ratu memujinya, apalagi sedari dulu Ratu terkenal menjadi fans berat Arga.


" Enggak-enggak, ayok kita langsung ke TKP yank!" Bahkan Ratu bisa lupa kalau dia sudah menikah.


" Kamu nggak usah ikut saja!" Umpat Panji.


" Dih... Aku mau lihat keadaan pak Arga!"


" Ratu, jangan keganjenan kamu, berapa kali aku bilang, apa gendang telinga kamu ini sudah bermasalah!" Panji kembali memberikan peringatan.


" Cemburunya simpen buat nanti, yang terpenting sekarang keselamatan pak Arga, okey Ayang, let's go?"


" Biar aku pergi sendiri kesana!" Panji langsung meraih kunci mobilnya diatas meja.


" Ya sudah, aku nggak mau pulang ke rumah Ayang lagi tapi ya!" Ancam Ratu yang sudah punya senjata sekarang.


" Maksud kamu apa!"


" Kalau Ayang nggak mau ngajak aku nggak papa kok, biar aja nanti bapak sendirian nggak ada yang nemenin, sekarang aku pulang aja bareng Melody, bye!"


Ratu langsung melepas kedua tangannya dari pinggang Panji dan berlari menuju ke ruangannya untuk mengambil tas.


" RATU!"


" Tunggu sebentar, aku ambil tas dulu pak dosen!"


Sudah dipastikan, Panji pasti akan mengajaknya jadi tanpa mau membuang waktu dia berlari kembali keruangannya.


" Ratu, are you okey?" Melody yang melihat Ratu terburu-buru langsung khawatir.


" Mau ikut nggak?" Ucap Ratu sambil membereskan tas dan laptopnya.


" Kalau bolos nggak mau lah, ajaran kamu sesat!" Melody sudah hafal dengan perilaku bestie nya itu.


" Pak Arga kecelakaan, aku sama Ay... Eh, sama pak Panji mau kesana!"


Tanpa berpikir panjang Melody langsung mengambil tasnya juga dan berlari mengikuti langkah Ratu dari belakang.


" Pak Panji ayok!"


Panji yang sudah berdiri disamping mobilnya terlihat kaget saat Melody juga ikut kesana dengan istrinya.


" Kamu mau kemana Melody?"


" Ikut lihat kondisi pak Arga dong pak!" Jawab Melody dengan cepat.


" Tapi kamu kan.." Panji sebenarnya ragu ingin mengajaknya, karena mereka sebenarnya juga masih ada satu kelas lagi.


" Sudahlah Ayang, buruan masuk kasian pak Arga nanti kalau belum ada pihak keluarga yang nemenin dia disana!" Ratu langsung menarik lengan Panji untuk duduk di kursi belakang.


" Hah? Ayang? Sejak kapan kalian berdua panggil ayang-ayangan?" Melody terbengong sendiri melihat keduanya.


" Melody, kamu yang nyetir ya! Tunjukkan bakatmu kepada Suhu mu ini, jangan sampai aku menyesal karena sudah membantumu membuat SIM okey!"


Ratu memang sering mengajari Melody untuk menyetir mobil, agar bisa menggantikan dirinya nyetir jika dia mengantuk.


" Kok jadi aku?"


" Mau ikut nggak? Kalau nggak ya udah!"


" Mau sih, tapi kenapa aku yang jadi sopir?"


" Karena kami berdua capek habis tempur, jadi apa gunanya aku melatih kamu menyetir mobil, sudah cepat jalan, kasian pak Arga nanti!" Ucap Ratu tanpa sadar.


" Aish... Kamu memanglah!" Melody langsung memilih mengalah saja, karena berdebat dengan Ratu nggak akan bisa menang.


" Heh, tunggu!" Panji mencoba menahannya.


" Apalagi sih Ayang, lama banget deh?" Umpat Ratu yang malah nggak sabar.


" Eh... Ayang lagi?" Melody pikir tadi dia salah dengar, namun ternyata Ratu beneran memanggil Panji dengan sebutan Ayang dengan jelas.


" Melody, kamu tahu kan kalau bapak sudah menikah dengan Ratu, bukan dengan kakaknya?" Panji seolah memastikan hal itu, agar tidak salah paham nantinya.

__ADS_1


" Tahu pak." Jawab Melody dengan jujur.


" Okey, kalau begitu kamu sekarang bawa mobilnya dulu, nanti kalau tenagaku sudah kumpul lagi, kita gantian bawanya, soalnya kampung istri Pak Arga cukup jauh dari sini."


" Hah? Owh.. Iya, siap pak Panji."


Walau masih dalam kondisi bingung, Melody mau tidak mau menyentujuinya saja, kemudian langsung duduk di kursi kemudi sendirian dan menjadi sopir sepasang suami istri dibelakang sana.


" Melody, kamu beneran sudah punya SIM A kan?" Panji kembali memastikan keamanan dan keselamatan mereka.


" Sudah pak, tenang saja, saya sering menjadi sopir pengganti Ratu dari dulu."


" Okey, kalau begitu aku pasang GPS, kamu ikutin saja arahnya ya." Panji langsung meletakkan ponselnya didepan.


" Baik pak."


" Ayang?" Rengek Ratu dengan manja saat mobil itu sudah berjalan.


C U P


" Apa?" Tanya Panji yang tanpa sadar reflek langsung mengecvp bibiir Ratu dengan gemas karena istrinya itu dengan sengaja memonyong-monyongkan bibiirnya.


" Pinggang aku pegel banget ini, bantu pijitin dulu kenapa, kamu sih terlalu kuat tadi goyangnya."


" Ya sudah sini, baring di pangkuan aku, biar enak mijitnya."


Panji langsung menggeser duduknya dan menyerahkan kedua pahaanya sebagai bantal terempuk untuk istrinya.


CEKIIIIIT!


" Astaga Melody, hati-hati kamu! Ratu kamu nggak papa kan? Ada yang luka?"


Panji langsung dengan sigap mengecek seluruh tubuh Ratu ada yang tergores atau tidak.


" Kalian berdua beneran sudah itu, eh... Anu?" Karena belum pernah melihat Panji bertingkah selembut itu dengan Ratu, Melody jadi kaget sendiri dan langsung mengerem mobil itu secara mendadak.


" Ya ampun, kirain kenapa, sudah jalan lagi, gaaasss!" Ratu langsung berkomentar dengan santainya.


" Tapi kalian sudah itu, beneran?" Melody langsung memperhatikan gelagat mereka berdua.


" Sudah, bahkan berkali-kali, tadi juga baru aja kami selesai satu ronde!" Celoteh Ratu yang seperti orang terhipnotis jujurnya.


" Apanya?" Tanya Melody yang langsung mencoba mencerna perkataan Ratu.


" Husss... Ratu, kamu ini ya!" Panji langsung mendekap bibiir istrinya yang sudah blong itu.


" Hmpt!" Ratu pun seolah kaget sendiri.


" Benarkah, kok iso yo?" Melody langsung melongo.


" Hehe... Maaf lupa Ay, tapi tenang aja, Melody pasti bisa jaga rahasia tentang kita, ya kan Mel!" Ratu selalu percaya dengan sahabatnya itu.


" Hah, jadi seriusan ini?" Melody mengulanginya kembali.


Ratu bahkan hanya bisa nyengir sambil memeluk tubuh Panji dengan santainya didepan Melody, karena sudah bisa dipastikan lambat laun Melody juga pasti akan mengetahuinya, karena memang Ratu tidak pernah bisa menutupi rahasia apapun dari sahabatnya itu.


" Astaga, ya ampun, apa itu?" Melody seolah tidak percaya, namun itu nyata.


" Melody, jangan mikir yang macem-macem, cepat jalan, utamakan keselamatan bukan hanya kecepatan." Ucap Panji selanjutnya.


Karena Ratu sudah mengatakan hal seperti itu, Panji pun ikut percaya saja, karena sedikit banyaknya dia tahu persahabatan keduanya memang sangat erat.


Akhirnya dia duduk sambil memeluk Ratu dan mulai memijat punggung Ratu, bahkan tanpa segan-segan menghujani kecvpan dikepala istrinya itu berulang kali.


Karena ritual baru mereka adalah bermesraan dahulu setelah bercinta, namun karena tadi ada sedikit gangguan, jadi Panji dan Ratu memilih melanjutkan kemesraan mereka di dalam perjalanan, walaupun hatinya sedikit gelisah saat mengingat kondisi Arga, namun rekan dosennya tadi bilang kalau mereka sudah mendapatkan pertolongan, jadi Panji sedikit merasa lebih tenang.


" OK GOOGLE, ADAKAH JOMBLO ELIT DI SEKITAR SINI?"


Dengan isengnya Melody, bertanya kepada mbah google.


" MAKSUD ANDA, APAKAH ANDA JOMBLO?"


Ucap Mbah Google yang malah semakin membuat Melody merasa menjadi gadis paling mengenaskan di dunia.


" Aaaaa...Ya Tuhan, aku juga pengen disayang kek gitu, tolong carikan aku pacar Tuhan, Duda pun tidak masalah, yang penting Tampan, Mapan dan Membahagiakan, Amin." Melody hanya bisa mengvsap dadaanya karena merasa miris dengan nasip dirinya sendiri saat ini.


Dia hanya bisa mengumpat mereka berdua perlahan dan tetap melajukan mobilnya dengan cepat sesuai dengan petunjuk arah, tanpa berani melihat Spion mobil yang mengarah ke kursi belakang, karena sudah pasti hanya akan membuat naluri jomblonya meronta-ronta karena Iri melihat Bestie nya yang ternyata bisa bermesraan dengan suaminya.


Ternyata benar, ada beberapa fase yang tidak perlu dibawa semakin larut ke dalam, bukan karena sudah tidak mau perduli, tapi semakin perduli ternyata juga semakin tidak mengenakkan.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya kita sadar, ternyata ada bagian hidup yang bagus banget impactnya, saat kita 'Bodo Amat-in'.


__ADS_2