
...Happy Reading...
Karena terlalu asyik melihat pemandangan langka dan juga harem di bawah sana, Melody tidak sadar jika ada seseorang yang sudah berdiri dibelakang tubuhnya.
Melody yang tingginya memang standar perempuan pada umumnya, saat bertabrakan dengan pria yang memang bertubuh tinggi kekar, wajahnya langsung nyungsep pas di dada bidangnya.
Bugh!
Namun entah ada syaiton dari mana, bukannya menjauh tapi Melody malah dengan sengaja memeluknya dengan erat sambil terus merasakan aroma tubuh pria itu dengan senyum kebahagiaan.
" MELODY!"
Arga hanya bisa berkacak pinggang saat melihat kegilaan salah satu mahasiswa berprestasi di kampusnya yang malah terlihat nyaman disana.
" Eits... Astaga maaf Pak Dosen? Sengaja.. Ehh..
Nggak sengaja tadi, emm.. bapak mau cari pak Panji ya?"
Melody langsung gelagapan sendiri saat kedua matanya terbuka dan terpampanglah wajah hot duda di hadapannya kini.
" Kenapa? Bagus ya siaran langsung di bawah sana?" Arga menggelengkan kepalanya, padahal dia juga ikut menontonnya tadi, walau tidka terlalu jelas.
" Hah? Emm... Bagus banget, bapak juga nonton ya, hayow?" Dengan gilanya Melody berani meledek dosennya, karena dia tahu betul dosennya yang satu ini penyabar dan tidak pernah marah.
" Melody!" Dan hanya nama lah yang sekalu dia sebut.
" Hehe... Maaf pak, saya nggak sengaja loh, cuma mau cari Ratu aja tadi sebenarnya, eh... Malah dia lagi itu, hehe!" Melody pura-pura bertampang lugu saja, mau berdalih juga dia sudah ketahuan tadi.
" Nggak sengaja tapi menikmatinya juga kan?" Arga bersidekap sambil menatap wajah mahasiswanya yang tidak kalah cantik dari primadona kampusnya mereka.
" Emm...cuma sedikit aja pak."
" Masak? Sedikit kok air liurmu sampai menetes begitu?" Ledek Arga, padahal sebenarnya sama sekali tidak ada yang menetes sedikitpun.
" Eh... Mana ada pak!" Melody langsung mengusap bibiirnya dengan baju dilengannya.
" Kamu itu belum cukup umur untuk melihat adegan kayak begituan Melody, bahaya bisa merusak pikiranmu itu!" Sebagai dosen dia hanya ingin mengingatkan.
" Umur saya dengan Ratu sama kok pak." Melody langsung protes seketika.
" Ya tapi jatah dan nasip kalian berbeda, sudah sana turun duluan?" Usir Arga, padahal itu bukan rumahnya.
" Kok duluan? Hayow... Bapak masih pengen lanjut nonton ya? Bilang aja bapak juga pengen sih? Haha..." Tanpa sadar Melody langsung menertawakan dosennya.
" Enak saja kalau ngomong, aku cuma mau memberi tahu mereka, bahwa ada penguntit disini!" Arga langsung tidak terima.
" Eh... Aku bukan penguntit ya pak, aku cuma nyari Ratu tadi mau ngasih titipannya, tolong di garis bawahi itu." Melody tidak mau kalah kalau hanya berdebat, lagian ini di luar area kampus, tidak akan ada mahasiswa lain yang melihat mereka.
" Woiii... Masih mau lanjut tiga seri kah kalian? Biar aku shoting sekarang, siapa tahu kasetnya laku dijual!" Akhirnya Arga langsung berteriak dari atas sana.
" Aaaaaaaaaaaaa!"
__ADS_1
Terdengar suara Ratu yang menjerit dari bawah sana, dan langsung berbalik badan mencoba menutupi tubuhnya dengan tangan walau sudah terlambat.
Sedangkan Panji langsung mencabut saja pedang pusakanya dan berlari mengambil handuk miliknya untuk menutupi tubuh Ratu dan tubuh dirinya sendiri.
" Apa itu?" Melody ingin kembali berbalik dan melihatnya lagi.
" Heh? Jangan melihatnya!" Tanpa sadar Arga langsung merapatkan tubuhnya ke arah Melody.
Untung saja pas adegan Panji berlari tadi, hanya Arga saja yang melihatnya, karena saat Melody ingin kembali melihat ekspresi mereka Arga langsung menutup kedua mata Melody dengan lengannya.
" Sebentar aja pak! Cuma mau lihat ekspresi Ratu, pasti lucu itu!" Melody mencoba berontak namun tidak bisa.
" Nggak boleh!" Larang Arga dengan cepat.
" Bentar aja loh pak!" Pinta Melody yang langsung memelas, jiwa penasarannya begitu meronta-ronta.
" No!"
" Dih... Bapak curang, masak bapak lihat aku nggak boleh!" Teriak Melody yang tidak terima, karena dia merasa ini tidak adil.
Saat Melody semakin berontak Arga semakin mempererat pertahanan lengannya, sehingga tangan kirinya mulai memeluk tubuh Melody dari belakang, namun saat Melody memaksa membalikkan tubuhnya, dengan sengaja kakinya menendang lutut Arga dan membuat keseimbangan tubuh Arga goyah dan akhirnya...
Bruk!
Cup!
Melody terjatuh dengan tubuh Arga diatasnya dengan bibiir mereka yang ternyata sudah saling menyatu.
Karena tubuh Arga berat jadi Melody hanya bisa melotot dan memaku ditempat, dengan bonus dapat mencicipi bibiir dosen terfavorit di kampusnya, yang bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
" Hmpth!"
Arga sontak langsung memejamkan kedua matanya dan mulai bangkit berdiri dan menarik lengan Melody agar dia juga bangun dari lantai.
" Kamu nggak papa?" Arga bahkan membantu membersihkan baju Melody yang sedikit terkena debu lantai.
Haduh? Pesona duda memang beda?
" Hmm... Cuma bapak berat aja tadi." Umpat Melody yang tambah mengagumi sosok Arga, karena dia bahkan tidak langsung menyalahkan dirinya, padahal jelas-jelas dengan sengaja dia menendangnya tadi.
" Apa Eyang menggangu kalian berdua?" Eyang kembali dibuat tersenyum saat melihat ekspresi mereka berdua.
" Ahehe.. Tidak Eyang, ini tidak seperti yang Eyang bayangkan, tadi kami nggak sengaja." Karena Arga diam saja, Melody langsung angkat bicara.
" Nggak sengaja civman gitu?" Ledek Eyang yang hanya bisa kembali senyum-senyum sendiri karena ulah mereka.
" Bukan begitu Eyang, sungguh!" Melody bingung juga mau menjelaskannya seperti apa.
Tidak mungkin juga dia berkata jujur dan bilang bahwa hal ini terjadi karena mereka selesai mengintip orang yang sedang beradu de sah an di tepi kolam renang yang ada dibawah sana.
" Sudahlah... Apa acaranya sudah mau dimulai?" Lain Melody lain pula Arga yang memang tidak melakukan pembelaan sama sekali, karena mau berkilah seperti apapun sama aja pasti kena bully oleh sosok Eyang sahabatnya yang memang terkenal ajaib.
__ADS_1
" Sudah... Panji mana? Kamu ini Eyang suruh manggil Panji malah enak-enakan sama daun muda, mau ngikut Panji kamu cari buah yang masih ranum?" Eyang langsung mencubit lengan Arga dengan gemas.
" Owh... Panji ada dibawah ternyata, dia sedang nemenin Ratu berenang tadi, mungkin sekarang sudah selesai, ayok kita turun Eyang!" Arga langsung saja berjalan mendahului mereka.
" Arga!" Teriak Eyang kembali.
" Apalagi Eyang? Katanya acaranya sudah mau dimulai?" Arga kembali menoleh ke arah Eyang dengan wajah yang sebenarnya juga menahan rasa malu.
" Gandeng dong daun mudanya, udah selesai nyosor main tinggal aja anak orang! Dia sahabatnya cucu menantuku nih, main-main Eyang jitak kepala kamu sampai benjol, mau kamu!" Eyang langsung memarahinya.
" Owh.. Tidak perlu Eyang, saya bisa jalan sendiri, hehe!" Melody langsung melambaikan kedua tangannya dengan artian menolak.
" Nggak! Pokoknya kalian turun tangga sambil bergandengan, sana cepat!" Titah Eyang yang memang sengaja mengerjai mereka berdua.
" Tapi Eyang?" Melody merasa sungkan sekali.
" Sudahlah ayok!" Arga langsung saja menarik tangan Melody tanpa protes dan langsung menggengamnya dengan erat, dia manusia yang tidak mau ribet, daripada bikin geger di rumah itu, dia lebih memilih menurut saja, toh cuma gandengan tangan saja pikirnya.
Sebenarnya seperti apa sih sosok pak Arga ini? Kalau lama-lama gue jatuh cinta beneran sama dia, gimana? Aaa... Aku nggak mau gila kayak Ratu yang cintanya tidak terbalaskan olehnya sampai saat ini.
" Kamu jangan salah paham, aku begini karena nggak mau ribut sama Eyang!" Bisik Arga disamping telinga Melody.
Dor!
Baru saja Melody ingin terbang melayang ke awang-awang, namun ternyata suara dosennya itu langsung menghancurkan mood nya dan seolah membuat mimpinya terjun bebas ke dasar lautan.
" Daddy! Aku cariin ternyata malah lagi berduaan sama mama, mana gandengan tangan lagi?" Ucap Hugo yang terlihat gemas, karena dia berkacak pinggang sambil menunggu ditangga paling bawah.
" Hei... Hugo sayang, mama ehh... Kakak rindu sama kamu!"
Melody langsung melepas paksa genggaman tangan Arga dan berlari memeluk Hugo.
" Rindu sama Hugo apa daddy?" Tanya Hugo sambil melengos.
" Hah? Ya sama Hugo dong?" Jawab Melody yang takjub dengan pertanyaan bocah yang pemikirannya sudah seperti anak remaja.
" Lalu kenapa bukan mencari Hugo? Malah mencari daddy?" Umpat Hugo kembali seolah menghakimi orang dewasa.
" Ahaha... Kakak ada diatas tadi, nggak tahu kalau Hugo sudah datang, duh... Kamu ini menggemaskan sekali sih."
Melody langsung menghujani kecvpan diwajah gembul Hugo yang memang sangat lucu sekali.
" Apa nggak mau civm daddy juga, dulu mommy kalau selepas mencivm Hugo dia langsung gantian mencivm daddy!" Tanya Hugo dengan wajah polosnya, karena rekaman pikiran anak-anak itu sebenarnya sangat kuat sekali, apa yang orang tuanya lakukan didepan mereka akan terekam secara langsung dengan sendirinya.
" HAH?" Melody langsung melongo saat mendengarnya.
" Sudah tadi, ayok nak... Kita ikut makan disana, kamu juga belum makan kan tadi?"
Arga langsung menggendong tubuh putranya tanpa merasa bersalah sama sekali dan segera membawa putranya berlalu dari hadapan Melody yang mulutnya masih mengaga, karena melihat kelakuan ayah dan anak yang satu ini.
Pada awalnya, cinta itu bisa melihat. Tapi, menjadi buta karena masuk ke dalam hati yang paling dalam.
__ADS_1
Jika saatnya tiba, sedih akan menjadi tawa, perih akan menjadi cerita, kenangan akan menjadi guru, rindu akan menjadi temu, kau dan aku akan menjadi kita.
Maaf part kali ini agak pendek bestie, haduh.. Mana orang hajatan nggak habis-habis, rewang terus-terusan othor nih, e... Malah curhat😅