Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
22. Cincin Lamaran


__ADS_3

...Happy Reading...


Tanpa ingin menunda sebuah niatan yang baik dalam suatu hubungan, Panji memutuskan untuk segera melamar kekasih hatinya itu.


Karena menurut Panji, kata-kata manis atau ungkapan cinta yang romantis saja, akan kalah saing dengan sebuah kepastian.


Tidak akan dijumpai sebuah cinta sejati, jika seseorang hanya dipacari saja, sepertinya memang romantis, padahal miris.


Apalagi seiring berjalannya waktu, umur Panji tak lagi muda, sudah bukan waktunya untuk sekedar cinta-cintaan, saat dia sudah merasa menemukan gadis yang tepat, dia tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Panji sudah bertekad untuk melamar Gendhis akhir pekan ini.


" Hallo sayang."


" Iya mas, ada apa?"


" Ckk... emang nggak ada pertanyaan basa-basi dulu gitu? langsung to the point saja, kesannya kayak aku jadi penggangu dihidupmu."


Panji langsung berdecak kesal, dan menyandarkan punggungnya di bahu kursi sambil terus menempelkan ponselnya disamping telinga.


" Maaf mas, bukan begitu maksudku, tapi ini baru persiapan, sebentar lagi aku mau masuk ke ruang operasi, karena ada pasien yang harus segera ditangani."


" Kapan sih kamu punya banyak waktu buat aku?"


" Ceileh... mas cemburu sama pasienku? gini ya mamasku tersayang, menolong orang yang sedang membutuhkan itu adalah tugas kami para dokter, karena keselamatan mereka adalah visi dan misi utama kami."


" Iyalah tuh!"


" Jangan bikin aku gemes dong mas, ntar aku suruh kamu nikahin aku besok pagi baru tahu rasa." Tantang Gendhis.


" Siapa takut, mau nikah sekarang juga aku ayok aja!" Jawab Panji dengan santainya.


" Maunya juga gitu mas, tapi Eyang mas sepertinya masih ragu denganku."


Setelah kejadian kemarin, entah mengapa Gendhis menjadi lebih insecure, setelah pulang dari rumah Panji, berulang kali dia berdiri didepan cermin, mencoba menilai apa yang salah pada dirinya.


Hati kecilnya selalu bertanya-tanya, kenapa seolah Eyangnya Panji terlihat kurang setuju dengannya, padahal ini kali pertama dia bertemu dan seingatnya dia tidak memberikan kesan buruk pada keluarga mereka, bahkan orang tua Panji saja terlihat suka dengannya.


" Kalau masalah ucapan Eyang kemarin, nggak usah terlalu dipikiran yank, beliau memang begitu, niatan saat pagi gimana, tapi saat sore tiba sudah berbeda lagi niatannya, mungkin faktor usia kali, jadi kamu harap maklum ya sayang." Panji mencoba memberikan pengertian agar kekasihnya tidak berkecil hati karena kejadian kemarin.


" Tapi aku jadi nggak enak hati mas, kalau menurut mas, apa kurangnya aku dimata mas?"


Gendhis ingin sekali memberikan semua yang terbaik untuk kekasihnya yang satu ini.


" Nggak ada yang kurang sayang, kamu sudah cukup sempurna dimata mas, apa yang ada pada diri kamu, mas suka, tidak ada yang perlu kamu rubah."


" Benarkah? tapi aku jadi merasa kurang percaya diri, entah apa yang ada pada diriku yang membuat Eyang sepertinya kurang srek denganku?"


" Tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna, menjadi apa adanya kamu saja, mas sudah sangat bahagia, jadi tetap jadi diri kamu yang seperti ini sayang, cuma kalau bisa luangkan banyak waktu buat kekasihmu ini."


" Aku usahakan ya mas, maaf jika belum bisa menjadi yang terbaik buat mas, aku akan mencoba memperbaikinya ya?"


" Hmm... Kamu yang seperti ini lah yang sering membuat mas kagum dan satu yang perlu kamu tahu, apapun keputusan Eyang nantinya, kamu tetap akan menjadi satu-satunya orang yang mas perjuangkan dalam hidup mas, i love you Gendhis sayang."


" Duh... senangnya hatiku saat mendengarnya, i love you too mas, jadi makin sayang deh sama mas, hehe."


" Heleh.. ngomong aja sayang, tapi ketemuan jarang! kita itu tinggal masih satu daerah, tapi sudah kayak LDRan antar pulau saja, seminggu ketemu paling cuma berapa kali, itupun sebentar doang."


" Walau kita jarang bertemu, tapi asal mas tahu saja, hati seorang Gendhis itu sudah dipenuhi oleh nama mas, nggak akan cukup buat satu nama, ehh... bahkan setengah nama yang lain pun tak akan masuk."


" Bohong nggak ini?"


" Percaya deh mas, nggak ada orang lain yang mampu membuatku tertarik selain mas, buktinya diantara para pria yang seliweran dihadapanku selama ini, cuma mas yang mampu nyantol dihatiku, bahkan aku kan yang mengajak mas masuk ke jenjang yang lebih serius duluan? nggak mungkin dong kalau aku begini hanya untuk main-main saja, aku pun ingin hidup bahagia seperti Adam dan Hawa mas."


Gendhis pun sebenarnya tidak ingin seperti ini, dia pun selalu merindukan Panji, walau mereka setiap hari tidak selalu berjumpa, tapi Gendhis selalu menyempatkan diri untuk video call dengannya, walau tidak lama tapi sering dia lakukan beberapa kali dalam sehari untuk mengobati rasa rindu yang menggebu dari dirinya.


" Haduh... mas kok jadi tambah kangen sama kamu ya?"


" Hehe... mas bisa aja deh."


" Gimana kalau nanti sore kita ketemu, sekalian kita cari cincin lamaran buat kamu."


" Benarkah? jadi mas tetap mau melamar aku?"


" Tentu dong sayang, akhir pekan ini mas dan keluarga mas akan datang melamarmu."


" Alhamdulilah, makasih ya mas atas keseriusan mas dalam hubungan kita."


" Walau belum lama kita berkenalan, tapi rasa-rasanya mas tidak akan rela jika harus kehilangan kamu, jadi sebelum orang lain mendahului, mas yang akan duluan mendapatkan kamu."


" Trus Eyang mas gimana?"


" Dia hanya menyuruh kita lebih lama saling mengenal, bukannya tidak mengizinkan aku untuk melamar kamu, jadi untuk masalah Eyang, kamu nggak usah terlalu khawatir, okey sayang?"


" Siap deh, mas memang yang terbaik."


" Jelas dong! kekasihnya siapa dulu!"


Jiwa sombong dari Panji pun langsung keluar seketika, apalagi saat hatinya sedang berbunga-bunga.


" Kekasih aku dong, kalau begitu sampai jumpa nanti sore ya mas, aku harus segera masuk ke ruang operasi sekarang."

__ADS_1


" Okey sayang, take care ya?"


" Bye mas."


Layaknya seseorang yang sedang merasakan apa itu yang dinamakan kasmaran, begitu juga dengan Panji yang seketika langsung senyum-senyum sendiri saat panggilan telpon mereka berakhir.


Seolah masih kurang puas, dia kembali memandang wajah Gendhis dilayar ponselnya, karena foto Gendhis saat mengenakan jas kebanggaannya menjadi wallpaper ponsel miliknya agar setiap saat dia bisa menatap wajah cantik kekasihnya.


Waktupun terus berlalu, akhirnya matahari mulai turun, menandakan jika sore telah tiba, Panji bergegas membereskan meja kerjanya dan segera pergi menjemput kekasih hatinya di rumah sakit.


Dia mengendarai mobilnya dengan cepat kilat, seolah tidak ingin melewatkan sedikit saja waktu untuk bertemu dengan Gendhis, karena menurutnya prioritas utamanya kali ini adalah gadis itu.


Namun yang namanya nasip Apes seseorang tiada yang tahu, saat dia berhenti disebuah traffic light, mobilnya tiba-tiba mati dan sulit untuk dihidupkan kembali.


Tin.. tin.. tin..


Puluhan mobil dan sepeda motor mengklakson dirinya, namun apa daya, dia selalu gagal menghidupkan kembali mobilnya.


" Astaga, kenapa lagi nih mobil, masak karena belum aku service jadi mogok begini? mana di lampu hijau lagi, argh!"


Akhirnya dengan dibantu beberapa pengendara yang lain, dia berhasil menepikan mobilnya dan segera menghubungi tukang derek mobil.


" Bikin Rujak pake buah Kendondong, hari gini mobil mogok, malu dong, haha!"


Kayak nggak asing dengan suaranya?


" Lain kali buang saja pak mobilnya, mobil mogok kok maksa dipake, malu dong sama calon mertuanya yang punya dealer mobil, hahaha!"


" RATU ANDARA, SINI KAMU!"


Entah kenapa semesta alam selalu saja mempertemukan mereka berdua secara kebetulan, tanpa mereka sangka maupun mereka duga.


" Mohon maap nie ye pak, saya ada urusan penting, jadi kagak bisa bantu, kalau begitu saya permisi dulu, silahkan menghubungi mobil derek atau bengkel setempat, bye pak Dosen!"


" Turun sekarang, atau akan aku pastikan kamu mengulang ujian dimata kuliah saya semester ini!"


Asiaaal... menyesal gue berhenti tadi, niat hati mau ngerjain calon kakak ipar, tapi malah kena batunya sendiri.


" Bapak mah nggak asyik deh, sukanya main ngancam aja, tapi beneran pak saya sedang ada kepentingan mendadak, jadi nggak bisa menolong bapak, atau mau aku telponkan bengkel keliling terdekat?"


" Kamu bolos kan hari ini?"


Mampus gue, kenapa dia tahu?


" Enggak kok pak, kuliah saya sudah selesai awal tadi, kelas yang terakhir dosennya sedang berhalangan, jadi kami dikasih tugas doang, hehe.."


" Trus mana si Melody?"


" Owh... Melody ya? dia emm... pergi ke perpustakaan tadi, mau cari buku referensi apa gitu, nggak ngerti deh, itu urusannya orang pinter, jadi aku tinggal aja."


" Jadi orang nggak pinter kok bangga kamu ini, nggak capek apa bohong terus? perlu kah aku pastikan kepada semua dosen jika kamu bolos hari ini, kalau perlu aku laporkan kamu ke Rektor sekalian?"


" Tidak masalah, dia pamanku." Jawab Ratu dengan santainya.


Aish.. aku lupa kalau kampus itu milik keluarganya.


" Ckk... kalau begitu aku bilang saja ke Dekan, agar memberikan perintah ke semua dosen, untuk memberikan tugas kepadamu, disetiap mata pelajaran yang ada di kampus itu!"


"Hehe, jangan dong pak, bercanda doang tadi." Kalau sudah dalam hal membuat tugas, Ratu lah orang yang paling malas mengerjakannya.


" Candaanmu tidak berguna, cepat kembali ke kampus!"


" Percuma juga pak, sampai sana palingan cuma tinggal lima belas menit doang, baru hidupkan laptop juga kelas sudah berakhir." Jawab Ratu sambil melihat jam tangan mahal miliknya.


Apa aku suruh saja dia nganterin aku ke rumah sakit kakaknya ya, kalau nunggu mobil jadi pasti lama juga, nanti Gendhis nungguin aku terlalu lama.


" Kalau begitu mana kunci mobilmu!"


" Buat apa pak?"


" Cepat!"


" Bapak mau ngrampok aku ya?"


" Nggak ada gunanya ngrampok kamu, ini juga cuma mobil orang tua kamu kan!"


" Tapi pak?"


" Mau ikut, atau mau pulang sendiri naik taksi?"


Saat terlihat ada mobil derek yang akan membawa mobilnya ke bengkel, Panji langsung masuk ke mobil Ratu.


" Dih... ini kan mobil saya pak?"


" Ya sudah buruan naik!"


Mau nggak mau terpaksa Ratu masuk kedalam mobilnya, daripada harus pulang naik taksi pikirnya.


" Mau kemana sih pak?"

__ADS_1


" Menjemput calon istri saya lah!"


" Itu kakak saya berarti dong?"


" Sampai saat ini pun bapak masih belum bisa percaya kalau dia itu kakak kamu!"


" Ya... ya... ya... terserah bapak saja, aku malas mendengarnya!" Ratu langsung melengos dan memilih melihat ke arah jendela, daripada harus dibanding-bandingkan dengan kakaknya lagi.


Tanpa terasa mobil Ratu sudah memasuki area rumah sakit, terlihat Gendhis sudah menunggu disebuah kursi sambil bersenda gurau bersama beberapa suster disana.


" Sayang."


" Cie... kekasih dokter ya? wah.. tampan dan keren sekali?" Ucap beberapa suster yang langsung berkomentar.


" Heleh... mau pacarnya botak dan tua juga pasti mereka bilang tampan dan keren, palingan cuma pencitraan doang!" Ratu mengumpat perlahan sambil meminta kunci mobil miliknya.


" Ngomong apa kamu Ratu!"


" Nothing, sini pak kuncinya aku mau pulang!"


" Ratu!" Gendhis langsung memanggil adeknya.


" Fuh... apalagi ini?"


" Ngapain kamu disini? kamu bolos ya?"


" Kakakku tersayang, mau aku bolos juga seharusnya kakak mengucapkan ribuan terima kasih kepadaku, karena sudah memberikan tumpangan kepada kekasih kakak yang apes ini."


" Maksudnya gimana? owh iya... kenapa kalian bisa satu mobil?"


" Mobil mas tiba-tiba mogok dijalan sayang, trus Ratu lewat, jadi aku minta dia untuk nganterin kamu kesini, kalau nungguin mobilnya kelar entah sampai jam berapa."


" Dih... mana ada meminta, yang ada juga memaksa!" Umpat Ratu kembali.


" Ratu!"


" Iya... iya... kalian berdua cocoklah, sepasang kekasih yang menyebalkan, kalau begitu BYE!" Ratu langsung memilih untuk balik kanan saja.


" Dokter... dokter Gendhis, tolong bantu kami!"


Tiba-tiba ada satu orang suster yang berteriak sambil berlari kearah mereka dengan panik, sehingga Ratu pun menghentikan langkahnya dan ikut kepo dengan apa yang terjadi.


" Ada apa Sus?"


" Ada pasien dokter Rudi yang kritis, sedangkan beliau baru keluar beberapa saat tadi, karena ada sesuatu yang tertinggal, jadi boleh dokter lihat dulu sekarang?"


" Astaga, apa nggak ada dokter jaga lainnya?"


" Untuk dokter spesialis mereka sudah pada pulang dokter, yang ada tinggal dokter umum."


" Baiklah, kalau begitu aku kesana sekarang!"


" Baik dokter!"


" Mas... sepertinya kita tunda saja gimana? aku nggak tahu sampai jam berapa gantiin dokter Rudi?"


" Tapi sayang, besok sore sudah kita pakai loh? belum nanti kalau ukurannya belum ada?"


" Kalau begitu ajak Ratu, ukuran jari kami hampir sama kok."


" Dih... apaan sih kak, yang mau lamaran siapa yang ribet siapa!" Ratu langsung saja protes.


" Ratu, ini masalah nyawa dipertaruhkan, aku harus segera masuk kedalam, maaf banget ya mas, nanti difotoin aja okey, kalian hati-hati dijalan!"


Gendhis langsung memakai kembali jas putih miliknya sambil berlari dan masuk kembali kedalam rumah sakit.


" Huft... selalu saja begini." Panji hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.


" Cie? galau ni ye!"


" Diam kamu, bawa sini kuncinya!"


" So... masih mau membanding-bandingkan diriku yang lemah ini dengan kakakku yang cerdas itu?"


" Apaan sih?"


" Mending yang mana? yang tidak bisa apa-apa tapi selalu ada buat bapak? atau yang serba bisa dan membanggakan tapi tidak pernah ada waktu buat bapak?"


" Maksud kamu?"


" Opsh... jadi lupa, emang siapa juga yang mau sama bapak, begini-begini juga seleraku bukan bapak, mending pak Arga kemana-mana, haha!"


" Apalagi bapak, kamu itu belajar saja malas, gimana mau bisa jadi orang berguna buat Nusa dan Bangsa, apa kamu bercita-cita untuk menambah sampah Masyarakat di Negara ini!"


" Jika Setan tidak bisa membuatmu jahat, maka Setan akan membuatmu merasa paling pintar dan paling benar, hati-hatilah kawan!" Umpat Ratu dengan kesal.


Apa dia mengataiku sebagai Setan?


" Dasar bocah nakal! awas kamu ya, ayo masuk ke mobil!" Panji langsung memiting leher Ratu dengan gemas dan membawanya masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Dia pun sempat tertegun dengan ucapan bocah nakal itu, karena memang ada benarnya juga, mempunyai calon istri yang memiliki karier bagus ada faktor kelemahannya juga, karena selalu tidak ada waktu yang lebih untuk dirinya.


..."Cukup sedikit hal saja, yang akan mampu membuatmu lebih bahagia, semua ada dalam dirimu sendiri yaitu dalam cara berpikirmu."...


__ADS_2