
...Happy Reading...
Hari demi hari berlalu begitu saja, semua terasa sedikit berbeda dalam keluarga anak pertama Andara, setelah kejadian dimana Gendhis merasakan sentuhan bibiir Broto secara nyata hari itu, rumah tangga mereka tak lagi se suram dulu, walau Gendhis masih saja sering bersikap cuek, namun rasa benci dihatinya kepada sang suami tidak sebesar dulu lagi.
" Gendhis... Boleh aku bicara sebentar?" Broto melihat Gendhis sedang duduk santai sambil membaca buku tentang kehamilan sore itu.
" Bicaralah, bukannya bicara tidak harus membeli tiket?" Jawab Gendhis yang hanya melirik sebentar dan kembali membaca buku miliknya.
" Haish... pengen banget aku terjang habis-habisan kamu, kalau lagi kayak gini!" Umpat Broto perlahan sambil mengeratkan barisan gigi putihnya.
" Ngomong apa kamu?" Gendhis kembali meliriknya dengam tajam, sebenarnya dia hanya gengsi saja kalau tiba-tiba menjadi lembut hanya karena dia sudah merasakan manisnya bibiir milik suaminya.
" Huh... Tidak, aku cuma mau menawarkan kamu sesuatu, itu pun kalau kamu setuju." Sebisa mungkin Broto tidak ingin membuat hubungan mereka kembali tegang hanya karena dia tidak bisa menahan emosi dari diri Gendhis.
" Apa itu?" Tanya Gendhis yang langsung mengusap perutnya yang sudah mulai buncit, takut kalau apa yang dikatakan suaminya itu nanti mengejutkan janinnya.
Apa yang harus gue lakukan agar dia mau menyetujuinya ya? Kalau aku bicara lembut belum tentu juga dia setuju kan? emm... Mungkin dengan sedikit menantangnya akan lebih manjur, hehe..
" Kamu tipe orang penakut ya?" Ucap Broto yang langsung membuat Gendhis memelototkan kedua matanya.
" Enak saja kalau bicara ya, kalau aku penakut tidak mungkin aku jadi dokter spesialis, emang kamu apa, dih... cuma dokter umum!"
Yes... Yang begini yang gue maksud!
" Mulai deh menghina, kalau lagi hamil itu ngomongnya yang baik-baik, mau apa anak kamu nanti galak sama kamu!" Umpat Broto yang sebenarnya sudah mulai terbiasa dengan ucapan pedas istrinya, namun demi keinginannya dia rela sedikit mengalah.
" Ckk... Habisnya, kamu yang bikin aku kesel duluan, kenapa jadi nyalahin gue!" Gendhis hanya bisa manyun sambil terus mengusap perutnya, dan seolah bicara dalam hati 'amit-amit jabang bayik jangan sampai itu terjadi pada anakku'.
" Kalau misalnya nih, kamu menangani pasien yang sedang kritis sendirian, kamu berani nggak?" Tanya Broto kembali.
" Kalau ada yang lain membantu, kenapa aku harus mengerjakannya sendirian? Bukannya nyawa seseorang itu penting dan harus didahulukan?"
" Cuma misalnya Gendhis, misal doang, yaelah.." Broto hanya mampu mengepalkan kedua tangannya sendiri untuk melampiaskan rasa kekesalannya.
" Kalau memang hanya aku saja yang ada disana, why not?" Jawab Gendhis dengan santai.
" Emang kalau misalnya nih, kamu masuk ke ruang jenazah sendirian berani nggak?" Tanya Broto kembali yang sukses membuat Gendhis sampai di puncak kekesalannya.
" Ngapain juga aku harus masuk ke ruang jenazah Broto? Emangnya kamu sudah siap meninggalkan dunia ini apa?"
" Hush... Kamu ini kalau ngomong ya?"
" Habisnya kamu ini, kalau ngomong sudah cocok masuk neraka deh."
" Ya ampun, gemes aku sama ini bibiir, untung enak, kalau enggak sudah aku ulek pake cobek jumbo kamu!" Karena terlalu gemas Broto mendekat ke arah istrinya dan mencubit bibiir Gendhis.
" Hehe... Siapa suruh nanya nya yang aneh-aneh gitu sih, sebenarnya kamu ini mau ngomong apa!"
Tidak disangka, bukannya marah seperti biasanya, namun Gendhis malah tersenyum dengan manisnya saat Broto terlihat gemas dengannya.
Ya ampun, kalau dia senyum begini amarahku sepertinya hilang semua.
" Kamu cantik kalau begini." Broto menatap takjub kecantikan istrinya yang jarang dia lihat.
" Apaan sih, awas jangan dekat-dekat, aku tuh gampang gerah tau nggak." Gendhis langsung tersipu malu dan pura-pura mendorong tubuh Broto agar menjauh darinya.
" Emm... Jadi kalau kamu tinggal sendiri di rumah berani nggak?" Broto kembali ke topik pembahasan utama.
" Emangnya aku anak kecil, yang nangis kalau ditinggal dirumah sendiri? Kamu ini dari tadi nanyanya nggak jelas deh, kayak hidup kamu!"
" Ckk... Ya sudah, kamu lihat rumah ini, bagus nggak?"
Karena ucapan istrinya semakin lama semakin memancing emosinya, jadi dia langsung menyerahkan ponselnya saja untuk memperlihatkan foto rumah beserta isinya kepada Gendhis.
" Rumah siapa ini?" Gendhis langsung menggeser layar ponsel Broto, mengamati setiap gambar dari berbagai sudut rumah mewah disana.
" Aku cuma mau tau aja, selera kamu itu tinggi apa enggak kalau menilai sebuah rumah berserta desain-desainnya."
" Bagus sih, elegan, desainnya juga keren, perpaduan catnya juga cantik, cuma mungkin terlalu gede, tapi kalau buat keluarga besar sih okey, emang kamu mau pindah profesi jadi arsitek?"
" Emang kamu mau aku jadi arsitek?"
" Kenapa malah jadi kamu yang nanya ke aku balik? Aneh deh kamu ini."
" Gendhis... Aku tuh cuma mau jadi seperti apa yang kamu mau, tapi kamu nggak pernah mau ngerti dan nggak mau ngasih kesempatan buat aku!" Broto langsung duduk bersila didepan Gendhis sambil mengusap perut buncitnya.
" Apaan sih?"
" Kamu tau nggak, aku tuh sudah menyukai kamu sederas hujan, tapi kamu malah memilih lari disamber petir!"
" Kamu ini kenapa? kok jadi aneh banget kayak gini? Banyak pasien kah tadi? trus kamu kecapekan gitu, atau kamu lapar karena belum makan?"
Gendhis pun bahkan tidak melarang atau mencegah tangan Broto yang terus saja mengusap perutnya, seolah Gendhis merasakan kenyaman disana, bahkan seperti ada sesuatu yang bergerak-gerak diperutnya saat tangan Broto menempel disana.
" Aku pengennya makan kamu!" Ucap Broto sambil mencium perut Gendhis saat dia terlihat tidak marah dan berontak, biasanya tangannya menyentuh sedikit saja langsung di kibaskan, tapi kali ini Gendhis membiarkan saja Broto bergerak sesuka hatinya.
" Apalagi ini Broto? Nggak usah drama deh, kamu sebenarnya mau ngomong apa?" Gendhis bahkan tanpa sadar mengusap kepala Broto karena terus menempel di perutnya.
__ADS_1
" Kamu mau nggak tinggal dirumah itu?" Broto terus saja menghujani kecvpan di perut Gendhis.
" Rumah yang mana?"
" Atau kamu takut tinggal dirumah sendirian?"
" Enggak, tapi tinggal di rumah mana? Bukannya enak tinggal disini, mau ke rumah sakit juga dekat kan?"
" Itu juga dekat kok dari rumah sakit, kita pindah kesana ya?"
" Pindah gimana sih maksud kamu?"
" Katanya kamu suka tadi, aku sudah membeli rumah itu untuk kamu, untuk dedek kita juga nanti."
" Hah?"
" Mau ya? Masak kamu nggak malu, sudah menikah masih tinggal sama orang tua?"
" Kenapa? ini rumah orang tua aku dan rumah aku sejak kecil, banyak kamar yang kosong, ngapain juga harus pindah rumah?" Jelas Gendhis dengan santainya, dia memang tidak kepikiran ke arah sana.
" Cemen, bilang aja kamu takut tinggal dirumah sendirian kalau aku pergi kerja kan?"
" Bukan takut, tapi ngapain juga gitu?"
" Ayoklah... Kamu ini udah dewasa, masak nggak mau mandiri, nempel aja sama orang tua, anak mama kamu ya!"
" Ckk... Kamu ini nyebelin banget, ya sudah.. Besok kita pindah, gitu aja ribet!" Semakin ditantang, semakin mudah menakhlukkan Gendhis.
Yess... Uhuyyy
" Okey, kalau begitu kita berangkat sekarang!"
Karena terlalu bahagia, Broto langsung menggendong tubuh Gendhis dan membawanya menuju mobil.
" Apaan sih Broto, turunkan aku, kalau jatuh bagaimana ini?" Gendhis langsung memeluk leher Broto dengan erat, berat badannya sudah naik hampir lima kg, jadi dia takut Broto tidak kuat dan malah menjatuhkan dirinya.
" Tidak akan, suami kamu itu perkasa luar dalam."
Broto langsung memasukkan Gendhis kedalam mobilnya.
" Kita mau kemana?"
" Ke rumah kita lah, yang kamu bilang bagus tadi."
" Hah? Jangan ngaco deh, aku cuma pake daster Broto!"
" It's okey, bahkan aku semakin suka kalau lihat kamu cuma pake daster begini, tambah cantik dan seksih kalau pakai daster begini, hehe.."
Wajahnya langsung melengos ke luar jendela, padahal hatinya sudah berbunga-bunga, semakin lama Gendhis mengenal Broto lebih dekat semakin dia tahu sisi lain dari Broto, walaupun sering menjengkelkan tapi terkadang dia juga tiba-tiba sering bersikap manis.
Sebuah rumah yang cukup besar sengaja dia beli, saat beberapa hari yang lalu Gendhis bersikap welcome dengannya, dia langsung mencari rumah yang siap untuk di huni.
Sedari awal pernikahannya ibunya sudah menawarkan rumah untuknya, namun Broto kira pernikahan dia tidak akan bertahan lama dan mungkin hanya bertahan sampai anak itu lahir, tapi ternyata Tuhan berkata lain, Dialah maha pembolak-balik hati manusia.
Dalam waktu sekejab saja, Gendhis seolah bisa menerimanya, walau mungkin terpaksa tidak masalah bagi Broto, karena menurutnya dari sesuatu hal yang terpaksa bisa jadi terbiasa dan akhirnya tidak bisa tanpanya.
" Gimana mewah kan?"
" Lumayan sih?"
" Ckk... selera kamu ini rendah sekali, ini sudah termasuk golongan mewah, kamu masih bilang lumayan!"
" Kalau menurut gue lumayan kenapa emangnya? Taste orang kan berbeda-beda, trus kamu ngak terima gituh dengan pendapatku?"
Saat Gendhis sudah mulai berkacak pinggang seperti itu, Broto langsung memijit kedua bahunya dan menarik nafas dalam-dalam agar tidak mudah terbakar emosi.
" Orang hamil tambah cantik, orang hamil tambah cantik, oey... Cantik sekali."
Broto tidak mau melayani ocehan Gendhis, lebih baik dia menghindar sambil mengalihkan perhatian dengan sebuah nyanyian yang sebenarnya terdengar garing sekali.
" Nggak jelas banget ini orang!"
Karena hari mulai gelap, Gendhis pun mengikuti langkah Broto untuk masuk kedalam rumah.
" Kalau begitu, jelaskan padaku isi hatimu, seberapa besar kau yakin padaku?" Tampil dengan gaya slengek an adalah gaya Broto untuk menghilangkan rasa emosinya melawan wanita yang menurutnya selalu benar.
" Bisa berhenti nggak nyanyinya? Berisik tau nggak!" Hujat Gendhis setelahnya.
" Biar nggak sepi istrikuh."
" Dih... Jangan sampai kamu niru kelakuan papa kamu yang begituan ya dek, tiru aja kelakuan mama kamu." Gendhis kembali mengusap perutnya sepanjang jalan menuju sebuah kamar yang akan menjadi tempat mereka.
Akhirnya, dia mau mengakui kalau aku ini papanya dan dia mamanya, thank's God..
Broto menarik kedua sudut bibirnya dengan lebar keatas, ada rasa yang sulit digambarkan saat mendengar umpatan istrinya tadi, ada rasa bahagia yang sulit dia ucapkan, akhirnya orang yang dia benci sekaligus orang yang dia cintai mau menerima dirinya walau masih butuh proses panjang.
PR dia selanjutnya adalah membuat Gendhis jatuh hati dengannya, dan tidak akan mengucapkan kata pisah dengan dirinya untuk selama-lamanya.
__ADS_1
" Eh... Istriku!" Tiba-tiba Broto menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.
" Apalagi ini, bisa nggak kalau ngomong itu nggak ngagetin?"
" Hehe... Maaf, dedek kaget ya? Maafin papa sayang, baik-baik ya didalam perut mama, jangan menyusahkan mama, tos dulu kita sayang!"
Broto langsung jongkok didepan Gendhis dan menempelkan tangannya di perut. Sedangkan Gendhis pun tersenyum melihat kelakuan dan ucapan suaminya.
" Masih orok kok diajak tos, nggak sekalian diajak nongkrong sama ngopi aja?" Umpat Gendhis sambil menahan tawa.
Nongkrong sambil ngopi?
Terbesit satu ide jahil di pikiran Broto saat mendengar umpatan istrinya.
" Gendhis... Kata pemilik rumah ini, ada satu ritual yang harus kita lakukan agar rumah ini nyaman ditempati oleh keluarga kecil kita nanti."
" Apaan tuh?" Gendhis langsung menaikkan kedua alisnya, sebenarnya dia tidak terlalu percaya dengan hal-hal seperti itu, namun tidak bisa dia pungkiri kalau terkadang hal-hal mistis itu sering terjadi disekitarnya.
" Tapi kamu jangan marah ya?"
" Kenapa aku harus marah, kalau memang itu benar adanya?"
" Benar atau tidaknya aku mana tahu, cuma pemiliknya tadi berpesan untuk melakukan hal itu, mau percaya atau tidak itu bukan urusannya katanya."
" Kalau kita nggak melakukan hal itu bagaimana?" Tanya Gendhis yang sudah mulai curiga.
" Ya nggak papa katanya, yang nanggung semuanya kan kita, orang yang nempatin kita bukan dia?"
" Duh... Kok aku jadi ngeri sih? Jangan-jangan harus pake bunga sama bakar-bakaran kemenyan gitu ya? Aku kok jadi gimana gitu?"
Apalagi saat dia mengingat eyang dari mantan kekasihnya itu, hawa horor tiba-tiba datang menyelimuti sekeliling tubuh Gendhis.
" Bukan yang kayak gitu Ndhis, ini ritual lain."
" Seriusan?"
" Iya, ini tidak ada sangkut pautnya dengan hal horor."
" Benarkah? Kalau begitu apa salahnya kita lakuin hal itu? Ayok lah." Gendhis malah terlihat lebih semangat jadinya.
Uraaaaaaaaaaa!
" Baiklah, ayok ikut aku." Broto langsung menggandeng tubuh istrinya untuk masuk kedalam kamar yang akan mereka tempati.
Broto sudah menyiapkan rumah itu lengkap dengan isi dan perabot rumah tangga didalamnya, jadi rumah itu sudah bersih dan siap huni, hanya saja dia belum mendapatkan asisten rumah tangga saat ini.
" Apa sih ritualnya, nggak aneh-aneh kan?"
" Nggak lah ini wajar dilakukan oleh suami istri saat malam hari."
Klik!
Broto langsung mematikan lampu kamar itu dan membiarkan lampu tidur yang hanya menyala dengan redup.
Degh!
Entah mengapa jantung Gendhis seolah berhenti berdetak, bayangan kelam saat dia terbangun setelah Broto merenggut kesucian dirinya langsung muncul seketika.
" A... Apa yang akan kamu lakukan Broto?" Tiba-tiba tangannya bergetar, semenjak saat itu pun dia takut jika lampu kamar miliknya padam, dia lebih nyenyak tidur dengan lampu menyala.
" Syarat ritualnya adalah kamu harus mende sah dikamar ini berdua denganku." Ucap Broto dengan tingkah tengilnya.
" Aaaaaaaaa... Tapi... Tapi aku... Aaaaaaa... Aku takut, aku... aku... Aku benci kamu Broto!"
Tiba-tiba Gendhis menutup kedua telinganya dan memejamkan kedua matanya, traumanya kembali datang, ketakutan itu kembali muncul, kilas balik tawa Broto setelah dia bangun dengan tubuhnya yang telan jang seolah hadir didepan mata.
" Gendhis, are you okey?" Broto langsung terlihat panik saat raut wajah Gendhis berubah.
" Aaaaaaa... aku nggak mau Broto!"
Ceklik.
Broto langsung berlari kearah saklar lampu dan menghidupkannya kembali.
" Okey... Kalau kamu tidak bisa melakukannya, aku tidak akan memaksamu Gendhis, kamu tenang ya? Apa aku perlu keluar dari sini?"
Broto bahkan seperti orang yang sedang menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib sebagai tersangka, dia mengangkat kedua tangannya dan berjalan mundur menjauh dari Gendhis.
Kecewa?
Itu sudah pasti, tapi itu memang kesalahan terbesar di dirinya, namun dia tidak terlalu menyesal akan hal itu, karena tanpa tragedi seperti itu dia tidak akan mendapatkan Gendhis dihidupnya walau dengan cara paksa sekalipun.
Saat ini dia hanya perlu bersabar dan tidak memaksakan kehendak dirinya untuk sementara waktu, karena dia yakin suatu hari nanti dia pasti akan mendapatkan apa yang sudah menjadi haknya.
Jika Tuhan masih mengizinkan kamu untuk untuk bangun pagi tadi, masih bernafas, itu artinya cerita hidupmu belum selesai.
Seburuk apapun keadaanmu yang sekarang, itu belum akhir dari ceritamu, karena Tuhan masih punya seribu rencana untukmu, terus perbaiki dirimu, agar nasib baik terus mengikutimu.
__ADS_1
Tidak ada proses yang Mudah, untuk hasil yang Indah.
Salam satu jempol, jangan lupakan juga Vote dari kalian bestie😊