
...Happy Reading...
Di sebuah halaman yang asri dan cukup luas dengan bangunan rumah lama namun terkesan klasik, terlihat ramai sanak saudara Melody yang sedang mengadakan arisan keluarga.
Terdapat dua kubu disana, yaitu kubu para anak muda yang terdiri dari semua keponakan dan sepupu Melody yang sedang asyik bersenda gurau dan juga kubu para orang tua yang sedang heboh membanggakan anak mereka masing-masing.
"Bu Winda.. katanya Melody kuliah di fakultas ternama, tumben dia pulang, padahal ini kan belum liburan semester kan?" Tanya saudara dari keluarga Melody disana.
"Dia ngambil cuti beberapa hari, dua hari yang lalu dia pulang karena lagi nggak enak badan, baru hari ini dia mulai membaik dan bisa ngobrol begitu." Jawab Winda ibu dari Melody, yang kemarin pun kaget saat anaknya tiba-tiba pulang tanpa pemberitahuan.
"Begitu ya, sudah punya pacar belum Melody?" Tanya saudara yang lainnya.
Kalau para ibu-ibu sudah berkumpul, pasti ada saja topik yang mereka bicarakan, seolah semua yang terjadi akan dikupas habis oleh mereka satu persatu.
"Belum.. saya memang menyuruh Melody untuk fokus kuliah aja dulu,biar belajarnya tidak terganggu, masalah jodoh itu gampang, nanti kalau sudah bekerja baru mikirin itu." Jawabnya dengan bangga.
"Bener itu jeng, eh... anak saya kerja di kota yang sama dengan Melody loh, tuh dia baru aja pulang, besok kalau Melody sudah lulus, bagaimana kalau kita jodohkan mereka saja, boleh kan menikah sama sepupu sendiri?"
"Boleh... tapi jaman sekarang mereka pasti tidak mau dijodoh-jodohkan, memangnya ini jaman kita dulu apa?"
"Iya juga kan? Tapi kalau emang jodoh siapa yang tahu, mereka dulu dekat sekali waktu masih sama-sama SD kan?"
"Haha... Iya, bahkan mereka main pengantin-pengantinan dulu, tapi ya sudahlah.. namanya masih bocah, yang pasti sekarang saya memang melarang dia untuk berhubungan serius dengan pria dulu, kalau sekedar berteman saja nggak masalah, yang penting tidak terlalu terobsesi pacaran, karena kalau sampai kelewatan yang ada pasti putus kuliah dan menikah." Jelas Winda dengan keyakinan tinggi terhadap putrinya.
"Bener itu, kalau sudah menikah sulit mau meneruskan kuliah, apalagi sudah punya anak, konsentrasinya pasti terbelah, sayang kan kalau mahasiswa berprestasi harus menikah muda dan putus kuliah?"
"Bener itu, makanya aku sering mewanti-wanti Melody agar fokus kuliah, jangan dulu memikirkan pacaran."
"Buk.. Air es nya masih enggak?"
Tiba-tiba topik pembicaraan mereka berjalan mendekat ke arahnya.
"Masih nak, ambil saja di Kulkas ya?" Jawab Winda dengan senyum merekah, putrinya memang sedari dulu selalu membanggakan mereka dengan segudang prestasi yang berhasil dia dapatkan.
"Melody.. Biar aku bantu." Candra langsung bangkit dan menemani Melody pergi ke dapur, dialah sepupu yang tadi dijodoh-jodohkan olehnya.
"Nggak usah nggak papa loh kak!"
"Nggak papa, kamu jangan bawa yang dingin-dingin, nanti hati kamu kelamaan beku, jadi nggak bisa menerima aku dihatimu." Ternyata pria itu pandai bermain kata, karena memang umurnya sudah lebih dewasa, siapa juga yang tidak tertarik dengan orang seperti Melody.
__ADS_1
"Bahaha... Apaan sih kak, nggak jelas banget!" Umpat Melody yang langsung terkekeh karenanya.
"Cie... Bawa es batu segitu aja berdua, pede kate nih ceritanya, haha!" Saudara lainnya langsung saja ikut bersorak karena sudah menemukan topik perghibahan terhangat.
"Apaan sih kalian ini, peribahasa mengatakan ringan sama dijinjing, berat sama dipikul tau nggak!" Melody langsung protes karenanya.
"Begitulah, kalau suami istri memang harus saling membantu!" Candra langsung ikut menimpali.
"Huuuuuu... Emang sejak kapan kalian menikah?" Tanya mereka semua sambil bersorak.
"Sudah sejak lama kali." Jawab Candra dengan kepercayaan diri penuh.
"Apaan sih kak, nggak lucu tau nggak, bisa menimbulkan fitnah nantinya." Melody langsung saja mencubit pinggangnya.
"Ehh... Kita emang belum bercerai loh dek, dulu kita menikah kan saat kamu SD kelas tiga dan kakak kelas enam, hayow?" Candra seolah berbicara serius.
"Bahahaha... Itu cuma mainan aja kak!" Melody langsung tertawa mendengarnya.
"Pernikahan mana boleh buat mainan ya kan!"
"Haduh... Kakak kelamaan jomblo ya, jadi oleng kayak gini, haha?" Ledek Melody yang sebenarnya malu juga saat mengingat masa kecil mereka yang memang selalu berkesan.
"Wahahahaha... Kalau belum bercerai civm dong, biar kalian berdua mesra kembali." Ledek yang lainnya.
"Ayo... cium.. cium.. cium!"
Mereka semua kompak bersorak dan bertepuk tangan untuk memberikan semangat kepada Candra agar mencium Melody.
"Dek sebagai kakak yang baik, minta cium di kening sedikit boleh kan dek, biar mereka senang!" Bisik Candra yang mencari kesempatan.
"Nggak mau, apa-apaan sih kak, nggak jelas banget deh!" Melody langsung saja menolaknya.
"Seru-seruan aja lagi dek, daripada bosan nunggu orang tua kita arisan kan?"
"Ayo... Tunggu apa lagi, nanti kalau kalian beneran ciuman aku kasih voucher gratis makan di warung nyokap gue selama satu minggu, haha..!" Teriak sepupu Melody yang lainnya.
"Waah... Lumayan itu dek, ayo dek, kamu masih lama kan disini, besok kakak temani kamu jalan-jalan deh." Rayu Candra yang belum mau menyerah.
"Tapi?"
__ADS_1
"Ayolah!"
Melody ingin menolaknya, namun Candra langsung menarik tangan Melody dan membawanya di tengah-tengah kubu para anak muda itu.
"MAMA... MAMA MELODY!"
Saat Candra masih memegang kepala Melody dan siap melanjutkan drama pernikahan masa kecilnya dulu, tiba-tiba terdengar suara anak kecil yang berteriak ke arah mereka dengan memanggil sebutan Mama, bahkan lengkap dengan nama, sehingga semua mata yang ada dirumah itu terarah kepada bocah kecil yang sedang berdiri disamping pria tampan yang menggunakan kaca mata hitam, kemeja putih dan celana jeans berwarna biru itu.
Mampus gue... Kenapa Pak Arga sama Hugo kemari? Kenapa mereka bisa tahu alamat rumahku? Aaaaaa... kenapa mereka datang disaat yang tidak tepat.
"Mama... aku rindu!"
Hugo langsung berlari melewati segerombolan anak muda yang dengan reflek memberikan jalan kepadanya, sehingga bocah kecil, lucu nan menggemaskan itu dengan mudahnya berlari kearah Melody yang saat ini terdiam terpaku ditempat.
"HAH... ANAK?"
Semua orang langsung melongo, seperti sedang melihat siaran langsung yang sangat mencengangkan.
"Hugo?"
Dia pun tidak mungkin menolaknya saat Hugo langsung ingin meloncat kedalam pelukannya.
"Mama... Kenapa mama nggak pulang-pulang, ayah sudah mencari mama kemana-mana, kenapa pergi nggak pamit dengan kami, Hugo dan ayah rindu sama mama."
Duar!
Akhirnya Melody berhasil memberikan kejutan kepada keluarga besarnya, yang seolah melebihi kagetnya mendapatkan sebuah mobil dari undian lotre.
Aduh... sedang apa kamu disini Melody? Pantesan kamu betah disini dan melupakan aku, ternyata kamu dikelilingi ABG-ABG tampan disini ya? Awas aja kamu gadis nakal ku!
"Sayang... Ayo kita pulang?"
Bruk!
Dan ucapan Arga ditengah-tengah heningnya suasana arisan keluarga yang seperti orang terhipnotis itu, membuat sang ibunda Melody jatuh pingsan karena terkejut saat mendapati putrinya dipanggil 'Mama' oleh seorang anak kecil dan juga dipanggil 'Sayang' oleh seorang pria tampan yang berjalan kearahnya sambil membuka kaca mata hitam dengan kerennya.
Ketika takdir memanggilmu untuk mulai berjuang, pilihannya hanya melakukannya dengan berani dan jadilah lebih kuat.
Kemampuan merasakan nikmat sabar, tergantung sejauh mana keimanan kita terhadap takdir yang Allah tetapkan.
__ADS_1
Karena Takdir itu bukan untuk ditentang, tapi untuk diterima.