Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
24. Firasat


__ADS_3

...Happy Reading...


Malam yang telah dinanti-nantikan oleh Gendhis dan Panji pun akhirnya tiba, rumah yang sudah mewah dan megah itu tidak perlu di dekor pun sudah terlihat bagus, jika dijadikan sebagai latar belakang foto untuk mengabadikan moment berkesan malam ini.


Hanya tinggal menambahkan beberapa tumpuk rangkaian bunga berwarna putih dan beberapa hiasan lampu sudah terlihat sempurna untuk acara Pertunangan mereka.


" Ratu.. kenapa kamu seperti orang yang tidak punya semangat hidup gitu?"


Melody yang sudah datang sedari tadi dan menjadi seksi wira-wiri dalam acara itu, kini duduk bersebelahan dengan Ratu sambil menunggu acaranya dimulai.


" Hati gue sedang tidak baik-baik saja." Jawab Ratu dengan pandangan lurus ke arah seseorang didepan sana.


" Kenapa? jangan bilang kamu juga suka dengan pak Panji ya? trus kamu akhirnya tidak rela jika dia harus bertunangan dengan kakakmu, sejak kapan perasaan itu muncul Ratu, sejak kapan?"


Rentetan pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulut Melody, kemarin dia sudah curiga saat Ratu bercerita kalau dia yang akhirnya menemani Panji membeli cincin lamaran untuk kakaknya.


Pletak!


Ratu langsung menyentil kening sahabatnya yang sudah mulai banyak bicara seperti dirinya.


" Sakit Ratu!" Melody langsung melihat wajahnya di layar ponsel, takut kalau riasan wajahnya tercoreng.


" Kamu ini kalau ngomong ya, bukan pak Panji, tapi pasangan yang disebelahnya itu loh." Ratu menunjuk Arga dan istrinya yang duduk disebelah Panji, mereka ikut rombongan dari keluarga besar Panji.


" Astaga Ratu! kamu masih berminat jadi pelakor?" Tanya Melody dengan tatapan jengah, temannya ini kalau sudah punya keinginan sulit sekali dikendorkan.


" Kenyataan ini sungguh menusuk jantungku Mel!" Ratu seolah mendramatisir keadaan, dia seolah iri saat melihat kemesraan antara Arga dengan istrinya.


" Nyebut kamu Tu, harapanmu untuk mendapatkan pak Arga itu ibarat Punguk merindukan Bulan, jadi sudahlah, menyerah saja."


" Aku tuh pengen nyerah, tapi kalau lihat mereka romantis, pake baju batik couple-an, selalu berduaan dimanapun mereka berada, ditambah lagi Pak Arga itu tidak pernah malu mengumbar kemesraan dengan istrinya didepan semua orang, itu jarang banget terjadi Mel, sweet banget kan, pokoknya dia itu idaman gue banget!" Ratu bahkan mengusap dadaanya yang terasa sesak.


" Trus elu maunya gimana? mau menghasut pak Arga biar menjadikan kamu istri keduanya?"


" Kalau bisa iya, bantuin gue dong, kasih tahu caranya?"


Plak!


Giliran Melody yang langsung memukul lengan sahabatnya itu dengan menggunakan sedikit tenaga.


" Mustahil Ratu! sudah ratusan kali kamu menggoda pak Arga, nyatanya sekali saja nggak ada yang mempan, jadi sadar dirilah Ratu, kamu memang tidak pernah diizinkan menjadi pelakor di dunia ini, mengerti!"


Melody bahkan menggeratkan barisan gigi putihnya karena terlalu heran melihat tingkah sahabatnya yang sudah menggila dan tidak tahu aturan itu.


" Iya juga sih, aku rasa istrinya pak Arga itu jago pelet deh, kira-kira dimana ya lokasi dukun nya itu, pengen banget kesono!"


" Ampun dah Gusti, aku rasa kamu perlu dibawa ke rumah sakit jiwa deh, nggak ada kapoknya kamu ini."


Mau tidak percaya, tapi dia Ratu.


" Namanya juga cinta Mel, elu belum pernah aja merasakannya."


" Ya pernah lah, tapi kan nggak segila kamu!" Jawab Melody sambil tersenyum miring.


" Apa ini ribut-ribut, Ratu sini kamu." Tiba-tiba Gendhis datang dengan diikuti Panji dibelakangnya.


" Apaan sih kak!" Tanya Ratu yang sudah kecapekkan karena seharian ini dia sudah mondar mandir disuruh ini itu oleh kakak dan ibunya.


" Tolong anterin mas Panji ke kamar mandi dalam ya, kakak mau menyambut temen-temen dari rumah sakit, itu udah pada datang."


" Yaelah manja banget, tinggal masuk aja, trus belok kiri jalan terus, ada kolam renang belok kanan, trus masuk ke lorong sebelah kiri jalan terus sampai mentok, sampai dah!"


" Buset dah, itu rumah atau pabrik, rumit banget mau ke kamar mandi doang, kegedean rumah sih kalian." Melody ikut berkomentar karenanya.


" Biar cepet Ratu, tadi kakak suruh ke kamar mandi kamar kakak nggak mau mas Panji, buruan sana anterin sebentar aja kok."


" Kenapa sih, semua yang berhubungan dengan dosen killer itu harus memanggil nama Ratu!"


" Sabar cuy, buruan deh daripada elu diterkam nanti sama beliau, tuh... taringnya sudah mau keluar!" Melody langsung meledek sahabatnya itu.


" Woi.. pak panji, ayok saya antarkan ke kamar mandi!"


" Hush... yang bener manggilnya, dia itu dosen kamu, nggak ada sopannya jadi adek ipar!" Gendhis yang ingin berlalu jadi balik lagi untuk menoyor adek nakalnya itu.


" Pak Panji yang terhormat, mari saya antarkan ke kamar mandi bawah." Ratu memilih mengalah saja karena wajah dosennya itupun terlihat tidak bersahabat.


" Mas... biar Ratu yang nganterin ya, aku tunggu didepan." Gendhis mengusap lembut lengan calon tunangannya itu.


" E... enggak, nggak usah sayang, mas bisa sendiri, kamu tunjukkan saja dimana letak kamar mandinya."

__ADS_1


" Agak belok-belok kalau kamar mandi bawah mas, biar dianter sama Ratu aja, nanti keburu tamu undangan kita datang semua, acaranya kan sudah mau dimulai?"


" Buruan deh pak, nggak usah drama, biasanya juga nyusahin aku terus, pake jual mahal segala!" Umpat Ratu tanpa ada rasa segan sedikitpun.


" Eherm... ya sudahlah!"


Lain dengan Ratu lain pula dengan ekspresi Panji, sejak tragedi penyosoran diacara lomba di Mall kemarin, walau hanya demi sepasang jam tangan yang tiada duanya itu, dia bahkan tidak bisa tidur semalaman.


Bahkan saat dia bercivman dengan Gendhis saja tidak sampai terbayang-bayang seperti itu, namun entah mengapa dengan kegilaan Ratu membuat memory dikepalanya seolah hanya tertuju pada bibiir mungil itu.


Ada rasa bersalah karena seolah menghianati kekasihnya walau bukan dia yang menginginkannya, namun ada juga perasaan lain yang sulit dia gambarkan.


" Pak, tadi udah dicoba belum cincinnya, pas kan?" Tanya Ratu untuk sekedar ngobrol disepanjang jalan menuju kamar mandi bawah.


" Pak... denger nggak sih kalau orang lagi ngomong? malah bengong lagi?" Ratu jadi kesal sendiri saat dia seolah diabaikan dan tidak dianggap keberadaannya oleh Panji.


Panji bahkan tidak mau memandang wajah Ratu, apalagi kalau melihat benda mungil berwarna merah jambu itu, karena pikirannya langsung tertuju ke kejadian kemarin.


Walau singkat namun seolah rasa itu masih membekas dengan jelas, walau dia sudah menggosok bibiir tebalnya berulang kali, namun seolah rasa mint dari bibiir Ratu masih menempel disana.


" Apa? kamu ngomong apa tadi?" Tanya Panji kembali.


" Makanya lihat orangnya dong kalau diajak bicara, nggak sopan banget bapak ini?"


" Ngomong saja, bapak juga bisa denger!"


" Udah mendesak banget ya pak patung Pancorannya, sampai nggak konsen gitu, kalau begitu lari aja pak biar cepet, go.. go.. go!" Ratu langsung mendorong punggung Panji agar segera berlari.


Dia berpikir Panji nggak konsen karena sudah kebelet, padahal yang sebenarnya karena Panji memang sengaja ingin menjaga pandangannya agar tidak tertumpu pada bibiir mungil itu.


Dasar bocah yang satu ini, apa dia nggak canggung atau gimana gitu setelah kejadian kemarin? dia kayak nggak melakukan kesalahan apa-apa, seperti nggak ada dosa sama sekali, heran dah, terbuat dari apa hati manusia sejenis dia ini!


" Sudah, kamu balik saja kedepan, bapak sudah tau jalannya!"


" Bilang apa dulu pak?"


" Apaan sih Ratu, cepat sana kembali ke depan, jangan buang waktu bapak karena acaranya sudah mau dimulai!"


" Ckkk... dasar pak dosen kagak peka, nggak ada ucapan terima kasih dulu gitu!"


Ratu hanya bisa mengumpat kesal saat melihatnya, walau sebenarnya dia sudah menduganya, jangankan ucapan terima kasih, memandang saja seperti ogah pikirnya, namun dia berlagak cuek saja, karena dia dengan dosennya yang satu itu memang tidak pernah bisa satu server dalam hal apapun.


" Aku di sini bukanlah untuk diriku sendiri. Melainkan untuk dirimu, yang suatu saat nanti akan menjadi prioritas dalam hidupku setelah Sang Pencipta Alam Semesta ini."


Semua keluarga, kerabat dan teman terdekat keduanya ikut terhanyut dengan kata-kata Panji yang diluar dugaan mereka.


Apalagi Ratu dan Melody yang langsung melongo bahkan terngaga saat mendengarnya, mereka tidak menyangka jika dosen yang mereka anggap killer dan super duper dingin seperti Es itu, ternyata bisa merangkai kata-kata manis hingga menjadi ungkapan paling hangat dan romantis dimalam yang dingin ini.


" Aku ingin kamu menjadi perhiasan terindahku, yang kelak bisa bersama mengarungi titian menuju Surga, untuk menggapai ridho-Nya."


Bahkan kedua mata Gendhis sudah mulai berair, baru acara pertunangan saja hatinya sudah dibuat trenyuh dengan ucapan Panji sebelum dia melingkarkan cincin emas dijari manisnya.


" Kita memang belum kenal lama, belum ada pengenalan sebagai sahabat diantara kita, untuk itu, hari ini, aku ingin memintamu untuk menjadi sahabatku. Sehidup semati, kini dan nanti, hingga selamanya."


" Piwwwitt!


Bahkan teman-teman dokter dari Gendhis pun ikut bersorak melihat keromantisan mereka berdua.


" Gendhis Andara, kata orang, cinta adalah sebuah penyakit yang bisa disembuhkan dengan pernikahan. Maukah Kamu jadi penyembuh sakitku hingga saatnya tiba nanti?"


" Hmm... mau... mau banget!"


Tidak ada kata-kata yang mampu terucap dari mulut Gendhis, karena kebahagiaan dihidupnya mengalir semua malam ini.


Seperti inilah pria yang selama ini dia idam-idamkan, tidak banyak kata-kata, namun saat berucap sangat membekas dan sulit untuk dilupakan.


" I love you Gendhis Andara."


" Love you more mas Panji Abisatya."


Dengan senyum termanis yang jarang Panji tampilkan, perlahan dia mulai menyarungkan cincin emas murni pilihan adek dari tunangannya itu ke jari manisnya yang lentik.


Banyak tragedi sebelumnya namun dia mencoba untuk menghilangkannya, walau mungkin hanya sejenak.


" Yeaaay... happy engagement kak, semoga semua urusan dipermudahkan sampai hari H ya?dan buat pak Dosen, ingat ya sekarang aku ini calon adek iparmu, jadi jangan galak-galak kalau di Kampus, okey?"


" Aish... dasar bocah tengil yang satu ini." Umpat Panji yang langsung melengos saat Ratu datang memberikan ucapan selamat kepadanya.


" Tuh kak, begitu emang kelakuan calon suami kakak itu, nggak pernah bisa baik sama calon adeknya, hati-hati aja jadi istrinya nanti, karena kejahatan bisa saja terjadi disekeliling kakak, waspadalah...waspadalah!"

__ADS_1


" Ratu!"


" Hehe...bercanda pak, bisa nggak mulai sekarang kita jadi Bestie?"


" Malas!"


" Owh... begitu ya cara main bapak, awas saja nanti!" Ratu langsung mendelik kesal kearah Panji yang sampai saat ini belum mau melihat wajah Ratu walau sesaat, karena mungkin takut jika ada syaiton lewat dan mengingatkannya pada kejadian kemarin.


" Ratu sudahlah, nanti dikira orang kalian berantem beneran lagi, malu itu banyak tamu undangan, sudah sana makan saja kamu, gangguin calon suami kakak aja bisanya kamu ini!"


Gendhis langsung mencubit pinggang adeknya, dia sudah biasa melihat kelakuan Ratu yang memang jahilnya tidak ketulungan sedari dulu lagi.


" Dih... nambah kakak satu, tapi kenapa menyebalkan semua!" Umpat Ratu sambil pergi melangkahkan kakinya menjauh dari sana.


" Nduk... nama kamu siapa kemarin?" Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang memanggilnya.


" Eh... Eyang, nama saya Ratu.. Eyang, silahkan duduk Eyang mau aku ambilkan minuman atau makanan Eyang?" Ratu langsung basa-basi menawarkan sesuatu, walaupun masih sedikit ada rasa ketakutan saat mengingat wangi kembang yang pernah ditaburkan keseluruh tubuhnya saat itu.


" Tidak usah, sini duduk deket Eyang Nduk." Walau Eyang memanggilnya dengan senyuman namun kerutan diwajah Eyang tetap saja seolah terlihat horor dimata Ratu.


Mampus gue, akan ada drama apalagi setelah ini? aduh... lenganku kembali merinding, gimana ini?


" Ada apa ya Eyang?"


Walau bimbang dan ragu namun dia berusaha tenang, mencoba menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan agar kepanikan didalam dirinya sedikit hilang, apalagi wajah Eyang Panji yang terkesan Wingit menurutnya.


" Boleh Eyang tanya sesuatu?"


" Tentu Eyang, silahkan."


" Hmm... apa kamu sudah punya pacar?"


Entah mengapa Ratu punya firasat lain, dia malah takut jika akan diperkenalkan seseorang pilihan dari Eyang."


" Belum Eyang, emm... belum kepikiran juga soal itu, hehe?"


" Apa kamu tidak ada perasaan apapun dengan cucu Eyang?"


" Emang cucu Eyang ada lagi? ada berapa Eyang?"


" Cucu Eyang cuma satu Nduk!"


" Maksud Eyang pak Panji?"


" Iya."


" Trus... maksud Eyang gimana? pak Panji kan tunangan kakak saya Eyang?" Tanya Ratu dengan puluhan pertanyaan yang bersarang di otaknya.


" Iya... Eyang tahu, tapi Eyang cuma ingin memastikan saja, apa kalian tidak ada hubungan atau suatu perasaan yang timbul diantara kalian berdua?"


" Hah? maksud Eyang perasaan saya dengan pak Panji gitu?" Ratu masih tidak percaya dengan pertanyaan yang baru saja dia dengar.


" Iya."


" Astaga Eyang, kami tidak ada perasaan apapun, apalagi pak Panji, dia di kampus hobi banget marahin Ratu, sering kali Ratu dikasih hukuman ini itulah, nggak mungkin dong Eyang kami punya perasaan, hehe.."


" Ya... siapa tahu, benci kan bisa jadi cinta?"


" Tapi ini mustahil Eyamg, kami sudah seperti kucing dan tikus, lagian pak Panji itu sudah cinta mati sama kak Gendhis, begitu juga sebaliknya." Jawab Ratu yang seolah yakin dari terawangan dirinya selama ini.


" Entah kenapa Firasat Eyang mengatakan kamulah jodoh Panji."


Amit-amit jabang bayik, jangan sampai deh, apa-apaan sih Eyangnya pak Panji ini?


" Tidak Eyang, kami sama sekali tidak ada hubungan maupun perasaan apapun, Eyang jangan berpikiran macam-macam ya, kita doakan saja yang terbaik buat pak Panji dan kak Gendhis, semoga semua lancar dan berkah, ya kan Eyang?"


" Apa kamu tidak menyesal nantinya?" Eyang masih kekeh dengan pemikirannya.


" Hehe... Eyang ini kelewatan kalau bercanda, untuk apa saya menyesal, karena memang kami tidak punya hubungan apapun Eyang."


" Benarkah?"


Hedeh... nggak beres Eyang Empu Gondrong ini, mending gue kasih makan aja dia biar nggak banyak tanya!


" Astaga Eyang ini nggak percayaan banget deh, ini Eyang aku ambilkan makanan aja, Ratu suapin ya Eyang!"


Walau mulutnya sengaja dipenuhi oleh makanan yang Ratu suapkan, namun Eyang Romlah masih menatap Ratu dengan tatapan sendu, banyak sekali kata 'mungkin' yang bersarang dibenak Eyang Romlah, bahkan sampai membuat dirinya tidak berselera makan akhir-akhir ini karena hanya memikirkan cucu kesayangan satu-satunya itu.


Di Dunia Fana ini tidak ada yang tidak mungkin, bahkan satu kata saja bisa jadi sejuta cerita seperti; Korban menjadi Dikorbankan, Pengorbanan dan Mengkorbankan.

__ADS_1


Tetap dukung Author ya gaes, karena Jempol kalian adalah Semangatku😊


__ADS_2