
...Happy Reading...
Semenjak Panji bergelut dengan sabun cair hampir satu botol didalam kamar mandi malam itu, sampai saat ini dia memilih mendiamkan Ratu.
Bahkan dia sama sekali tidak menyentuh Ratu saat mereka tidur satu ranjang bersama, karena Panji tahu hal ini pasti salah satu ide kejahilan dari istrinya yang memang sering tidak terduga.
Bahkan saat dalam perjalanan pergi ke Kampus pun Panji masih diam seribu bahasa.
" Yank.. kok diem aja sih dari tadi, sakit gigi ya?" Ratu sengaja menoel dagu suaminya, namun Panji langsung melengos tanpa mau memperhatikan wajah istrinya.
" Trus kita nggak jadi berlibur ke Villa ini? Katanya mau liburan, kok malah berangkat ke kampus, padahal aku sudah pamer sama Melody, e... Malah nggak jadi." Umpat Ratu yang tadi pagi sempat uring-uringan sendiri, namun dia mencoba mengerti mungkin suaminya masih kesal karena kejadian semalam.
" Masih marah lagi ceritanya ini? Padahal cuma kek gitu aja loh yank, kenapa marahnya awet banget kayak diformalin aja deh?"
Dasar wanita, dia tidak tahu aja bagaimana rasa linu nya saat menahan ha srat yang tidak tersalurkan! Dia pikir lututku nggak ngilu apa harus pelepasan sama tante Lux di kamar mandi? Awas aja.. Kamu pikir suamimu ini tidak bisa jahil kayak kamu apa?
Namun Panji masih memilih terus diam dan mengabaikan ocehan dari istrinya yang panjang kali lebar.
" Pak Dosen yang terhormat, kalau nggak mau bicara sama aku mending aku turun di jalan aja, daripada ngobrol sama patung nggak jelas."
Cekiiiit!"
Ceklik!
Panji langsung memberhentikan mobilnya dan membuka kunci pintu mobil disamping Ratu dari tempat duduknya, masih dengan tampang datar dan dengan pandangan lurus ke depan.
" Astaga? Mas beneran mau nurunin aku di tepi jalan? Jarak ke kampus masih jauh loh mas? Tega kamu?" Tanya Ratu dengan tatapan tidak percaya.
" Mas... Hello?" Ratu sampai melambaikan tangannya ke hadapan Panji, namun dia sama sekali tidak perduli dan tetap tidak menjalankan mobilnya.
" Aish... Mas beneran tega mau nurunin aku disini? Okey... Tidak masalah bagi seorang Ratu!"
Ratu langsung keluar dan membanting pintu mobil itu dengan kesal, bahkan sampai menimbulkan suara keras.
Tanpa menunggu waktu yang lama, mobil sport itu langsung melaju dengan kecepatan penuh, bahkan yang tadinya Ratu berharap Panji langsung berubah pikiran dan muter balik, dan ternyata hanya angan semu belaka, karena setelah dia menunggu beberapa saat, mobil sport suaminya pun tidak kembali.
" Haish... Suami macam apa dia? Aku beneran diturunin dipinggir jalan ini?"
Ratu langsung duduk di tepi trotoar jalanan untuk menunggu kendaraan yang lewat dengan situasi mengenaskan, apalagi matahari sudah mulai meninggi pagi itu.
" Awas aja kamu mas, aku bahkan bisa lebih kejam daripada ini, tapi harusnya nuruninnya kan di halte bus kek, biar ada tempat berteduh, jangan di pinggi jalan gini, ckk... Dasar Pak Panjul, dosen killer, menyebalkan, huh !" Umpat Ratu dengan emosi yang sudah sampai di ubun-ubun.
Brum.. Brum!
Tiba-tiba ada sebuah motor sport yang berhenti dihadapannya.
" Ratu, kamu kah itu?" Dia membuka helm cakilnya ke atas dan memastikan tidak salah orang.
" Abang Juna?" Mata Ratu langsung berbinar-binar karenanya.
" Kamu ngapain disini? Sendirian, panas-panasan lagi?"
Liat aja pak Panjul, aku akan membalasmu!
" Tadi numpang sama saudara, sempat ada selisih paham sih, padahal aku sudah mengalah, tapi dia malah tega ninggalin aku di tepi jalan gini, jahat banget emang itu saudara aku, padahal kalau ada apa-apa aja dia mintanya sama aku, bahkan sering maksa lagi." Ratu mulai melakonkan perannya menjadi saudara teraniaya, padahal dia sendiri yang memulai aksinya.
" Astaga, kalau begitu cepat naik, kita berangkat ke Kampus bersama, aku ada kelas pertama ini." Arjuna langsung mengulurkan tangannya untuk membantu Ratu naik di motornya yang memang agak tinggi itu.
Suami termasuk saudara juga ya kan? lah.. Bodo amatlah, siapa suruh dia tega ninggalin aku ditepi jalan, apa dia lupa kalau istrinya itu primadona di kampus, cuih... mau sampai terbakar api cemburu juga aku tidak akan memaafkan dia begitu saja!
" Ngebut aja nggak papa bang, aku nggak masalah kok!" Ucap Ratu dengan segala rancangan dadakannya.
" Beneran? Okey deh.. Jangan lupa pegangan yang erat ya! soalnya aku takut telat nih!"
" Siap gaskeun bang!" Ratu langsung berpegangan tangan di pundak Arjuna.
" Taruh tanganmu di pingang Ratu, nanti kamu terbang karena kebawa angin!"
" Disini aja bang, biar keren kayak di film-film, ayo gass poll bang!" Padahal Ratu hanya beralasan saja.
Walau Arjuna menarik tangan Ratu agar memeluk pinggangnya, namun Ratu tetap memilih berpegangan di pundak Arjuna saja, karena dia tidak mau bikin baper anak orang.
Dan saat motor mereka melaju dengan cepat, ternyata didepan ada lampu merah, jadi mereka terhenti disana, namun karena Arjuna mengejar waktu, dia sengaja maju dan menyelip diantara mobil agar bisa berhenti di garis terdepan.
__ADS_1
Tin... Tin... Tin...
" Apa sih nih orang, udah tau lampu merah kok klakson aja, emang jalan milik nenek moyangnya apa?" Umpat Arjuna dengan kesal.
" Siapa sih? Emang resek deh, belum juga lampu hijau udah berisik aja!" Ratu yang penasaran langsung saja menoleh kebelakang.
Jreng!
Ternyata mobil suaminya tepat berada dibelakangnya.
Wuidih... Bakalan seru nih!
" Sudahlah bang, nggak usah digubris, nggak penting, aku yakin dia cuma syirik aja sama abang!" Ratu langsung terdenyum licik.
" Syirik apaan? Dia pake mobil noh, gue cuma naik motor, tapi kok kayak nggak asing aku sama mobilnya itu ya?" Arjuna berfikir sejenak.
" Eits.. Sudahlah, nggak usah dilihatin, nanti dia makin ge er, abang pandang aja jalanan ke depan, okey!"
Ratu langsung memutarkan kembali helm Arjuna saat dia ingin menoleh kembali ke belakang.
" RATU TURUN KAMU!"
Panji langsung membuka kaca jendelanya dan mengeluarkan kepalanya untuk meneriaki istrinya.
" Eh... Dia manggil kamu tuh!"
" Biarkan saja, nggak usah dilihatin, palingan juga dia anak kampus kita!" Ratu langsung melarang saat Arjuna ingin menoleh kebelakang. Apalagi dia memang terhimpit dua mobil di kanan kirinya, jadi dia harus fokus.
Tin.. Tin.. Tin..
" Woii... Berisiklah! Bisa sabar nggak, ini masih lampu merah!"
Para pengendara motor didekat Panji langsung berteriak protes kepadanya dan dengan terpaksa Panji menutup kembali kaca mobilnya dengan kekesalan yang menumpuk, daripada harus menahan malu.
Saat lampu sudah berganti hijau, Arjuna langsung menjalankan motornya dengan kecepatan penuh.
Sedangkan Panji yang sudah tersulut emosi langsung mengejar motor Arjuna, dengan skil pembalap mobil yang tidak pernah dia tunjukkan selama ini.
Saat jarak mereka sudah berdekatan, Panji kembali menghidupkan klakson mobilnya.
Tin.. Tin..
" Abaikan aja bang, nggak penting!" Ratu semakin bersorak karenanya.
Tin... Tin...
Cekiiiiitttt!
Dengan ahlinya Panji menyelip motor Arjuna dan tiba-tiba berhenti didepan sana dan langsung membelokkan mobilnya untuk menutup akses jalan Motor Arjuna.
Ngiiiiiik!
" ASTAGA!"
Arjuna langsung mengerem motornya dadakan, bahkan sampai roda belakangnya agak naik ke atas dan membuat Ratu langsung kelabakan dan memeluk tubuh Arjuna.
" RATU.. TURUN KAMU!"
Panji langsung keluar dan berjalan sambil menggunakan kaca mata hitamnya, bak artis film bollywood yang memerankan drama action ke arah Arjuna yang sudah melongo melihatnya.
" Hah? Jadi yang sedari tadi klakson aku itu pak Panji? Gilak... Keren banget atraksi mobilnya!" Arjuna malah berpikiran lain, dia langsung kagum melihat kehebatan dosennya yang sudah seperti pembalap mobil internasional.
" Aish... Pelanggaran itu pak Dosen! Dia pikir ini jalannya sendiri apa?" Ratu langsung mengumpat habis suaminya sendiri, dia pun tidak menyangka jika Panji bisa beraksi senekad itu.
" Arjuna, suruh dia turun dan masuk mobilku sekarang juga!" Teriak Panji dengannya.
" Maksud bapak Ratu?" Tanya Panji yang masih terkagum-kagum dengannya.
" Iyalah, siapa lagi!" Umpat Panji sambil berkacak pinggang.
" Tapi kenapa harus naik mobil bapak?" Arjuna masih belum paham juga, karena memang mereka tidak pernah mendengar gosip dari pasangan itu sedikitpun.
" Banyak tanya lagi, ya karena dia itu adalah..."
__ADS_1
" Hahaha... Karena aku adalah murid favoritnya, dan mungkin karena aku nggak pake helm kali ya? Tapi kan udah mau sampai kampus kan, jadi tidak masalah dong, hehe"
Sebelum Panji kelepasan bicara, Ratu langsung memotong duluan perkataannya, dan tertawa dengan keras walau terlihat garing.
" Hah... Favorit?" Arjuna kembali melongo seperti sapi ompong.
" Sudahlah, kita jalan saja, duluan ya pak, sampai jumpa di kampus bye!" Ucap Ratu yang langsung menepuk bahu Arjuna agar kembali menjalankan motornya.
" Arjuna, kamu suruh dia turun sendiri, atau aku yang akan menyeretnya turun dan masuk ke dalam mobilku!" Teriak Panji kembali.
" Ratu, kamu turun saja ya, pak Panji kelihatannya marah itu, kamu kan memang nggak pake helm, aku nggak bawa dua soalnya." Arjuna masih berpikir positif saja sampai detik ini.
" Tapi bang..?"
" Maaf ya, daripada nanti panjang urusannya kamu ikut sama pak Panji aja, nanti aku ikutin dari belakang, jadi kalau dia macem-macem sama kamu, aku akan menolongmu, okey?" Arjuna bahkan sudah seperti pahlawan kesiangan.
" SATU... DUA... TI..."
" Iya pak, Ratu mau turun ini, hehe..."
Bahkan Arjuna langsung menurunkan Ratu dengan paksa, karena Ratu sebenarnya sangat malas jika harus kembali satu mobil dengan suaminya lagi.
" Kalau ada apa-apa hubungi abang okey, maaf ya sekali lagi Ratu?" Sebenarnya Arjuna juga tidak tega, apalagi melihat wajah Panji yang sudah memerah karena kesal, dia takut Ratu mendapatkan hukuman darinya walaupun bukan area kampus.
" Kamu pikir aku ini penculik apa!" Teriak Panji yang langsung tidak terima saat mereka bisik-bisik namun terdengar oleh Panji.
" Hehe... Maaf pak, bukan maksud saya begitu, silahkan jalan duluan pak, monggo." Arjuna langsung memberikan jalan kepada mereka berdua.
" MASUK!" Teriak Panji sambil menghempaskan tubuhnya sendiri di kursi kemudi.
" Ckk... Tadi ditinggalin, giliran diboncengin orang marah-marah!"
" Diam kamu, siapa suruh kamu membangunkan singa yang lagi tidur! sebagai seorang istri itu kamu harus bisa menjaga harkat dan martabat seoang suami, apa pantas kamu boncengan mesra sama dia, pake acara pelukan segala lagi, mau mas hukum model apa kamu, hah?"
" Siapa juga yang pelukan, itu tadi gara-gara Bang Juna ngerem mendadak, itu pun karena ulah mas kan!"
" Pandai kamu kalau mencari-cari alasan kan, emang nggak ada taksi atau kendaraan lain apa, kenapa mesti bonceng Arjuna!"
" Dia yang berhenti sendiri tanpa aku suruh kok!"
" Kamu sengaja kan bikin aku marah!"
" Iya, eh... Enggaklah, ngapain juga marah sama tembok!" Ratu hampir saja keceplosan.
" Apa kamu bilang, suamimu ini tembok?"
" Siapa suruh tadi diam saja!"
Cekit!
Akhirnya mobil Panji sampai di parkiran Kampus.
" Sini kamu, ikut ke ruangan aku sekarang juga!" Panji langsung membukakan pintu untuk istrinya dan menarik tangannya dengan paksa agar mengikutinya.
" Mas.. Eh pak dosen, jangan ditarik begini, nanti orang curiga sama kita!" Ratu langsung berontak, tapi dia bisa apa jika Panji sudah marah seperti itu.
" Siapa suruh kamu suka buat aku marah!" Ucap Panji tanpa memperdulikan ocehan istrinya dan mahasiswa yang sedang memandang ke arah mereka.
" Tapi yank.. Eh pak, aduh gimana ini?" Ratu hanya bisa menutupi wajahnya dengan satu tangan, namun semua orang disana hafal betul dengan segala tentang Ratu yang memang menjadi primadona di kampus itu.
Ratu?
Pak Panji?
Ratu?
Pak Panji?
Kasak kusuk diantara mahasiswa lainnya langsung terdengar ditelinga Ratu, saat tangannya terus berada dalam genggaman suaminya menuju ke dalam ruangannya, bahkan Panji seolah tidak perduli lagi dengan status pernikahanya, jika memang harus ketahuan oleh penghuni kampus sekarang juga tidak masalah baginya.
Beberapa orang akan pergi dari hidupmu, tapi itu bukan akhir dari ceritamu. Itu cuma akhir dari bagian mereka di ceritamu.
Yang terbaik bukanlah yang datang dengan segala kelebihannya, namun yang bertahan dengan segala kekurangan kita.
__ADS_1
Hidup ini terlalu singkat untuk sebuah penyesalan, cintai mereka yang menyayangimu, maafkan dan lupakan mereka yang menyakitimu.