
...Happy Reading...
Acara ulang tahun Gendhis yang dia buat kecil-kecilan hari ini akhirnya sudah selesai, sanak saudaranya sudah pulang kembali kerumah mereka masing-masing dengan perut yang sudah kenyang.
Tinggalah Ratu dan juga Panji yang masih duduk berdua dipojokan, bukan romantis-romantisan tapi seolah seperti kucing dan tikus yang tidak pernah bisa akur kalau bukan di Ranjang pastinya.
" Mas... Kok aku pengen yang seger-seger ya?" Ratu mencubit-cubit pipi Panji karena dia sibuk dengan ponselnya.
" Apalagi sih Ratu, tadi sudah minta dibikinin mie goreng, padahal disini banyak makanan yang enak-enak lainnya, mau yang seger opo meneh to nduk?" Panji bahkan sudah mengumpat ala Eyang.
" Aku mau es krim mas, trus dimakan pake roti tawar, trus dikasih tambahan toping kacang mete, beliin dong mas, please!" Rengek Ratu.
" Mana ada orang jualan es krim kayak begituan jam segini Ratu, ini sudah malam, apalagi cuaca diluar dingin begini, nggak lihat apa di luar hujan nggak terus terang!"
" Kayak mas dong, nggak pernah mau terus terang? Emm... Kalau begitu es boba aja gimana, itu kan lagi viral, pasti buka sampai malam?" Ratu masih aja ngotot.
" Nggak ada! Nggak usah aneh-aneh, sudah malam! Bentar lagi kita pulang!" Jawab Panji yang tetap menolaknya.
" Dih... Mas kok jadi galak lagi sih sekarang? Katanya sayang, ternyata cuma omong doang! Awas.. jauh-jauh dari aku!" Ratu langsung menggeser tubuhnya menjauh dari Panji.
" Ratu Andara istriku tersayang, sini dengerin mas dulu?" Panji langsung menarik tubuh Ratu saat dia mulai melakukan aksi ngambeknya.
" Aku nggak mau punya suami galak kayak mas, mending aku cari yang lain aja, duda anak satu pun nggak masalah! Awas...!"
" Astaga ini bocah, huft!" Panji memilih membuang nafasnya perlahan untuk mencari ilmu kesabaran, walau sulit didapatkan.
" Jangan sentuh aku lagi!"
" Ya sudah, kita cari es boba nya sambil jalan pulang ya? tapi kamu makan dulu nasinya, ada ayam bakar sama nasi kebuli juga, mas suapin okey?"
" Tapi aku nggak lapar?"
" Walaupun nggak lapar tapi harus tetap makan nasi sayang, kalau nggak mau makan, nanti nggak jadi beli es boba, hayow pilih mana?"
" Ckk... Nyebelin mas ini, orang nggak lapar kok dipaksa makan?"
" Aak dulu istriku, kalau nggak mau makan mas suapin pakai mulut, mau kamu?" Panji sebenarnya gemas-gemas kesal, namun jika dia tidak menahan emosi, dia yang rugi sendiri, apalagi sekarang mereka ada dirumah mertuanya, kalau Ratu ngambek dan nggak mau diajak pulang bisa nyut-nyutkan pedang pusakanya.
" Emm... Tapi nanti, kita jadi beli es boba ya?" Ratu menerima suapan dari suaminya sambil ngoceh layaknya anak kecil.
" Iya nanti beli, tapi makannya harus habis, kalau enggak perut kamu bisa kembung." Panji pun seperti seorang ayah yang sedang menyuapi putrinya, begitu sabar dan telaten.
" Kalau disana jual rujak eskrim aku boleh beli juga kan mas?" Ratu bahkan duduk menyamping dipangkuan Panji dengan satu tangannya dia kalungkan di leher Panji.
" Boleh, tapi makannya besok siang, kita taruk di lemari es dulu ya?"
" Yeaayy... Terima kasih Ayang."
" Sun nya mana dong?" Pinta Panji sambil terus menyuapi makanan ke mulut Ratu.
E m u a c h..
Ratu dengan gemasnya menghujani kecvpan di pipi kanan kiri suaminya tanpa memperdulikan orang lain disekitar, karena kedua mata Ratu hanya tertuju kepada suaminya seorang, begitu juga sebaliknya.
Sedangkan dari kejauhan Gendhis tersenyum melihat keduanya, tanpa rasa cemburu, tanpa rasa sakit hati lagi.
" Maafkan kakak selama ini ya Ratu, kakak hanya belum sadar saja, jodoh yang terbaik buat kita berdua itu siapa?"
" Kakak ikut bahagia jika kamu juga bahagia, semoga kita berdua bisa bahagia dengan pasangan masing-masing."
"Andai aku dulu menyadarinya sedari awal, mungkin buah hatiku bersama Broto tidak akan dijemput sang Pencipta duluan?"
Gendhis mengusap perutnya yang sudah kembali rata, banyak kata andai yang masih ingin dia ucapkan, namun dia tidak bisa menolak kehendak Tuhan, jika memang ini semua sudah garis tangan-Nya.
" Eherm... Ada yang cemburu nih?"
Tiba-tiba suara Broto menghancurkan lamunan Gendhis tentang kisah perjalanannya sampai saat ini.
" Eh... sayang?"
" Ckk... Nggak usah drama, yang ingin kamu panggil sayang aku apa suami adekmu itu?"
" Nggak usah mulai deh, aku cuma melihat mereka dari kejauhan aja, ternyata rumah tangga adekku bahagia juga."
" Lalu?"
" Lalu... Aku tidak akan khawatir lagi dan aku juga ingin keluarga kita bahagia, sama seperti keluarga mereka."
" Karena dia tidak mau menerimamu, jadi kamu terpaksa menerimaku begitu?" Broto langsung melengos mendengarnya.
" Ya ampun Brooot! Kenapa gue jadi salah terus sih dimata kamu? Aku serius mau baikan sama kamu loh?" Karena kesal Gendhis sengaja meledek suaminya dengan panggilan yang paling dia benci.
" Tuh kan, kamu itu emang ngeselin!" Walaupun mereka seumuran, tapi sekarang Broto tidak suka jika istrinya memanggil seperti itu, walaupun memang itu namanya.
" Hehe... Habisnya kamu ngegemesin deh mas."
" Ckk... Tapi kamu nyebelin!"
" Mas... You're not my number one, but.. you're my only one."
(Kamu bukan nomor satu, tapi kamulah satu-satunya bagiku.)
Eaaaaaa!
Broto langsung membuang arah pandangan, karena menutupi rasa haru dan bahagianya mendengar kata-kata manis yang keluar dari mulut istrinya.
" Bohong!"
" Seriusan mas, saat ini cuma ada kamu seorang dihati aku, luph you!"
Beeeeeeerrrrrr!
Bahkan udara dipegunungan malam ini pun kalah dengan sejuknya perkataan dari Gendhis untuknya.
Saat ini hati Gendhis sudah bisa menerima kehadiran Broto sepenuhnya, perlahan tapi pasti nama Panji sudah tergeser oleh nama Broto.
Keinginan terbesar dari diri Gendhis saat ini hanya ingin hidup tentram, damai dan bahagia bersama suaminya, dan ingin memulai semuanya kembali dari awal.
__ADS_1
" Jadi boleh aku minta sekarang?" Ucap Broto dengan senyum mesvmnya.
" Minta apa?"
" Hak aku lah, kamu pikir enak, menikah sudah berbulan-bulan tapi baru berkelana satu kali? Apalagi tanpa perlawanan, mana asyik?"
" Siapa suruh ngasih obat tidur?"
" Kalau nggak gitu, kamu mana mau sama aku?"
" Kamu tuh jahat tau, itu termasuk kategori tindakan kriminal!"
" Trus kamu mau melaporkan aku ke polisi sekarang?" Tanya Broto kembali.
" Emang kamu sudah siap masuk penjara saat ini juga? Kalau aku buat laporan sudah dapat dipastikan malam ini juga kamu tidur dibalik jeruji besi loh?" Ledek Gendhis.
" Ya sudah, kalau memang kamu tega, berarti ucapan sayang dan cinta kamu itu memang palsu!"
" Cie...ngambek lagi?"
" Nah... Bawa aku ke kantor polisi, biar jadi janda kamu!" Broto langsung menyodorkan kedua tangannya.
" Emang status aku ini menuju janda loh Yank, kamu kan belum pernah ngucapin kata rujuk sama aku?"
" Tapi kamu mau masukin aku ke penjara? Ngapain juga aku rujuk sama kamu!" Broo pura-pura merajuk.
" Bercanda sayang, ayolah... Aku mau dengar kata rujuk darimu, biar kita sah kembali menjadi suami istri?"
" Tapi kamu janji nggak akan menoleh ke masa lalu kamu kan?"
" I'm promise!" Gendhis menaikkan kedua jarinya ke udara.
" Baiklah, Gendhis..."
" Iya sayang." Gendhis sudah kegirangan saat itu, akhirnya saat yang ditunggu-tunggu telah tiba pikirnya.
" Aku capek, pengen tidur!" Ucap Broto dengan cepat.
" BROTO SUSENO!" Teriak Gendhis dengan kesal.
Emosi Gendhis seolah sudah sampai di ubun-ubun saat suaminya mempermainkan dirinya.
" Hahaha.. Kabur!" Broto langsung berlari menuju kamarnya.
" Broto.. Awas kamu ya!"
Gendhis tidak berani berlari naik tangga, jadi dia membiarkan saja suaminya pergi duluan, namun dia tetap mengejar suaminya juga walau dengan jalan santai.
Brak.. Brak!
" Broto... Buka pintunya, kok dikunci sih?"
Gendhis langsung menggedor pintu kamar mereka berdua dulu, saat mereka tinggal dirumah itu.
" Bilang cinta dulu, baru aku bukain!" Teriak Broto dari dalam.
" Astaga... Kenapa dia jadi manja begitu, dimana Broto yang dulu, woi?"
" Huft... Sayangku, i love you, more and more!" Gendhis hanya bisa pasrah dan menuruti saja permintaan gila suaminya, walau dalam hatinya dia mengumpat kesal.
Ceklik
Broto langsung membukakan pintu kamar itu.
" Wooooaaaaaah?"
Kedua mata Gendhis melotot bahkan hampir keluar biji matanya, saat dia melihat taburan bunga mawar merah berbentuk hati di lantai kamarnya.
" Selamat ulang tahun istriku."
Broto memberikan satu buket bunga mawar merah yang berisi ratusan tangkai yang terikat menjadi satu.
Dia sempat menghilang dari pesta ulang tahun istrinya tadi untuk menyiapkan hal ini, karena dia ingin memberikan kesan yang romantis hanya berdua saja.
" Sayang... Kamu sweet banget sih?"
Gendhis bahkan terharu biru dengan perlakuan manis suaminya, selama ini tidak pernah terbayangkan jika Broto bisa seromantis ini, karena biasanya dia selalu memasang tampang cuek bebek.
" Mulai malam ini, resmi ingin aku nyatakan, Gendhis... Aku rujuk kembali kamu menjadi istriku, semoga dengan kejadian kemarin, kita bisa mengambil hikmahnya, tinggalkan yang buruk, kita mulai kembali semua dari awal, dengan rasa sayang dan cinta yang kokoh, semoga kedepannya, hubungan kita langgeng, serta diberikan keberkahan." Broto mengusap kepala istrinya perlahan.
" Terima kasih sayang, Hiks.. Hiks.."
Gendhis langsung memeluk tubuh Broto dengan erat, dan menumpahkan air mata kebahagiaan disana.
" Maafkan segala salah dan silap aku dulu ya sayang, aku begitu karena sebenarnya aku sungguh sangat menyayangimu, bahkan tanpa sepengetahuanmu dulu." Broto berucap dari hati, bahkan bibirnya terlihat bergetar.
" Aku pun minta maaf sayang, kalau selama ini aku sering melukai hatimu, dengan segala ucapanku, tapi aku berjanji tidak akan mengulanginya, tegur aku jika aku salah, dan jangan pernah punya pikiran untuk berpisah lagi denganku ya?" Pinta Gendhis dalam pelukan hangat suaminya.
" Hmm... I love you."
" I love you too."
Akhirnya mereka berdua saling memiringkan kepala mereka masing-masing mencari posisi teryahud untung saling mengekspresikan rasa sayang mereka.
" Owh ya... Satu lagi!"
" Hmpth... Ckk, selalu saja begini, orang belum selesai main ditarik aja!" Gendhis langsung memukul dadaa bidang suaminya saat mulutnya masih mengaga dan menginginkan sentuhan lembut lagi, namun Broto sudah menyudahinya.
" Hehe... Tutup mata kamu!"
" Apaan sih Broto!"
" Ckk... Kamu ini sama suami manggil Broto aja, ngak enak dengernya, biarpun kita seumuran, tapi aku kepala keluarga disini, panggil yang sopan, baru rujuk sebentar sudah mulai buat ulah."
" Hehe... Iya maaf sayangkuh."
" Tutup mata kamu!"
__ADS_1
" Tapi jangan ditinggalin ya!" Gendhis menutup matanya, namun tangannya menarik baju suaminya, pikirannya sudah negative thingking aja dengan Broto.
" Astaga... Takut banget aku pergi?"
" Hehe... Bodo amat!" Gendhis bahkan memegang lengan Broto dengan erat.
" Okey, boleh buka matanya sekarang."
Jreng!
Satu kotak hitam berhiaskan emas muncul dihadapannya kini, terlihat satu cincin berlian tersemat disana dengan begitu indahnya.
" Sayang... Cantik banget cincinnya."
Gendhis terkagum-kagum melihatnya, apalagi desainnya sangat cantik dan juga elegan.
" Sedari dulu aku ingin ngasih kamu ini, tapi tidak pernah ada waktu yang pas dan hari ini bertepatan di hari ulang tahunmu dan hari dimana kita resmi rujuk kembali, aku ingin melamarmu kembali."
" Sayang ..." Gendhis tidak bisa berkata apa-apa lagi.
" Gendhis... Maukah kamu menjadi istriku kembali dan menjadi ibu dari anak-anak kita nanti?"
" Hmm.."
" Hmm.. Itu apa? Jawab yang jelas dong, mau nggak nih?"
" Mau... Hiks.. Hiks.. Mau banget, terima kasih sayang."
Gendhis kembali memeluk Broto dengan deraian air mata kebahagiaan kembali, dia sungguh tersentuh dengan seorang Broto malam ini.
Gendhis sangat bersyukur dan semakin yakin kalau Broto memang pasangan yang terbaik untuk dirinya kini dan nanti, rasa ragunya selama ini hilang sirna seketika.
" Kalau mau berarti kita harus buat dulu ya kan?"
" Buat apa?"
" Katanya mau jadi ibu dari anak-anakku nanti?"
" Hah.. Tapi?
" Tidak ada kata tapi-tapi an, tadi kamu sudah janji?"
Broto langsung menggendong tubuh Gendhis dan langsung menyambar bibiirnya, agar istrinya tidak banyak bicara.
Perlahan dia letakkan tubuh Gendhis dan dia kungkung dibawah tubuh kekarnya.
" I love you Gendhis."
" Hmpth... Sayang... Hmpth!"
Gendhis sama sekali tidak diperbolehkan untuk berbicara, Broto benar-benar ingin menikmati tubuh istrinya atas dasar suka sama suka dan berlandaskan cinta bukan karena sebuah keterpaksaan.
Setelah dia menghujani kecvpan diwajah Gendhis dan mulai turun memberikan hiasan-hiasan kiss mark di leher Istrinya, tangan Broto mulai merayap turun kebawah.
" Hmh.."
Gendhis akhirnya terbuai dengan segala sentuhan dari suaminya, apalagi saat kedua tombol On nya berada didalam genggaman tangan kokoh Broto, tiada kata lain yang terucap selain sebuah lengvhan dan desa han yang membuat Broto semakin semangat dalam melakukan aksinya.
Saat Gendhis mulai mengeliat karena menahan sensasi yang luar biasa, Broto tidak lagi membuang kesempatan, dia mulai melucvti pakaian istrinya dan membuangnya ke sembarang arah.
" Kali ini, aku akan aku tunjukkan keperkasaanku dalam alam sadarmu?"
" Sayang.. Emh."
" Kamu milikku malam ini Gendhis dan untuk malam-malam selanjutnya, mengerti?"
" Mengerti sayang, tapi?"
" Aku sudah tidak bisa menahannya lagi sayang."
Tuing!
Pedang Anggar milik Broto sudah tegak berdiri memanjang dengan kekarnya dan siap untuk dia tancapkan ke tempat yang biasa disebut dengan Surga dunianya pasangan suami istri.
" TUNGGU!"
Gendhis langsung menggengam erat benda elastis itu dengan sekuat tenaga.
" Aww.. Aww.. Sayang... Jangan menguji kesabaranku, sekarang apalagi alasanmu untuk menolakku? kali ini aku tidak bisa lagi menahannya."
" Broto Suseno, suamiku tersayang, bukan maksud aku untuk menolak kamu, tapi..."
" Tapi apalagi, katanya sayang katanya cinta, mana buktinya!"
" Sayang... Sebentar ya aku telpon rekan dokter kita dulu."
" Untuk apa? Disaat kita sudah tanpa busana begini kamu masih sempat-sempatnya mau telpon rekan kita? Mau live streaming atau apa? Astaga Gendhis...!"
" Hallo... Bisa tolong jelaskan kepada suamiku apa yang aku tanyakan kemarin bestie?" Gendhis tidak memperdulikan umpatan Broto, dia terus saja menelpon sahabatnya yang sekaligus dokter kandungannya dulu.
" Hallo dokter Broto?" Sapa nya dari balik telpon.
" Hmm... Apa!"
" Hubungan intim usai keguguran bisa dilakukan jika perdarahan yang terjadi sudah benar-benar berhenti. Waktu paling minim yang dibutuhkan agar masalah tersebut selesai sekitarĀ dua minggu. Apabila hubungan intim dilakukan saat perdarahan belum selesai, infeksi pada rahim dapat meningkat drastis, jadi saya sarankan Dokter Broto bisa menahannya okey?" Dia menjelaskannya dengan detail dan panjang lebar.
" Aish... Ya sudahlah, bye!"
Broto langsung mendengus kesal sambil membanting ponsel Gendhis diatas kasur.
" Sayang... Maaf mungkin kamu belum beruntung, silahkan coba lagi minggu depan, tapi ini bukan kesalahanku kan?"
" Ya Tuhan, apa ini hukuman untukku! Tinggal sodok doang tadi loh, astaga... Masak harus nunggu dua minggu! Ngelu.. Ngelu dah nih otoong marotong!"
Broto langsung berlari kedalam kamar mandi dan langsung berendam di air dingin, agar benda pusakanya bisa tidur dengan tenang dan bertahan selama dua minggu ke depan.
Sebelum menendang, perlu engkau sadari bahwa engkau akan berdiri dengan satu kaki saja.
__ADS_1
Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri kehidupan.
Dan untuk mendapatkan apa yang diinginkan, kamu harus bersabar dengan apa yang kamu benci.