
...Happy Reading...
Betapa hebohnya sang Eyang Romlah, ketika dia beritahu oleh Panji bahwa kekasihnya akan datang sore ini.
Berbagai hidangan Nusantara sudah dia siapkan diatas meja, padahal tamunya hanya beberapa orang saja, namun masakan yang mereka buat bahkan cukup untuk makan satu komplek perumahan yang ada disana.
" Panji Abisatya, cucu Eyang yang paling ganteng sedunia, ini beneran kan kamu mau bawa calon cucu mantu pulang kerumah?" Setelah keinginannya terpenuhi, baru dia memuji cucunya itu.
" Apa sih eyang ini?" Panji malah jadi aneh sendiri melihat perubahan sikap Eyangnya itu.
" Panji, kamu jangan main-main, aku sudah memberitahu semua geng-geng Eyang di komplek, kalau kamu nggak jomblo lagi tauk!" Ucap Eyang Panji yang memang terlihat nyentrik walau umur sudah senja. Bahkan dia sering dijuluki Eyang kekinian karena masih terlihat gaul.
" Ya Alloh Eyang... nyebut Eyang, sudah tua kok punya geng segala, lupa umur apa gimana Eyang ini?" Panji hanya bisa menatap takjub Eyangnya yang memang limited edition itu.
" Habisnya Eyang senang sekali Panji, akhirnya doa Eyang terijabah juga, siang malam Eyang berdoa, agar kamu segera menemukan jodohmu."
" Maaf ya Eyang, gara-gara Panji Eyang jadi banyak pikiran, pantesan rambut Eyang sudah putih semua ya kan? mau Panji antar ke salon nggak Eyang, biar di cat hitam, kalau perlu pakai cat tembok skalian biar awet, jadi nggak minder kalau lagi ngumpul sama geng Eyang?" Ledek Panji dengan usilnya.
" Cih... nggak perlu! orang geng Eyang semua sudah beruban kok, sekarang mana kekasihmu itu, aku sudah nggak sabar pengen melihatnya!"
" Bentar ya Eyang, tadi sih katanya masih dijalan."
" Sudah beberapa jam yang lalu kamu bilang dia sudah dijalan, tapi kenapa nggak sampai-sampai?"
" Owh iya.. ya?" Panji bahkan baru menyadarinya.
" Jangan-jangan dia nyasar lagi? kamu kenapa nggak jemput dia aja tadi?"
" Dia bawa mobil sendiri Eyang, kalau Panji jemput besok dia berangkat ke rumah sakitnya gimana, lagian sudah aku share lokasi kok, nggak mungkinlah dia nyasar!" Jawab Panji sambil melihat jam ditangannya.
" Coba kamu telepon dulu, sampai mana dia?"
" Ya sudah."
Panji langsung mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Gendhis sang kekasih hati.
" Hallo mas." Jawab Gendhis diseberang sana.
" Sayang, kamu dimana? kenapa berisik banget?" Panji mendengar suara lalu lalang kendaraan disana.
" Ban mobil aku bocor ditengah jalan mas, ini aku lagi dibengkel!"
" Astaga sayang, kalau begitu share lokasimu, biar mas jemput kesana sekarang juga!" Panji langsung ingjn beranjak mengambil kunci mobilnya.
" Nggak usah mas."
__ADS_1
" Kenapa sayang? mas takut kamu kenapa-kenapa kalau sendirian disana, lagian Eyang sudah nunggu kamu loh sedari tadi?"
" Aku sudah nyuruh si Ratu kesini, dia katanya juga dijalan tadi baru pulang kampus dan kami searah kok."
" Beneran? nanti Ratu lupa lagi, dia kan teledor orangnya, jangan-jangan dia malah nongkrong sama temen-temennya." Panji selalu saja negatif thingking jika sudah menyangkut semua tentang Ratu.
" Enggaklah, aku sudah mewanti-wanti dia tadi, Ratu itu nggak akan berani melawanku, biarpun bandel dan jahil tapi sebenarnya dia itu selalu nurut perintah orang tua dan kakaknya, tenang aja mas."
Masak sih?
" Tapi yank?" Panji ingin komplen lagi namun langsung dipotong.
" Nah... itu si Ratu sudah sampai, aku kesana sama Ratu nggak papa ya mas?"
" Nggak papa deh, mau bandel seperti apa juga kan dia calon adek iparku."
" Ciee... yang udah pengen dipanggil kakak ipar?"
" Makanya buruan kesini Yank, aku udah kangen banget sama kamu!"
" Siap masku sayang, aku otewe ya, udah deket kok sebenarnya, palingan cuma tinggal lima belas menit doang sampai kok?"
" Hello... pak Panji, saya suka makanan yang pedas-pedas ya? seafood masak asam pedas contohnya!" Tiba-tiba Ratu berteriak didekat ponsel kakaknya.
" Hussh... diem kamu Ratu, nggak sopan tauk!" Gendhis langsung menyentil kening adeknya.
" Sudah ya mas, jangan didengerin omongannya si Ratu ini, aku tutup dulu sampai jumpa nanti ya?"
" Okey sayang, hati-hati dijalan ya, jangan ngebut-ngebut."
Akhirnya Panji sedikit bisa bernafas lega saat mengetahui keberadaan Gendhis saat ini.
" Eyang... mereka sudah dijalan, sebentar lagi sampai."
" Benarkah? kalau begitu eyang siap-siap dulu!"
" Ngapain Eyang siap-siap segala, yang punya pacar aja aku, kenapa jadi Eyang yang heboh?"
" Diamlah, ada sesuatu yang penting banget, yang harus Eyang persiapkan."
" Apaan sih Eyang?" Panji malah ikut penasaran sendiri, dia malah curiga dengan tingkah Eyangnya sendiri.
" Sudahlah, nanti juga kamu tahu sendiri!"
" Owh iya Eyang, ada masakan seafood nggak tadi?"
__ADS_1
" Enggak, kan kamu nggak pesan tadi? memangnya kekasihmu suka makan seafood ya?"
" Nggak tahu, yaudah deh biar Panji delivery order saja!"
" Gimana sih Njul, trus kamu pesan buat siapa?"
" Adeknya."
" Loh, kok malah adeknya? emang pacar kamu yang mana? atau jangan-jangan kakak beradek kamu pacarin semua lagi?"
" Ya enggaklah Eyang, pacar aku cuma Gendhis, kakaknya, tapi adeknya ikut nganterin kesini, dia mau makan seafood."
" Tapi kenapa kamu perhatian sekali dengan adeknya, kamu kenal juga dengannya, owh... atau dia masih anak-anak ya, kamu kan suka sama anak kecil yang imut-imut kan?"
" Dia salah satu mahasiswiku Eyang, makanya aku kenal betul dengan bocah yang satu itu, ya udah Eyang aku juga mau siap-siap dulu."
Walau masih merasa penasaran, namun Eyang Panji memilih melupakan rasa curiganya saja, daripada memikirkan hal yang tidak jelas pikirnya.
" Eyang, ibu, mereka sudah sampai." Panji berlari turun tangga untuk menyambut mereka yang sudah berada diluar.
" Benarkah? kalau begitu ibu panggil ayahmu dulu ya?" Ibu Panji langsung bergegas kembali ke kamarnya untuk memanggil suaminya.
Sedangkan Eyang Panji mengambil sesuatu yang sudah dia persiapkan sejak tadi.
" Sayang... kamu sudah sampai?" Panji langsung mengusap lembut kepala Gendhis dengan mesra.
" Iya mas, maaf ya agak telat, entah kenapa ban mobilku tiba-tiba bisa kempes dijalan."
" Ya sudah nggak papa, ayo kita masuk? dan kamu Ratu, sudah ngerjain tugas belom?"
" Yaelah pak, baru aja pulang dari kampus, masak udah ditanyain tugas mulu deh." Umpat Ratu yang langsung melengos.
" Owh iya, sebentar ya mas, bingkisan buat Eyang dan orang tua kamu tertinggal di mobil." Gendhis langsung saja berlari menuju mobilnya kembali untuk mengambil hadiah yang sudah dia persiapkan sejak pulang dari rumah sakit tadi.
" Rumah bapak gede juga ya? bapak sendirian aja tinggal dirumah ini?" Ratu sedikit mengintip isi dalam rumah Panji.
" Enggak, sama orang tua dan juga Eyang, tuh dia?" Panji berdiri disamping Ratu dan menunjuk sang Eyang.
" Selamat sore Eyang." Sapa Ratu dengan sopan.
Buuuurrrrrr!
" HAH? APA INI?"
Ratu langsung syock ditempat, antara terkejut dan juga ketakutan, disaat dia tiba-tiba ditebari bunga kembang tujuh rupa oleh Eyang Panji, yang baunya mampu membuat bulu kuduk Ratu tegak berdiri semua.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...