
...Happy Reading...
Tuhan adalah pencipta kehidupan, Dia juga yang mengatur dan mengendalikan kehidupan serta seisinya, termasuk kehidupan manusia, mahkluk ciptaan-Nya.
Itulah mengapa, manusia boleh saja berencana, namun segala yang terjadi akan sesuai kehendak-Nya. Dan tak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya. Kita hanya bisa menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada.
Begitu juga dengan Melody, sama sekali tidak terlintas di pikirannya jika dia harus disidang dengan seorang kelaki dengan tuduhan berbuat mesvm didalam rumah kontrakannya sendiri.
Padahal semua tuduhan ini tidak benar adanya, karena dia tertidur dan tanpa sadar memeluk Arga yang ternyata terbaring disampingnya.
Arga pun tidak bisa menyangkalnya, karena dirinya saat itu pun tanpa sadar pindah ke springbed empuk milik Melody, karena merasa kedinginan saat terlelap sejenak dilantai, setelah membuat tugas untuk mahasiswanya besok sambil menunggu pakaiannya kering, bahkan kondisi Arga saat itu tanpa menggunakan baju dan hanya menggunakan sarung batik, dengan kondisi hujan yang sangat deras.
" Melody, selama ini bapak kira kamu anak yang kalem, nggak banyak neko-neko, tapi kenapa tiba-tiba kamu membawa pulang seorang pria, apalagi dalam kesdaan seperti itu?"
Setelah mereka diboyong ke kediaman rumah Pak RT, akhirnya Arga dan Melody duduk ditengah-tengah warga, seolah mereka menjadi pajangan disana.
" Beliau dosen saya pak dan kami sama sekali tidak melakukan hubungan zinah pak RT, sungguh!" Melody mencoba berbicara baik-baik, karena dia pun sama sekali tidak menyadarinya, semua terjadi begitu saja.
" Heleh... Orang aku lihat sendiri kalian tidur berpelukan, mana dia nggak pake baju lagi, cuma pake sarung aja, pasti kalian baru selesai kerja enak-enak ya kan!"
Tetangga Melody yang sebenarnya tadi melihat ada mobil asing didepan kontrakannya langsung kepo, ingin tahu siapa pemiliknya.
Dan saat dia cek ketiga lantai itu, ternyata pintu rumah Melody terbuka dan ada sepatu pria disana, sedangkan semua tetangga Melody tahu, kalau dia tinggal sendiri disana.
Karena dia memang tetangga terjulid yang selalu haus akan gosip, langsung saja dia tidak membuang waktu dan memanggil warga juga pak RT yang rumahnya hanya disebelah kontrakan.
Dan ternyata takdir sengaja berpihak ke ibu julid yang satu itu, Arga dan Melody pun seolah nyenyak sekali tidur, dengan diiringi suara hujan yang sedang turun dengan derasnya.
" Tadi baju dosen saya basah buk, setelah membantu membetulkan genting rumah kontrakan saya yang bocor!" Melody mencoba membela diri.
Yang lebih dia khawatirkan bukan dirinya sendiri, melainkan Arga dosennya, karena dia juga belum terlalu lama ditinggal pergi almarhum istrinya, sudah pasti akan banyak kontranya dalam opini masyarakat nanti.
Apalagi dia berkarier sebagai dosen, yang seharusnya memberikan panutan kepada masyarakat luas, jika sampai gosip ini tersebar, sudah pasti reputasinya akan hancur seketika dengan gosip ini.
" Emang ada CCTV nya di rumah kamu yang bisa dijadikan bukti, jaman sekarang itu jangankan dosen, orang yang punya jabatan tinggi saja bisa berbuat zinah, apalagi kalian berdua!" Hardik ibu itu kembali, apalagi dia melihat sendiri kejadian itu, semakin bahagia dia mendapatkan hot news malam ini.
" Sudah pak RT, nikahkan saja mereka, biar mereka tidak merusak citra dan nama baik di kalangan komplek kita." Salah satu warga disana pun ikut berkomentar.
" Setuju... Nikahkan saja mereka!" Teriak mereka serentak.
" Iya.. Ngapain juga mendengar alasan mereka, bisa saja mereka hanya membela diri." Ibu itu kembali menatap Melody dengan tatapan sinis.
" Tapi sungguh pak, hal itu yang sebenarnya terjadi, hanya benerin genteng bocor aja loh pak." Melody diserang opini beberapa warga yang sudah tersulit emosi.
" Maaf mbak Melody, tapi memang di komplek kita kan ada aturannya, masak masnya benerin genteng saja sampai malam? Sudah pasti kalian lama tidurnya kan dan anda pun tidak bisa menunjukkan bukti pada kami, yang kami lihat kalian memang tidur bermesraan? Kalau menurut kamu, apa kami bisa percaya kalau kalian tidak ada hubungan?" Karena Pak RT juga ikut masuk kedalam kamar Melody dan menyaksikan mereka tadi, jadi walau dia tahu Melody anak baik-baik, dia tidak bisa berpihak sebelah juga.
" Nikah... Nikah.. Nikah!" Warga seolah meneriaki yel-yel untuk memprovokatori pak RT.
" Huft... Tapi kasian dosen saya pak, dia belum lama berduka, istri beliau meninggal, tidak mungkin kami melakukan pernikahan secepat ini, bisa beri kami waktu? Setidaknya beberapa bulan lagi sampai satu tahunan acara doa buat istrinya?" Melody bahkan lebih mencemaskan hal itu daripada dirinya.
Karena kalau menikah dengan orang sekeren, setampan dan sebaik Arga tidak akan ada masalah baginya, walaupun sudah duda beranak satu pun, tidak akan sulit baginya untuk jatuh cinta dengan orang sepertinya.
Tapi ini menyangkut soal nama baik mereka dan apa kata tetangga nantinya, padahal mereka sama sekali tdak melakukannya.
" Woo... Ternyata dia duda, pantas saja dia melakukan hal ini, dia pasti kehausan itu!" Saat mendengar hal itu, bukannya empati malah semakin menghujat saja ibu yang tidak takut dosa itu.
" Sudah... Nikahkan saja mereka, itu resikonya dia, makanya kalau berbuat sesuatu itu pikir panjang, jangan maunya cuma yang anget-anget sama yang seger-seger aja, apalagi duda dapet daun muda, taulah musih penghujan, enak kalau begituan!"
" Hahahaha!"
Bahkan warga disekitar banyak yang menertawakan mereka, sedangkan Arga hanya duduk terdiam saja sedari tadi, karena mau dia memberikan alasan apapun tanpa adanya bukti, mereka sudah pasti akan kalah.
" Astaga buk, saya wanita baik-baik, dan dosen saya pun tidak pernah punya pikiran jelek seperti itu, tolong jaga omongan ibuk!" Melody tidak tega melihat dosennya yang semakin menundukkan kepalanya.
" Heleh, kalau sudah nafsv, mau orang terbaik dari belahan dunia manapun pasti akan tergoda, jaman sekarang kok ada orang lurus, nggak mungkin!" Salah satu warga kembali memperkeruh suasana disana.
__ADS_1
" Tapi pak!"
Melody tidak bisa berpikir cerdas juga hari ini, apalagi dia berada ditengah-tengah kerumunan warga yang menghujatnya.
" Sudahlah Melody, kita menikah saja!"
Akhirnya setelah Arga terdiam dan berpikir keras, akhirnya dia memutuskan untuk setuju menikah saja, karena menolak pun hanya akan memperpanjang masalah pikirnya.
" Harus itu, sebagai lelaki, berani berbuat harus berani bertanggung jawab!"
Pak RT pun hanya bisa menggangukkan kepalanya, karena mungkin memang hanya ini solusinya.
" Baik pak, lakukan apa yang kalian mau, kami akan menerimanya, walau sesungguhnya kami sama sekali tidak berbuat zinah." Arga langsung menegakkan kepalanya, karena semua pasti ada resikonya, jadi apapun akan dia terima.
" Huuu... Tidak berbuat kok pelukan, emangnya kalian ayam sedang bertelur? Harus dipeluk-peluk dulu baru bisa menetas, ahaha!"
Warga-warga julid disana tidak mau tahu, mereka semakin membuat masalah ini sebagai ajang candaan dan hinaan.
" Masih baik kami tidak mengarak kalian berdua tanpa busana tadi!" Ledek salah satu warga itu kembali.
" Orang baju saya lengkap, utuh dan sama sekali tidak tersentuh kok!"
Melody langsung menjeling kesal, tetangga kontrakan dia memang terkenal tukang gosip dengan hal apapun yang terjadi disekitar mereka.
Bahkan ibarat kata, ada gosip buah Semangka tapi sampai di telinga orang sudah jadi Es Campur.
Mau tidak percaya, tapi inilah kejamnya kehidupan, akan selalu ada netizen yang membenci kita, banyak yang tidak mengerti tapi sok mengerti, hanya demi sebuah gosip hangat semata agar menjadi buah bibir di masyarakat luas, dia rela mengubah alur gosipnya tanpa ingat akan dosa untuknya.
" Sudah... Kalian bisa tenang semuanya tidak!" Pak Rt langsung berdiri untuk menengahi hujatan mereka.
" Iya pak RT!"
" Karena hari sudah malam, kita menikahkan mereka secara siri dulu, untuk resminya biar mereka lakukan sesuai prosedur." Akhirnya keputusan pak RT pun finish.
" Nanti mereka kabur gimana pak!"
" Ya Tuhan buk, masih tidak terima juga? Anak ibuk tuh diurusin, jangan cuma ngurusin anak orang saja kerjaannya, setiap hari gonta-ganti orang yang nganterin dia pulang, tapi saya nggak pernah urusin dia!" Emosi Melody kembali naik sampai ke ubun-ubun saat melihat siapa yang berbicara.
" Melody, sudahlah!" Arga mengusap lengan mahasiswa teladan di kampusnya.
" Emang beneran begitu pak, banyak kok yang tahu." Melody tetap tidak terima nama baiknya dijelek-jelekan seperti itu.
" Cukup Melody, nanti semakin panjang urusannya."
Arga langsung mengusap kepala Melody sambil berbisik dengannya, karena dia memang terlihat emosi saat ini, namun Arga mencoba tetap tenang, agar masalah ini tidak berlarut-larut dan segera selesai.
" Kalau begitu, bisa kita langsungkan saja acara ijab Qobulnya saat ini juga?" Pak RT langsung bangkit dari duduknya.
" Sebentar pak, saya menunggu salah satu keluarga saya datang dulu, biar dia ikut jadi saksi pernikahan siri kami." Arga sudah mengirimkan pesan kepada Panji untuk datang kesana tadi.
" Jangan buang-buang waktu kami ya kalian berdua, atau kalian hanya ingin kabur saja ya, dan mencari pembelaan sana-sini!"
" Huh... Tidak buk, saya benar-benar menghubungi keluarga saya, pasti mereka sudah dijalan menuju kemari." Arga hanya bisa membuang nafasnya dengan kesal, saat menghadapi warga yang seperti dia.
" Sudahlah buk, harap tenang, kita tunggu sebentar lagi ya, lagian memang pihak keluarga harus mengetahui tentang hal ini, jadi tolong kalian harus kooperatif dan tenang, atau kalau tidak saya bubarkan kalian semua!"
Sebagai ketua RT, bapak itu menjadi penengah diantara mereka, agar tidak terjadi keributan warga.
Tak lama kemudian, Panji dan Ratu datang dengan jalan tergesa-gesa menuju rumah pak RT.
" Pelan-pelan Ratu, kasian si dedek kalau kamu jalannya kek gitu!" Panji langsung merangkul lengan istrinya saat dia terlihat tidak sabaran.
" Aku penasaran yank, kenapa mereka bisa ketangkap warga!" Umpat Ratu sambil memegang perutnya yang memang sudah mulai membesar.
" Iya... Tapi jalan pelan-pelan saja dong."
__ADS_1
Arga memang tadi hanya menyuruh Panji saja yang datang, dan berpesan agar tidak memberitahukan kepada keluarga lain, takut mereka syock, tapi Ratu selalu berkepit dengan Panji, jadi dia tau isi pesan dari Arga dan langsung ngotot ingin ikut kesana.
" Wuidih... Pak Arga cuma pake sarung, pantesan aja ditangkap kan yank!"
Belum juga sampai didalam, saat melihat Arga di ujung saja Ratu langsung kembali heboh.
" Nggak mungkin Arga seberani itu Ratu!" Panji yang sudah berteman lama dengan Arga tahu betul karakternya bagaimana, jadi dia tetap tidak percaya Arga berani berbuat nekad seperti itu.
" Heleh... Ayang aja dulu berani banget jebol aku di kapal, yang jelas-jelas ada orang lain, lah mereka di kontrakan yank, apalagi hujan tadi, sudah pasti begituan hal yang paling enak kan?"
" Sssttt... Kita bahas itu nanti dirumah, kita masuk dulu sekarang, kamu tenangkan sahabatmu itu!"
Akhirnya Panji dan Ratu disambut dengan jelingan mata dari para warga dan akhirnya mereka akan melangsungkan ijab siri malam itu juga.
" Pinjam dulu kemejamu!" Arga langsung berbisik ke arah Panji.
" Lalu aku pakai apa?"
" Pakai jaketmu itu! Kasian nanti Melody, menikah yang pertama tapi calon suaminya cuma pakai sarung doang!"
" Aish...lagian elu ngebet banget! Taulah dia daun muda, rasanya lebih gurih, tapi ya kira-kira dong bokir!"
" Gurih gundulmu itu Panjul! Aku sama sekali tidak melakukannya, apa kamu tidak percaya denganku!"
" Lalu kenapa kalian bisa ditangkap bokir!"
" Panjang ceritanya, pinjam dulu baju sama celanamu itu!"
" Gilak lu, trus gue pake apa!" Panji langsung memeluk tubuhnya sendiri, seolah dia tidak rela.
" Pake jaket sama sarung kan bisa! Ayolah... Lu kan cuma saksi, pakai apa saja nggak ngaruh, sini cepat!" Arga tetap saja memaksanya, dia tidak ingin Melody menahan malu kalau salah satu diantara mereka ada yang mengambil gambar nanti.
Secara tidak sadar, mereka berdua bahkan memikirkan antar perasaan masing-masing.
" Ckk... Elu yang nikah, gue yang tersiksa!" Umpat Panji.
" Emang kamu pikir aku bahagia? Akupun tersiksa Panjuuul!"
" Tersiksa apanya? Dapet yang masih ranum, daun muda, seger, pinter dan yang lebih penting lagi, nggak usah mikirin ribetnya acara seserahan dan juga mahar, mau kamu beli gocap juga Sah aja bro, hihi!"
Plak!
Arga langsung memukul lengan sahabatnya itu, namun dia malah jadi ingat akan mahar yang akan dia berikan walau tanpa persiapan.
" Kamu bawa uang berapa, uang cashku tadi cuma dikit, nanti gue transfer sebagai gantinya!"
" Haha... Ini ceritanya dibayar dengan ngutang lah!" Ledek Panji yang hanya bercanda, bahkan tidak diganti pun dia tidak masalah.
Walaupun dengan segala umpatan, Panji langsung mengeluarkan semua uang cash yang ada di dompet miliknya.
" Sebenarnya mau mahar lima belas ribu juga sah, cuma gue kasian aja sama calon istri gue, kayak nggak dihargain banget nantinya, takutnya juga akan membekas dihati saat kita tua nanti." Ucap Arga sambil merapikan bajunya.
" Emang kamu jamin bakalan sama Melody sampai tua nanti?"
" Kamu pikir aku pria model apaan! yang lari dari tanggung jawab dan hanya bisa merusak nama baik wanita begitu? Sory ya... Sudah dari kemarin-kemarin Hugo memanggilnya mama, dan sebagai ayah yang baik aku akan mewujudkan harapan putraku." Jawab Arga dengan santainya.
" Woah... Jangan-jangan kamu memang sudah merencakan semuanya ya? Gila lu ya bokir... cara maen elu alusssss bener!" Ledek Panji kembali.
" Diamlah, cuci otak kotormu itu, ayo cepat jadi saksi pernikahan siri ku!"
" Wahahahaha... adohaaay... Mau sedih tadi ceritanya, tapi kok malah begini jadinya!"
Akhirnya pernikahan itu pun akan segera dimulai, Melody dan Arga sudah duduk berdampingan dengan pakaian seadanya, dan Panji pun sudah siap menjadi saksi, walau hanya menggunakan sarung batik dan jacket saja.
Namun semua ini akan menjadi sebuah moment yang tidak akan pernah terlupakan begitu saja sepanjang sejarah di kehidupan mereka.
__ADS_1
Kita harus belajar menyelami rencana Tuhan dalam hidup kita karena Dia empunya hidup kita sehingga Dia pula yang akan mengendalikan kehidupan kita.
Jangan khawatir, Tuhan tidak pernah buta terhadap air matamu, tidak pernah tuli terhadap doamu, dan tidak pernah diam terhadap rasa sakitmu. Dia melihat, Dia mendengar, dan Dia akan membebaskan.