Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
61. Mau tau rasanya, sakit hati itu apa?


__ADS_3

...Happy Reading...


Orang yang kuat hatinya bukan mereka yang tidak pernah menangis. Melainkan orang yang tetap tegar ketika banyak orang menyakitinya.


Umur dewasa juga belum tentu jaminan hatinya akan setegar jangkar, umur lebih muda juga bukan berarti dia lemah dan mudah hancur hanya karena terpaan badai yang menghantam.


" Hmm... Malam ini kita camping di sini ya besti!" Dengan helaan nafas panjang Ratu melihat sekeliling tempat mereka berpijak.


Akhirnya mereka bertiga berada di salah satu dataran tinggi yang sejuk dan cocok digunakan untuk refresing di akhir pekan.


" Ehh... Bukannya itu seragam MAPALA kampus kita?" Melody melihat beberapa mahasiswa menggunakan seragam Mahasiswa Pencinta Alam dari kampusnya.


" Benarkah? Apa kamu nggak salah lihat?" Tanya Ratu yang memang tidak pernah perduli dengan kegiatan Kampus.


" Iya, gue yakin banget tuh, kebetulan sekali mereka buat acara disini, jadi tambah seru kayaknya nih?"


Walaupun Melody tidak tergabung dalam organisasi tersebut, tapi dia hafal betul dengan seragam itu.


" Ada yang ganteng nggak Mel, yang paling wow gitu?" Tanya Ratu yang langsung terlintas ide bagus untuk membalas kelakuan suaminya.


" Ketua Mapala nya lah, biasanya mereka terpilih karena paling unggul dari segala hal, apalagi soal otot, sudah pasti keren lah, mereka kan sering naik turun gunung!" Jawab Melody dengan semangat.


" Gilak ya... Ternyata itu pikiran kalian saat menilai pria? Hanya dari segi fisik saja? Woah... tapi kenapa kalian marah jika pria mengagumi fisik perempuan seksih, ini tidak adil!" Umpat Broto yang langsung melengos saat mendengar komentar mereka.


" Ckk... Kalau cuma naik turun gunung doang nggak perlu pake otot, laki gue sambil pejam mata juga bisa, bahkan dia berkeliling dua gunung sekaligus!" Ucap Ratu yang langsung berbicara menurut ilmu pengetahuan suami istri saat malam tiba.


" Maksudnya?"


Melody yang memang masih polos hanya bisa melongo saja saat mendengarnya, pikirannya seolah masih loading muter-muter di tempat.


" Hush... Kamu ini jangan mengajarkan ajaran sesat dengan temanmu yang masih polos ini, nanti kalau dia teringin gimana? Mau cari siapa dia?" Broto langsung menyentil adek ipar nya yang malah terlihat cengengesan saja.


" Ngomong apaan sih kalian? emang gunung apa? Masalah gunung aja ribet kalian!" Pikiran Melody masih lurus saja, belum terarah ke sana.


" Haha... Ini gunung lain dari pada yang lain sensasinya bestie, kamu belum sampai ke tahap sana, lain kali saja kita bahas okey?" Akhirnya Ratu tidak tega melihat temannya yang terlihat makin penasaran.


" Apaan sih, kok aku jadi penasaran, kasih kisi-kisinya bisa dong ya, please?" Dia pun masih mengharap, walau yang ditanya hanya memilih tertawa saja.


" Eh... Julaika, ini bukan di kampus, minta aja sono sama laki gue kalau mau kisi-kisi!" Ledek Ratu kembali.


" Ckk... sudahlah, berisik aja kalian, trus rencana buat gue apa ini? Masak gue cuma nganterin kalian doang ke sini, untungnya apa buat abang kalian yang paling tampan ini coba?" Tanya Broto saat mengingat nasipnya juga.


" Cih... Tampan lah konon!" Melody dan Ratu langsung kompak menjeling ke arah Broto, walau memang Broto termasuk dalam kategori tampan, namun tengilnya memang tidak beda jauh dengan dua wanita itu.


" Iyalah... Yang namanya kerja sama harus saling menguntungkan dong, masak gue nggak ngasih pelajaran sama kakak kamu, sedangkan dia sudah bikin hati gue remuk dek!" Broto sudah berjuang selama ini walau dengan versinya, namun sepertinya Gendhis terlalu sulit untuk ditakhlukkan, walau sudah ada kemajuan sedikit.


" Yaelah... katanya dulu Player, gitu aja udah putus asa, lemah kamu bang!" Ejek Ratu yang langsung tersenyum miring.


" Tapi ini lain ceritanya, didalam perut kakak kamu itu ada hasil karyaku, dan sialnya aku pake hati dengannya!" Tanpa sadar Broto mengakui perasaannya sendiri, entah mengapa dia nyaman bercerita dengan dua wanita ini, biasanya dia orang yang tertutup.


" Astaga sad boy amat kamu bang, bisa juga jadi bucin ya?" Ratu menatap iba melihat abang iparnya menjadi sosok yang tersakiti.


" Bukan bucin, tapi gimana ya ngomongnya!" Broto gengsi untuk mengakuinya, padahal memang iya, tapi dia selalu menutupinya dengan tingkah yang cuek dan slengek an.


Karena Tuhan memang selalu punya cara, untuk membuat umatnya menjadi lebih baik lagi, walau harus dengan ujian dan cobaan yang datang menerpa.


" Tenang aja, nanti biar aku sama Melody yang atur, abang tinggal pasang badan aja deh!" Ratu langsung menepuk bahu abang iparnya, seolah memberikan dukungan semangat, sesama orang yang tersakiti.


" Bener ya? Awas nggak berhasil, tas hermess untuk kamu juga melayang!" Broto seolah memberikan ultimatum kepada Melody.


" Siap pokoknya ya kan Mel, ehh... aku mau nyari target dulu bentar ya!" Ratu langsung mengamati beberapa tenda besar yang ada dihadapannya.


" Itu Tu... Yang pake sweater hitam, dia ketua Mapala di kampus kita, namanya Arjuna!" Melody yang sering mendengar gosipan para mahasiswa di kampus jadi tahu, mana saja yang menjadi topik pembicaraan mereka.


" Woah... Arjuna yang mencari cinta nggak ya?" Seperti biasa, ada saja ocehan Ratu yang tidak berbobot.


" Eling loe cil, jangan pake hati, jangan bikin baper anak orang!" Broto pun tanpa sadar ikut mengamati hiruk pikuk kegiatan para mahasiswa itu.


" Bagus lah itu, semakin dia baper semakin keren sandiwara gue, lagian juga mereka tahunya gue masih single, pasti ngena banget nanti vibesnya!" Ucap Ratu dengan yakin.


" Emang gilak loe, tanggung jawab nanti kalau dia terpikat!" Melody hanya bisa geleng kepala saat sahabatnya sudah beraksi nekad seperti itu.


" Sikat argh! hai.. abang Juna, kenal sama aku nggak?"


Ratu tidak ingin membuang-buang waktunya lagi, dia langsung melambaikan tangannya ke arah Arjuna yang langsung menajamkan pandangannya ke arah Ratu.

__ADS_1


" Dasar bocah, semua kamu panggil abang!" Entah mengapa Broto seolah tidak rela gelarnya dipakai untuk orang banyak.


" Biar chemistrinya dapet gitu loh bang, gue tinggal dulu kesana ya, jangan lupa video in gue bang, yang jelas ya!"


" Beres deh!" Entah mengapa Broto pun menurut saja.


" Kamu Ratu kan? Mahasiswa di kampus kita juga?"


Tanpa diduga Arjuna malah mendekati dia terlebih dahulu sebelum Ratu berjalan ke arahnya.


" Bener banget bang, ya ampun... Udah keren ramah lagi abang Juna ini, hehe..." Ratu langsung tersenyum lebar kearahnya.


" RATUUUUUU!"


Tiba-tiba terdengar suara lengkingan seorang pria dari kejauhan yang berhasil mengalihkan semua pandangan mereka.


" Mampus gue, kenapa dia bisa tahu kalau kita disini bang?" Ratu langsung melipir mendekat ke arah Broto yang terlihat heran juga.


" Mana aku tahu, jangan-jangan dia pasang GPS di ponsel kamu!"


" Ya enggaklah, orang dia nggak pernah megang ponselku."


" Gagal deh rencana elu gaes!" Melody ikut merapatkan barisan kearah duo patah hati ini.


" Cih... Nggak juga, kita ganti Plan B, dia kan nggak mungkin secara terang-terangan ngaku kalau gue ini istrinya." Bisik Ratu ke arah Melody.


" So?"


Melody dan Broto seolah penasaran dengan aksi selanjutnya dari Ratu kali ini.


" It's show time!"


Ratu langsung mengubah kepanikannya menjadi senyum sumringah, seolah dia melupakan kesedihan saat mengingat kejadian siang tadi walau hanya sesaat.


" Hai... Pak Panji, apa bapak ikut gabung kegiatan Mapala juga dengan mereka?"


Ratu langsung memulai aksinya menjadi sosok Mahasiswa kembali, karena Arjuna juga langsung menundukkan kepalanya saat melihat Panji datang.


" Huft... kamu ngapain ikut kesini Ratu?" Tanya Panji dengan tatapan menyelidik ke arah Ratu.


" Rencananya sih mau gabung sama organisasi Mapala di kampus kita, boleh nggak Bang Juna?"


" Tentu saja boleh Ratu, organisasi kami terbuka untuk semua." Jawab Arjuna dengan senang hati, siapa sih yang tidak mau dekat dengan mahasiswa terpopuler di kampus pikirnya.


" Lalu kenapa suami kakak kamu ada disini?" Panji lansung melirik ke arah Broto dengan tatapan tajam membunuh.


" Abang ipar aku ini emang baik banget pak, dia takut kalau aku dan Melody kenapa-kenapa dijalan, jadi dia nganterin kita ya kan bang?" Dan perkataan Ratu berhasil membuat Broto membusungkan dadanya.


" Hmm.." Jawab Broto dengan sikap datarnya.


" Bagus ya, dia enak-enakan jalan-jalan kesini, sedangkan istrinya dibawa ke rumah sakit?" Ucap Panji yang langsung menatap jengah ke arah Broto.


" HAH?"


Broto tidak menyangka jika istrinya sampai dibawa kerumah sakit, karena sebelumnya mereka berdua terlihat bermesraan dengan pria ini pikirnya.


" Stttth... Jangan pergi dulu!"


Ratu langsung menginjak kaki Broto dan berbisik kearahnya saat dia terlihat ingin segera beranjak pergi dari sana, padahal baru mendengar istrinya dibawa ke rumah sakit saja.


" Tenang saja, misi gue bisa kita tunda dulu, aku harus memastikan kalau kakakmu baik-baik saja."


Dia langsung menepuk bahu Ratu dan segera mengambil kunci mobil dan juga ranselnya.


" Abang!" Teriak Ratu yang langsung terlihat kesal.


Namun jauh didalam hatinya dia juga terkesan saat melihat kekhawatiran abang iparnya, karena itu makna nya Broto memang perduli dengan kakaknya, hanya saja kakaknya belum bisa membuka hati sepenuhnya dengan abang iparnya yang sebenarnya sangat menyayanginya dirinya.


" Good luck, kita lanjut besok okey!"


Broto tetap saja memilih untuk pergi ke rumah sakit, dia tidak ingin sampai menyesal jika terjadi apa-apa dengan istrinya, masalah misi mereka untuk balas dendam bisa lanjut nanti pikirnya, yang pasti dia harus melihat kondisi Gendhis terlebih dahulu, baru bisa tenang.


" Ckk... Tampang Batman tapi dalamnya Teletubies, lemah loe bang!"


Ratu pun tidak bisa berbuat apa-apa kalau sudah begini, alhasil dia menyelesaikan dulu misinya sendiri.

__ADS_1


" Arjuna, kamu balik ke teman-teman kamu sekarang, bapak ada perlu dengan Ratu!"


Panji langsung menyingsingkan kemejanya yang sudah compang-camping karena mobilnya macet dibawah sana, tadi dia terlalu terburu-buru saat dalam perjalanan kesini, jadi dia lupa mengisi bahan bakar yang ternyata habis ditengah jalan.


Sedangkan penjual bahan bakar minyak jauh sekali dari sana, alhasil dia tinggalkan saja mobilnya dibawah sana dan berlari menaiki bukit karena segera ingin bertemu dan menjelaskan sesuatu dengan istrinya, agar dia tidak terlalu lama larut dalam kesalah pahaman.


" Baik pak, kalau begitu saya permisi!" Arjuna langsung saja menunduk dan segera ingin berlalu dari sana.


" Aku ikut abang aja deh!"


Tiba-tiba Ratu langsung berlari dan menggandeng lengan Arjuna dengan manjanya.


" RATU SINI KAMU! bapak ada perlu dengan kamu!" Panji langsung melotot ke arahnya, dengan emosi yang terbakar dia langsung meninggikan suaranya.


" Maaf pak, tapi aku juga ada perlu dengan bang Juna!" Jawab Ratu dengan santainya.


" Ssstt... Jangan gila kamu, selesaikan dulu urusanmu dengan pak Panji, apa kamu lupa siapa dia?" Bisik Arjuna yang terlihat ketar-ketir.


" Aku tidak punya urusan dengan pak Panji kok, seriusan, aku pengen gabung sama group Mapala abang, boleh daftar sekarang kan?"


" Boleh, tapi nanti saja, kamu temui dulu pak Panji!" Arjuna semakin gemetaran saat kedua biji mata Panji seolah ingin terlepas dari cangkangnya.


" Aku tidak punya masalah dengannya, lagian juga ini di luar kampus, aku tidak punya urusan dosen itu!" Ratu tetap saja nekad.


" RATU, APA TELINGA KAMU SUDAH TIDAK BISA LAGI MENDENGAR!" Panji bahkan sudah berkacak pinggang saat ini.


" Maaf Ratu, tapi aku yang takut bermasalah dengan dosen killer itu, bye!"


Arjuna langsung melepas paksa tangan Ratu dan langsung berlari pergi mencari titik aman saja, dari pada dia harus berurusan dengan dosen yang paling di takuti di kampus mereka, karena nilai mereka yang akan menjadi taruhannya.


" Aish siall... Kenapa misiku selalu saja hancur berantakan, kapan sih semua hal tentang gue bisa mulus kayak kulit bayi, kenapa juga mereka setakut itu dengan laki gue? Nggak tahu aja mereka kalau saat malam tiba, laki gue berubah jadi pengemis cinta yang menggemaskan, argh!" Ratu langsung mendengus kesal setelahnya.


" Kamu bawa tenda nggak?" Tanya Panji yang langsung berjalan mendekat.


Hidih... Ngapain juga nanya-nanya, mau minta jatah loe, huek... jangan harap!


" NGGAK!"


" Jadi kamu ngapain mau kesini?" Panji kembali dalam mode pelan.


" Itu bukan urusan bapak!" Ratu semakin berani dengannya.


" Ratu, sayang... Mas mau menjelaskan sesuatu denganmu, kita cari tempat yang nyaman buat ngobrol ya?" Panji berbicara semanis mungkin.


" Ngobrol aja sana sama pohon, aku malas ngomong sama pria yang lenjeh dan selalu gagal move on kayak kamu!" Umpat Ratu yang langsung mengubah nama panggilan.


" Ratu, dengarkan aku dulu, ini hanya salah paham sayang."


" Ooo... Tidak semudah itu! Mau tau rasanya, sakit hati itu apa?" Ucap Ratu kembali.


" Emang apa?" Dengan lurusnya Panji bertanya.


" Bodo amat, orang aku lagi nyanyi!" Jawab Ratu dengan acuh.


" Ratu..." Panji ingin tertawa karena istrinya ini terlalu menggemaskan baginya, bahkan saat marah seperti ini.


" Melody... Ayok gabung sama Bang Juna, ternyata banyak pria tampan disana, seger-seger lagi, fresh from te oven, cuusss... Sikat Bestie!" Ratu bahkan langsung mendekat ke arah Melody yang sedari tadi menjadi penonton setia.


" Enak saja kamu mau nyari yang seger-seger!"


Hap!


Panji langsung berlari dan menyambar tubuh Ratu dan membawa kedalam gendongannya.


" Pak... Lepas, turunkan aku, nanti kita ketahuan kalau sedang punya hubungan!" Ratu langsung terlihat panik dan menoleh ke kanan kiri.


" Aku tidak perduli! Kalau perlu kita umumkan saja pernikahan kita didepan mereka!"


Nggak boleh jadi ini, aku tidak akan membiarkan suamiku mendapatkan kata maaf dariku semudah itu, dia harus berjuang, sampai dia jera karena masih selalu menoleh dengan masa lalunya.


Ratu langsung memikirkan cara agar bisa lepas darinya, namun tetap bisa mengontrol emosinya, sehingga hubungan mereka tidak terbongkar saat ini juga. Dia akan menggunakan trik cantik untuk membalas kesakitan dihatinya.


Ratu tidak bisa membayangkan jika semua teman-temannya tahu kalau dia sudah menikah dengan dosen terkiler di kampusnya, karena bisa-bisa dia akan dijauhi karena tidak ingin berurusan dengan Panji.


Menyimpan kesalahan masa lalu hanya akan membuatmu semakin terluka, ikhlaskanlah, lepaskan demi hidup yang lebih baik.

__ADS_1


Sebab salah satu bagian mencintai adalah merelakan pergi, jika memang itu yang terbaik.


Mengingat untuk melupakan, bahagia untuk menangisi.


__ADS_2