
...Happy Reading...
Pagi ini Gendhis memaksakan diri untuk bekerja kembali ke rumah sakit, badannya sudah tidak demam lagi, hanya sedikit pusing saja saat bangun tidur tadi, namun setelah minum beberapa vitamin dan susu, staminanya sudah mulai membaik lagi.
" Kakak mau berangkat kerja hari ini?" Ratu yang sedang sarapan pagi langsung menyapa kakaknya yang sudah mengenakan kembali jas putih kebanggaannya.
" Iya dek." Jawab Gendhis dengan singkat.
" Yakin udah sehat, nanti tumbang lagi loh, dua minggu lagi kakak menikah kan?"
Ratu kembali mengingatkan kakaknya, karena kalau dia sering tumbang, Ratu juga yang repot harus mengurus ini itu.
" Justru itu dek, dua minggu lagi kakak ambil cuti panjang, lagian badan kakak sudah enakan kok, kebanyakan tidur kurang gerak malah makin lemes, kalau sedikit berkeringat mungkin ringan dibadan kan?"
" Jangan terlalu dipaksakan kak, ayah sama ibu pasti bisa mengerti." Ratu tidak tega juga melihatnya, itu mengapa dia sama sekali tidak tertarik bekerja sebagai dokter di rumah sakit, karena sebagai dokter saja bukan jaminan kalau badan kita bisa sehat selamanya, pikirnya.
" It's okey, kakak nggak kerja full time kok, separuh hari aja, soalnya siang nanti kakak mau fitting baju pengantin, sudah dihubungi terus sama desainernya, katanya udah harus di finishing hari ini juga." Gendhis sudah janjian tadi malam dengan Panji.
" Terserah kakak aja deh, kakak kan dokter, harusnya tahu gimana kondisi diri sendiri, ya sudah sarapan dulu, nasi gorengnya enak banget loh kak, aku request yang banyak Pete nya sama si bibi, hmm... endul surendul pokoknya!" Ratu bahkan sudah nambah dua piring nasi goreng lagi tadi.
" Nggak deh, kakak lagi nggak selera makan nasi."
" Tumben, ini kan sarapan favorit kita berdua?" Ratu kembali terheran dengan tingkah kakaknya.
" Buat kamu aja, kakak mau makan roti tawar sama selai aja."
" Heran deh, akhir-akhir ini kakak kayak orang ngidam, yang biasa doyan jadi nggak doyan, yang biasanya nggak disukai malah dimakan?"
" Ngawur aja kamu kalau ngomong!" Umpat Gendhis dengan tatapan tidak suka.
" Hehe... kapan juga kakak buatnya ya kan, orang dua-duanya pada sibuk kerja semua, belakangan ini sering ketemu aja semenjak sakit, gimana mau proses produksi ya kan kak?" Ledek Ratu dengan gaya ceplas ceplosnya.
" Hush... kamu ini, masih kecil udah ngomongin proses produksi aja!"
" Orang udah diajarin kok?"
" Siapa yang ngajarin kamu kayak begitu, dosen mana? bilang sama kakak?"
" Dari SMA lagi udah diajarin dalam mata pelajaran Biologi kan, proses perkembangbiakan, haha.." Ratu langsung terkekeh sendiri setelahnya.
" Itu lain Ratu, sudah lah... kakak mau berangkat kerja sekarang aja, ngeladenin omongan kamu nggak akan ada habisnya." Gendhis langsung beranjak dari meja makan.
" Cie... malu? kita udah dewasa kali kak, bentar lagi kakak juga kan udah mau nikah, harusnya sudah paham dong bahasa uh ah, haha!"
" Habiskan sarapanmu itu, biar lurus pikiranmu itu, masih kecil jorok aja otak kamu itu!"
Akhirnya Gendhis memilih berangkat duluan, daripada habis dikerjain sama Ratu. Omongan adiknya itu memang terkesan bercanda, namun dia sendiri yang malu saat membahasnya.
" Apa benar gue ngidam ya?"
Saat Gendhis sampai dirumah sakit, dia kembali memikirkan candaan Ratu tadi, karena memang kebiasaannya berubah drastis kalau dia renungkan kembali.
" Eh... ini tanggal berapa ya? kok aku belum datang bulan?"
Gendhis langsung melihat tanggal di smartphone miliknya.
" Astaga... sudah telat hampir dua minggu, apa jangan-jangan?"
Gendhis langsung berjalan cepat menuju ruangannya dengan perasaan was-was.
" Hai Ndis? kamu sudah baikan?"
Terlihat Sita menyapa dirinya saat dia baru saja ingin masuk kedalam ruangannya.
" Emh... su.. sudah lumayan lah." Jawab Gendhis yang langsung berhenti dan memikirkan sesuatu.
" Tapi kamu masih pucet loh, are you okey? kalau memang belum fit benar, jangan terlalu dipaksakan masuk kerja dong?" Sita langsung mengusap lengan sahabatnya saat melihat wajahnya yang terlihat pucat.
__ADS_1
" Em.. Sit.. Sita, kamu sudah ada pasien belum?"
" Belum, aku baru saja sampai, mau prepare dulu sebelum pelayanan, kenapa emangnya?" Sita langsung mengerutkan keningnya, dia sedikit heran karena wajah Gendhis terlihat panik juga.
" Aku pengen sharing-sharing sebentar boleh?"
" Denganku? boleh dong? soal apa?" Sita menunjuk wajahnya sendiri, karena tidak biasanya Gendhis seperti itu, dia bukan tipe orang yang suka ngrumpi pikirnya.
" Kita ngobrol didalam okey?"
Walau ragu, namun Gendhis ingin sedikit bertanya-tanya seputar kehamilan, karena Sita merupakan dokter Obgyn atau spesialis kandungan.
" Duduk dulu Ndis, santai aja, masih banyak waktu sebelum jam praktekku dimulai kok, mau aku buatin kopi dulu nggak?" Sita mencoba menelisik kepanikan rekannya itu, agar dia sedikit lebih tenang.
" Nggak usah Sita, aku sudah sarapan kok tadi."
" Okey, mau ngobrol soal apa kita?" Tanya Sita yang sebenarnya sudah penasaran sedari tadi.
" Begini.. saudaraku itu ada yang baru aja nikah, emm... mungkin sekitar lima mingguan yang lalu lah."
Gendhis tidak mungkin membicarakan dirinya sendiri secara gamblang, jadi dia mencoba mencari dalih lain.
" Eem... terus?" Sita langsung menyimak saja.
" Tadi pagi dia nanya ke aku, tapi kan aku bukan spesialis kandungan, jadi kurang tahu soal itu kan."
" Maksudnya dia hamil?" Sita langsung menebak saja.
" Em... nggak tahu, makanya aku tanya ke kamu, dia emang katanya udah telat datang bulan hampir dua minggu, tapi belom cek juga sih, apa mungkin dia hamil?"
" Hehe... kamu ini, yang namanya suami istri sudah menikah lima mingguan trus terlambat datang bulan ya kemungkinan besar pasti hamil dong, itu sih nggak perlu konsultasi Ndis, tinggal beli saja tespeck di Apotik, kalau memang sudah garis dua bisa langsung memastikan ke dokter kandungan biar di cek lebih lanjut lagi." Sita malah terheran sendiri mendengarnya, karena sebagai suami istri itu hal yang wajar pikirnya.
" Tapi katanya dia baru berhubungan satu kali dengan suaminya, karena suaminya saudara aku tuh kerja di pelayaran, jadi setelah hari H, keesokan harinya dia sudah berangkat berlayar kembali." Gendhis menemukan alasan yang tepat untuk mencari pengalihan.
" Walaupun baru berhubungan satu kali, tetapi kemungkinan hamil itu juga pasti ada, apalagi saat wanita baru dalam masa subur, atau mungkis pas ovulasi, jadi satu kali saja bisa topcer, karena sper ma itu, bisa bertahan hidup di dalam rahim sekitar tiga hari."
Mampus gue, apa saat itu gue dalam masa subur?
Detak jantung Gendhis semakin tidak menentu, kedua tangannya langsung dia masukkan kedalam saku jas putihnya, untuk menutupi tangannya yang mulai terasa gemetaran.
" Emm... emang masa subur wanita itu, berapa hari setelah selesai datang bulan?" Tanya Gendhis untuk memastikan lagi.
" Kalau normal, biasanya tiga atau empat hari setelah selesai mens truasi."
Ya Tuhan tolong ampuni hambamu ini, apa aku beneran hamil? saat Broto merenggut kesucianku itu memang sekitar empat hari setelah aku selesai datang bulan...
" Apa itu pasti Sita?"
" Biasanya sih gitu, tapi coba aja dulu di tes pake tespeck, kamu suruh aja beli di Apotek dulu."
" Kamu punya?"
" Apanya?"
" Itu tadi?"
" Tespeck?
" Iya."
" Emang buru-buru banget?"
" Ya... daripada dia harus keluar kan, nanti aku sehabis dari sini mau langsung mampir ke rumahnya, dia soalnya sering demam, nggak nafsu makan, lemes gitu bawaanya."
" Bentar deh, kayaknya di laci mejaku masih ada beberapa tespeck, kalau menurutku sih kemungkinan besar dia hamil, kalau dilihat dari gejalanya juga."
" Tapi dia nggak muntah, atau gejala apa kalau orang bilang itu?"
__ADS_1
" Morning sick?"
" Iya, dia sama sekali tidak muntah saat pagi hari, paling cuma mulutnya aja terasa pahit gitu doang."
" Ciri-ciri kehamilan seseorang kan beda-beda Ndis, ada juga yang nggak muntah." Sita langsung menyerahkan beberapa tespeck kepada Gendhis.
" Okey, kalau begitu thanks ya, nanti aku kasihkan ke saudara gue, kalau aku beli di apotek sendiri malu juga, hmm... aku pergi ya?" Gendhis langsung saja mengantongi semuanya.
" Buru-buru amat? nggak nanti-nanti aja? aku masih banyak waktu kok?"
" Lain kali saja, aku sudah rindu ruanganku, sudah beberapa hari nggak masuk kerja, bye!"
Gendhis langsung berjalan dengan terburu-buru menuju ke dalam kamar mandi khusus dokter didekat ruangannya.
Keringat dingin pun mulai bercucuran di keningnya, dia bahkan tidak kepikiran sampai disana, kalau Ratu tidak mengatakannya tadi pagi, dia fikir tubuhnya yang tumbang karena dia sering tidak bisa tidur dan kurang istirahat saat mengingat kejadian apes yang menimpa dirinya kala itu.
" Ya Tuhan... aku mohon, bukannya aku ingin menolak rejeki darimu, tapi ini tidak benar, semoga firasatku salah."
Dengan kedua tangan dan kedua kakinya yang tidak bisa diam, Gendhis duduk di kloset duduk rumah sakit sambil menunggu hasil dari tespeck yang ada ditangannya.
Satu garis mulai muncul disana, dia langsung memejamkan kedua matanya, jantung Gendhis kembali berpacu melebihi detak jarum jam yang melekat di pergelangan tangannya.
Dua Garis
Duaaaaarrr!
Setelah beberapa saat Gendhis memejamkan kedua matanya dan berdoa semoga apa yang dia takutkan tidak terjadi, namun saat dia membuka kembali matanya, terlihat ada dua garis berwarna merah disana, dengan artian bahwa dia benar-benar positif hamil.
'CRUSH' satu kata yang mengambarkan diri Gendhis kali ini.
" Hiks.. hiks.. tidak! ini tidak mungkin, tespecknya pasti rusak, akan aku coba lagi."
Kebetulan tadi Sita memberikan beberapa tespeck dengan model yang berbeda-beda, jadi Gendhis berfikir tespecknya yang salah, karena bisa jadi tespeck seperti itu tidak akurat pikirnya.
Namun percobaan kedua, dengan tespeck yang berbeda hasilnya tetap sama, garis dua.
" Astaga... ampuni hambamu Tuhan, ini pasti salah juga kan, alatnya mungkin juga rusak, atau air pipisku yang nggak bener, aku coba lagi saja."
Dengan bibiir yang ikut gemetaran Gendhis langsung menenggak air mineral satu botol penuh yang sengaja dia bawa tadi, agar dia bisa segera pipiis lagi, dia seolah masih belum bisa percaya dengan apa yang dia lihat.
" Astagfirulloh hal'azim.. hiks.. hiks... Broto... aku benci kamu."
Akhirnya kedua lutut Gendhis melemas, tubuhnya ambruk dilantai, dia tidak perduli dengan lantai yang basah, karena dengan tespeck yang terakhir pun ternyata menunjukkan hasil yang sama
POSITIF
" Aaaaaa...mas Panji, maafkan aku... maafkan aku mas..!"
Gendhis membungkam mulutnya sendiri, takut jika ada sesiapa yang mendengarnya dari luar, walaupun tadi dia sudah memastikan kalau tidak ada orang lain disana.
Hatinya begitu hancur dan terluka saat mengingat calon suaminya, dia sudah tidak bisa lagi membayangkan bagaimana respon dari Panji tentang hal ini, jika hanya tidak perawan saja, dia masih bisa memberikan alasan lain, atau mungkin bisa sedikit termaafkan, karena itu semua memang bukan keinginannya sendiri, namun jika sudah hamil, apa mungkin Panji masih mau menerima dirinya, sedangkan dia bukan ayah dari janin yang ada di Rahimnya saat ini.
" Ya Tuhan, apa salahku? kenapa engkau menghukumku dengan cara seperti ini, cobaan apa lagi ini Tuhan, aku sudah tidak sanggup lagi, kenapa tidak kau ambil saja nyawaku saat itu.. hiks.. hiks.."
Ingin sekali dia berteriak sekeras-kerasnya, untuk meluahkan segala rasa sakit dan kekecewaan di hatinya kini.
Namun bibiirnya seolah terkunci, karena dia sadar jika dirinya berada didalam kamar mandi rumah sakit.
Hanya air mata saja yang kini menjadi saksi bisu, betapa terlukanya hati dan hancurnya perasaan seorang Gendhis saat ini.
Telah tertulis di 'Lauhul Mahfudz' setiap langkah dalam perjalanan hidup kita.
Dengan siapa kita kenal, dengan siapa kita berteman, dengan siapa kita berjodoh dan bahkan kapan ajal kita menjemput.
Jadi tidak perlu risau dengan perjalanan hidupmu.
Kita hanya bisa berencana, tapi Tuhan lah sebaik-baiknya Perencana.
__ADS_1
Yang pasti jangan lupakan Like, Vote dan Hadiahnya kawan😊