
...Happy Reading...
Disaat suasana tegang masih terjadi diantara mereka berempat, masalah burung peliharaan seolah mengalihkan perhatian, bahkan ibu Melody yang tahu betul apa yang mereka bahas langsung membuang muka karena merasa malu sendiri.
"Saya sungguh belum menyentuh Melody ayah, bahkan sampai saat ini." Ucap Arga dengan jujur.
"Apa kamu juga menginginkannya?"
"Hah?" Arga seolah tidak paham apa yang dimaksud dengan ucapan Ayah mertuanya.
"Apa-apaan sih ayah, malah nawarin anak sendiri!" Ibu Melody langsung protes karenanya.
"Kalau mereka berdua kenyataannya memang sudah menikah, dosa kalau Melody menolak permintaan suaminya!"
"Dengerin tuh ucapan ayah kamu." Arga bahkan dengan isengnya menyenggol lengan Melody yang sedari tadi masih asyik terbengong saja.
"Lalu anak kecil tadi, apa dia benar anak kalian berdua?"
"Iya." Jawab Melody dengan santainya.
"APA! katanya kalian belum melakukannya, trus brojol dari mana bocah segede itu?" Ibu Melody benar-benar dibuat pusing tujuh keliling karenanya.
"Maaf Ayah dan Ibu, dia Hugo anak saya dengan istri saya yang dulu." Arga langsung meralatnya.
"JADI KAMU DUDA!"
Kepala ibu Melody kembali kliyengan saat putri kebanggaan mereka yang masih gadis dan belia itu harus mendapatkan duda pikirnya.
"Apa jangan-jangan kamu bercerai dari istrimu karena adanya Melody!" Ayah Melody langsung menduga-duga, walau dia sebenarnya percaya dengan putrinya.
"Bukan Ayah, istri saya meninggal dalam sebuah kecelakaan." Lanjut Arga kembali.
"Ambil nafas dalam-dalam dulu buk, lepaskan, jangan emosi lagi ya?" Ayah Melody langsung menenangkan istrinya agar tidak pingsan kembali.
"Ayah... aku sudah tidak tahan lagi melihat mereka berdua, suruh mereka keluar ayah, kepalaku pusing!" Ibu Melody langsung menutup wajahnya dengan selimut, karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.
"Tapi mereka juga harus menikah secara hukum buk daripada nanti omongan-omongan tetangga dan saudara kita jelek semua."
"Terserah kalian saja, ibu sudah menyerah!" Teriak ibu Melody dari bawah selimut.
Alhamdulilah..
Senyum Arga langsung terbit seketika.
"Okey, lalu kapan kalian akan menikah secara hukum?" Ayah Melody langsung menatap Arga dengan intens.
"Kalau Melody sudah siap sekarang, saya tidak masalah Ayah, akan saya siapkan syarat-syarat pernikahan kami nanti."
"Ya sudahlah, kalian bahas saja berdua, ayah juga pusing, kalian berdua cepat keluar sana, bubarkan acara arisan ini, beritahu saja dengan mereka kalau kalian akan menikah resmi secepatnya, agar mulut mereka bisa diam, nggak ngoceh aja di luar sana!"
Akhirnya sang Ayah pun ikut berbaring di tempat tidurnya dan memilih menemani istrinya, mereka berdua tidak bisa berbuat apapun jika kejadiannya sudah seperti ini.
Dan acara arisan itu pun Melody bubarkan begitu saja, walau harus berakhir dengan gosip dan kasak-kusuk entah apapun dari seluruh keluarganya.
Tok
Tok
Tok
"Ayah... ini Melody!"
Melody kembali mengetuk pintu kamar orang tuanya.
__ADS_1
"Ada apalagi Melody?" Kepala ayahnya langsung menyembul keluar tanpa mau membuka lebar pintu kamarnya.
"Melody tidur dengan ibu ya, Ayah tidur saja sama suami Melody!"
"Kalian ini beneran sudah menikah apa belum?"
"Sudah Ayah, tapi..."
"Ya sudah tidur sana, ngapain gangguin ayah sama ibu kamu!"
Belum juga Melody selesai bicara, namun Ayahnya sudah langsung menutup pintunya.
"Jadi aku tidur dimana? kasian Hugo sudah ngantuk berat ini Mel." Arga berdiri mematung dibelakangnya sambil menggendong tubuh Hugo.
"Ya sudah, kita tidur di kamarku saja pak, kamar yang lainnya belum diberesin, banyak barang yang disimpan disana dan nggak pernah dibersihin karena memang tidak pernah terpakai, jadi debunya emang banyak banget."
Masih ada beberapa kamar dirumah itu, namun mereka jadikan gudang dadakan, karena memang tidak ada yang memakainya.
"Lagian kita sudah sah Mel, tidak dosa jika tidur satu ranjang."
"Masalahnya ranjang aku tidak sebesar ranjang bapak disana, jadi agak sempit nanti untuk tidur bertiga."
"Nggak papa, semakin sempit semakin bagus!" Ucap Arga tanpa sadar.
"Hah, maksudnya?"
"Owh... Ini Hugo sudah tertidur, sepertinya dia kecapekan karena perjalanan kemari cukup jauh."
"Seharusnya bapak tidak usah kemari, pasti masalahnya tidak akan menjadi serumit ini, jika seluruh keluarga besarku sudah tahu, kita tetap harus menikah jadinya pak."
"Ya sudah, kita menikah saja."
"Tapi aku nggak mau kita menikah secara terpaksa, apalagi bapak masih mencintai almarhum istri bapak kan?"
"Itu mengapa aku memilih menghindar pak, tapi kenapa bapak malah kemari, apalagi disaat keluarga besarku berkumpul semua."
"Mel... apa kamu fikir bapak main-main dengan pernikahan kita?"
"Ya gimana ya pak? Bapak kan memang cintanya sama istri bapak, bukan sama aku kan?"
"Melody... melupakan pendamping hidup kita yang meninggal, tidak semudah melupakan mantan kekasih tau nggak? istri bapak meninggalkan bapak bukan setelah menyayatkan luka, tapi menorehkan cinta yang begitu mendalam, bahkan istri bapak rela meninggalkan keluarganya dan membela bapak sebagai suaminya, apa kamu pikir itu mudah?"
"Maaf pak, bukan begitu maksudku tadi." Melody jadi merasa tidak enak hati.
"Tapi bukan berarti saya main-main dengan pernikahan kita, semua hanya butuh proses saja Melody, bukannya bapak sudah bilang, kalau ada sesuatu masalah itu diomongin baik-baik, jangan mengambil keputusan sepihak."
"Lalu apa rencana bapak selanjutnya?" Melody sudah tidak bisa mengelak lagi.
"Beri bapak waktu, kita jalani semua bareng-bareng, kita sama-sama belajar untuk saling menyayangi dan mencintai satu sama lain, aku rasa itu tidak akan sulit, bukannya kamu sendiri sudah mengakui kalau bapak tampan kan? Masih cocok kan kalau menikah dengan gadis sepertimu?"
"Pak Arga? jangan meledekku, tadi aku sengaja ngomong begitu biar ibuk itu nggak syock lagi pak, jangan salah paham dong?"
"Ratu aja tertarik dulu dengan bapak, masak kamu enggak?" Arga mulai menyombongkan diri, walau itu memang kenyataan.
"Apa sih pak?"
"Coba kamu lihat bapak sini, ganteng nggak?" Ledek Arga kembali yang langsung tersenyum saat wajah Melody sudah merah merona.
"Dih.. Apaan sih pak, sudahlah... ayo kita tidur!"
"Maafkan bapak Melody, untuk saat ini bapak memang belum bisa bilang bahwa bapak sudah mencintai kamu dengan sepenuhnya, namun entah mengapa saat tidak melihatmu dalam beberapa hari ini hati bapak tidak tenang, apa mungkin ini tanda-tanda kalau aku jatuh cinta kembali?"
"Tidur pak, jangan ngelantur saja, ini sudah malam." Jawab Melody pura-pura tidak perduli, padahal hatinya sudah bergetar hebat karenanya.
__ADS_1
"Melody, apa kamu butuh sebuah bukti?"
"Bukti apaan sih pak, sudahlah cepat tidur, nanti suara bapak malah membangunkan Hugo."
"Hugo kalau malam jarang terbangun, jadi kita geser aja dia kesamping!" Arga langsung mengangkat tubuh Hugo dan memindahkannya ditepi ranjang mereka.
"Pak, nanti Hugo bisa jatuh kalau di tepi." Umpat Melody, namun Arga seolah tidak menggubrisnya.
"Bapak mau mengikat kamu.. emh!"
Arga langsung mengungkung tubuh Melody dibawah tubuhnya yang kekar itu.
"Apaan sih pak, awas deh, jangan main-main, ini nggak lucu!" Melody berusaha menghindar namun dia tidak mampu menggeser tubuhnya.
"Siapa tahu dengan cara ini, rasa cinta diantara kita berdua cepat tumbuh dan bersemi, kita coba yok?"
Cup
Arga mulai mengecup kening Melody dengan lembut.
"Tapi pak, aku... hmpth!"
Arga tidak membiarkan istri kecilnya itu terlalu banyak bicara, dia langsung saja membungkam mulut istrinya dengan mulutnya sendiri, apalagi dia yang memang sudah lama tidak bersentuhan dengan seorang wanita, disaat posisi seperti ini membuat gairahnya sebagai seorang pria tiba-tiba naik drastis.
"Kita sudah sah berbuat apapun Melody, dan ingat pesan ayahmu tadi."
"Apaan?"
"Dosa kalau istri menolak permintaan suami!"
"Tapi pak, emh..!"
Melody langsung mengeliat saat Arga langsung memainkan perannya sebagai seorang suami yang sudah lama berpuasa dengan yang mantap-mantap.
Mom Hugo... maafkan aku sekali lagi, selamanya kamu tidak akan pernah hilang dari ingatanku dan akan selalu kekal didalam hati sanubariku.
Mohon izin almarhum istriku, saat ini aku ingin melakukan kewajibanku sebagai seorang suami, tolong restui hubungan kami berdua.
Karena mungkin hanya dengan cara ini, aku bisa membuktikan kesungguhanku menikahinya dan juga bisa mengikatnya, agar dia tidak berniat kabur lagi dariku, bismilah...
"Heugh!"
Arga langsung berusaha menerobos benda berharga milik istrinya, walau tanpa melepas baju mereka, karena tadi Melody hanya menggunakan baju tidur saja, jadi memudahkan Arga saat ingin melakukan serangan.
"Daddy mau apain mama? jangan nakalin mama lagi daddy, nanti mama kabur lagi."
Namun saat benda pusakanya baru sampai di pintu masuk, suara Hugo sudah mengagetkan mereka berdua.
"Huh... aishh... Hugo tidur nak, ini sudah malam!" Arga langsung merapikan kembali celananya yang sudah melorot dibawah selimut tebal itu, walau harus membuang hasratnya yang sudah diubun-ubun.
Begitu juga dengan tangan Melody, yang langsung sibuk didalam selimut untuk menaikkan celananya yang sudah Arga turunkan sampai di lutut.
"Aku mau ditengah, awas minggir dulu, biar Daddy tidak menjahati Mama lagi, huh... Dasar Daddy nakal!" Dengan santainya Hugo bangkit dan lansung berada ditengah-tengah untuk memisahkan mereka berdua.
"Hufth... sepertinya malam ini gagal, lanjut besok ajalah kalau begitu, sabar ya sayang!"
Melody tidak memperdulikan umpatan Arga, dia memilih memiringkan tubuhnya dan memeluk tubuh mungil Hugo dengan erat, sambil memejamkan kedua matanya karena sebenarnya ia sedang menahan rasa malu.
Padahal udah tegang kalian kan?
Dan Allah itu akan membalas kebaikan sekecil apa pun, meski hanya seberat biji sawi. Apa kita perlu khawatir kalau Allah akan lupa?
Tetap menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri, tetaplah menjadi baik walaupun lelah, mata boleh basah, tapi jangan menyerah. Karena pelan-pelan semua akan kembali indah, percayalah!
__ADS_1