Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
56. Ketentuan-Nya


__ADS_3

...Happy Reading...


Saat sampai di rumah sakit, mereka bertiga langsung bergegas menuju ruangan dimana Arga dirawat, setelah mereka menanyakan kepada perawat yang berjaga di ruang administrasi.


" Mel... Jalannya bisa cepet sedikit nggak? Kamu ini jalan kayak orang kurang gizi aja deh!" Ratu menarik-narik lengan Melody saat dia sering tertinggal dibelakang.


" Kurang gizi jidatmu njenong! Kalian enaklah, seger, buger, orang dijalan tidur berpelukan, nggak perduli sama jomblo didepan, suruh jadi sopir lagi, jangan lupa berikan Upeti yang pantas untukku?" Melody langsung ngedumel di sepanjang lorong rumah sakit, bukan hanya kantuk yang dia tahan, namun pinggangnya serasa mau copot karena terlalu lama duduk.


Sedangkan Panji hanya berkoar saja saat dia bilang ingin menggantikannya, karena kenyataannya dia tidur nyenyak sampai di tempat tujuan, apalagi ada bantal guling hidupnya, walau didalam mobil juga terasa di hotel bagi sepasang suami istri ini.


" A e lah cuma Upeti doang... Gampang lah itu, kita tunggu pak bos gajian, langsung sikat, okey boor!" Ratu langsung menaikkan kedua alisnya.


" Kenapa jadi gajiku yang jadi korban?" Panji langsung ikut nimbrung saat mendengarnya."


" Hehe... Enggak pak Panji, Ratu cuma bercanda tadi." Melody yang belum terbiasa ngobrol dengan Panji baru dilirik tajam sebentar saja langsung merasa ketakutan.


" Loh.. Pelaku utamanya siapa tadi? Sebagai pria sejati harus berani bertanggung jawab dong?" Ledek Ratu dengan santainya.


" Pelaku apa?" Tanya Panji yang langsung menoleh kearah istrinya.


" Yang begal aku tadi di kampus siapa coba?" Kata-kata itu keluar begitu saja, yang membuat Melody langsung menatap takjub kearahnya.


" Woah... Apa kalian berdua juga tempur di dalam kampus!" Melody seolah mendapatkan gosip paling fanas terkini.


" Ratu! Kamu ini kalau ngomong ya!"


Panji langsung memiting leher istrinya sambil membungkam mulutnya, karena sudah tanpa sadar membungkam aib mereka sendiri.


" Enggak... Enggak, dia cuma minta pijit doang tadi Mel, tapi mijitnya plus-plus, hehe." Rem mulut Ratu memang sering blong kalau sudah menggosip dengan sahabatnya itu, tak kira tema apapun itu itu.


" Kok gue nggak yakin, pasti masih ada yang kalian sembunyikan dari gue, kami kira kamu di hukum tadi, eeh... Ternyata kalian malah mantep-mantepan disono."


Melody dan teman kampusnya sudah membayangkan hukuman apa yang Ratu terima, dari sikat kamar mandi, ngerjain tugas setumpuk, lari keliling halaman, namun kenyataannya berbanding terbalik, dia malah pergi ke surga dunianya suami istri.


" Satu yang perlu kamu ingat Mel, kami sudah resmi menikah, so... Bebas dong?"


Ratu bahkan mengibaskan rambut panjangnya, dia tidak perduli jika hanya Melody yang tahu, karena semua aibnya sudah ada ditangan Melody.


" Pantesan kamu terlihat santai aja, sepertinya kalian sudah terbiasa." Melody langsung menatap jengah ke arah mereka berdua.


" Kalau sudah menikah memang ada kegiatan tambahan Mel, cobalah menikah, pasti seru deh!"


" Mau nikah ama siapa? Pacar juga gue nggak ada?" Melody hanya bisa mengumpat kesal karenanya.


" Jomblo kok dipelihara, tumbuh enggak, bangkotan iyalah, haha!" Bukan Ratu kalau tidak pandai membully sahabatnya itu.


" Gaya loe itu, kayak yang dia punya pacar aja, dulu juga kemahalan loe!" Karena memang mereka berdua sama-sama jomblo.


" Bukan nggak punya, tapi emang nggak mau, loe tau kan jam terbang gue kayak apa!" Jawab Ratu yang tidak mau direndahkan begitu saja, padahal karena memang mereka selalu asyik berdua, dan belum tertarik beruwuw-uwuwan ria, selain itu harapan Ratu pengen punya pasangan seperti Arga juga, walau memang sulit dan tidak terlaksana sampai sekarang.


" Sudah... Jangan berisik kalian berdua, kita sudah sampai diruangan Arga." Panji langsung memutus pembicaraan mereka, karena bisa gawat kalau obrolan mereka dilanjutkan.


Walau didalam hatinya dia sempat kegirangan saat mendengar Ratu jomblo sebelum menjadi istrinya, padahal Panji tahu benar, dia mahasiswi paling populer karena kecantikannya di kampus, walau malasnya nggak ketulungan.


Saat mereka memasuki ruangan itu, terlihat Arga masih tergeletak lemas dengan selang infus di tangannya, kepala dan satu kakinya di perban karena mengalami cidera.


" Astaga Mel, berkurang tingkat ketampanan pak Arga, lihatlah wajahnya sampai lebam membiru begitu?" Ratu langsung ingin berjalan mendekat karena penasaran.


" Ratu, sini kamu!" Panji langsung menarik lengan istrinya agar tidak berdiri dekat-dekat dengan Arga."


" Ya ampun pak, orang pak Arga pingsan juga masih dicemburuin deh." Ratu langsung melirik kesal suaminya yang seolah menjadi pria posesif itu.


" Tadi janjinya apa kamu?"


" Yaelah... Siap deh pak!"


" PAK lagi? Ini dimana?" Karena cuma ada Melody dan Arga saja disitu, dia bebas mau mengumbar kemesraan atau apapun itu dengan istrinya.

__ADS_1


" Iya Ayang, okey... aku mundur nih!" Ratu langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, dari pada harus berdebat disana.


" Kalau begitu, aku yang maju aja deh, kapan lagi bisa lihat jarak dekat dengan dosen terpopuler di kampus kuta kan, wah... Emang jadi nggak mulus lagi sih wajahnya pak Arga?" Melody dengan santainya duduk ditepi ranjang pasien, bahkan dia berani menyentuh pipi Arga yang masih terlihat bengkak.


" Kasian kan, tapi jangan cari kesempatan juga kamu?" Ratu langsung menendang kaki Melody saat kedua matanya terus memandang wajah Arga.


" Nggak papa sih, kan cuma jenguk doang, tapi tenang saja, ntar kita kasih skin care aja, pasti wajah pak Arga glowing lagi kan?" Melody asal bicara saja.


" Permisi, apa kalian keluarga dari pasien ini?"


Obrolan garing mereka tiba-tiba teralihkan oleh suara dokter dan beberapa perawat yang muncul dari pintu ruang rawat inap itu.


" Iya pak, saya saudaranya, bagaimana dengan kondisi pasien dokter?" Panji langsung maju duluan, apapun yang menjadi tanggungan Arga dia siap membantunya dalam bentuk apapun.


" Kalau pasien ini kondisinya sudah membaik, mungkin hanya menunggu obat biusnya hilang saja, karena dia mendapatkan jahitan luka dibeberapa tempat dan kakinya mengalami retak saja, tapi..." Dokter itu terlihat menghela nafasnya dengan berat sebelum meneruskan pembicaraan mereka.


" Tapi apa dokter?" Mereka bertiga bahkan kompak bertanya, mereka fikir Arga mengalami gangguan penyakit lainnya efek dari kecelakaan tersebut.


" Istrinya..."


" Owh iya... Istrinya dirawat di ruang mana dokter?" Panji langsung mengingat tentang istri Arga, karena mereka kecelakaan bersama dalam satu mobil.


" Kondisi istri pak Arga waktu dibawa kesini sudah kehabisan banyak darah dan kami minta maaf, karena tidak bisa menyelamatkan nyawa pasien."


Degh!


" APA?"


Mereka bertiga terkejut semua, padahal mereka satu mobil, mereka berharap keduanya terselamatkan, karena Arga pun bisa selamat pikir mereka.


" Innalilahiwainailaihi rojinun."


" Kalau putranya bagaimana pak?" Panji langsung mengingat jagoan tampan Arga.


" Kalau putranya sekarang masih berada di ruang NICU, dan semoga bisa terselamatkan." Jawab dokter itu kembali.


" Kalau begitu biar saya menghubungi saudara kami yang lainnya, untuk membantu mengurus jenazah istri saudara saya." Panji langsung bergerak cepat, karena hanya dia saudara terdekatnya disini.


" Silahkan pak, kalau begitu kami permisi."


Akhirnya Panji didampingi dengan beberapa perawat itu langsung menuju ruang jenazah, dan menyelesaikan segala administrasinya.


" Ratu... Kasian kak pak Arga, harus kehilangan istrinya?"


" He em, padahal pak Arga itu sangat perhatian banget dengan istrinya, beliau terlihat sayang sekali dengannya, bahkan diantara puluhan cantik disekelilingnya, kedua mata pak Arga hanya tertuju dengan yang sah untuknya." Ratu ikut prihatin atas kejadian yang menimpa dosen idamannya itu.


" Memang benar, jodoh, rezeki dan maut itu tidak ada yang tahu." Melody bahkan tanpa sadar mengusap rambut dosennya itu.


" Semua yang Tuhan ciptakan, suatu saat akan kembali lagi kepada-Nya."


" Tidak ada yang bisa melawan segala ketentuan-Nya, manusia hanya bisa berencana, tapi endingnya tidak ada yang tahu."


" Iya kan Mel, jadi sedih banget lihatnya?"


" Kamu terlalu cepat menikah Ratu?"


" Kenapa?"


" Beliau duda sekarang, tapi kamu sudah berpunya." Entah kenapa terlintas pikiran itu di otak Melody.


" Eh... Iya juga, tapi ya sudahlah, Ayang aku juga nggak kalah tampan darinya!" Setelah pernikahannya Ratu terbiasa menatap Panji, jadi lama kelamaan, dia jadi terbiasa dan mulai suka.


" Apa buat gue aja nanti, biar aku yang menjadi sandaran hatinya ketika dia bersedih?" Celoteh Melody tanpa sadar.


" Ckk... Gila loe ya, orang masih berduka ini, malah mikirin duda?"


" Fuuhh... nggak bisa ngebayangin deh, bagaimana kondisi pak Arga jika beliau terbangun nanti, dan dia mendengar kabar bahwa istrinya telah berpulang terlebih dahulu, meninggalkan dia dan anaknya selama-lamanya."

__ADS_1


" Siapa yang berpulang?" Terdengar suara serak-serak diantara perbincangan mereka.


" HAH?" Melody dan Ratu langsung terkejut.


" Aww... Aku dimana? Istri dan anakku dimana?" Arga langsung merasakan kepalanya yang terasa berdenyut.


" Istri dan anak bapak sudah me...?" Ratu ingin mengatakannya, namun dia ragu.


" Dimana istriku, kenapa tidak satu ruangan denganku?" Tanya Arga sambil yang terlihat meringis kesakitan.


" Pak Arga, tenang dulu pak?" Melody segera membenarkan selimut dosennya.


" Aku ingin melihat kondisi istriku!" Pinta Arga kembali.


" Istri bapak sudah tenang di sisi-Nya pak." Akhirnya Ratu memberanikan diri mengatakannya, karena walau bagaimanapun juga dia harus tahu, karena dia suaminya.


" Di sisi siapa? Aku suaminya, aku ingin pergi menemuinya sekarang juga." Arga sebenarnya paham, namun dia seolah tidak mau menerima kenyataan yang ada.


" Sabar pak!" Hanya itu yang bisa Melody katakan.


" Bapak harus mengikhlaskan semua, ini sudah menjadi takdirnya pak."


" TIDAAAAAAKK... SAYANGGG, JANGAN TINGGALKAN AKU!"


Arga langsung berteriak dengan histeris, dia bahkan ingin bangkit dari sana, namun tubuhnya seolah tidak punya tenaga.


" Aaaaaaaaaaa... Sayang!" Bahkan suaranya pun melemah.


" Pak Arga tolong tenang, astaga impusnya sampai lepas begini, gimana ini Ratu?" Melody ikut bingung harus bagaimana dan melakukan apa.


" Mel... Pegangin dia, aku panggil dokter sekarang!"


Dalam situasi seperti ini, mereka tidak bisa mengatasi hanya berdua saja.


" Tapi gimana, dia berontak terus ini, darahnya keluar juga Ratu?" Melody terlihat panik saat darah dari selang infus Arga terus keluar dan menetes dengan derasnya.


" Peluk saja dia dengan erat, jangan sampai lepas, aku tinggal dulu!"


Ratu langsung berlari keluar dari ruangan untuk mencari dokter jaga agar Arga bisa lebih tenang dan terkondisikan.


" Aish.. maaf pak, permisi aku mau meluk, jangan marah ya!"


Grep!


Melody langsung memeluk Arga dengan erat, bahkan dia mengusap kepala Arga agar dia tidak lagi berontak disana.


" Sayang... Jangan tinggalkan aku." Ucap Arga dengan lirih.


" Sabar ya pak,bapak pasti kuat okey?"


" Ini salahku, kenapa bukan aku saja yang pergi! Kenapa harus kamu sayang." Ucap Arga dengan seribu penyesalan yang ada.


" Jangan begini pak, ini semua sudah ketentuan-Nya, tidak ada yang salah diantara kalian pak, semua sudah digariskan."


" Aku harus bagaimana nantinya, aku nggak bisa tanpamu sayang, tolong kembali, jangan pergi dariku, aku mohon sayang."


Terdengar suara Arga yang melemas, tubuhnya pun ikut melemah dalam pelukan Melody, karena selang infusnya terlepas juga dari pergelangan tangannya.


Ternyata sesayang itu kamu dengan istrimu pak, beruntunglah istri bapak, selalu dipenuhi dengan cinta kasih sampai ajal menjemputnya, semoga khusnul khotimah buk, semoga diampuni segala dosa-dosamu dan diterima semua amal kebaikanmu, amin.


Melody menatap iba, dosen terfavorit di kampusnya itu, dia pun ikut merasakan betapa sakitnya, apalagi jika seorang pria sudah menangis tersedu seperti itu.


Hatinya terlihat begitu hancur, itu menandakan bahwa Arga memang berhati tulus, dan sangat mencintai istrinya dengan sepenuh hati.


Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.


Tak mengenal usia, tak mengenal waktu, tak mengenal tempat. Sungguh kematian itu sangatlah dekat.

__ADS_1


__ADS_2