Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
17. Sad Boy


__ADS_3

...Happy Reading...


Rasa takut kehilangan dan was-was akhir-akhir ini sering saja mampir dibenak sang dosen tampan dan mapan yang satu ini.


Bayangan kelam akan kandasnya sebuah hubungan selalu saja berputar silih berganti bak memori di dunia perfilm-an.


Hingga akhirnya mampu membuat Panji yang biasanya sering menegakkan kepalanya menantang keadaan, menjadi tergeletak diatas meja beralaskan lengan tangan kanannya dengan tatapan kosong kearah lantai.


" Astaga Panjul, ada apa lagi ini? jam segini masih aja ngitung keramik lantai, nggak ngajar kamu?" Tanya Arga yang langsung nyelonong saja masuk kedalam ruangan sahabatnya itu.


" Nanti, masih lama." Jawab Panji tanpa mengubah pergerakan tubuhnya sama sekali.


" Kenapa loe? putus cinta lagi? dokter elu sudah disambar yang berseragam ya? emang pangkatnya tinggi banget, sampai pria yang kata eyang kamu itu paling tampan bisa terkalahkan?" Arga sudah menyimpulkan sendiri saat melihat Panji seolah tidak memiliki semangat hidup seperti ini.


" Sembarangan saja kamu kalau ngomong!" Panji langsung melempar pulpen dihadapannya.


" Jadi belum putus?" Dengan mudahnya dia menghindar begitu saja.


" Sialaan... jadi elo do'a-in gue putus?"


Kalau sudah berdua saja dalam satu ruangan, dua orang ini menggangap semua tempat seperti tongkrongannya saat masa muda dulu, bahasa loe dan gue selalu dipergunakan, seolah lupa kalau mereka adalah dosen.


Tapi kalau ada rekan lainnya ikut gabung mereka berdua langsung otomatis mengganti tutur kata yang lebih sopan dan yang elegan.


" Haha...ambekan aja dari dulu kamu itu Njul! kurang-kurangilah darting loe itu, bisa jauh nanti jodohmu!" Umpat Arga sambil tersenyum miring.


" Sok tahu kamu!"


" Trus kenapa kamu murung seperti ini? kalau bukan masalah perempuan, pasti kamu tidak akan seperti ini kan?" Dia lah orang yang paling tahu semua cerita tentang Panji dengan masa lalunya.

__ADS_1


" Fuuuhhh... aku bingung dengan hubunganku sama Gendhis itu." Panji hanya mampu memejamkan kedua matanya, bingung harus menjelaskan seperti apa.


" Bingungnya kenapa?" Arga berusaha menjadi pendengar yang baik.


" Kalau dikatakan putus ya enggak, orang kalau telponan dia mesra banget, tapi kalau dibilang orang pacaran, wajar nggak sih kalau dalam seminggu saja kami bertemu hanya sekali, itu pun cuma sebentar aja."


Panji berulang kali mengusap wajahnya dengan kasar, kepalanya terasa semakin berat saat mengingat wajah kekasihnya itu.


" Apa sesibuk itu profesi seorang dokter? bukannya rumah sakit itu milik keluarganya, kenapa dia harus capek-capek kerja full ya kan?" Arga mengingat cerita Ratu hari itu.


" Itu dia masalahnya, aku pun heran!"


" Tapi dia memang bekerja kan? bukan bermaksud untuk menghindar dari kamu?"


Arga langsung memicingkan kedua matanya, diapun selalu heran kenapa nasip sahabatnya itu selalu nelangsa kalau sudah berhubungan dengan kisah asmara.


" Sepertinya sih enggak, kalau dia pamit kerja itu aku sering video call dengannya walau hanya sebentar dan dia memang berada dirumah sakit."


Bahkan pernah saat itu dia tiba-tiba video call, dan Gendhispun langsung menjawabnya, walau dia sedang meeting dengan dokter-dokter lainnya sekalipun.


Dan itu membuat dirinya semakin yakin kalau Gendhis itu tidak pernah berkhianat dari dirinya, apalagi hanya karena masalah pekerjaan.


" Apa kamu benar-benar mencintainya?" Tanya Arga tiba-tiba.


" Sepertinya begitu!"


" Hei Panjuull... kenapa harus ada kata sepertinya begitu, sebenarnya kamu yakin apa tidak dengan dokter itu!"


Ingin sekali rasanya Arga membotakkan kepala sahabatnya karena sering dibuat kesal dengan jawaban yang seperti itu.

__ADS_1


" Emm... yakin sih, tapi aku bisa apa jika sudah begini? kalau kangen saja cuma bisa melihat dia dilayar wallpaper ponselku." Panji langsung menyentuh ponselnya.


" Astaga!"


Arga langsung melirik ponsel sahabatnya yang menyala itu, ternyata memang ada sesosok gadis cantik berambut hitam panjang menggunakan jas putih disana.


" Padahal aku selalu ingin berdekatan dengannya, untuk sekedar melihat wajahnya dari jarak dekat atau mungkin menggengam jemarinya untuk menghangatkan tanganku yang sering kedinginan."


" Haish... kenapa jadi Sad Boy begini nasipmu Njul!"


" Kenapa dunia seolah tidak menginginkan kami untuk bisa selalu bersama, kalau hubungan kami terus saja seperti ini, bisa sampai berapa lama akan bertahan?"


" Kalau begitu kawinin aja langsung!"


" Hei Bokir!"


Kalau sudah mendengar kata Kawin dia pasti langsung sensitif, karena Marjuki pasti langsung tersinggung didalam sangkarnya yang ada dibawah sana.


" Maksud gue nikah lah dulu, buruan bawa dokter itu ke Penghulu, kan setidaknya kalian tetap bisa bertemu walau mungkin hanya saat tengah malam, yang pentingkan kalau malam kamu itu bisa celap-celup bro, emang kamu nggak penasaran rasanya teriak 'ahh' itu seberapa dahsyatnya?"


" ARGA MADHARSA!" Panji langsung menaikkan intonasi suaranya.


" Nyeri, nyeri, nyeri, éta moal beunang diubaran


Kajeun tutumpuran, paéh gé teu panasaran!" Arga bahkan menggoyangkan tangannya sambil bernyanyi lagu Sunda.


Semakin Panji kesal dengannya, Argapun semakin heboh meledeknya, walau dalam hati sebenarnya Arga pun turut mendoakan, agar sahabatnya itu segera menemukan jodohnya.


TO BE CONTINUE...

__ADS_1


JANGAN LUPA DUKUNGAN KALIAN YA GENG..☺


__ADS_2