Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
32. Mau lagi?


__ADS_3

...Happy Reading...


Ratu dan Panji seolah masih berada didunia lain, mereka tidak memikirkan apa-apa, seolah hanyut begitu saja mengikuti alurnya. Kedua bibiir itu masih saling bertemu, kedua mata indah itu pun masih saling memandang.


Tin.. tin.. tin..


Hingga akhirnya suara klakson mobil menyadarkan mereka.


" Eherm... jalan pak, ada yang mau parkir tuh!"


Ratu langsung mengusap bibiirnya berulang kali, sambil berpura-pura tidak terjadi hal apapun tadi.


" Kamu sih.."


Panji pun terlihat gelagapan sendiri dan langsung menghidupkan mobilnya, dua kali sudah dia merasakan bibiir yang berwarna merah muda yang memang terasa manis itu.


" Kenapa? mau lagi?"


Melawak adalah salah satu cara bagi Ratu, untuk mengusir kecanggungan diantara mereka.


" Gila kamu ya!" Panji langsung menaikkan intonasi suaranya.


" Dari dulu, baru tahu ya pak? kemana aja sih?" Ratu akhirnya bisa tersenyum saat melihat wajah Panji yang langsung melotot kesal, karena memang seperti itulah sosok Panji yang dia kenal dimatanya, kalau dia bersikap lembut dan manis dengannya itu berarti ada yang tidak beres, pikirnya.


" Dasar Ratu huru hara!"


" Buruan pak, atau mau aku serang lagi!" Ratu malah pura-pura mengancam, walau sebenarnya saat ini pun dia sudah sport jantung.


" Dih... jangan mimpi kamu!" Panji langsung melirik tajam ke arahnya, seolah melemparkan kilatan cahaya yang hanya dia sendiri yang tahu maknanya.


" Hehe... maaf ya pak, nggak sengaja tadi, tapi enak kan?"


" Iya, ehh... jangan ngaco kamu kalau ngomong ya!" Tanpa sadar Panji bahkan mengakuinya, walau setelahnya dia tersadar dan kembali memasang tampang angry bird.


" Haha... jangan minta nambah loh pak, kalau kak Gendhis tahu bisa dihajar habis-habisan aku pak."


" Kakakmu itu lembut, tidak se bar-bar kamu!"


" Terus aja puji-puji dia, entah kemanapun orangnya sekarang?" Ratu melengos saat mendengarnya.


" Kemana pun dia, sudah pasti dia akan menjaga hatinya untuk calon suaminya ini." Kepercayaan dirinya seolah menggunung, walau sebenarnya hanya untuk menjaga gengsi.


" Hmm... iya in aja biar cepet sampai rumah deh!"


Akhirnya Ratu memilih memejamkan matanya saja, walau seolah rasa mint dari bibiir dosen musuh bebuyutannya itu masih terasa menempel di bibiirnya, namun dia mencoba untuk menepis dan melupakannya, walau mungkin itu akan sulit.


♡♡♡


Sedangkan di sebuah taman kota yang dipenuhi banyak penjual jajanan di pinggir jalan, Gendhis duduk disebuah bangku dengan ditemani dua bungkus rujak buah disana.


Saat Gendhis ingin pulang, tanpa sengaja dia melihat penjual rujak, entah mengapa sesuatu yang ada didalam perutnya seolah mendesak dirinya untuk merasakan betapa nikmatnya rujak buah dengan bumbu sambal kacang diatasnya, apalagi di makan saat panas terik begini.


Sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan.


" Hmm... seger banget buahnya, bumbunya juga pas banget ini." Gendhis menikmati rujak itu dengan senyum yang terus mengembang, seolah melupakan luka dihatinya walau mungkin hanya sejenak.


" Yakin deh, saham yang aku tanam saat itu pasti berkembang sangat baik didalam perutmu."


Tiba-tiba ada seorang pria yang sudah duduk disampingnya, tanpa dia sadari, karena Gendhis terlalu asyik memperhatikan macam-macam buah yang ada didalam rujak itu.


" Uhuk... uhuk...!" Saat mendengar suaranya saja dia sudah tahu siapa yang datang.


" Pelan-pelan, nanti kamu mengejutkan calon baby kita didalam sana." Dia bahkan mengusap punggung Gendhis, walau Gendhis langsung menggeser tubuhnya untuk menjauh darinya.

__ADS_1


" Broto, ngapain kamu disini!" Gendhis begitu terkejut saat Broto juga ada di taman itu, padahal saat didalam ruangannya tadi dia sudah mengusirnya dengan paksa.


" Ini tempat umum kan, bukan milikmu sendiri, jadi bebas dong, yang penting kamu minum dulu, nanti kepanasan si dedek gara-gara kamu kasih makan rujak banyak-banyak." Walau dengan kata-kata yang pedas, namun Broto membukakan air mineral yang sengaja dia beli disana tadi saat melihat Gendhis memakan rujak dengan lahapnya tanpa ada air disampingnya.


Tadi saat dirumah sakit, dia melihat Gendhis berjalan agak sempoyongan menuju parkiran, kebetulan jadwal Broto juga sudah selesai, jadi dia sengaja mengikuti mobil Gendhis, takut jika terjadi apa-apa nantinya.


Sedari dulu Broto memang mengagumi Gendhis, selain karena kecerdasannya juga karena kecantikan wajahnya.


Namun karena dirinya memang terkenal sebagai play boy sejak muda dulu, saat Broto mencoba mendekati Gendhis dia selalu menghindar, kalau Broto mencoba merayu, Gendhis bahkan sering mengeluarkan kata-kata yang menyinggung jiwa kelaki-lakiannya.


Maka dari itu, saat dia menikmati tubuh Gendhis malam itu, dia sengaja main tembak didalam, agar benih-benih dari dirinya masuk kedalam rahimnya dan memang sangat berharap berkembang dengan baik didalam sana, agar wanita itu takhluk kepada dirinya, walau dengan cara paksa


Sebenarnya dia juga tidak menyangka jika dalam satu kali tembakan saja, akan berhasil dan topcer, mungkin itu satu keberuntungan buat Broto, atau mungkin satu kesialan buat Gendhis.


" Kenapa kamu selalu mengikutiku!" Umpat Gendhis sambil menyambar minuman dari tangan Broto.


Karena dia memang membutuhkan air untuk melarutkan rujak yang nyangkut ditenggorokannya, jadi Gendhis langsung saja meminum air itu, daripada terbatuk-batuk nantinya, karena rujak itu juga sedikit pedas.


" Aku tidak mengikutimu, tapi aku mengikuti calon anakku."


" Itu sama saja berarti!" Tanpa sadar Gendhis malah mengakuinya.


" Sudah berapa minggu usia anak kita?" Tanya Broto mencoba memelankan suaranya.


" Kita? emang siapa yang hamil anakmu!" Gendhis masih mencoba untuk menyangkalnya.


" Gendhis, kamu bisa membohongi semuanya, bahkan calon suami dan keluargamu, tapi tidak denganku, karena aku yang melakukan itu denganmu dan saat itu akulah orang yang pertama, karena aku melihat bukti nyata diatas sprei kita."


Ada rasa kebahagiaan tersendiri di hati Broto, saat dia menjadi seseorang yang pertama, selama ini gadis-gadisnya tidak ada yang ori, semua sudah punya jalan bebas hambatan.


" Cih.."


Luka itu terasa semakin perih bagi Gendhis kali ini, seolah disiram air garam lautan, tepat diatas lukanya yang masih basah.


Broto bahkan menampilkan senyum termanisnya, walau nada suaranya terdengar sangat menyakitkan bagi Gendhis.


Dia tidak menyangka, jika perawannya akan direnggut paksa oleh orang ini, bukan diambil oleh pria yang kini dia cintai.


" Aku benci kamu Broto!" Hanya itu yang bisa dia ucapkan sekarang, karena mau bagaimanapun dia sekarang, semua sudah terjadi, dan kalau dia mau berteriak histeris disana, dia sendiri yang akan malu karena pasti akan menjadi pusat tontonan ditempat umum.


" Tapi aku bisa menerimamu Gendhis, apalagi ada anak kita disana."


" Aku paling benci dengan kata-kata KITA!"


Dengan air mata yang sudah berderai, Gendhis langsung bangkit dari sana dan ingin segera pergi meninggalkan pria yang paling dia benci selama ini.


" Gendhis, kamu mau kemana?"


" Jangan mengikutiku Broto, aku berasa ingin muntah saat melihat wajahmu itu!"


" Ckkk... bisa nggak, kalau ngomong itu jangan terlalu menyakitkan!"


" Karena kamu memang satu-satunya orang yang tega membuat aku sakit Broto!"


" Kamu pantas mendapatkannya!"


" Diam kamu Broto!"


" Apa perlu aku yang mengatakan sendiri kepada calon suamimu itu, bahwa ada benih-benih cinta kita didalam perutmu itu?"


" Aku tidak pernah mencintaimu Broto, tidak akan pernah!" Teriak Gendhis yang seolah tidak sudi.


" Cih... jangan sombong jadi orang, bisa saja nanti kamu yang tergila-gila denganku?"

__ADS_1


" Tidak akan!" Jawab Gendhis dengan rasa jijik yang melanda dirinya saat mendengar segala ucapan Broto yang terasa menyakitkan.


" Kamu mau kemana, jangan berlari!" Broto langsung mengikuti langkah Gendhis karena khawatir.


" Di... diam kamu disana, jangan...."


Saat dia ingin memasuki mobilnya, tiba-tiba kepalanya seperti berkunang-kunang dan berputar-putar, akhirnya perlahan kedua matanya mulai terpejam.


" Gendhis!"


Brugh!


Sebelum Gendhis jatuh, Broto sudah lebih dulu menangkapnya, sehingga tubuh Gendhis kini berada didalam pelukannya.


" Haish... perempuan yang satu ini memanglah, nggak bisa dibilangin!"


Broto langsung menggendong tubuh Gendhis dan memasukkan kedalam mobilnya, dia meninggalkan mobil Gendhis ditaman itu.


Walau tidak begitu mengenal Gendhis, namun hampir semua dokter di rumah sakit itu tahu, dimana alamat rumah dari pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja.


Tin.. tin.. tin..


Broto membunyikan klakson saat sampai dipintu gerbang rumah Gendhis, agar securitynya mendatangi dirinya.


" Maaf ya pak, anda siapa? ada perlu apa?" Tanya Security itu.


" Saya Broto, rekan Dokter Gendhis di rumah sakit, dia pingsan di taman kota tadi, biarkan aku memeriksanya didalam rumah, cepat bukakan pintu gerbangnya!"


" Astaga, baik pak!"


Saat security itu melihat Gendhis tergeletak di bangku belakang, Security itu segera membukakan pintu gerbang itu lebar-lebar.


Broto langsung menidurkan Gendhis di sofa ruang tamu, karena dia juga tidak tahu dimana letak kamarnya, yang terpenting dia harus memberikan pertolongan pertama dulu untuk Gendhis.


" Pak, punya minyak angin?" Tanya Broto kepada security yang menemaninya sejak tadi.


" Sebentar pak, saya tanyakan dulu sama bibi di belakang."


Security itu langsung berlari mencari bibi di dapur, meninggalkan Broto yang duduk berjongkok di lantai, sambil mengamati wajah cantik Gendhis yang masih tidak sadarkan diri.


" Gendhis, kamu sebenarnya cantik, tapi mulutmu ini, sering pedas! dan mata ini...?"


Broto mengusap lembut kedua mata Gendhis yang masih terpejam.


" Kenapa kamu tidak pernah mau memandangku sama sekali, apa serendah itu aku dimata kamu?"


Tangan Broto berpindah mengusap pipi putih Gendhis lalu mulai membelai rambut perempuan itu dengan perlahan dan menautkan ditelinganya.


" Andai kamu bisa menjaga lisanmu terhadapku, mungkin ini semua tidak akan terjadi, aku memang mengagumimu, tapi jika kamu terus begitu, aku pun bisa membencimu sayang."


Broto mendekatkan wajahnya, sambil terus memandang wajah cantik Gendhis dalam jarak terdekat.


" HEI... SIAPA KAMU!"


Dengan wajah yang sudah memerah bahkan dengan kedua tangannya yang sudah berkacak pinggang, Panji berdiri ditengah-tengah pintu ditemani oleh Ratu yang juga ikut syock saat melihat mereka berdua didalam sana.


Jalanilah apa yang sudah ada sekarang, jangan terlalu melangkah jauh melewati Takdir.


Tapi ingat satu hal, jika suatu saat kamu berada di titik yang terendah dalam hidupmu, jangan pernah berpikir tidak ada kebahagiaan yang akan kamu dapatkan.


Jika kamu ingin menangis, menangislah! jika dengan tangisan mampu mengeluarkan kesedihan dan amarahmu.


Namun selebihnya, pikirkanlah mengapa Tuhan memberikan peristiwa seperti itu kepadamu? Kamu pasti tau jawabannya..

__ADS_1


__ADS_2