Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
66. Murka


__ADS_3

...Happy Reading...


Setelah pertempuran ronde ke tiga, akhirnya Ratu tergeletak tak berdaya di lengan kokoh suaminya. Kekesalan di dirinya terlupakan sejenak, karena suaminya telah berhasil membegal pertahanan dirinya sebagai seorang istri.


" Mas telpon ayah sebentar ya? Nanti ayah kamu nungguin, siapa tahu ada berita penting."


Panji mengusap lembut dahi Ratu yang sudah banjir dengan keringat, sekalipun cuaca dingin saat ini, namun pertempuran mereka telah menghasilkan suhu yang memanas walau hanya di tenda mereka saja.


" Hmm."


Ratu hanya menggangukkan kepalanya saja, tanpa mau membuka matanya, karena rasa lelah dan rasa kantuk yang sudah bercampur menjadi satu.


" Hallo yah, maaf tadi terputus, ada apa yah?" Sapa Panji saat ayah mertuanya menjawab panggilan telponnya.


" Kamu sudah menemukan Ratu?"


" Sudah yah, ini Panji dengan Ratu sekarang."


" Kalau Broto?"


" Dia sudah pulang kok Yah, seharusnya sudah sampai kalau perjalanannya lancar, soalnya saat Panji beritahu kalau Gendhis masuk rumah sakit dia langaung bergegas pulang." Ucap Panji saat mengingat kejadian tadi.


" Benarkah? kenapa kalian tidak ikut pulang juga?"


" Maaf yah, sepertinya Panji dan Ratu tidak bisa pulang malam ini, mungkin besok karena mobil Panji kehabisan bahan bakar, tadi saat berangkat lupa mengeceknya."


" Hmm...Sudah berapa ronde kalian?" Tiba-tiba ayah Ratu bertanya ke arah topik lain.


" Tiga, ehh.. opsh! Astaga maaf yah, maksud saya anu..."


Panji dengan reflek langsung menjawab apa yang sudah dia lakukan.


" Ya sudahlah... Ayah mengerti, kalian pulang saja besok, tapi segera ya, ada hal penting yang terjadi di sini."


Ayah Panji tidak bisa memaksakan kedatangan mereka juga dan sebagai seorang ayah, dia juga ingin putri keduanya bahagia.


Apalagi ternyata anak bontotnya yang dia kira masih kecil dan belum tersentuh, ternyata sudah diobrak-abrik oleh menantunya, jadi tidak kata lain selain membiarkan putrinya bahagia dengan pilihan hidupnya.


" Baik ayah, nanti kami akan berangkat pagi-pagi dari sini."


" Jaga Ratu baik-baik ya, jangan kamu sakiti putri ayah, apalagi kamu jadikan dia sekedar pelampiasan!" Ayah Ratu langsung memberikan ultimatum kepadanya.


" Nggak mungkin lah yah, Panji pasti akan menjaga istri Panji sebaik mungkin." Jawab Panji dengan yakin.


" Good, ayah pegang kata-katamu! Kalau nanti terjadi sesuatu dengan Ratu, kamu harus mempertanggung jawabkannya, bukan hanya dihadapan ayah, tapi juga dihadapan sang Pencipta, mengerti kamu!" Ucapnya kembali dengan tegas.


" Siap ayah, saya mengerti."


" Kalau begitu ayah tutup telponnya ya, ingat langsung pulang, jangan mampir kemana-mana lagi besok, lanjutkan lain kali bercocok tanamnya, mengerti kalian?"


" Iya Ayah, ehh..?


Panji sedikit merasa aneh, tumben ayah mertuanya seolah memberikan wejangan kepada dirinya dan terlihat khawatir dengan putrinya dan juga sedikit meragukan dirinya. Yang lebih membuat Panji penasaran, nada suara ayahnya terdengar lemah walau seolah memperingatkan dirinya tadi.


Namun Panji berpikiran positif, mungkin ayahnya mengantuk pikirnya, karena ini masih terlalu malam.


" Jangan khawatir ayah, bahkan malam-malam Panji tak bisa lagi jika tanpa putri ayah yang satu ini, biar dia bandel tapi selalu ngangenin." Umpat Panji perlahan sambil memandang wajah cantik istrinya dan membelai rambut panjang miliknya.


Hingga akhirnya Panji kembali membaringkan tubuhnya disamping Ratu dan memeluk tubuh istrinya dengan erat.


Cup


" Ratu... Mau lagi nggak?" Panji berbisik dan menepuk lembut pipi istrinya yang sudah terlelap.


" Hmm.."


Ratu hanya bergumam saja, dia seperti orang yang berada dialam setengah sadar.


" Okey baiklah, kita lanjut lagi sampai pagi!"


Panji langsung kembali menindih Ratu dan melanjutkan aksinya, walau sebenarnya istrinya sudah hampir terlelap. Hingga tanpa terasa pagi pun menjelang.


" Ratu... ssst! Woi... Bangun!"


Saat terbangun Melody tidak menemukan Ratu disampingnya, jadi disaat penghuni tenda yang lainnya belum terbangun, Melody langsung mendatangi tenda dosennya, karena dia sudah menduga bahkan sudah bisa dipastikan kalau Ratu ada didalam sana.


" Hmm.. Hmm..."


Sepasang suami istri itu malah kompak saling berpelukan dengan erat, Ratu pun kembali menyembunyikan kepalanya di dada bidang suaminya, karena merasakan hawa dingin yang seolah masuk nyeruak ke tenda mereka.


" Astaga... Kalian sudah meracuni otakku!"


Bugh!


Akhirnya dengan wajah kesal, Melody sengaja menendang kaki Ratu.


" Heh?"


Karena Melody menendang menggunakan tenaga, Ratu sontak terbangun dan lansung terduduk.


Tuing... Tuing...


Terpampanglah dua gunung kembar milik Ratu yang tidak terlindungi, bahkan terlihat dihiasi tatto alami disekelilingnya.


" Astaga Ratu! Lemah sekali pertahananmu, kemarin sudah kayak singa, tapi dalam semalam kamu sudah berubah menjadi hello kitty, dasar lembek kamu jadi orang!"


" Ya ampun sory Mel, tapi mau gimana lagi, aku langsung dihantamnya, gimana mau menghindar coba?" Ratu langsung membenahi selimutnya dan menutupi tubuhnya kembali.


" Emang hantamnya pake apa?" Tanya Melody dengan senyum sinisnya.


" Ulekan batu, mana pas lagi langsung masuk ke dalam, jadi ya... Gimana dong?"


" Entah apa-apa lah bahasamu!"


" Kamu nggak akan ngerti kalau belum menikah, kalau sudah tahu rasanya juga, kalau jadi aku pasti kamu langsung goyang."

__ADS_1


" Apaan sih!"


" Atau mau aku kasih Tutorialnya, biar kamu paham!"


" Ckk... dasar wong edan! Sudahlah bisa ikut gila aku kalau ngeladenin kamu, sekarang pakai bajumu! Cepat pindah ke tenda kita, sebelum orang lain curiga denganmu!" Umpat Melody yang jadi gemas sendiri.


" Hehe... Siap Bestie!" Jawab Ratu yang langsung cengengesan karenanya, untung saja dia tidak membuka seluruh selimutnya, kalau tidak mungkin rudal suaminya pun terlihat oleh sahabat karibnya itu.


" Aku malas jadi bestie mu, gue mau pensiun dini saja!" Umpat Melody yang langsung memilih balik kanan dan beranjak pergi dari sana.


" Ckk... Masih muda kok emosian, orang endull kok ditolak, mubadzir kan? Aish... Ay.. Bangun!"


Akhirnya setelah memakai kembali semua onderdilnya, Ratu membangunkan suaminya.


" Hmm... Kenapa? Mau nambah lagi kah?" Tanya Panji dengan suara parau khas bangun tidurnya.


" Nambah aja terus maunya! Katanya mau balikin aku ke tenda, malah digarap terus sampai pagi!" Ratu langsung menarik bulu yang tumbuh didada suaminya.


" Hehe... Maaf, habisnya dingin banget disini, aku jadi nggak tahan!" Panji bahkan kembali memeluk perut Ratu dengan erat.


" Ckk... dasar suami mesvm, sudah cepat bangun!" Ratu semakin gemas saja dibuatnya.


" Nggak papa kita kan udah sah, itung-itung cari pahala, ibadah loh ini!" Panji malah memindahkan kepalanya di pangkuan Ratu dan tersenyum dengan manisnya.


Aduh... Kenapa suami gue semakin ganteng aja, perasaan dulu nggak gini deh? Apa aku yang ngggak sempat memperhatikan ya?


Ratu tanpa sadar malah mengusap rambut suaminya dengan segala umpatan didalam hatinya.


" Mas ganteng kan?" Tanya Panji saat melihat istrinya malah melamun.


" Hmm... Eh, enggak biasa aja!"


" Bohong, orang kamu ngelihat mas kayak terpesona gitu kok."


" Nggak lah, biasa aja!" Ratu langsung melengos untuk menutupi rasa malunya.


" Heleh... Pake acara malu segala, memuji suami sendiri berpahala loh."


" Bodo amat!" Ratu langsung merutuki dirinya sendiri, karena ternyata dia memang lemah dihadapan suaminya ini.


" Hehe... Ya sudah kamu cepat bersih-bersih sana, kita langsung pulang pagi ini, sepertinya ada sesuatu yang terjadi dirumah."


Setelah beberapa saat saling pandang, akhirnya Panji menyudahi aktivitasnya dalam menggoda istrinya, karena dia mengingat pesan ayah mertuanya, kalau tidak mungkin dia akan membawa Ratu menginap di penginapan di daerah sana, yang hawanya sangat mendukung untuk proses perkembangbiakan.


" Emang ada apa?"


" Mas nggak tahu, makanya kamu cepat kemasi barang-barang kamu, mas nyari bahan bakar dulu ke bawah sambil nyari sarapan, kamu lapar kan setelah kita berjuang dan bertempur sampai pagi!"


" Aku masih marah denganmu Ay, jangan lupa itu!" Ratu langsung bangkit dari sana.


" Iya boleh... Tapi marahnya siang aja ya, kalau malam kita baikan, okey?" Panji malah langsung memeluknya dari belakang.


" Aish... Awas nanti ada yang lihat!" Ratu langsung memberontak.


" Sebentar aja Ratuku!" Panji malah sengaja mengungselkan wajahnya di tengkuk leher istrinya denan gemas.


" Ckk... Kok ada orang kayak kamu ini sih mas, puyeng aku tuh lihatnya!"


Ratu malah jadi emosi sendiri saat suaminya meladeni ocehannya dengan tenang bahkan dihiasi dengan senyuman khas dari para suami yang sudah mendapatkan full service dari sang istri.


Setelah melewati sekian drama seperti kucing dan tikus, akhirnya mereka sampai di rumah sakit milik keluarga Ratu.


" Kita nggak pulang dulu mas?" Tanya Ratu yang menatap suaminya dengan wajah curiga.


" Kata ayah kamu tadi malam, ada sesuatu hal yang terjadi, mas penasaran apa yang sebenarnya terjadi."


" Cih... Penasaran apa penasaran nih ceritanya?"


" Apaan sih Ratu?"


" Heleh!"


" Kamu mikir apa coba?"


" Sudahlah, ngak perlu dipikiran, siapalah aku ini!" Umpat Ratu yang langsung membuang arah pandangannya ke luar jendela.


Cekit!


Grep!


Cup!


Panji langsung mengerem mobil miliknya dan langsung menarik tubuh Ratu ke dalam pelukannya, tidak lupa juga dia sambar dan lvmat habis bibiir istrinya yang berwarna merah jambu itu.


" Hmpt!" Ratu hanya bisa mendelik kesal dengan ulah suaminya.


" Maafkan mas Ratu, kamu pasti cemburu melihat aku dengan kakakmu saat itu kan?"


" Nggak penting!"


" Ratu... Saat itu mas hanya..."


Tulilut... Tulilut...


Ponsel Panji langsung berdering kembali dan ternyata ibu mertuanya yang menelpon dirinya.


" Ibu kamu ini yank?"


" Angkatlah!"


" Hallo buk, ada apa?"


" Kalian sudah sampai mana?" Tanya ibu Ratu dengan suara yang terdengar panik.


" Kami sudah sampai di parkiran rumah sakit buk."

__ADS_1


" Benarkah? Kalau begitu cepat masuk ke ruangan Gendhis, dia histeris sekarang, cepat ya Panji!"


" Baik buk, kami akan segera kesana!"


" Kenapa lagi kak Gendhis?"


" Katanya dia histeris, kita lihat yuk?"


" Ckk... Selalu saja buat perkara kakak tuh!"


" Ayolah sayang, jangan begitu, dia kan juga kakak kamu?"


" Ya sudah lari sana, kamu mengkhawatirkan dia kan?" Lirik Ratu dengan tatapan tajamnya.


Dia sudah lelah saat mengingat kakaknya yang tidak bisa menerima takdirnya tanpa memikirkan efek orang yang ada disekitarnya.


" Emm... Sedikit, aku lebih mengkhawatirkan kamu kalau jauh dari aku kok."


" Cih... aku kok nggak percaya!"


" Ckk... Kalau kamu memang tidak mengizinkan mas buat nemuin kakak kamu, it's okey mas biar nunggu di mobil saja, kamu saja yang melihat kondisi kakakmu!"


Panji tidak ingin istrinya kembali salah paham, padahal hatinya kini sudah dipenuhi Ratu seorang, dia hanya kasian saja saat melihat Gendhis sering merasakan kesakitan ketika hamil.


Jika di suruh memilihpun, sudah pasti dia akan memilih Ratu yang akan menjadi pasangan hidupnya. Karena setelah dia evaluasi hubungannya sedari dulu, secara tidak langsung malah lebih sering berhubungan dengan Ratu dari pada Gendhis, kenangan mereka pun lebih banyak, walau dihiasi sebuah pertengkaran.


" Yakin? Nggak nyesel? Nggak mau elus-elus perutnya lagi?" Sindir Ratu dengan senyum bengisnya.


" Untuk hal yang kemarin, mas minta maaf, tapi itu tidak seperti yang kamu lihat Ratu."


" Sudahlah, kita bahas lain kali, kita lihat kakak dulu, mau drama apa lagi dia."


Se kesal-kesalnya Ratu, dia tetap mengkhawatirkan keadaan kakaknya, karena tali persaudaraan itu tidak bisa tergantikan oleh siapa pun.


" Aaaaaaaaaaaaaaa... Kembalikan anakku, ibuk, tolong kembalikan anakku, hiks.. hiks..!"


Saat Ratu masih didepan pintu, dia mendengar suara jeritan kakaknya yang melengking.


" Mas... Kamu apain kakakku?" Ratu jadi ragu ingin masuk, dia malah ketakutan sendiri mendengarnya.


" Apa sih Ratu, bukannya mas sedari tadi malam berkepit sama kamu? Kenapa jadi nyalahin mas terus?"


" Siapa tahu kan?"


Hap!


Panji langsung menarik Ratu dan menggendongnya di pundak seperti orang yang sedang memanggul kayu.


" Astaga mas, turunkan aku! apa-apaan ini!" Ratu malah jadi kelabakan sendiri karena dalam sekejab saja tubuhnya sudah ada di pundak kekar suaminya.


" Kita pulang saja, daripada kamu terus saja mencurigai mas, biarkan saja kakakmu begitu, biar kamu tahu, kalau kamu adalah segalanya bagi mas, bukan lagi kakakmu itu!"


Eaaaa!


Entah mengapa Ratu langsung tersenyum manis dalam diam, hatinya seolah lega saat suaminya berkata seperti itu.


Apa aku sudah bucin? Kenapa dia ngomong begitu saja aku senengnya kebangetan?


Ratu akhirnya tidak lagi memberontak, dia membiarkan suaminya menggendongnya seperti itu walau dia harus menjadi pusat perhatian para perawat dan pasien yang berada disekitarnya.


" Dek? Ngapain kalian berdua sudah disini!"


" Eh bang... tolong aku!"


Ratu kembali memberontak saat dia mendengar suara Broto memanggilnya.


" Turunkan adekku!"


" Dia istriku, apa hakmu!"


" Ayang... Turunkan aku dulu!" Saat suasana hatinya sudah membaik, dia pasti langsung memanggil dengan sebutan ayang kembali.


" Nggak mau!"


Bugh!"


" Aw.... Aduh Ratu!"


Panji langsung mengaduh kesakitan saat kaki Ratu sengaja dia tendangkan ke depan, dan ternyata pas mengenai burung peliharaan suaminya.


" Hehe... Maaf Ay, nanti malam aku obatin deh!"


" Awas kamu ya!"


" Kalian berdua ngapain udah disini aja? jangan-jangan kalian tidak bisa camping tanpa kehadiranku ya?" Broto kembali bersuara.


" Dih... Ge er loe bang, emang abang sendiri ngapain disini? Kenapa nggak ke ruangan kak Gendhis?"


" Emm... Abang sudah lelah dek, abang memilih jalan mundur saja, sepertinya memang hubungan kami tidak lagi bisa dipertahankan!" Ucap Broto dengan lemas.


" Jadi Gendhis tadi berteriak histeris karena kamu!" Panji langsung saja menuduhnya.


" Maksud kamu apa Bro!" Broto kembali tidak terima.


" Eh tunggu... Tapi kak Gendhis tadi teriaknya kembalikan anakku, gitu kan Ay? Emang anaknya kakak diambil sama siapa?"


" Apa maksudnya diambil sama Tuhan?" Tanya Panji yang baru sadar juga.


" Astagfirulloh... Meninggal gitu maksudnya?"


" HAH, GENDHIS!"


Dalam sekejab mata raut wajah broto berubah menjadi kesal, barisan gigi putihnya langsung bertabrakan, rahangnya mengeras, otot kedua lengannya langsung muncul dan kedua tangannya langsung mengepal.


Gemuruh api kemarahan mulai berkobar di hati Broto, dia yang sebenarnya datang ke rumah sakit hanya ingin mengambil surat dinas untuk dia bawa ke desa terpencil nanti, malah mendapatkan informasi yang berhasil membuatnya meradang.

__ADS_1


Dengan langkah tegak dari kaki jenjangnya, dia langsung berjalan menuju ke arah ruangan tempat dimana Gendhis dirawat, dengan sejuta kekesalan yang mendera jiwa dan berhasil membuat hati Broto seolah Murka.


..."Pada awalnya, cinta itu bisa melihat. Tapi, menjadi buta karena masuk ke dalam hati yang paling dalam."...


__ADS_2