Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
75. Salah Sangka


__ADS_3

...Happy Reading...


Ratu hanya bisa senyam-senyum sendiri saat mereka selesai bertempur, sedangkan setelah dua ronde berlangsung, Panji baru sadar dan menyesal karena sampai mata kuliah Arga hari itu berakhir, Ratu sama sekali tidak mengikutinya.


" Ratu... setelah mas selesai mandi, kamu mas buatin soal lagi ya, kerjakan dengan benar." Panji langsung bangkit dari tidurnya dan ingin pergi ke kamar mandi membersihkan diri.


" Aduh... Duh... Mas aku capek banget ini." Ratu pura-pura memijit kedua kakinya.


" Jangan alesan kamu? Siapa yang mulai duluan tadi? Nggak banyak soalnya dan mas nggak akan ngasih yang sulit." Panji mulai berdecak kesal melihat kemalasan istrinya yang diluar takaran.


" Mas... Aku tuh kalau lagi capek, nggak bisa mikir sama sekali, jadi mau mas buatin aku soal semudah mungkin dan sesedikit mungkin, sama aja nggak akan aku kerjain." Umpat Ratu sambil mencoba merayu suaminya kembali.


" Ratu, kamu itu kalau ngeles pinternya kebangetan, tapi kalau ngerjain soal kenapa selalu zonk? Sebenarnya apa masalahmu?"


Tok.. Tok..


" Masalahnya ada dibalik pintu, hehe!" Ratu langsung mengalihkan perhatian suaminya, dia pun tak tahu kenapa dia sering malas berpikir.


" Ckk... Kamu ini, selalu saja begitu, cepat pakai bajumu! Biar mas yang keluar."


" Ehh... Mas?" Ratu kembali menggoda suaminya.


" Apalagi?" Jawab Panji sambil membenahi resleting celananya.


" Mas boleh keluar, tapi di dalam."


" Maksudnya?" Panji langsung menanggapinya dengan serius, kedua alisnya langsung bertabrakan, seolah otak cerdasnya kembali bekerja, namun belum menemukan jawabannya.


" Bahaha... Nggak ada, ternyata orang pintar tidak menjamin bisa menjawab segala pertanyaan, sudah cepet bukain pintu sana!" Ratu langsung melilitkan selimut ditubuhnya sambil mengejek suaminya.


" Apaan sih, nggak jelas banget, gimana ceritanya boleh keluar tapi didalam?" Panji hanya bisa menggaruk kepalanya karena tidak paham apa yang Ratu ucapkan, sambil melirik istrinya yang malah tertawa cekikikan.


" Sedang apa kalian, kenapa lama sekali buka pintunya?" Ternyata Eyang sudah berkacak pinggang di luar pintu menunggu pintu itu terbuka.


" Eyang... Apa maksudnya boleh keluar tapi didalam?"


Lain yang ditanya, lain pula yang dijawab, karena Panji masih memikirkan hal itu.


" Siapa yang nanya gitu?"


" Cucu menantu Eyang yang limited edition itu lah!"


" Hahaha... Itu artinya tembak didalam!"


" Apanya yang ditembak?"


" Astaga Panjuuul, kalau kamu sednag melakukan proses berkembang biak itu apa yang kamu keluarkan?"


" Emm... Itu?"


" Ya itulah! aduh... Kamu ini sudah tua tapi nggak tau cuma hal begituan saja, kalah kamu sama Ratu yang umurnya jauh dibawah kamu!" Eyang langsung tersenyum miring karenanya.


" Hah?"


" Sudahlah.. yang penting pinggang kamu aman terkendali saja, cepat bersiap, kita sudah ditunggu oleh mertua kamu, acaranya sudah mau dimulai." Eyang langsung ingin pergi berkalu dari sana.


" Eyang tapi itu tadi..!"


" Buruan mandi sana, kami tunggu dibawah, jangan lupa keramas, tubuh kamu bau amis, hedeeh.. kalau masih muda itu tak kenal waktu, pagi, siang, sore, malam, gempur aja terus!" Umpat Eyang yang sudah dihubungi dari pihak keluarga Gendhis untuk segera datang, karena acaranya sudah mau dimulai.


Gendhis kali ini sengaja tidak membuat acara besar-besaran untuk acara ulang tahunnya kali ini, karena kondisinya yang memang belum begitu fit jika harus menyambut para tamu undangan semalaman.


Saat semua keluarga Panji sudah masuk kedalam rumah, Panji memilih duduk-duduk di teras rumah dengan para sopir dan security di rumah itu.


Tak lama kemudian Arga datang dengan putra kesayangannya.


" Om Panji!" Teriak Hugo sambil berlari kearah Panji.


Keadaan Hugo sudah membaik pasca kecelakaan hari itu, namun dia terkadang masih sering menggangap ibunya hanya pergi sebentar saja, bukan untuk selamanya.


Arga pun tidak memaksa putranya untuk melupakan ibunya, karena umurnya masih terlalu kecil untuk merasakan beban hidup dalam keluarganya.


" Hallo jagoan Om yang paling tampan? Akhirnya datang juga kalian?"


" Kamu ngapain disini?" Tanya Arga yang heran, kenapa dia ada diluar padahal didalam sudah ramai orang pikirnya.


" Nungguin kalian lah?"


" Woah... Jangan bilang kamu tidak bisa hidup tanpaku ya?" Ledek Arga sambil tertawa.


" Cih... Ngarang Luu, istri gue cantik semlehot begitu juga, ngapain jatuh cinta sama elu, kurang kerjaan aja, cuma...?"


" Haha... Cuma apa?"

__ADS_1


" Tingkahnya itu sering bikin gue sakit kepala."


" Siapa suruh nikahin ABG, mereka itu masih ingin bersenang-senang, pergi ke dunia bebas, nah elu udah gempurin dia tiap hari, mana nggak tahu tempat lagi, haish.. Kemana kosombonganmu yang dulu, lemah!" Arga langsung menghujatnya, saat dia mengingat kejadian tadi pagi.


" Mas... Eeh... Ada pak Arga, akhirnya bapak datang juga, sudah sehat kamu dek Hugo?" Ternyata Ratu muncul ditengah-tengah mereka.


" Siapa dia Dad?" Hugo lansung memicingkan kedua matanya saat Ratu menoel pipinya.


" Dulu dia hampir jadi calon ibu kamu, tapi sekarang sudah diambil sama Om kamu itu." Arga sengaja ingin bales dendam dengan mereka, karena sudah mempertontonkan video yang tidak pantas dia pandang saat zoom tadi.


" HAH?" Mulut Ratu langsung mengaga, seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


" Jangan ngawur kamu kalau ngomong, jangan menghasut anak kecil yang masih polos, ayah model apaan kamu ini." Panji langsung merasa tidak terima.


" Astaga, jadi selama ini, cinta gue nggak bertepuk sebelah tangan dong pak? Kenapa nggak ngomong dari dulu sih pak?" Saat melihat wajah kesal Panji, Ratu pun iseng ingin ikut menjahili suaminya.


" Enak aja kamu yank, sini... mau aku hancurkan riasan wajahmu ini! Kamu cuma milik aku, lupakan angan-angan gila di masa lalu kamu itu!"


Panji langsung memeluk Ratu dengan gemas dan menarik dagu lancip Ratu agar dia hanya memandang dirinya saja, tidak berpindah ke Arga.


" Pak dosen jangan, haha!"


" Panggil yang benar!"


Panji tahu betul, bagaimana dulu istrinya sangat mengidolakan Arga waktu itu, bahkan seolah tidak punya rasa malu saat mengodanya didepan dosen maupun mahasiswa lain.


" Ampun ayang, aku cuma bercanda aja, haha!"


" Jadi siapa pria yang kamu idolakan dan kamu cintai sekarang!" Panji bertanya namun seolah mengancam istrinya.


" Emm... Ayang deh!" Ratu menjawabnya dengan pura-pura terpaksa.


" Kok pake deh? Ngomong yang jujur, seberapa sayang kamu sama aku atau aku eksekusi kamu sekarang sampai nggak bisa jalan!" Panji masih terus memeluk Ratu bahkan diantara ramainya sanak saudara mereka yang datang.


" Ahahaha... Sudahlah, ayok kita masuk, udah pada nungguin didalam, ngapain sih nggak masuk-masuk dari tadi?" Ratu berusaha berontak.


" Jawab dulu sayang! Jangan bikin mood aku turun, atau kita pulang saja sekarang!" Panji semakin kesal karenanya.


" If you ask me how much I love you, I won't say anything. I'll just take your hand, fill the gaps between your fingers and hold on to you until all your doubts are gone. Because All the gold and diamond in the world are not enough to buy the love I have for you."


(Jika kamu tanya seberapa besar cintaku padamu, aku tak akan menjawab sepatah kata pun. Aku hanya akan meraih tanganmu, menggenggam jemarimu sampai keraguan itu sirna. Karena Semua emas dan permata di dunia ini tak akan cukup untuk membeli cintaku padamu.)


Nah... Meleyot nggak tuh? Daripada gue harus keramas tujuh kali, bisa masuk angin gue, mana sekarang musim penghujan lagi.


" Nah... Gitu dong, baru istri aku, yuk kita masuk!"


Panji sebenarnya ingin bersorak namun dia gengsi, karena Ratu mengatakannya langsung di depan Arga, dan membuktikan kepadanya bahwa istrinya kini sudah tidak lagi mengidolakan Arga, tapi suaminya sendiri.


" Aish... Kok bisa Om kamu itu jadi bucin tingkat dewa ya Hugo?" Arga hanya bisa geleng kepala sambil menggendomg Hugo masuk kedalam.


" Bucin itu apa Dad?" Sedari tadi Hugo ikut menyimak, namun dia tidak begitu paham, baginya melihat suami istri berpelukan sudah biasa, karena mommy dan daddynya dulu juga sering berpelukan.


" Emm... Bucin itu, bubur kacang ijo nangka." Jawab Arga dengan asal.


" Owh.. Memang enak itu dad, dulu mommy sering buatin Hugo." Hugo langsung mengganguk percaya semua perkataan daddynya.


" Kalau begitu kita masuk ya nak?"


Arga langsung mengusap kepala putranya, dia selalu merasa sedih saat putranya menyebut mommynya, seolah rasa tidak rela itu kembali muncul dihatinya.


Suasana rumah itu sudah terlihat meriah walau tidak didekor sedikitpun, karena memang rumah keluarga Andara sudah sangat mewah.


Macam-macam hidangan dan kue sudah tersaji diatas meja besar, untuk menjamu keluarga besar mereka.


Terlihat disana Broto selalu saja berkepit dengan Gendhis, bahkan tangan Gendhis selalu menggandeng tangan Suaminya, seolah takut ada yang mengambilnya.


" Aku tunggu disini aja ya Ratu." Panji memilih duduk disudut ruangan.


" Kenapa?"


" Mau nemenin Arga dan Hugo, kalau kamu mau nemenin kakak kamu potong kue nggak papa, tuh... Sama si Melody saja sana."


" Ya sudah."


Ratu langsung berlari kearah Melody dan mengajaknya ke depan.


" Tumben loe nggak mau dekat-dekat dengan Gendhis? Udah beneran bucin sama adeknya?" Ledek Arga yang langsung duduk disamping Panji.


" Hmm... Ratu sering ngambek dan marah-marah nggak jelas, kalau aku deket-deket sama kakaknya, jadi daripada nggak dapat jatah mending gue jaga jarak!"


" Loe ini beneran sudah cinta sama Ratu belom sih, atau hanya karena napsv kamu semata?"


" Dih... Kayak elu nggak tahu gue aja, emang sejak kapan aku hyper se ks? Membujang berpuluh-puluh tahun aja aku santai?"

__ADS_1


" Wow, jadi kamu beneran sudah bisa ditakhlukan oleh gadis nakal itu?"


" Emm... Kurang lebihnya sih iya, karena setelah menikah dengannya, hidup aku itu terasa lebih berwarna, bahkan tanpa aku sadari, sedari dulu lagi, saat aku menjadi kekasih Gendhis, Ratu lah yang selalu menemani keseharianku, aku lebih sering pergi keluar dan bertemu dengan Ratu daripada Gendhis dan walaupun dia nakal dan jahil tapi itu yang membuat aku semakin sayang dan tidak ingin jauh darinya, gila kan?"


Panji tersenyum saat menatap istrinya yang juga tersenyum riang dari kejauhan.


" Woah... Nggak nyangka gue, kesombonganmu hancur hanya dengan gadis yang dulu paling kamu benci? Andai dia belum jadi istrimu, pasti akan aku jadikan dia ibu sambung buat Hugo!"


Bugh!


" Enak saja kamu kalau ngomong, jangan pernah kami berpikiran sedikitpun untuk mendekati istriku, mengerti kamu!" Panji langsung menonjok lengan sahabatnya yang malah tertawa karenanya.


" Aku ikut bahagia jika kamu bahagia!"


" Hmm... Thanks, besok kalau cari ibu sambung Hugo, cari yang seumuran bini gue, walaupun sering dibuat pusing, tapi aku yakin, hidupmu akan diliputi rasa bahagia yang tidak terkira."


" Entahlah... Saat ini aku tidak memikirkan ibu sambung buat Hugo, aku tidak mau jika Hugo merasa tersisihkan nantinya."


" Carilah yang bisa menerima Hugo?"


" Entahlah!"


" Aku yakin, istrimu itu orang baik, asal ada yang mau menjaga Hugo dan menyayangi Hugo, dia pasti akan mengizinkan kamu menikah lagi."


" Sudahlah... Itu bukan prioritasku saat ini, tuh acara sudah dimulai, bisa kita lanjut makan kan ini?"


" Hmm.. Makanlah sepuasnya, kalau perlu bungkus bawa pulang sekalian!"


Panji langsung ikut gabung ditengah-tengah ramainya saudara-saudaranya yang juga sedang menikmati hidangan makanan yang ada disana.


" Mas Panji."


Degh!


Tiba-tiba suara panggilan itu membuat tangan Panji kaku seketika, dia bingung harus berbuat apa sekarang.


" Mas Panji, boleh aku ngobrol sebentar?"


Gendhis ternyata sudah tersenyum dan menyapa dirinya.


" Emm... Gendhis, ada apa?" Panji langsung melihat ke kanan dan ke kiri, dimana keberadaan istrinya namun tidak terlihat.


" Kenapa tegang begitu sih mas, emang mas nggak mau ngucapin selamat ulang tahun denganku?" Tanya Gendhis dengan senyuman yang dulu mampu membuat Panji terpotek-potek, namun sekarang senyuman itu membuat Panji gemetaran karena seolah takut ketahuan istri kesayangannya dan akhinya membuat pertengkaran diantara mereka.


" Owh... Selamat ulang tahun." Ucap Panji dengan kaku.


" Nggak mau jabat tangan atau pelukan gitu?"


" Sepertinya nggak perlu Ndis!" Panji bahkan memundurkan langkahnya agar dia tidak terlalu dekat dengan Gendhis.


" Ckk... Trus kadonya mana?" Gendhis menengadahkan kedua jemarinya didepan Panji.


" Emm... Tadi Ratu udah ngasih kan? Itu sama aja dari kami berdua untuk kamu!" Ucap Panji, dia memang sengaja menyuruh Ratu yang memilihkan kado untuknya tadi.


" Begitu? Emang nggak ada yang spesial buat aku gitu?" Tanya Gendhis masih dengan sikap santainya.


" E... Gendhis, maaf aku mau cari Ratu dulu." Saat perkataan Gendhis seolah sudah menjurus, Panji lebih baik menghindar, takut jika nanti dia tidak tega dengan Gendhis dan akhirnya Ratu marah.


" Mas Panji tunggu?" Gendhis langsung menarik lengannya.


" Maaf Gendhis, mulai saat ini kita nggak usah terlalu dekat, kita sudah punya takdir masing-masing, kamu harus bisa belajar menerima pasangan kamu dengan segala kekurangannya, apapun itu, pasti suatu saat nanti kamu akan bahagia juga."


" Bukan itu mas, tapi..."


" Sekali lagi maaf Gendhis, saat ini ada hati yang harus aku jaga dan kamu tahu betul siapa dia, aku pergi dulu, permisi."


Panji langsung menundukkan kepalanya dan pergi dari sana meninggalkan Gendhis yang sebenarnya belum selesai untuk berbicara.


" Yaelah... Apa dia mengira aku masih ingin mengejarnya? Bahkan di pikiran aku sekarang hanya terisi Broto Suseno seorang?" Umpat Gendhis yang hanya bisa menatap punggung Panji dari kejauhan.


" Aku hanya ingin ngobrol sebagai kakak iparnya saja loh, percaya diri sekali dia? masak bercanda sedikit aja nggak boleh?"


" Woah... Untung juga Broto yang jadi suamiku, kalau mas Panji mungkin hidup kami sudah datar atau bahkan dingin, seperti gunung Es?" Akhirnya dia hanya bisa uring-uringan sendiri dan berucap syukur dengan takdir Tuhan yang tidak pernah salah.


" Aish.. bodo amatlah, orang tadi aku cuma mau nanya, tempat reservasi bulan madu yang hari itu dimana kok? Malah ke ge eran dia, huh!"


Gendhis langsung mengepalkan kedua jemarinya dan seolah ingin menonjok kepala Panji dari kejauhan.


Rasa sayang Gendhis dengan Panji sudah mulai memudar seiring berjalannya waktu, sedangkan rasa sayang Gendhis kepada Broto mulai tumbuh bersemi dengan indahnya, ibarat bunga itu mereka sedang mekar-mekarnya, harum semerbak mewangi sepanjang hari.


Kesetiaan itu tidak perlu dicari. Dia akan kamu dapatkan ketika kamu mencintai dan menyayangi dengan tulus.


Yang terbaik bukan dia yang datang dengan kelebihannya, melainkan dia yang tidak pergi dengan segala kekurangan, tetapi tetap belajar dan berusaha yang terbaik untuk kita.

__ADS_1


__ADS_2