
Ari sebenarnya tengah menahan malu sejak tadi. Pesta yang diminta papanya untuk didatangi ternyata acara makan malam bersama Arsya sekaligus pernyataan cinta.
Sejujurnya Ari kehilangan sikapnya yang biasa. Dia tampak gugup dan bertingkah diluar kendali. Misalnya saat ini. Dia terus meneguk air setelah berhasil menelan makanan yang ia sendokkan ke mulut. Sepuluh kali menelan, sepuluh kali pula ia minum.
Ia berusaha bersikap santai walau seluruh tubuhnya bergetar mengingat bagaimana ia dan Arsya ke depan. Pacaran? Oh, dia tidak tahu harus senang atau menjadi gila.
Berbeda dengan lelaki yang baru saja secara terang-terangan mengakui cinta, Arsya malah tampak lebih plong. Kini dia hanya menatap Ari yang menelan makanannya dengan susah payah akibat pikiran yang tak bisa tenang.
"Pelan-pelan. Buru-buru banget. Mau kemana, sih."
Ari melirik sebentar, lalu kembali fokus pada makanan yang sebenarnya tak membuatnya selera. Terpaksa ia melakukan satu aktifitas demi membuatnya tetap terlihat sibuk.
Arsya menopang dagu dengan sebelah tangan. Ada senyum tersembunyi saat menatap kegugupan dan rasa malu Ari yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Menggemaskan, batinnya.
Lalu ia melihat sesuatu yang menempel di bibir gadis itu. Yah, mungkin ini jalan menuju sebuah keromantisan, pikirnya.
Segera ia mengulurkan tangan, hendak menyapu sesuatu itu dengan jarinya supaya Ari senang karena ini sering terjadi di Novel maupun drama korea.
Tap! Tangannya di tahan oleh Ari. "Mau apa?" Tanya gadis itu dengan mulut penuh.
Arsya berdecak, "Gue mau bersihin bibir lo dari sisa makanan."
Ari langsung membersihkan dengan lidahnya. Lalu dia lepaskan tangan Arsya yang masih menggantung di udara.
"Udah, kan?"
"Nggak seru banget." Gerutu lelaki itu, menarik kembali tangannya.
Ari mengakhiri makannya. Bagaimana pun ia tak bisa memaksa perut yang tak ingin diisi.
"Udah makannya?"
"Kenyang."
Arsya lantas berdiri. "Ayo."
"Kemana?"
"Jalan, lah."
Walau masih dalam keadaan tubuh yang kaku, Ari ikut berdiri menuruti Arsya.
Gadis itu melihat bucket bunga yang dibuang Arsya tadi. Ia mengambilnya. Bunga pertama yang Arsya berikan. Mana mungkin dibiarkan tergeletak begitu saja. Apalagi bunganya indah dan harum.
Melihatnya, Arsya tersenyum. "Gimana, lo terima gue, kan? Gue ngarep banget bisa punya hubungan sama lo."
Ari juga sama. Dia masih saja merasa ini mimpi. Padahal kemarin Arsya mengatakan bahwa dia menganggap hubungannya dengan Ari lebih dari sahabat.
Ah, Ari baru sadar. Jadi, maksud Arsya kemarin itu.. ini, ya. Ari kira, Arsya nganggep dirinya saudara. Ternyata 'lebih dari sahabat' yang dimaksud Arsya adalah...
Arsya memutar tubuh Ari menghadapnya. Lalu ia merapikan anak rambut yang terbang ke wajah gadis itu, sembari berujar. "Tapi gue ga mau maksa lo. Kalo lo emang cuma sekedar ungkapin perasaan tanpa ingin punya hubungan apapun, it's oke gue coba pahami. Karena gue ga mau, lo terima gue karena kasian sama gue. Bukan karena lo yang inginkan itu." Ucap lelaki itu dengan nada lembut.
"Sya... Lo yakin mau punya hubungan dengan gue?"
Arsya sibuk membenarkan posisi rambut Ari yang tertiup angin. "Gue ga pernah seyakin ini sebelumnya." Ujar Arsya sekalian mengelus wajah gadis itu. "Walau LDR sekalipun, gue ga masalah. Asal lo terus ngabarin gue. Telepon, chat, video call. Kabarin gue apapun kegiatan lo."
Ari melirik tangan Arsya yang terus mengelus rambut di dekat pipinya. Lalu ia menyelipkan anak rambut di belakang telinga Ari.
__ADS_1
"Tapi orang bilang, LDR itu ga enak, Sya."
"Trus gimana, lo mau balik?"
Ditanya begitu, Ari menunduk, dia tak bisa menjawabnya karena sudah terlanjur pindah kesini.
"Ga apapa, kita coba, ya. Gue tau apa yang membuat lo ragu."
Arsya bisa melihat keraguan di mata Ari. Yah, dia merasa itu wajar. Terlebih begitu banyak gadis yang mendekatinya.
"Kaya yang gue bilang tadi. Komunikasi. LDR itu ga jalan karena sering salah paham akibat minimnya komunikasi. Dan, percaya. Gue yakin kita bisa. Kita bukan orang yang baru kenal kemarin, Ri."
Iya, sih. Ari tau Arsya tipe yang setia jika dilihat dari bagaimana ia menggunakan barang-barangnya. Dan melihat bagaimana keluarganya, Ari yakin Arsya juga demikian. Karena itulah yang tertanam dalam dirinya sejak kecil.
Tapi, darimana Arsya belajar ngomong kaya gini? Perasaan dari dulu kalo Ari curhat jawabannya sering nyakitin walau ada benernya.
"Tapi, Bunda gimana?"
"Bunda tau gue kesini karena lo."
"Hah, yang bener?" Gadis itu sampai menutup sebagian wajahnya. Malu.
"Rii." Arsya menarik tangan Ari yang mencoba menutup wajahnya. "Gue mau jawaban lo. Jangan pikirin yang lain. Pikirin gue dulu. Lo belom jawab!"
"Loh, katanya ga mau maksa."
Arsya sampai lupa saking tidak sabar ingin mendengar kata 'ya' dari Ari. Padahal cuma dua huruf tapi kenapa gadis itu terlalu berkelit.
"Gue dari tadi nunggu jawaban lo. Lama banget tinggal bilang 'iyaa gue mau, Sya. Gue juga sayang sama lo!' Udaah gitu aja!" Kesal, apalagi melihat Ari yang menahan tawa. Ingin dia menarik gadis itu dan menciumnya. Sepertinya Ari memang tengah mempermainkannya.
"Bunda ga apapa, ya? Trus kalo papa giman-"
Mata Ari membulat saat dengan sangat tiba-tiba Arsya menarik tengkuknya dan mencium bibir Ari dengan penuh tekanan. Hingga keterkejutannya membuat Ari menggenggam kuat jas Arsya, sedang tangan sebelah lagi menjatuhkan bunga, ketika perlahan ciuman Arsya yang ia rasakan mulai lembut. Tangan yang menggenggam erat jas Arsya pun melonggar tatkala mata Ari perlahan terpejam.
Arsya merapatkan pinggang gadis itu, membuat tubuh mereka melekat tanpa celah.
Arsya tersenyum melihat mata indah milik Ari terpejam menikmati ciumannya. Sampai Ari tersadar dengan bibir yang melebar dan ia membuka mata. Dilihatnya Arsya tersenyum lebar, entah karena apa, membuat Ari langsung diselimuti rasa malu.
Gadis itu kaku, merasa bodoh karena ikut terhanyut ciuman hangat yang baru pertama kali ia rasakan, sampai detakan hebat di jantungnya belum reda walau ciuman itu telah berakhir.
Arsya meraih tangan Ari yang menunduk, tak berani menatap Arsya. Lalu ia mencium tangan Ari dengan penuh cinta.
Seketika rasa malu itu melebur karena kehangatan yang Arsya ciptakan.
"I love you." Bisik Arsya, membuat pipi Ari memerah haru. "Kita jalani sama-sama, ya."
Entah kenapa, aura lelaki idaman keluar dari tubuh Arsya malam ini. Rasanya Ari ingin terus memeluknya seperti malam itu, sampai ia tertidur.
~
Dan kesampaianlah keinginan Ariva. Arsya, mengetuk pintu kamarnya setelah mereka berganti pakaian.
"Ngapain?" Tanya Ari dengan berbisik. Hampir semua lampu sudah padam. Ini juga sudah larut, tapi Arsya datang ke kamarnya dengan wajah sendu.
"Besok gue pulang."
"Iya. Gue tau. Makanya, sana tidur."
__ADS_1
Arsya malah nyelonong masuk begitu saja, membuat Ari terkejut dan cepat-cepat menahan tangan Arsya.
"Gue mau tidur disini." Ucap lelaki itu dengan wajah memohon.
Astaga, Ari sampai tidak tega menolaknya.
Akhirnya ia menutup pintu, membiarkan Arsya berbaring di sisinya.
Lampu tidur sudah menyala. Namun bukannya tidur, kedua pasang mata itu masih terbuka menatap ke atas. Diam, seperti ada sesuatu yang membuat mereka berpikir tentang hari esok. Hari perpisahan.
Arsya menoleh pada Ari, yang juga menoleh saat merasa Arsya melihat ke arahnya.
"Gue bakalan kangen banget sama lo." Desis lelaki itu, memecahkan keheningan.
"Gue juga..."
Arsya memiringkan tubuhnya menghadap Ari. "Tadi, ciuman pertama lo, kan."
"Apa?"
"Gue tanya. Yang tadi ciuman pertama lo, kan? Lo ga pernah dicium Juna, kan?"
"Heii. Yang ada elo, tuh, sama Vita!" Balas Ari.
"Gue ga pernah ciuman, tuh!"
"Yakin? Kok lo jago ciuman?"
Arsya mengerutkan dahi sambil menahan tawa. "Lo.. kok bisa nilai ciuman gue jago? Oohh.. gue tau. Lo emang dulunya-"
"Eh, nggak ada, ya!" Sahut Ari cepat. "Gue ga pernah. Yang ada elo, gue liat di UKS!"
"Gue ga pernah, kok."
"Boong lu!"
"Sumpah. Baru ini gue ciuman."
"Ngaku aja lo. Emang gue ga tau lo gimana dulu sama Vita."
"Astaga, sumpah! Gue ga pernah nyentuh dia. Satu-satunya cewek yang pernah dan akan selalu gue berikan ciuman gue itu ya, elo!"
Hah. Ari bengong mendengar kalimat frontal Arsya, yang kemudian merapatkan bibir, merasa kelepasan.
Tapi terus terang saja, Ari sangat menyukai kalimat itu. Membuat hatinya berdebar, dan perasaan berbunga-bunga.
"Jadi... gue harus merasa beruntung atau gimana."
Pertanyaan itu membuat Arsya terkekeh kecil, lalu ia mengulurkan tangan. "Sini, gue mau peluk."
Ari mendekat, membiarkan Arsya memeluk tubuhnya sampai matahari muncul, dan waktu perpisahan diantara mereka pun akan dimulai.
...๐งโโ๏ธ...
Pen kalian jangan sakit hati ya. Aku cuma mau bilang, makasih banyak udah mau singgah ke novelku baik yang lama atau yang baru, tapi jangan boomlike. Lebih bagus ga usah dibaca say, karena penulis lebih suka karyanya dibaca dari pada di-like langsung 3 bab dalam 3 detik. Karena yg paling utama adalah kalian suka sama jalan ceritanya. Bukan hanya sekedar like nya saja. Kalau kurang disukai, diskip aja sayang. But Apapun itu, Thanks a lot tapi please jangan boomlike. Entah kenapa, aku suka sedih kalo ada yang nge-like 4-5 bab dalam beberapa detik, dan aku yakin ga ada penulis yang suka di boomlike tanpa dibaca. Makasih banyak, kalian luar biasa masih mau terus dukung novel-novelku๐๐๐
Oh ya jangan lupa Vote yah!๐ซถ
__ADS_1