HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!
Birthday Party 47


__ADS_3

"Maafin aku, sayang. Aku ga tau kamu dipermalukan begitu di kantin. Aku tadi ngurus anak futsal. Aku ngerasa bersalah banget.." kak Juna berjongkok di bawahku. Wajah bersalah itu muncul dan terlihat khawatir. Padahal udah berulang kali aku bilang ngga apa-apa. Tapi dia ga mau bangkit dan terus berlutut begitu.


Tubuhku sudah kering, tapi jeket Kai masih terselempang di pundak. Aku duduk di kursi sementara kelas udah kosong. Kak Juna yang minta Kai dan yang lain pulang duluan karena dia ingin mengantarkanku sebagai bentuk rasa bersalahnya.


"Aku akan kasih Vita dan yang lain pelajaran."


"Nggak perlu, kak." Aku udah putusin buat balas sendirian dengan caraku.


Kak Juna menggenggam tanganku. "Oke. Kalo gitu kita pulang, ya."


Aku mengangguk, lalu berdiri. Tepat bersamaan dengan Arsya yang baru masuk ke dalam kelas dan menghampiriku.


"Ayo, pulang."


Apa sih, Sya. Datang-datang kok ngajak pulang. Lo ga liat ada kak Juna di samping gue.


"Ayo." Tangan Arsya mengulur, menatapku menunggu aku menyambutnya.


"Hei. Lo ga liat ada gue disini?"


Arsya menarik napas, lalu kembali menatapku, tanpa memperdulikan kak Juna. "Pulang bareng gue."


Itu bukan pertanyaan atau tawaran. Tapi perintah. Seperti ada sesuatu yang Arsya telah lakukan sampai emosinya tak terbendung. Itu yang kutangkap saat ini. Habis ngapain dia?


"Ariva pulang bareng gue!" Tukas kak Juna.


Kini Arsya menurunkan tangan. Pandangannya tak lepas dariku, aku tahu walau aku tengah menunduk, bingung.


"Terserah, lo mau pulang bareng gue atau dia." Kata Arsya lagi.


Dia kenapa, sih. Kayak menuntut gitu. Dia tau nggak, apa yang aku alami tadi? Bisa-bisanya dateng dan langsung kaya gini ke aku.


Tapi, aku juga ga berani kalau Arsya udaj kaya gini. Aku menatap kak Juna. Mau minta maaf kalau aku ga bisa pulang bareng dia.


"Kak. Aku..."


Dahi kak Juna berkerut. "Kamu mau pulang sama dia? Pilih dia?"


Ini bukan soal pilih siapa. Tapi saat ini keadaan Arsya...


Eh? Belum sempat aku menjawab kak Juna, Arsya menarik tanganku dan membawaku keluar dari kelas. Aku menatap kak Juna yang kesal melihat ke arah kami. Maaf kak, nanti aku jelasin di rumah. Ucapku dalam hati.


Selama di mobil, aku dan Arsya hanya saling diam. Dia mencengkram erat kemudi. Matanya menatap lurus dan tajam ke depan.


Aku ga berani tanya, tapi aku tau dia pasti lagi marah banget. Akhirnya kami saling diam sampai tiba di rumah.


"Ri."


Aku yang baru keluar dari mobil menatap ke arah bunda, papa, dan seseorang yang berdiri tersenyum menyambut kepulanganku.


Arsya pula keluar dan menutup pintu mobil. Matanya tak lepas dari orang yang sudah menungguku sejak tadi.


Aku melangkah mendekat, lalu pria tua yang baru digosipkan denganku itu memelukku tanpa izin. Dari raut wajah bahagia itu aku ga bisa menolak pelukan itu, terlebih di depan bunda dan papa.


"Arsya, ini om Tama." Bunda memperkenalkan lagi Arsya pada papaku, barangkali dia lupa. Tapi tidak, Arsya tak lupa sebab kini dia menatapku terus menerus.


"Kami tinggal dulu, ya." Bunda mendorong Arsya dan papa masuk ke dalam rumah, meninggalkan aku dan papaku.


Papa ngapain kesini? Kok ga bilang? Mau tanya begitu, tapi dari tadi papa senyum-senyum mulu. Ntar jadi ngerusak suasana hatinya, lagi.


"Nggak apa-apa kan, papa datang kesini tanpa tanya kamu dulu?"


Mungkin dia tau apa yang tengah kupertanyakan dalam hati.


"Papa datang karena waktu papa disini kan, nggak banyak lagi. Papa ingin habisin waktu papa sama kamu."


"Nggak apapa." Ya udah deh, toh bentar lagi dia balik ke Rusia dan entah berapa puluh tahun lagi kembali kesini.


"Papa.. mau ajak kamu ke acara pertemuan bisnis. Kalau ga keberatan, papa ingin kenalin putri papa ke semua kolega papa disini. Lagi pula, ini pertama kali papa datang. Soalnya kan, papa ga pernah memenuhi undangan selama ini."

__ADS_1


Acara bisnis, ya. Ini bukannya pertemuan penting yang pernah aku dengar dari cerita anak-anak elit di sekolah?


"Emang boleh bawa anak?"


"Ngga ada yang ngelarang. Malah mereka memang bawa anggota keluarga untuk dikenalkan dengan rekan, untuk mempermudah koneksi."


"Emang papa perlu koneksi? Maksudnya biar Ari dekat ke anak pebisnis lain, dan papa dapat tawaran bisnis atau kerjasama, gitu?" Tanyaku penasaran. Aku ingat kak Juna pernah cerita begini padaku. Tentang pebisnis yang melebarkan relasi dengan membawa anak-anak mereka untuk diperkenalkan dan mempermudah urusan jika mereka saling tertarik.


"Papa nggak mau jual anak papa. Lagi pula papa datang bukan mau mencari koneksi, tapi mau memperkenalkan anak papa. Jadi kalau mereka ketemu kamu diluar, mereka bisa lebih menghormatimu."


Masa, sih. Emang papa siapa kok sampe aku dihormati segala.


"Emang kalo mereka tau Ari tinggal di panti, papa nggak malu?"


Kutanya begitu, papa tersenyum getir dan menunduk.


"Ngga apa-apa. Semuanya memang salah papa. Papa akan tetap perkenalkan putri papa pada mereka semua. Putri satu-satunya. Dan cuma panti ini yang bisa menjaga harta berharga papa, karena kamu sangat suka tinggal disini."


Mendengar jawaban papa, aku terdiam. Banyak sanggahan dari dalam hatiku, terlebih sebenarnya aku bukan menyukai tempat ini sejak awal. Tapi terpaksa karena orang tuaku membuangku, dan tempat inilah yang mampu memberikanku kasih sayang tulus.


"Maafkan papa, nak."


Lagi, papa meminta maaf. Mungkin dia belum merasa puas juga padahal aku sudah memaafkannya.


By the way soal pertemuan pebisnis, apa aku bertemu banyak orang disana? Apa ada anak-anak Garuda juga?


Aku jadi ingin tahu sesuatu. Mari kita cek terlebih dahulu.


"Ari mau ikut. Tapi Ari minta papa kabulin satu permintaan Ari."


Papa tersenyum dan mengangguki permintaanku. Wah, ternyata bisa semudah ini. Aku jadi ga sabar untuk malam pertemuan itu.


...🍭...


Hah. Jadi bingung...


Tadi bunda bilang, akan buat acara seperti biasa untuk ulang tahun Arsya. Makan malam bersama anak-anak panti malam minggu ini. Sementara kak Juna juga ngadain acara malam itu. Hufft. Kenapa buat acara di waktu yang sama, coba.


"Lo disini ternyata."


Aku menoleh, Arsya berdiri tak jauh di sampingku, memakai kaos oblong dan celana pendek. Dia mendekat, berdiri di depanku yang duduk di atas genteng tak tinggi.


"Kenapa?" aku penasaran, kenapa rasa marahnya belum juga hilang.


"Bokap lo balik kapan?"


"Minggu depan mungkin."


"Trus, lo ikut?"


"Belom tau." Jawabku asal.


Arsya semakin menajamkan matanya. Terlihat dari alis yang semakin menurun.


"Lo janji kan, mau sekolah disini terus."


Aku menekuk kaki dan memeluk lutut. Apa dari tadi ini yang buat wajahnya terus nampak emosi.


"Emang penting, ya. Bukannya sekarang lo udah sibuk banget, sampe gue aja lupa kapan terakhir kita ngobrol santai kayak dulu."


Terlihat raut tak suka dari Arsya setelah aku mengatakan itu. Nggak salah, kan. Aku bicara fakta yang sekarang. Baru punya pacar aja aku suka dilupain dan diabaikan. Gimana kalo nanti kuliah, mungkin aku ga keliatan lagi di matanya.


"Lo harus pegang janji lo, Ri!" Tukas Arsya.


Aku menatapnya lama, ingin tahu sesuatu apa yang membuatku harus memegang janji.


"Kenapa?" Tanyaku kemudian. "Kenapa gue harus tepatin janji gue ke elo? Emang apa untungnya di gue?"


Arsya berkedip. Mungkin dia lupa, kalo aku juga punya masa depan. Bukan seseorang yang harus terus ada di sampingnya, menemaninya saat dia butuh.

__ADS_1


Lucunya, awal menjawab pertanyaan Arsya, aku hanya asal. Tapi kenapa pembicaraan kami jadi jauh dan dalam begini. Entah tiba-tiba aku ingin tahu gimana pandangan Arsya padaku selama ini.


Anyway, Arsya ngga bisa jawab. Tangannya yang tadi terkepal pun terbuka.


Aku turun dari atas melompat kecil dan berdiri tepat di hadapan Arsya.


"Kenapa gue harus terus di sisi lo sementara lo nggak ada pas gue butuh. Lo mah enak, asyik-asyik pacaran sama Vita. Lo tau nggak, kalo ga ada Kai, Karin, dan Hajoon, gue bakalan kayak apa di sekolah?"


Ada orang lain, Sya. Dan peran lo ketutup walau gue akui, gue lebih suka lo jadi tempat bersandar gue.


Entah kenapa aku jadi kesal begini. Aku mulai marah saat mengingat bagaimana keadaanku sebenarnya yang kututupi dari semua orang termasuk Arsya. Aku memang sempat ga peduli, tapi bisikan orang-orang mulai membuat pendirianku untuk gak peduli pun jadi goyang. Ternyata citraku di sekolah udah sangat-sangat jelek. Terlebih ada orang yang emang kayak sengaja membuat gosip itu seolah terus hidup. Aku pikir itu akan hilang dalam dua hari. Nyatanya enggak.


"Jadi gue pikir-pikir, buat apa gue disini? Sekolah penuh dengan gosip tentang gue. Gue dipermaluin, gue difitnah, dibully. Dan lo...!" Tanpa sadar, nada bicaraku bergetar. Terdengar ingin menangis.


"...lo dimana?" Mungkin wajahku merah sekarang, menahankan emosi yang tiba-tiba muncul, bersamaan air mata yang terbendung. "Lo tau nggak, cewe lo itu udah ngelakuin apa aja selama ini ke gue?"


Kutatap wajahnya lekat-lekat. Aku ingin Arsya tau gimana aku selama ini. Dia diam, entah karena dia memang udah tau, atau belum. Aku tak tahu.


Tes!


Setetes air jatuh di atas kepalaku. Dingin, dan ini air hujan.


"Gue pikir, kalo gue pura-pura ga ngenalin lo di sekolah, gue bakalan aman. Tapi ternyata enggak. Justru gue semakin dibully cuma gara-gara cewe sialan lo itu gak sukak sama guee!!?"


Arsya memilih diam dari pada harus menjawab yang mungkin bisa semakin memperdalam amarahku padanya. Nampaknya dia sedikit syok dengan penuturanku barusan.


Hujan turun, deras sampai aku menunduk saat rintikan jatuh di wajahku. Bajuku mulai basah dan dingin benar-benar menembus kulit. Tapi aku masih ingin mengeluarkan semuanya.


"Lo tau, selama ini gue tahanin, dipermalukan, dihina. Gue anggap semua salah paham. Tapi liat diri lo! Lo enak-enakan pacaran sementara gue..." aku menahan ucapanku. Air mataku mengalir begitu saja bersama hujan.


"Sementara gue tersiksa cuma karena cewe lo cemburu?" Lanjutku dengan mengeraskan rahang saat aku sudah tak kuat dengan dinginnya hujan.


"Ri, dia bukan cewe gue."


Tubuhku bergetar karena dingin. Dan ucapan Arsya berhasil membuatku mendadak ingin memakinya.


Aku mengalihkan wajah ke samping dengan kesal. Dari pada membuang energi, lebih bagus aku pergi. Bisa-bisanya dia mengatakan itu saat hampir satu sekolah pun tau gimana dia dan Vita.


"Gue capek, Sya."


Aku melangkah, dan Arsya menahan lenganku.


"Gue ga punya hubungan khusus sama Vita, Ri." Ucap Arsya dengan suara keras supaya suaranya bisa kudengar dalam derasnya hujan.


"Nggak ada lo bilang?? Trus selama ini apa, Sya? Date, pelukan, ciuman-"


"Gue nggak pernah ciuman!!" Pekiknya memotong ucapanku.


Wah. Aku sampai mengangguk-angguk mendengarnya. Ga pernah ciuman. Trus bekas merah waktu itu, apa? Di UKS, di rumah lo?


"Terserah. Gue ga peduli lo mau ngapain sama Vita, yang perlu lo tau gue bencii. Bencii banget sama cewek lo itu!"


...TBC...


Guys... Ini bab terpanjang, serius ini dua bab dalam 1 bab. Ojo pelit-pelit, makasih yg udah kasih hadiah🫰


Gue kasi foto babang Arsya dan papa Arga, deh.



Jangan Naksir bu-ibu, dia baru 17tahun.



Papa Arga usia muda. Ga ada foto tuanya Hahah.


GANTENGAN MANA??


Yang belom baca kisah papa Arga, ada di TEMAN TIDUR KONTRAK!

__ADS_1


__ADS_2