
...AKU UP 3 BAB HARI INI YAHH. JADI KALIAN HARUS VOTE YAKAN YAKAN!...
...~...
Tak lama, aku menepikan motor di depan sebuah rumah makan cepat saji. Aku tau dia belum makan siang. Juga ada hal yang May aku sampaikan terkait si Juna brengsek itu.
"Kok kesini?" Tanya Ari padaku.
"Laper. Lo juga belum makan, kan?"
Dia diam dibelakang. Kulihat dari spion, Ari memegangi perutnya.
Dia turun dan langsung masuk ke dalam resto.
"Yang biasa, kan?" Tanya Ari dengan tatapan yang tak lepas dari display menu.
"Iya." Jawabku, mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang. Aku meletakkan uang pecahan biru di atas meja kasir.
Selalu kulakukan karena aku ga pernah biarin Ari bayar makan saat bersamaku. Setidaknya begitulah pesan mama. Dan lama-kelamaan kebiasaan ini kulakukan saat bersama perempuan selain Ari. Maksudku, Vita.
Setelah memesan, dia membawa nampan berisi full makanan. Pelan-pelan meletakkan semua itu di atas meja yang ku duduki.
Aku beralih sekilas dari ponsel, melihat betapa banyak makanan yang Ari pesan.
"Bon appétit" ucapnya, lalu melahap burger berukuran jumbo.
"Banyak banget. Siapa yang makan ini semua?" Tanyaku padanya.
Dengan mulut penuh, Ari menjawab. "Tenang, ada gue."
Ckcck. Ciri-ciri sakit ati, nih. Atau jangan-jangan dia juga ngerasa kalau Juna deket sama temannya itu?
"Yang tadi, temen lo?" Aku bertanya, memulai percakapan.
Ari menyelesaikan makanan yang ia kunyah sebelum menyahutiku.
"Hani, maksudnya?"
Entah siapa namanya. Ngga tau.
"Iya, tadi dia datang sama gue. Katanya sih, pengen deket sama Vita. Tapi dia jadi bisa deket sama semuanya gitu."
Ari mengatakan itu sambil menerawang ke depan. Nampaknya dia agak ga suka dengan situasi tadi.
"Lo.. gak curiga?"
"Curiga? Sama Hani?" Ari gak langsung menjawab. Dia memberi jeda dan berpikir beberapa detik.
".. enggak lah. Dia temen sebangku gue dari kelas satu. Anaknya baik banget, peduli sama gue. Dari dulu kayaknya dia nge-fan sama Vita. Trus pas liat gue gabung sama mereka, dia jadi kek yang pengen ikutan gitu."
Ternyata lo nggak peka ya, Ri. Lo ga bisa liat situasi. Padahal jelas banget kalo temen lo itu juga sengaja pengen deketin diri ke Juna tanpa sepengetahuan lo.
Jujur aku ga akan marah kalau temen Ari deketin Juna. Sekalian menguji dirinya, apakah dia beneran naksir Ari, atau cuma mainin dia.
Setelah makan, aku kembali memainkan game di ponsel dengan pikiran melayang. Perlukah aku cerita soal Juna dan Hani-Hani itu? Atau biarkan aja mereka sampai jadian dibelakang Ari?
"Aah. Kenyangnya.." Ari merebahkan kepala di atas meja.
Aku ngerasa Ari beda. Mungkin sebenarnya dia ga nyaman dengan Hani yang mencoba masuk ke kelompok tadi. Ditambah si Juna cuek aja pas dia pulang sendiri. Jadi pengen elus kepalanya.
Tak lama, Ari membuka ponsel. Aku bisa melihat apa yang dia buka di layar, karena posisinya tidak berubah. Masih merebahkan kepala hingga aku bisa membaca pesan apa yang ia kirim pada Juna.
Hah. Kasian juga. Mana cinta pertama, pacar pertama lagi.
"Syaaa.."
"Hm."
"Gue pengen nanya, deh. Soal.. iri dengki."
Hm?
"... menurut lo, gue iri gak ya, sama Hani."
Aku mendengarkan sambil fokus pada game di ponsel.
"Tadi, gue sempet kayak gak suka gitu liat Hani duduk bercanda disana. Padahal dia cuma mau gabung doang. Tapi gue.. kok bisa-bisanya iri."
__ADS_1
Ari menatapku yang mencoba bernegosiasi dengan situasi. Perlukah kuberitahu soal Juna dan Hani itu?
"Menurut lo, gue cuma lagi kesel soal nyembur Kai, atau emang gue iri sama Hani?".
Banyak banget kayaknya beban lo.
"Hm, iri." Sahut ku tak beralih dari game. Lagi seru juga ga bisa di berhentiin gitu aja.
"Gitu, ya. Emang gue keterlaluan banget, ya. Bisa-bisanya sama Hani aja kaya gitu."
Tak kugubris, dia malah meletakkan telunjuknya di layar dan menurunkan ponselku sampai menyentuh meja.
Dia menatapku dengan wajah cemberut. Hah. Apaan, sih. Lo yang galau kok gue yang ikut-ikutan kena.
"Gue.. lagi ga enak hati. Perasaan gue ga tenang sejak tadi. Kenapa ya, Sya?"
'You has been slain.'
Hufft. Kalah. Tapi ngeliat wajah Ari malah jadi kasian banget. Emang gue ga bisa marah sama lo, Ri. Udah berapa kali lo habisnya nyawa gue di game ini?
Ya udah, deh. Kasi tau aja.
"Temen lo itu lagi jalan sama Juna sekarang."
"Hah?" Kepalanya langsung tegak seketika.
"Hm. Cari kado, katanya."
Dia bengong, bengong, dan bengong.
Nah, kan. Mending lo ga usah pacaran kata gua mah.
...🍭...
Aku melihat Ari mondar-mandir menimbang ponsel di tangan. Pasti dia kepikiran dengan ucapanku tadi. Lagian Juna pake pergi sama orang lain segala. Belum apa-apa keliatan brengseknya.
"Telepon aja. Dari pada kepikiran."
Dia menoleh ke arahku yang berdiri di belakang jendela. Ari mendekat ke jendelanya dengan raut yang gelisah.
"Tapi.. kalau kak Juna nggak jujur gimana?"
Dia memukul telapak tangan dengan ponsel berulang-ulang, sembari berpikir dengan perasaan tak tenang.
"Oke. Gue telepon."
Dia menjauh dari jendela. Dengan mengigit kuku ibu jari, Ari menempelkan ponsel ke telinga.
Aku meninggalkannya, lalu menuju ruang keluarga dimana papa dan mama ada disana.
"Sya."
Papa duduk bersebelahan dengan mama yang tengah membaca majalah. Duduk rapat banget kayak takut dengan spasi diantara mereka.
"Ikut papa ke acara kecil, ya. Papa mau ngisi acara di Redsky."
Aku mengalihkan pandangan pada mama yang masih asyik membaca. Nggak marah, ya? Biasanya mama ga suka kalo papa manggung gitu.
"Mama ga ikut?" Tanyaku.
"Enggak, sayang." Jawab Mama, meletakkan majalah dan menatapku. "Temenin papa, ya. Sekalian." Katanya sambil menaikkan alis.
Aku tahu maksudnya. Disuruh mata-matain papa kalo aja ada yang deketin, aku harus sigap. Gitu kan, maksudnya.
"Ajak Ari, gih. Kasihan dia di rumah terus. Ngga pernah lagi kamu ajak jalan." Sambung Mama.
Ari, ya. Apa dia mau? Eh tapi kalo liat papa manggung dia pasti mau, kan. Soal Juna, gimana, ya.
Aku naik lagi ke kamar. Samar-samar ku dengar suara Ari cukup santai. Apa ga ad masalah?
Aku mengambil kemeja putih di dalam lemari, lalu mendekati jendela sambil memakainya.
"Love you, too."
Lah. Kok malah cinta-cintaan? Ngga berantem, nih?
Ari menurunkan ponsel dari telinga. Wajahnya lebih tenang dari yang tadi. Artinya memang ga ada masalah apa-apa diantara mereka.
__ADS_1
"Ri, lo mau ikut, gak?"
Dia membalikkan badan kebelakang, memperhatikanku yang tengah mengancingkan kemeja satu persatu.
"Kemana?"
"Papa ngajak jalan sore ini. Cuma gue sama Papa doang, ke Redsky buat nemenin manggung."
"Manggung? Waah, boleh tuh!" Sahutnya girang. ".. lo manggung juga nggak? Nyanyi juga nggak?" Tanyanya antusias.
"Ya, nggak lah. Ya udah, siap-siap. Bentar lagi kita berangkat."
"Eh tapi.." Ari menggaruk-garuk kepala. Jangan bilang lo janjian sama Juna. Gua tonjok juga ntar dia!
".. gak bisa, Sya. Aku baru ingat ada janji sama Salma dan Hani."
Alisku menyatu. "Hani yang itu?"
"I-iya. Tadi kak Juna jelasin, katanya Hani cuma nganterin doang."
Gitu, ya. Akupun ngangguk-angguk lambat. "Good. Berarti lo gak bisa ikut, nih?"
Ari mengangguk. Hm, ya udah, deh. Padahal niatnya mau ngajak lo jalan night drive, sambil nenangin pikiran lo yang belakangan kusut. Next time, kali ya.
...🍭...
"Sya, papa mau kesana. Kamu?"
Aku melihat ke arah yang papa tunjuk. Beberapa teman papa disana, termasuk om Ibra.
Tapi aku lagi males banget masuk kesana.
"Disini aja, pa. Nanti telpon aja kalo udah selesai."
"Hei, jangan diluar terus lah. Papa kan juga mau ngenalin anak papa sama yang lain."
"Kan udah kenal, pa."
"Pokoknya nanti tetap harus masuk, oke?"
Aku mengagguk, lalu seorang teman papa menghampiri kami.
"Heei, Ga." Mereka bersalaman ala-ala anak muda sambil saling tepuk bahu. "Wah, ngga nyangka anak lo lebih ganteng, ya."
"Ya iyalah. Hasil Syahdu pasti ga main-main!"
Eleeh. Biasanya paling seneng kalo dipuji lebih ganteng dari aku. Sekarang karena memuji mama, papa mengakui kalo aku lebih ganteng.
"Arsya, om." Kataku sambil mengulurkan tangan.
"Om Rio. Om punya anak cewek, cakep, kalo kamu mau-"
"Halah. Ngga usah jodoh-jodohin! Anak gue banyak yang naksir, dia tinggal pilih sendiri." Papa merangkul om Rio dan menyeretnya menjauh.
"Sya, ingat! Jangan minum."
Aku mengangguk dan memberi tanda jempol.
"Minum dikit ga apalah, namanya anak jantan. Kayak lo dulu alim aja!" Kata om Rio dan berhasil mendapat tampolan dari papa.
Huff.. Apa enaknya sih, Redsky ini. Tempat orang-orang yang ngga punya kerjaan kali, ya.
Aku berjalan keluar dan ingin mencari tempat sepi untuk bermain game.
Saat berjalan keluar, aku refleks menahan kaki dan malah bersembunyi dibalik tembok saat kulihat Juna melangkah masuk ke dalam sebuah vip room dengan membawa satu bucket bunga dan paperbag transparan yang isinya bungkusan kado.
Juna? Mau ketemu siapa dia? Apa Ari ada disini juga? Ah, enggak. Dia ga bilang kali mau ketemu Juna, kan.
Aku jadi penasaran dan mengikutinya dari belakang. Pintu tertutup dan menyisakan sedikit celah untuk bisa kulihat.
Ada seorang perempuan yang berdiri dari duduknya, senang saat Juna datang dan memberikan semua yang ia bawa pada perempuan itu. Mereka saling berpelukan, dan aku yakin kalau itu adalah pacar Juna.
Nggak salah lagi. Si brengsek ini punya berapa pacar, hah?
Rasanya ingin menerjang pintu dan menghajar anak itu. Tapi sampai saat ini, aku yakin Juna ngga tau siapa aku. Jadi kalaupun kami bertemu disini, dia ga akan berpikir apa-apa, kan.
Kalau aku kasih tau Ari soal ini, dia percaya nggak, ya.
__ADS_1
Arrghhh. Sial!